
POV Rangka
Malam itu aku datang ke rumah Sensi pukul 18.30 WIB. Sesuai janjiku padanya aku akan mengajaknya makan malam. Tiba di sana aku disambut ramah oleh kedua orang tuanya.
Saat Sensi keluar menemuiku, aku begitu terpesona dengan kecantikannya. Gadis ceplas ceplos itu semakin cantik dan tambah muda dengan dandanannya. Entahlah dia selalu menarik dan membuatku gemas meskipun dia ceplas ceplos. Terlebih sejak awal ketemu sepertinya dia sudah memperlihatkan rasa sukanya padaku.
Aku semakin yakin setelah beberapa kali mengajaknya jalan, dia selalu keceplosan saat mengakui bahwa dia mengagumiku. Kalau dilihat dari sikapnya Sensi memang menyukaiku, tidak peduli aku memiliki asma. Dia selalu memperlihatkan rasa bahagia saat dekat denganku.
Hal itu membuatku yakin bahwa dia bisa dijadikan kandidat sebagai istri atau ibu sambung bagi anakku **Glassy** **Baja**. Terlebih saat kuajak makan malam kemarin di kafe outdoor yang sengaja ku setting keadaannya. Aku berpura-pura kambuh asmanya, dan tidak kuduga Sensi begitu khawatir dan dengan cepat dia mencari inhaler yang biasa aku pakai untuk meredakan asmaku.
Sensi berlari ke arah parkiran bermaksud mengambil inhaler yang aku tinggal di sana. Semua tindakan dan kepanikannya tidak luput dari perhatian semua orang di kafe outdoor termasuk teman-temanku. Susah payah Sensi mengambil inhaler dalam mobil demi aku yang sesak nafas. Sensi sama sekali tidak malu saat dia sibuk menangani asmaku yang pura-pura kambuh dan tidak kabur seperti perempuan lain yang pernah aku bawa makan mirip seperti Sensi ini.
Bahkan saat hak sepatu pentopelnya patah demi asmaku sembuh saat dipakai berlari mengambil inhaler di mobil, Sensi sama sekali tidak malu. Dia malah terlihat lebih khawatir daripada malu. Hal ini membuat aku merasa yakin bahwa hanya Sensi calon kuat yang akan aku jadikan istri dan calon ibu sambung bagi gadis kecilku. Sehingga aku ingin segera mempertemukan Sensi dengan anakku.
****
POV End
Back To Sensi
"Sensi, kamu langsung ke ruangan Pak Bos!" ujar Kak Tari ketika jam istirahat baru tiba. Aku patuh sembari membereskan map yang berada di atas meja yang telah aku selesaikan tadi.
Sebetulnya aku malu kalau harus ketemu Pak Rangka. Gara-gara ciuman spontan Pak Rangka di dalam mobil itu, kini membuat aku merasa hilang muka. Apalagi hubungan aku dengan Pak Rangka sejauh ini masih belum jelas, pacaran atau bagaiman?
Saat langkah kakiku menuju tangga yang hanya dilewati beberapa orang, aku melihat seorang anak kecil yang duduk dengan kaki terjulur. Sepertinya gadis kecil itu sempat terpeleset dan kakinya terkilir, sebab saat aku hampiri dia seperti kesakitan.
__ADS_1
"Ehhh, kok ada anak kecil. Anak siapa ya, kok cantik amat?" heranku seraya menghampiri dan berjongkok demi menyamai tubuhnya. Gadis kecil itu senang bukan main saat melihatku. Dia meminta tolong dan meringis seraya memperlihatkan kakinya yang terkilir.
Walaupun aku panik dan bingung, tindakan pertama yang aku lakukan adalah menolongna dan membantunya menghilangkan rasa sakit di kakinya. Kebetulan aku dulu pernah punya sedikit pengalaman terkilir saat masih sekolah, saat itu salah satu Guru di sekolahku berusaha membantuku dan menyembuhkan kaki terkilirku. Cara memijit dan menelusuri urat sarafnya masih ku ingat sehingga sedikitnya bisa aku praktekkan pada gadis kecil ini dengan mengurutnya pelan-pelan.
