Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Komentar di Status Delana


__ADS_3

   Empat hari berlalu sejak Rangka pergi entah kemana dan sempat berpesan pada Sensi untuk tidak kemana-mana, kini Sensi merasa sudah tidak tahan. Dikurung di rumah tanpa ada kabar. Hpnya juga kini sudah tidak bisa dihubungi atau menghubungi, sebab Sensi belum memiliki nomer yang baru lagi.


   Sensi kini memikirkan bagaimana caranya dia bisa membuka Hpnya untuk sekedar hiburan? Jika tidak ada kartu SIM maka dia tidak bisa berselancar di media sosial apapun. Akhirnya Sensi memberanikan diri untuk membeli kartu SIM dengan menyuruh Pak Mamat.


   Sensi menuruni tangga, dari arah dapur Bi Narti tetap mengawasi Sensi sesuai perintah Rangka.


   "Pak Mamat, kemari sebentar," panggil Sensi pada Pak Mamat yang sedang berjaga di depan. Pak Mamat tidak menunda, dia segera berlari menuju Sensi.


   "Iya, Non, ada apa?" tanya Pak Mamat hormat.


   "Saya mau minta tolong sebentar pada Pak Mamat, boleh?" Pak Mamat tersentak mendapat pertanyaan penuh kesopanan dari seorang majikan.


   "Boleh dong, Non. Memangnya apa yang perlu saya bantu? Apakah Non Sensi mau pergi dan meminta saya antarkan?" Sensi langsung menggeleng.


   "Saya mau minta tolong sama Pak Mamat, tolong belikan saya kartu perdana ke toko pulsa depan. Nomernya yang sudah ada kuota data , ya, Pak. Belikan saja yang kuota datanya 50 GB," suruh Sensi sembari memberikan uang merah satu lembar pada Pak Mamat.


   Pak mamat meraih uang yang disodorkan Sensi, lalu bergegas memanaskan motor. Kemudian membawa motor itu keluar gerbang dan melaju ke toko penjualan pulsa yang jaraknya dari rumah Rangka hanya kurang lebih 500 meter.


   Tidak berapa lama Pak Mamat kembali dan memasukkan motornya lagi ke dalam gerbang. Kedatangan Pak Mamat sudah ditunggu Sensi di depan teras rumah. Pak Mamat tergopoh menghampiri Sensi dan memberikan sebuah kartu perdana beserta uang kembalian yang masih sisa 48 ribu.

__ADS_1


   "Terimakasih banyak, Pak Mamat. Kembaliannya ambil saja buat jajan," ujarnya seraya bergegas meninggalkan Pak Mamat yang kegirangan mendapatkan uang kembalian yang diberikan Sensi.


   Sensi segera memasuki kamarnya dan mulai membuka kartu perdana yang baru dibelinya. Lalu membuka kartu itu dan dipasang ke dalam chip Hpnya kemudian diaktifkan sesuai arahan kartu.


   "Beres," ucapnya setelah pendaftaran kartu sudah benar dan selesai. Kemudian Sensi mematikan sejenak Hpnya, beberapa menit kemudian dihidupkan kembali untuk memulai berselancar di media sosial.


   Sebelum berselancar di media sosialnya, Sensi bermaksud menyimpan nomer Hp Rangka dan orang-orang terdekat saja. Namun, ternyata nomer-nomer lama yang tersimpan di kartu lama rupanya masih menempel dan tidak ikut hilang. Akhirnya Sensi dengan tekad bulat menghapus satu persatu nomer lainnya yang menurutnya sudah tidak berkepentingan, termasuk nomer Krisna. Hanya menyisakan nomer keluarga saja.


   Kini setelah kartunya sudah bisa digunakan seperti biasa, Sensi mulai membuka media sosialnya. Yang pertama kali dia buka tentunya media sosial berwarna biru.


   Facebook menjadi tujuan utamanya. Dia hanya sesekali buka facebook dan hanya iseng saja memberi like pada status di grup yang sedang ia ikuti, jika memang isi statusnya sangat bermanfaat.


   Ketika Sensi membuka dinding facebooknya dan melihat begitu banyak notif di tombol lonceng, tanpa segan Sensi membuka tombol lonceng hanya sekedar ingin tahu saja. Sensi terkejut saat membuka tombol lonceng. Di sana masih saja Krisna menerornya dengan memberi like pada foto maupun status lama yang pernah Sensi unggah. Namun, kali ini Sensi sama sekali tidak ingin menanggapi apa-apa, dia sudah kapok dan tobat untuk membalas apapun komen yang berkaitan dengan Krisna, sebab dia tidak mau rumah tangganya jadi korban dan hancur.


