
Makan malam kami tersaji dengan elegan. Pelayan khusus Mas Rangka datang membawa makan malam yang lengkap. Dari makanan pembuka, berat, dan penutup lengkap ada. Mas Rangka terlihat sangat manis banget, menyuapiku dan mengambilkan makanan untukku. Sungguh aku bahagia diperlakukan istimewa olehnya. Tidak sia-sia rasa sakit yang tadi aku rasakan, kini terbayar dengan sikap tegas tapi lembut penuh kasih sayang.
"Makanlah Sayang yang banyak, ini sebagai amunisi untuk kita mengarungi ronde selanjutnya. Kamu jangan tegang seperti tadi dong, kamu harus rileks dan menikmati setiap momentumnya. Janji, nanti harus rileks ya. Kalau kamu rileks yang akan kamu rasakan adalah sebuah rasa nikmat yang nagih," bujuk Mas Rangka lagi sembari menyuapkan dessert sebagai makanan penutup.
Makan malam romantis telah kami lalui. Mas Rangka menyuruhku tidur sejenak. Tapi aku tidak tidur, aku langsung ke kamar mandi membersihkan sisa makanan di mulutku dengan bergosok gigi dan meneteskan wewangian aroma terapi di sekujur tubuhku yang seketika membuat aku tenang dan bergairah.
Saat keluar kamar Pak Rangka sedang menyesap rokok di balkon. Ini kesempatanku untuk mengatur nafas supaya babak kedua aku tidak mengalami tegang seperti tadi. Beberapa menit kemudian Mas Rangka masuk kamar dan melirik sejenak ke arahku sambil tersenyum.
"Sudah siap, Sayang?" tanyanya sembari ke kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, wangi tubuh Mas Rangka sudah sangat menggoda. Sepertinya wewangian aroma terapi tadi khusus buat pengantin baru. Mendadak aku juga mengalami gairah yang lebih dahsyat dari yang pertama tadi.
"Jangan tegang, kita nikmati babak kedua dan babak selanjutnya sampai subuh tiba. Kamu akan terbiasa nanti, awalnya masih sakit tapi lama-kelamaan tidak akan lagi," ujarnya seraya membenahi ranjang kami bekas pertempuran pertama kami tadi. Saat dikebut-kebut dengan tangan, mataku dan mata Mas Rangka mendapati noda merah di atas seprei. Mas Rangka tersenyum bangga.
"Ini tandanya hutan laranganmu hanya aku yang pertama menjamahnya. Aku bahagia bisa menjadi yang pertama buatmu," ucapnya seraya memelukku erat sebagai rasa haru dan bahagia.
"Semua yang kita lakukan tadi sudah kita abadikan di dalam sini," tunjuknya pada sebuah kamera handcam yang kini berada di tangannya. Aku terbelalak tidak percaya, kok bisa-bisanya Mas Rangka merekam adegan tidak senonoh kita berdua.
"Tenang dulu, jangan takut begitu. Semua ini aman tersimpan rapi di flashdisk ini. Hanya kita berdua yang tahu. Dan ini bukan untuk dikonsumsi publik. Hanya untuk kita berdua," alasannya.
"Tapi Mas, kenapa harus di vidio segala? Kan saya malu."
__ADS_1
"Hanya dokumentasi, saat senggang kita bisa iseng melihatnya," ujarnya lagi.
"Tapi, itu dosa lho Mas kalau kita menonton adegan ranjang, nanti malah kita yang mau." Saat aku berkata seperti itu Mas Rangka tertawa terbahak-bahak merasa ucapanku lucu.
"Iya, aku tahu Sayang. Tapi yang kita tonton bukan vidio orang lain, tapi punya kita. Janji deh setelah beberapa kali lihat, nanti vidionya kita sama-sama bakar ya jika kamu malu," ujar Mas Rangkai dengan senyum yang mulai menggoda.
"Mas, bolehkah saat babak kedua lampunya ganti dengan yang temaram," ucapku meminta.
"Boleh, asal kali ini kamu juga berikan perlawanan ya, supaya kamu tidak sakit lagi."
Setelah sepakat, akhirnya babak kedua dimulai. Lampu diganti dengan yang temaran, sekarang aku sedikit lega karena semua gerakanku tidak akan terlalu jelas dilihat suamiku. Walaupu masih bisa dilihat, tapi setidaknya kalau temaran rasa malu saat bertarung dan melawan bisa sedikit disembunyikan.
Babak kedua dimulai. Mas Rangka mulai menyerang dengan pemanasan yang benar-benar membuat suasana makin panas dan bergairah. Sepertinya aku juga mulai melawan dan terlatih mengikuti Mas Rangka. Nampak seringai puas di bibir Mas Rangka.
