
Selamat membaca.
Sensi masih menangis di dalam ruangan kerja Rangka, sementara Rangka mulai keluar dari ruangan itu. Mukanya memerah dan emosinya masih jelas terlihat. Dia berjalan cepat memasuki kamar. Lalu beberapa menit kemudian dia keluar kamar dan segera menuruni tangga.
Pada saat bersamaan, tiba-tiba muncul Nyonya Catly Baja dari arah ruang tamu. Nyonya Catly heran melihat Rangka yang berjalan cepat menuju pintu depan dengan muka yang terlihat sangat marah.
"Rangka, Rangka, ada apa? Kenapa ini, kenapa dengan wajahmu seperti menyimpan marah?" heran Nyonya Catly seraya mendekati Rangka.
"Mas Rangka, Masss ...." Saat bersamaan Nyonya Catly melihat Sensi yang berteriak dan berusaha mengejar Rangka yang sudah menuruni tangga dan bergegas pergi dari rumah.
"Rangka , stop!" titah Nyonya Catly. Rangka patuh dan diam tanpa melihat ke arah Mamanya. Nyonya Catly menghampiri Rangka yang sudah hampir di muka pintu. Dia mendekat dan meraih pundak Rangka.
"Rangka, ada apa? Apa kalian sedang bertengkar?" tebak Nyonya Catly hati-hati seperti tidak ingin menyinggung perasaan anaknya. Nyonya Catly tahu jika Rangka sudah memperlihatkan amarahnya, itu artinya ada sesuatu yang serius yang membuatnya marah dan sesuatu itu sepertinya tidak bisa ditolelir.
Nyonya Catly teringat masa lalu ketika Rangka mengetahui pengkhianatan Delana dan selingkuhannya, amarah dan gelagat yang diperlihatkan Rangka sama seperti yang diperlihatkan Rangka saat ini. Nyonya Catly takut hal itu terjadi lagi pada Rangka. Nyonya Catly berharap itu semua tidak benar.
"Apakah Sensi berselingkuh?" duganya dalam hati yang langsung disangkalnya.
"Rangka, ada apa? Cerita sama Mama. Ayo duduklah, bicara dengan kepala dingin, ceritakan apa yang sedang terjadi, bukankah kamu dua hari yang lalu baru pulang dari Samarinda? Kebetulan Mama ingin mengambil oleh-olehnya." Nyonya Catly berusaha membujuk Rangka yang kini sedang benar-benar emosi.
"Mama," sapa Sensi seraya menghampiri dan menyalami Nyonya Catly. Otomatis Rangka yang ditahan Nyonya Catly kini menoleh sejenak pada Sensi lalu tanpa kata dia berjingkat dan bergegas keluar.
"Urusan kita belum selesai," ucap Rangka sebelum menjauh dari muka pintu. Kata-kata Rangka seakan menusuk jantung Sensi.
"Mas Rangkaaaa, kembali Masss," teriak Sensi diiringi tangisan lagi yang memilukan. Nyonya Catly merasa iba, dia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan anak dan menantunya itu. Nyonya Catly bertekad jangan sampai ketakutannya tentang rumah tangga anak menantunya menjadi nyata. Nyonya Catly akan berusaha mengorek keterangan dari Sensi yang sejujurnya.
"Tidak perlu dikejar, biarkan Rangka menenangkan diri. Kalau dikejar, maka kemarahannya malah semakin jadi," cegah Nyonya Catly menahan tubuh Sensi.
Nyonya Catly membawa Sensi duduk di sofa dan berusaha menenangkan Sensi yang masih terisak. Tidak berapa lama setelah Sensi tenang, Nyonya Catly mulai bertanya dengan penuh hati-hati. Nyonya Catly takut pertanyaannya menyakiti hati Sensi.
"Boleh Mama bertanya, tapi kamu jawab dengan jujur?" ujar Nyonya Catly menatap dalam mata Sensi. Sensi menundukkan kepalanya saat Nyonya Catly mulai menatapnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mama harus tahu permasalahan kalian supaya Mama bisa ambil kesimpulan dan mencari solusinya." Nyonya Catly menatap dalam wajah Sensi dia berharap Sensi berkata jujur dengan semua yang terjadi.
__ADS_1
Sensi mulai mendongak, sikapnya terlihat seperti akan berbicara. Nyonya Catly mengusap pelan bahu Sensi menyalurkan energi positif pada tubuh Sensi.