   "Ting."


   Tiba-tiba saat Sensi ingin keluar dari pesan inbox, sebuah notif inbox masuk. Dan Sensi melihat Krisna lagi yang mengirimkan pesan inbox.


"Sensi, apa kabar? Kenapa Hp kamu tidak aktif?" Sensi gemas membaca pesan inbox itu. Ingin rasanya berkata kasar untuk mengusir Krisna supaya tidak lagi-lagi mengirimkan pesan apapun ke pesan inboxnya.

__ADS_1


"Mohon maaf Mas Krisna, mungkin ini balasan inbox saya yang terakhir, sebab saya ingin menghargai suami saya. Saya tidak ingin rumah tangga saya hancur gara-gara membalas pesan dari Mas Krisna. Sekali lagi saya minta maaf, bukan maksud saya sombong atau memutus silaturahmi."


   Sensi segera keluar dari pesan inbox setelah mengirimkan pesan untuk yang terakhir kalinya pada Krisna. Sensi kini kembali ke dinding facebooknya, hanya melihat-lihat tanpa ingin membuat status apapun. Sebab Sensi yakin, jika dia membuat status, maka bisa jadi Krisna melike statusnya dan mencoba mencari tahu kabar berita tentangnya. Lama-lama Krisna begitu menyebalkan. Pikirnya.


   Tanpa bermaksud ingin tahu lebih dalam, ketika mata Sensi tertuju pada sebuah nama yang pernah ia dengar dengan foto profil seorang perempuan dewasa serta seorang anak kecil yang jelas dia kenal, yaitu Glassy. Dan sepertinya foto itu masih baru. Sensi tahu sebab baju seragam yang dipakai Glassy mengingatkan Sensi ketika Glassy sudah diambil dari sekolah oleh Delana, ibu kandungnya, tanpa ijin.


   Tentu saja perempuan dewasa itu adalah Delana. Seorang perempuan sosialita dengan gaya wah dan apa yang digunakannya terlihat glamour. Dia cantik dan seksi.


   "Cantik dan glamour," bisik Sensi mengagumi Delana, seorang perempuan sosialita, mantan istri Rangka. "Tapi kenapa Mas Rangka sanggup dikhianatinya, apa yang kurang dari seorang Mas Rangka?" tanya Sensi masih berguman.


   Lalu Sensi mencoba mengklik profil Delana dengan rasa penasaran yang tiba-tiba begitu dalam. Di halaman facebooknya, sepertinya Delana baru beberapa hari memasang foto profil dirinya bersama Glassy, di bawahnya ada sebuah keterangan, "Together My daughter" diiringi emot bunga eceng dan ciuman tiga kali.


   Status itu dibanjiri ratusan komentar, Sensi sedikit kepo dengan komentar yang ratusan itu, lalu dia membukanya dan membacanya sekilas.


"Anak pertama elu dari suami elu yang pertama, ya, Del? Cantik, tapi lebih mirip mantan suami elu." Dan ada banyak lagi komentar lainnya yang Sensi lewatkan. Dipikir-pikir semua itu tidak penting baginya. Namun ketika dia mau menutup kolom komentar, tiba-tiba matanya memicing pada salah satu komenan seseorang yang dibalas oleh Delana.


"Mantan suamimu sudah menikah lagi, ya, Del dengan seorang gadis muda pegawai di kantornya. Sepertinya istri baru mantan suami kamu sangat sayang sama anakmu, mereka begitu dekat dan akrab. Tapi itu lebih baik daripada tidak." Seseorang yang bernama Shinta memberikan komentar demikian disertai emot lambang perdamaian.


"Alahhhh, paling perempuan muda itu hanya mau sama hartanya si Rangka, setelah dia bosan dan malu karena si Rangka penyakitan, pasti perempuan itu bakal meninggalkan mantan suamiku juga yang cemburuan itu," balas Delana diakhiri emot tertawa ngakak.

__ADS_1


   Sensi terhenyak membaca komentar Delana tersebut, dia memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak. Tega-teganya mantan istri suaminya bicara seperti itu di kolom komentar yang siapa saja bisa membacanya. Mengolok-olok Rangka dan menuding dirinya negatif.


   "Aku berjanji Mas, aku tidak akan meninggalkanmu walaupun kamu penyakitan seperti kata Mbak Delana," tekadnya sembari mengepalkan tangan dan menutup aplikasi facebook.


__ADS_2