Memang masih sakit dan aku masih merasakan sensasi itu, tapi aku berusaha rileks dan menikmati setiap sentuhan Mas Rangka, sehingga pada titik tertentu, aku merasakan sebuah rasa yang selama ini jadi khayalanku. Rasa yang melayang-layang dan lega dan tentunya rasa nikmat yang aku rasakan. Sepertinya Mas Rangka sudah berkali-kali merasakan itu. Buktinya sudah mau babak ketiga dia masih menagih lagi.
Staminanya sungguh luar biasa, dia pria yang perkasa dan mampu membawa suasana menjadi semakin romantis dan bergairah. Kamipun melakukan lagi dan lagi sampai subuh menjelang.
"Kamu sungguh luar biasa, sangat hebat dan sangat menyenangkan. Kamu sangat nagih, Sayang. Cantik dan sempurna Tuhan menciptakan kamu. Aku berterimaksih padamu sedalam-dalamnya." Mendengar ucapan Mas Rangka, aku menjadi sangat terharu, dia berterimaksih padaku padahal aku adalah kini ibarat bajunya yang selalu harus jadi pakaiannya dalam keadaan apapun.
Sebagai rasa haruku, dengan spontan aku memeluk Mas Rangka haru lalu mencium bibirnya sekilas dan segera menyembunyikan wajahku di balik dada bidangnya. Tangisku pecah di sana.
__ADS_1
"Saya yang harus berterimakasih sama kamu, Mas. Sebab Mas Rangka mau dan sudi memilih Sensi menjadi istri Mas Rangka. Sensi si gadis sederhana yang ceplas-ceplos dan kadang mengesalkan."
"Siapa bilang mengesalkan? Menyenangkan begini kok."
"Ayo, sebaiknya kita mandi besar dulu, setelah itu kita sholat Subuh berjamaah. Lalu setelah itu .... "
"Istirahat sampai pagi, tubuh saya lelah," potongku cepat sampai Mas Rangka berdecak sebal.
"Sayang, kamu itu salah, siapa juga yang akan menggarapmu di pagi buta begini, yang ada akan ketahuan orang-orang karena suara teriakan manjamu yang meminta lagi," goda Mas Rangka sembari mencubit kecil pinggangku. Otomatis aku menggelinjang dan terbukalah selimut tipis yang menutup sekujur tubuhku. Lagi-lagi warna merah menjadi pemandangan yang tidak bisa dielakkan lagi saat tubuhku terbuka begini.
Dadaku apalagi, tidak henti-hentinya Mas Rangka sampai subuh tadi menggigitnya dengan gemas, katanya padat dan kenyal, sampai tidak bosan menjamahnya.
"Mas, ini bagaimana? Semua meninggalkan noda merah. Terus di leher ini bagaimana, nanti ketahuan." Aku protes karena bagaimanapun jika masalah pribadi ini ketahuan orang bakalan malu sejagat.
"Tenang saja, Sayang. Kan ada bedak yang bisa menutupi luka, apalagi cuma luka gigitan serangga, pasti bisa ditutupi," ucapnya tenang. Untung saja Mas Rangka ingat akan hal itu, sehingga sehabis mandi aku berhasil menutupi hasil gigitan kecil Mas Rangka dengan bedak itu, dan hasilnya sangat sempurna. Setelah membersihkan diri dan sholat subuh berjamaah, kami kembali merebahkan diri di ranjang pengantin, kali ini benar-benar akan tidur karena jujur saja setelah pertempuran semalaman aku sangat lelah dan ngantuk.
"Ayo Sayang, tidurlah di dalam pelukanku," ajaknya sembari merebahkan tubuh duluan dan menunjuk dadanya untuk menjadi bantalnya. Dengan spontan tanpa disadarinya aku mencium bibir Mas Rangka yang selalu mempesona itu. Tadinya hanya sekilas, tapi berhubung Mas Rangka keburu menyadarinya akhirnya ciuman itu tertahan lama. Dan kami menikmati ciuman itu sebelum kami benar-benar tertidur.
"Istirahatlah sampai orang-orang membangunkan kita untuk makan pagi. Kita lanjutkan lagi petualangan kita semalaman tadi di bulan madu besoj," tutupnya mendekap erat tubuhku. Dan kamipun tertidur sangat lelap saking ngantuk dan lelahnya.
Akhirnya kisah Sensi dan Rangka season satu tamat. Nantikan season dua, nunggu Authornya mood. Hehhe.... Terimakasih atas dukungan kalian semuanya.
__ADS_1