Akhirnya Sensi berbicara dan menceritakan semua yanng terjadi dari awal sampai akhir tanpa kurang satu apapun.
"Apakah benar antara kamu dan laki-laki yang bernama Krisna itu tidak sedang menjalani hubungan pacaran?" selidik Nyonya Catly hati-hati.
"Itu semua tidak benar, Ma. Semua hanya kesalahpahaman. Tapi, sayalah yang salah di sini. Saya akui saya memang salah karena membalas setiap pesan yang dikirimkan Mas Krisna."
Sensi menyangkal semua dugaan Nyonya Catly bahwa dirinya terlibat pengkhianatan kepada Rangka.
"Ma, saya takut Mas Rangka menceraikan saya hanya gara-gara kesalahpahaman ini. Saya bersumpah bahwa saya tidak pernah mengkhianati pernikahan yang sakral ini." Sensi sungguh-sungguh seraya bersimpuh di kaki Mama mertuanya.
"Saya mohon, Ma. Percayalah, saya tidak berkhianat dan bahkan menduakan Mas Rangka. Semua itu berawal dari balasan WA saya yang membalas lagi pesan WA dari Mas Krisna. Tapi Mas Rangka tidak suka karena saya dianggap terlalu beramah tamah," tutur Sensi sungguh-sungguh. Nyonya Catly melihat kesungguhan di dalam mata Sensi dan sepertinya Sensi jujur.
"Tolong saya, Ma. Halangi niat Mas Rangka jika Mas Rangka ingin menceraikan saya," mohon Sensi dengan wajah yang sedih. Nyonya Catly tersentak dengan pernyataan Sensi barusan, dia tidak ingin kejadian yang sama menimpa pada pernikahan Rangka yang kedua.
"Kamu tenang dulu. Biarkan Mama yang bicara pelan-pelan pada Rangka. Saat ini dia sedang emosi. Kamu juga nanti harus berusaha meyakinkannya kalau emosinya sudah mereda." Nyonya Catly berusaha membujuk dan menenangkan Sensi yang sedang kalut.
Sensi sedikit lega, bahwa kejadian ini akan bisa diselesaikan dengan baik dan menemui jalan keluar yang baik pula.
Setelah Sensi sudah mulai tenang, Nyonya Catly pun pamit pulang meskipun dia khawatir dengan keadaan menantunya.
Jam dinding mulai berdentang empat kali, Sensi baru sadar bahwa Glassy sejak siang tadi belum pulang dari sekolah. Sensi khawatir dengan keadaan Glassy sehingga dia sangat kalang kabut. Lalu dengan panik Sensi menghubungi kediaman Mama mertuanya dan menanyakan keadaan Glassy. Sensi sangat bersyukur kala mendengar bahwa Glassy berada di rumah mertuanya.
Malam menjelang. Sosok yang dinantikan oleh Sensi belum muncul sama sekali. Rangka dan Glassy tidak pulang ke rumah. Sensi merasa sangat sedih dengan sikap Rangka yang membiarkan dirinya terpuruk sendiri di dalam rumah.
"Mas Rangka, pulanglah, Mas. Kembalilah padaku, jangan pernah tinggalkan aku," mohon Sensi menangis. Air matanya yang tadi kering kini tumpah lagi.
Sampai tiba keesokan harinya, tiba-tiba Sensi dikejutkan dengan kedatangan Rangka. Sensi bahagia dan akan berusaha mengembalikan Rangka pada Rangka yang dahulu sangat mencintainya.
Sensi segera memasuki kamar, dia akan merencanakan sesuatu untuk Rangka, dan kesempatan ini tidak boleh disia-siakan, yang penting Sensi sudah berusaha mengembalikan Rangka padanya. Apa sebetulnya yang akan Sensi lakukan untuk menarik perhatian Rangka?
Pintu mulai dibuka, terdengar dari suara dan gerakannya. Sensi yang kini sedang berada tepat di samping pintu bersiap memulai aksinya. Tiba-tiba Sensi menutup pintu kamar dan menguncinya, lalu dia menghampiri Rangka dan merangkulnya dari belakang.
__ADS_1
Wangi harum Rangka yang biasa dia sesap tiap hari kini bisa dirasakannya lagi. Sensi menyesap dalam-dalam seakan wangi itu tidak akan dia rasakan lagi. Tiba-tiba air matanya kembali jatuh, dia tidak sanggup jika harus membayangkan berpisah dengan Rangka dan Glassy, anak sambungnya.
