
Mendapat perlawanan dari Sensi seperti itu, Delana meradang. Dia mencak-mencak kesal, dengan tangan yang berkacak pinggang Delana berbicara dengan lantang.
"Elu ngaku saja, elu hanya inginkan hartanya Rangka saja, kan? Sudah ngaku saja. Saran gue, kalau memang itu niat elu bagus juga sih. Gue yakin elu datang ke taman ini karena habis bertengkar sama Rangka bukan? Mata elu yang sembab itu tidak bisa membohongi gue. Hayoh ngaku saja?" paksa Delana meminta Sensi mengaku bahwa dia habis bertengkar dengan Rangka karena matanya terlihat sembab.
"Tidak, kami tidak bertengkar. Dan sepertinya Mbak Delana tidak perlu tahu apakah kami bertengkar atau tidak. Itu urusan kami," tukas Sensi tidak suka.
"Huhhh, dasar. Jangan sok-sokan baik dengan anak gue. Gue tahu elu tidak tulus menyayangi anak gue, mana ada perempuan single dinikahi lelaki duda bawa anak, terus dia ikhlas mengurus anak suaminya. Tidak ada yang seperti itu, termasuk elu," tuding Delana bikin Sensi dilanda kesal. Inginnya ditampar saja muka glowing macam setrika itu, tapi Sensi tidak berani, dia takut dirinya kena jerat kasus hukum.
"Tidak semua seperti itu Mbak. Ada banyak kok Ibu sambung yang sayang sama anak sambungnya, malah rasa sayangnya lebih tulus dibanding ibu kandung. Contohnya saya, saya tulus menyayangi anak Mas Rangka." Sensi tidak kehilangan kata-kata untuk membela dirinya sendiri.
"Itu hanya omong kosong, sebab tujuan elu harta Papanya Glassy, bukan? Jangan sok manis dan tegar, buktinya elu saja bisa menangis karena dia. Lebih baik sebelum terlanjur kecewa, elu baiknya pergi dari sisi Papanya Glassy, sebab elu nggak pantas berada di dekatnya," dengus Delana memanas-manasi Sensi yang hatinya mulai tercabik oleh kata-kata kompor yang diucapkan Delana.
"Lalu, Papanya Glassy pantasnya dengan siapa dong kalau begitu, sama Mbak Delana yang pergi meninggalkan Mas Rangka dengan lelaki lain? Iya, begitu?" todong Sensi membuat Delana mati kutu, terbongkar sudah aibnya oleh Sensi, ternyata Sensi tahu kesalahan dia kepada Rangka yang memang berkhianat.
"Tahu apa elu tentang perceraian kami? Bukan alasan itu kami cerai, tapi kesalahpahaman." Delana berkelit seraya memangku tangan di depan dadanya.
"Saya hanya tahu dari Mas Rangka, bahkan dia wanti-wanti ke saya supaya perbuatan Mbak Delana tidak diikuti saya. Mas Rangka sangat ketakutan kehilangan saya, sehingga hal sekecil apapun jika melihat saya ditegur lelaki lain, maka dia marah dan cemburu. Terus ada lagi yang bikin saya terharu, dia sekarang over protektif, Hp saya dicek tiap waktu, semua media sosial saya dicek tiap hari. Termasuk ngecek facebook, bahkan suatu hari dia pernah menemukan nama Mbak Delana meminta pertemanan di Facebook saya. Langsung saat itu juga Mas Rangka memblokir nama Mbak Delana karena Mas Rangka tidak mau saya berteman dengan Mbak." Sensi menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang saat ini dia rasakan dan Rangka lakukan.
Delana nampak terhenyak dan semakin kesal atas penjelasan Sensi. Hatinya bertanya-tanya benarkah Rangka sekejam itu? Tidak mau sedikitpun mengenal lagi dirinya.
"Bagaimana Mbak Delana? Sekarang lebih baik kita fokus dengan masing-masing pasangan kita, saya fokus dengan Mas Rangka dan anak sambung saya. Mbak Delana juga fokus dengan suami Mbak." Sensi berkata sambil beranjak dari tempat itu.
