Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Menemui Rima


__ADS_3

   Rima terbelalak melihat kehadiran Sensi teman seperjuangannya dahulu saat Sensi belum menikah dengan pemilik perusahaan ini. Tadinya Rima terkeju saat seseorang memerintahnya mengerjakan map. Rima pikir siapa dan dia sama sekali tidak mengenali suara Sensi, sebab Sensi hampir menirukan suara Leader Tari yang galak itu. Tapi nasib baik, Leader Tari tidak pernah galak padanya seperti pada Sensi selama Sensi bekerja di sini.


   "Nyonya Rangka, apa kabar?" sapa Rima, anehnya mata Rima masih jelalatan ke belakang Sensi. Tatapannya nampak terkejut dan sedikit gugup.


   "Ya ampun, Rima, apa yang kamu lihat? Aku di sini lho bukan di belakang," sentak Sensi seraya perlahan menoleh ke belakang. Rima menatap dengan sedikit takut, dia takut terjadi perang ke tiga antara Leadernya dan Sensi, sebab Rima tahu sendiri selama Sensi jadi staff di divisi ini, selalu saja Tari memperlakukan Sensi kurang baik. Rima penasaran dengan sikap yang akan ditunjukkan Sensi pada Tari sang Leader.


   "Syukur-syukur Kak Tari dibikin jengkel dulu deh sama Sensi, biar tahu rasa dia. Biar perlakuan sadis dia ke Sensi dibalas," harap Rima dalam hati.


   "Kak Tari," ucap Sensi santai, dia tidak terkejut sama sekali melihat tari sang mantan Leadernya dahulu.


   "Bu Sensi, apa kabar? Ada yang bisa saya bantu?" tanya tari mendadak memanggil Bu Sensi. Biasanya dulu saat Sensi masih menjadi anak buahnya, dia selalu berteriak dengan memanggil Sensi cukup dengan berteriak 'Sensiiii'.


   "Kabar saya baik. Kamu bagaimana Kak Tari? Senang banget tidak ada saya di sini? Hemm, saya sangat senang melihat Anda. Terlebih saya senang dan bahagia bertemu teman saya yang satu ini, benar tidak Rima?" Sensi terlihat sangat berwibawa dengan bicara seanggun mungkin di depan Tari.


   "Tentu saja saya tidak senang dengan ketidak adaan Anda di sini, Bu Sensi." Tari menjawab gugup.


   "Bukankah Anda senang jika saya tidak berada di sini?" tanya Sensi datar. Tari kelihatan gugup dan serba salah terlihat dari gerak-geriknya.


   "Lho, Kak Tari, kenapa gugup begitu, apa ada yang salah dengan pertanyaan saya?" Sensi menatap Tari dengan tajam.


   "Ti~tidak, Bu Sensi, saya hanya tidak menduga saja Anda datang ke sini tiba-tiba, tahu begitu mungkin saya sediakan apa-apa untuk Anda." Rima berbasa-basi dan Sensi tahu itu.

__ADS_1


   "Tidak perlu Kak Tari, saya sudah membeli banyak makanan kecil sebagai camilan nanti dengan Rima. Kebetulan saya mau ajak rima ke taman kantor, supaya saya ada teman untuk ngerumpiin orang-orang yang julid di perusahaan ini," tukas Sensi sambil beralih ke Rima.


   "Rima, ayo kita ke taman kantor. Aku akan mengajak kamu menikmati camilan ini di sana. Ayo." Sensi menarik-narik lengan Rima yang saat ini sedang sibuk dengan mouse di tangannya. Rima berusaha menahan lengannya, sebab dia takut dimarahi Tari, terlebih saat ini pekerjaan dia banyak.


   "Bu Sensi, saya minta maaf, pekerjaan saya banyak. Tidakkah Anda lihat bahwa pekerjaan saya banyak," ujar Rima berubah formal.


   "Alahhh, kamu ini apaan sih Rima? Jangan formal-formal banget, aku tuh masih teman kamu yang dulu. Jadi, kamu panggil aku santai saja. Panggil aku seperi biasanya kamu manggil," suruh Sensi membuat Tari terbelalak tidak percaya.