"Mas Rangka, aku mohon jangan pergi lagi, aku mohon Mas. Aku menyesali perbuatanku, Mas. Aku janji tidak akan mengulang lagi," mohonnya dengan uraian air mata.
Perlahan Rangka melepaskan pelukan Sensi. Namun Sensi malah semakin erat memeluk Rangka. Sensi benar-benar tidak mau kehilangan Rangka kali ini.
"Aku mohon, Mas. Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh tidak pernah berpikir untuk mengkhianati kamu. Aku mohon, jangan pergi lagi. Bukankah rumah Mas Rangka di sini?" singgung Sensi masih memeluk.
Rangka mengurai pelukannya dengan perlahan, rasa kesal akibat Sensi yang terlalu beramah tamah pada Krisna masih saja membayang di ingatannya.
Sayang sekali, Rangka yang sudah dibujuk, sepertinya tidak goyah. Rasa cemburu dan kecewanya pada Sensi terlanjur menguasai dirinya sehingga Rangka tidak merespon.
"Mas Rangka, aku mohon Mas, jangan pergi," tahan Sensi pilu saat Rangka kembali melangkahkan kakinya keluar pintu kamar.
"Mas, jangan!" cegah Sensi seraya masih memeluk Rangka dari belakang dengan sangat erat. "Aku merindukan kamu, Mas. Aku mohon jangan tinggalkan aku," ucap Sensi lagi benar-benar menangis.
Rangka memutar tubuhnya dan kini berhadapan dengan wajah Sensi yang sangat sedih dan memilukan. Sebuah penyesalan terlihat di sana. Rangka merasa iba, sebenarnya semua ini bukan kesalahan dia semata. Tapi untuk saat ini Rangka harus memberi pelajaran untuk Sensi supaya Sensi tidak mudah lagi membalas atau beramah tamah membalas pesan dari lelaki lain.
"Sudahlah, aku harus pergi," ucap Rangka sembari mengurai pelukan Sensi.
"Tetaplah di rumah ini, jika kamu memang masih menghargaiku. Tidak perlu mencari Glassy karena Glassy sedang aku ungsikan." Isak tangis itu mendadak reda saat Sensi mendengar penuturan Rangka barusan.
"Apa maksudnya, Mas? Apa yang mau kamu lakukan? Jangan ceraikan aku, aku mohon, aku tidak sanggup hidup tanpamu. Aku hanya mencintaimu Mas Rangka," tutur Sensi lagi pilu.
"Menyingkirlah, aku harus segera pergi. Ingat pesanku. Jangan pergi dari rumah ini kalau kamu masih menghargaiku," tekannya menatap Sensi tajam.
Sensi diam terpaku, dia tidak paham dengan maksud kata-kata Rangka barusan. Jangan pergi dari rumah ini untuk berapa lama?
"Mas, untuk berapa lama? Dan apa maksudnya Mas? Kenapa Mas Rangka memberiku teka-teki?" tanya Sensi lagi sangat penasaran. Namun pertanyaan Sensi kali ini tidak ada jawaban. Rangka perlahan pergi meninggalkan Sensi yang kembali terisak pilu. Tubuh Sensi merosot di bawah rajang, dia tidak kuasa menahan kesedihan akibat Rangka barusan.
"Mas Rangka, kamu kejam banget. Kenapa kamu tidak mudah memaafkan kesalahanku yang menurutku tidak seberapa? Aku bukan peselingkuh dan pengkhianat cinta, hanya karena aku membalas pesan WA Mas Krisna, tapi maafmu begitu sulit."
Sensi sangat sedih atas kepergian Rangka barusan yang sempat memberikan satu pesan yang sedikit teka-teka. Lantas kalau dia tidak boleh kemana-mana, maka dia harus apa? Menunggunya pulang? Lalu apa jaminannya dengan Sensi berada di rumah, apakah Rangka akan kembali merangkulnya dan memaafkan kesalahannya.
__ADS_1
"Baiklah Mas, aku akan coba jalankan pesan kamu agar aku tidak pergi kemana-mana selain di rumah ini. Tapi sampai kapan, Mas? Kenapa tidak memberikan batasan waktu supaya aku yakin bahwa aku masih akan diberi kesempatan dua kali.
Sensi menatap sendu keluar sana, menatap kepergian suami yang sangat dicintanya yang pergi dengan memberinya teka-teki.