"Tunggu, jangan main pergi, lu," tahan Delana geram seraya menarik tas selempang yang dipakai Sensi sehingga Sensi terjerembab dan jatuh.
"Akhhhh."
Sensi memekik karena tubuhnya benar-benar jatuh dengan kaki tersungkur sekerasnya ke rumput taman. Sensi kesakitan.
__ADS_1
"Delanaaa, apa yang kamu lakukan?" teriak seseorang yang ternyata Rangka. Sensi bangun dengan kaki yang sakit dan mulut meringis.
"Rangka? A~aku tidak sengaja. Maafkan aku." Delana mendadak gugup dan takut saat melihat Rangka yang tiba-tiba muncul.
"Kurang ajar, kamu tidak puas rupanya mengusik hidupku. Dulu kamu pergi dari hidupku dan berkhianat lari bersama lelaki lain yang lebih kaya, kini kamu masih belum puas juga mengusik kehidupanku yang baru aku bina. Maumu apa? Dengan melihat kejadian ini, aku tambah yakin makin tidak respek sama kamu. Ingat ya, mulai dari sekarang, jangan pernah temui anakku atau dengan sembunyi-sembunyi temui Glassy di sekolah, sebab jika itu terjadi, kamu akan tahu akibatnya. Aku akan laporkan kamu pada Polisi," tegas Rangka seraya berlalu dari taman itu dan hendak menyusul Sensi.
Namun Sensi yang ingin disusul sudah tidak ada, Rangka bingung mencari Sensi. Matanya memendar mencari di sekitar taman. Namun, sayang, Sensi tidak dia temukan.
"Sensi, kamu di mana?" Rangka kehilangan jejak, lantas dengan cepat dia menghubungi nomer Hp Sensi. Namun tidak diangkatnya. Tidak kehabisan akal, Rangka dengan cepat menuju GPS dan melacak keberadaan Sensi.
Rangka berlari kecil menuju mobil di parkiran, setelah suara Delana terdengar memanggil-manggil. Dia sungguh tidak ingin bertemu muka Delana, sampai kapanpun.
"Rangka! Rangka! Dengar aku. Ijinkan aku bertemu Glassy minimal seminggu sekali. Tolong Rangka. Jangan kamu tutup akses pertemuan aku dengan anak kandungku," teriak Delana. Namun Rangka tidak menggubris.
Rangka memasuki mobil, dan segera memanaskan mobil. Mobil pun melaju meninggalkan area parkiran. Delana melambai kecewa dengan mengibaskan tangannya ke udara.
Sementara itu Rangka melajukan mobilnya menyusuri jalan mengikuti kemana arah grab yang Sensi tumpangi. Sepertinya Rangka tahu, mau kemana Sensi pergi. Rangka berharap dia bisa menyusulnya dan jangan sampai Sensi terlanjur tiba di rumah mertuanya.
Rangka belok kiri, dia tahu jalan alternatif. Dengan terus mengikuti arahan GPS, Rangka melajukan mobilnya dan berhasil mencegat grab yang ditumpangi Sensi.
Mobil Rangka menghalangi grab tepat di depannya seraya mengangkat tangannya memberi kode supaya supir grab berhenti. Supir grab berhenti, kepalanya mendongak. Sementara itu Sensi belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia berusaha melihat ke arah depan. Matanya mengawasi, Sensi melihat ada sebuah mobil yang menghalangi jalannya grab.
Rangka segera keluar dari mobil, dan berjalan menuju supir grab. Di situ dia berbicara baik-baik meminta supir grab menurunkan penumpangnya.
"Boleh Bapak turunkan penumpang Bapak yang di dalam? Itu istri saya, kami tadi janjian, tapi kami ada salah komunikasi, jadi istri saya pergi duluan," pinta Rangka seraya menjelaskan sedikit duduk perkaranya yang hanya karangan Rangka saja. Sensi yang sudah menyadari itu Rangka, dia segera berontak dan ingin segera keluar. Nasib baik supir grab masih mengunci pintu mobil, jadi Sensi tidak bisa keluar.