"Kamu luruskan kakinya ya, dan jangan teriak atau menangis. Karena Kakak akan mencoba obatin kamu," ujarku memberi aba-aba. Gadis kecil yang wajahnya imut dan cantik ini patuh dan mengikuti apa yang aku perintahkan.
"Awwww, sakit tante!" jeritnya.
"Tahan ya, sedikit lagi sembuh," hiburku yang ternyata gadis kecil ini kakinya cuma keseleo, tapi aku tahu sakitnya lumayan nyeri.
"Tante, sakit!" ringisnya lagi seraya memegangi kaki terkilirnya. Awalnya meringis dan menahan tanganku supaya berhenti, tapi lama kelamaan sepertinya sakitnya mulai sedikit hilang.
"Wahhhhh, sakit kakiku sudah baikan Tante!" ujarnya girang. Saat itu aku senang dengarnya sekaligus miris sebab aku yang merasa masih muda malah dipanggil Tante.
"Aku sedang menemui Papah bersama Nenekku, Tante," jawabnya. Aku hanya mengangguk dan memapah dia yang masih menahan sakit di kakinya.
"Antarkan saja aku ke ruangan Papa aku, Tante. Nenek aku ada di sana. Pasti Nenek sedang bingung mencari aku, sebab aku pergi tidak bilang Nenek sama Papa dulu." Mendengar gadis kecil yang usianya kira-kira lima tahun berbicara seperti itu, aku sempat kaget. Sudah pasti Nenek atau Papanya gadis kecil ini khawatir dan mencari.
Aku terus mengikuti kemana gadis kecil yang belum aku tahu siapa namanya itu melangkah. "Ikuti aku, ya, Tante," ujarnya polos. Aku patuh dan terus memapah gadis kecil itu ke ruangan Papanya di kantor ini.
Rupanya ruangan Papanya gadis kecil ini berada di lantai empat. Kebetulan aku mau ke ruangan Pak Rangka yang sama satu lantai.
"Ayo sedikit lagi, Tante," ujarnya senang. Sementara aku melangkah dengan nafas yang ngos-ngosan sambil memapah gadis kecil yang cantik itu.
__ADS_1
"Eh, ngomong-ngomong nama kamu siapa, apakah boleh Kakak tahu?" tanyaku penasaran.
"Namaku Glassy panggil saja begitu," ujarnya bikin gemas.
"Nah, ini dia ruangan Papaku, ayo Tante masuk saja dulu," ajaknya seraya berhenti di depan pintu ruangan Pak Rangka. Aku sedikit terkesima saat dia menunjukkan ruangan Papanya. Pikiranku langsung aku tepis, aku menyimpulkan Glassy hanya seorang anak dari kliennya Pak Rangka.
"Tante, ayo," ajaknya seraya menggoyangkan tanganku yang berdiri terpaku. Sedikit terkejut, sebab sejak Glassy menyebutkan ini adalah ruangan Papanya, berbagai prasangka berkecamuk dalam dada. Aku menjadi ragu memasuki ruangan Pak Rangka ini.
"Ayo, Tante. Jangan ragu," dorongnya sembari membuka pintu ruangan Pak Rangka dengan kuat.
"Ayo. Tapi kita harus ketuk dulu, jangan asal masuk!" peringatku.
"Permisi!" ujarku seraya membukakan pintu. Pintupun terbuka, dan pemandangan yang tidak pernah aku lihat terjadi di sana. Seorang wanita paruh baya sontak memburu kedatangan kami.
Sedangkan di meja itu Pak Rangka duduk tampan dengan wajah yang sama khawatirnya dengan wanita paruh baya.
"Sayangghh, kemana saja, Nenek sejak tadi khawatir menunggu kedatanganmu?" ujar wanita paruh baya itu sembari merangkul erat Glassy.
Aku segera menghampirj Pak Rangka yang juga terkesima melihat Glassy yang kakinya sedikit pincang.
"Glassy sayang, kenapa dengan kakimu, apakah sakit?" tanya Pak Rangka lembut dan penuh kasih sayang pada Glassy yang kini nemplok di pangkuan perempuan yang mengaku sebagai Neneknya.
"Pak Rangka, apakah Bapak mengenal anak ini?" tanyaku penasaran. Pak Rangka mesem dan menatapku tanpa ku pahami maksudnya.
__ADS_1
Bersambung....