   "Kenapa giliran Rima, boleh bilang nama, tapi giliran aku tidak sama sekali," bisik Tari cemburu pada Meta.


   "Ayolah Rima, kamu tidak perlu ijin lagi ke Leader kamu. Aku bisa kasih ijin ke siapapun tanpa harus minta ijin padanya sebab aku yang sudah ijinkan," tegas Sensi tanpa melihat ke arah tari.


   "Kak Tari, aku minta maaf. Aku pinjam Rima sebentar. Nah, selesaikan semua map-map yang tadi akan dikerjakan Rima. Tidak boleh ada yang protes dan ini wewenang aku membawa Rima pergi," tandas Sensi meninggi serta tidak mau dibantah, wibawanya mendadak muncul. Akhirnya Sensi berhasil membawa Rima ke taman bunga di kantor itu untuk bersantai dan tentunya menikmati camilan yang tadi sudah dibelinya di kantin kantor milik suaminya.


   Tari menghela nafas panjang melihat Rima dan Sensi berjalan melenggang melaluinya menuju taman di kantor ini. Dia kini tidak bisa apa-apa, sebab Sensi merupakan istri dari pemilik perusahaan ini.


  Sensi dan Rima berjalan menuju taman kantor sembari tertawa cekikikan mengingat kembali kejadian tadi saat melihat Tari gugup berbicara dengan Sensi.


   "Minimal rasa sakit hati gue di masa lalu sedikit terbalaskan," ucap Sensi yang kini sudah berada di taman kantor menikmati camilan yang dibelinya tadi.


   Tidak berapa lama seorang OB menghampiri seraya meletakkan dua cup coffee chococinno yang angi coklatnya semerbak kemana-mana."

__ADS_1


   Kebersamaan Sensi dan Rima yang enjoy, tidak terasa menghabiskan waktu yang lumayan lama. Sensi menyudahi pertemuannya kali ini dengan Rima, sebab dia akan keruangan HRD terlebih dahulu menemui Mbak Mira.


   Setelah tiba di depan ruangan HRD, tanpa harus masuk ke ruangannya, Sensi bertemu Mbak Mira di mulut pintu. Dengan rasa tidak percaya, Mbak Mira kaget sekaligus tidak menduga bahwa hari ini akan kedatangan tamu yang tidak pernah dia dga sebelumnya.


   "Bagaimana Bu Sensi, apakah gosip miring tentang Anda yang menyebar begitu saja tentang berita khamilan Anda terbukti?" Pertanyaan HRD Mira sontak mengundang tawa Sensi sampai terpingkal.


   "Ha, ha, ha, ... Jelas dong Mbak Mira, itu semua terbukti. Malah tiap pagi saya lahirkan tuh bayi di lubang WC. Ha, ha, ha, ha ...." Sensi dan Mira tertawa terbahak-bahak di dalm ruangan HRD menertawakan gosip yang dulu pernah menimpa Sensi.


   Karena waktu semakin bergulir dan jam istirahat sudah tiba, dengan terpaksa dan berat hati, Sensi berpamitan pada HRD Mira.


   "Mbak Mira aku pamit dulu, ya. Sepertinya aku sudah ditunggu suamiku di ruangannya." Sensi berpamitan pada Rima untuk menuju ruangan suaminya Rangka.


   "Ok, Bu Sensi. Terimakasih atas kedatangannya." Rima menatap kepergian Sensi yang kini hendak menaiki lantai tiga dan empat perusahaan itu untuk menemui ruangan suaminya.


   Sensi kini sudah berada di mulut pintu ruangan Rangka. Namun sesuatu yang tidak diduganya terjadi. Di dalam ruangan Rangka sepertinya ada suara seseorang, dan ternyata mereka sedang bertengkar entah apa yang dipertengkarkan.


   Tanpa ragu perlahan Sensi membuka pintu ruangan Rangka, pada saat pintu terbuka dengan sangat lebar, baik Rangka, Sensi dan salah satu tamu yang berada di sana.


   Rangka dan seorang tamu yang tadi terdengar bertengkar itu, sontak menata ke arah Sensi terhenyak.


   Lantas siapakah tamu yang tadi bertengkar dengan Rangka di dalam ruangannya? Ikuti terus episodenya....

__ADS_1


__ADS_2