Supir grab mengangguk dan setuju menurunkan penumpangnya di situ. Rangka segera membayar ongkos grabnya dengan melebihkan uangnya sedikit. Setelah itu Rangka segera memutarkan tubuhnya dan membuka pintu mobil jok belakang seraya badannya ikut masuk. Rangka memegang erat lengan Sensi seraya menariknya keluar, padahal muka Sensi sudah siap ditekuk tidak senang.
__ADS_1
"Sayang, ayo pulang. Maafkan aku, ya." Rangka membujuk seraya menarik tangan Sensi, Sensi menahan tubuhnya di dalam.
Supir grab merasa tidak enak melihat Rangka merayu-rayu istrinya untuk ikut ke dalam mobilnya.
"Ayo Mbak turun di sini saja. Ongkosnya sudah dibayar oleh suaminya. Sebentar lagi saya juga harus menjemput penumpang lain," ujar Supir grab setengah mengusir.
Sensi tidak menyahut, dia hanya bisa mengeluh dalam hati kenapa grabnya harus ketahuan Rangka. Terpaksa dia mengikuti Rangka turun dan memasuki mobil Rangka.
"Terimakasih Pak," teriak Rangka dari balik kemudinya pada Supir grab. Supir grab manggut.
Rangka segera melajukan mobilnya menyusuri jalan pulang ke arah rumahnya. Namun baru beberapa meter, tiba-tiba Rangka berhenti, dia menoleh ke arah Sensi.
"Sayang, kamu benar-benar ingin ke rumah bapak dan ibu? Tapi jika keadaanmu seperti ini, bukan tidak mungkin mereka curiga kalau kamu habis aku apa-apain." Sensi hanya diam saja, dia kesal dengan Rangka terutama setelah membaca status Delana yang masih misterius tapi mengarah pada Rangka yang sering dibilang 'penyakitan' oleh Delana. Dari status itu, Sensi semakin kesal sama Rangka.
Akhirnya karena melihat Sensi yang hanya menangis dan diam, Rangka memutuskan melajukan mobilnya menuju rumah. Dia tidak mau berkunjung ke rumah mertuanya dengan wajah Sensi yang sembab seperti itu.
Mobil tiba di depan gerbang yang segera dibukakan oleh Pak Mamat. Rangka segera memasukkan mobilnya dengan segera. Saat berhenti, Sensi langsung membuka pintu dan keluar, lalu berlari kecil menuju rumah, menaiki tangga dan memasuki ruang gudang, dia bersembunyi di sana menghindari Rangka. Sensi nangis sejadi-jadinya di sana menumpahkan kekesalannya pada Rangka dan pada semua yang terasa menyesakkan dadanya.
Rangka menyusul lalu langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Namun Rangka heran, karena tidak mendapati Sensi di sana.
Rangka mencari ke kamar Glassy. Namun di kamar putrinya juga tidak ada. Tidak berputus asa, Rangka terus mencari di sekitar lantai dua. Namun, belum ketemu juga. Setelah merasa yakin tidak ada di sekitar lantai dua, Rangka menuruni tangga dan berusaha mencari di taman belakang. Namun di lantai belakang juga tidak ada.
"Bi Narti, melihat istri saya tadi di sini atau dia masuk ke ruangan mana?" tanya Rangka pada Bi Narti. Bi Narti tidak tahu, dia sejak tadi mencuci dan belum melihat Sensi ke bawah.
"Di kamar Non Glassy mungkin, Den," beritahu Bi Narti yang langsung dapat gelengan dari Rangka.
"Saya sudah mencari di seluruh ruangan lantai dua, tapi istri saya tidak ketemu sama sekali."
__ADS_1
"Coba dihubungi saja Hpnya, Den. Mungkin saja Non Sensi ada di sekitar sini." Bi Narti memberi usul yang tadi tidak terpikir oleh Rangka.
Rangka mengikuti usul Bi Narti, dia kini mulai memanggil. Namun, Hp Sensi tidak aktif. Rangka kesal, akhirnya dia mencari Sensi dengan mencari satu per satu ruangan di bawah.