Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 44 Kecewa Karena Pak Rangka


__ADS_3

"Iya, saya mengenalnya dan dia adalah anak saya. Anak kandung dan semata wayang saya," tekan **Pak Rangka** kepadaku yang terpaku tidak percaya. Pantas saja sorot mata gadis kecil itu seperti mengingatkan aku pada sorot tajam Pak Rangka. Tapi tadi saat di tangga, aku sama sekali tidak mengingatnya bahwa gadis kecil itu anak semata wayang Pak Rangka.



"Jadi, ini anak Bapak?" tanyaku masih penasaran.


"Iya, memangnya kenapa?" Pak Rangka balik bertanya.


"Oh, tidak apa-apa sih Pak. Pantas cantik, matanya mirip Bapak," ungkapku jujur. Aku sejenak melirik ke arah wanita paruh baya yang tadi sempat dipanggil Nenek oleh gadis kecil bernama **Glassy** itu. Aku langsung mengangguk sopan pada perempuan yang masih cantik diusia yang tidak muda lagi itu. Tidak menunggu basa-basi, aku menghampirinya lalu menyalaminya. Wanita itupun menyambut dengan penuh senyum.



"**Sensi**," salamku sembari tersenyum.


"Catly Catyred," jawabnya menggenggam jemariku erat. Aku tersenyum setelah mendengar namanya disebut. Pak Rangka menoleh ke arahku lalu bertanya.


"Apa yang kamu senyumin, Sensi? Dan kenapa kamu bisa bersama anak saya dan sama-sama ke ruangan saya?" Dua rentetan pertanyaan mampir untukku membuat aku bersemangat menjawabnya, sebab bibir manis Pak Rangka tiba-tiba terbayang lagi betapa dalamnya ciuman spontanitas itu kala pulang dari kafe malam itu.



"Anu, Pak. Nama Ibu ini sangat unik dan sukar diucapkan. Seperti merek cat, Catly Catyred. Apakah Ibu keturunan orang luar, emmm maksud saya, bule?" Pertanyaan yang mungkin aneh itu muncul dari mulutku begitu saja. Tapi jika diperhatikan Ibu yang dipanggil Nenek oleh Glassy, rupanya tidak ada keturunan bule.



"Tidak, saya tidak ada keturunan bule. Nama saya memang unik, dulu orang tua saya senang sama salah satu merek cat yang sedang naik daun saat itu, jadi saya diberi nama Catly Catyred," ujarnya tersenyum sangat manis dan ramah. Kalau diperhatikan dengan jelas, Ibu Catly Catyred ini sangat cantik saat muda, sekarang saja saat usianya menjelang 56, beliau masih terlihat cantik dan muda. Pakaiannya saja modis mirip-mirip Noni Belanda.



"Ohhhh, begitu ya Bu?" Seruku dan merasa aneh dengan merek cat yang masih asing di telingaku. Mungkin aku memang baru mendengar merek cat yaitu Catly Catyred.



"Sensi, kenapa kamu bisa bersama anak saya, dan ketemu di mana dengan anak saya, sebab tadi dia sempat menghilang dan pergi tanpa pamit pada kami?" Pak Rangka bertanya penuh rasa penasaran.



"Anu, Pak. Saya ketemu dengan anak Bapak di tangga lantai tiga. Tadi itu saya mau menuju ruangan Bapak lewat tangga. Saat saya sampai di tangga, tiba-tiba saya melihat seorang anak tengah duduk selonjor meringis kesakitan," terangku seperti apa yang aku lihat tadi.

__ADS_1



"Apa? Ya ampun, sayang! Kenapa sampai ke tangga lantai tiga? Kamu tidak apa-apa kan?" Pak Rangka sangat panik seraya menghampiri Glassy di pangkuan Ibu Catly. Aku berdiri terpaku melihat begitu besar perhatian Pak Rangka pada anak semata wayangnya Glassy.



Dan perempuan paruh baya ini sepertinya Ibunya Pak Rangka. Dia begitu cantik saat mudanya dan yang paling menarik dia ramah.



"Papa, tadi aku mau turun lewat lift sama Tante Koral. Tapi Tante Koral kelamaan karena dia buang hajat dulu di kamar mandi, jadi akhirnya aku turun lewat tangga. Saat mau menuruni tangga, aku terpeleset dan jatuh. Kakiku sakit banget tadi, tapi untungnya sepuluh menit kemudian ada tante ini," terang gadis kecil bernama Glassy itu mengadu seraya menunjuk ke arahku.



"Apakah kakinya masih sakit?" Pak Rangka bertanya penasaran meneliti kaki gadis kecilnya itu.


"Sudah mendingan Papa, karenaTante itu yang mengurut kakiku," tunjuknya lagi padaku. Aku cuma bisa melihat haru ke arah gadis kecil itu.


"Aduhhh, Nak. Terimakasih banyak kamu sudah menolong cucu saya. Kalau tidak ada kamu bisa jadi cucu saya masih kesakitan sampai ada orang yang menemukan," ujar Ibu Catly seraya menoleh ke arahku lalu menghampiri dan merangkul pundakku. Seketika rasa hangat dalam hatiku menyeruak. Sentuhan Ibu Catly seakan menembus jiwaku menjadi hangat.




"Rangka, apakah ini calon kamu itu?" Bu Catly bertanya pada Pak Rangka setengah berbisik, namun masih bisa aku dengar. Calon kamu? Aku tadi mendengar Ibu Catly berkata seperti itu dan kini aku siap-siap ingin mendengarkan jawaban dari Pak Rangka.



"Bukan, dia hanya karyawan di sini," jawab Pak Rangka tanpa tedeng aling darma, membuatku seakan jatuh ke jurang seketika. Oh, berarti saat Pak Rangka bilang pacar saat itu, hanyalah bergurau. Aku langsung muram saat itu. Detik itu juga tatapan Pak Rangka beralih padaku. Tatapan kami bertemu, saat itu juga langsung aku tepiskan ke arah lain sebagai rasa kecewaku yang dalam atas pengakuannya pada Bu Catly.



"*Jadi ciuman spontan yang Pak Rangka* *labuhkan malam itu di mobil adalah cuma ciuman* *penuh nafsu yang terjadi karena hasrat yang* *tiba-tiba muncul*?"



"*Tega banget Pak Rangka bicara seperti itu*, *lantas ajakan jalan yang kemarin itu dianggapnya* *apa*?" batinku hancur berkeping-keping saat itu. Melihat kondisi mataku yang perih dan ingin meneteskan air mata, aku segera pamit dengan alasan ingin buang air kecil.

__ADS_1



"Maaf Bu, Pak Rangka, saya permisi dulu. Rasanya saya ingin buang air kecil," ijinku keluar dari ruangan Pak Rangka tanpa melihat lagi Pak Rangka ataupun Bu Catly Catyred.



Aku berlari kecil menuju kamar mandi tamu. Sepertinya di sana tempat yang bagus untuk menenangkan diri dan menangis.



"Sensi, kamu kenapa?" tanya Mbak Koral heran.


"Saya kebelet Mbak," jawabku bohong seraya terus melaju berlari kecil menuju toilet tamu yang saat itu aku pernah ketiduran di sana.


Tiba di sana, sialnya aku malah ketemu OB Rando. Dia heran melihat aku menangis. Dan lebih tidak beruntungnya lagi, kenapa mataku langsung menangis saat mendengar Pak Rangka bicara seperti tadi?



"Mbak Sensi, kenapa matanya menangis. Nangis kenapa Mbak?" heran Rando sembari menoleh mengawasiku.


"Apaan sih kamu Rando, aku ini lagi kebelet boker. Kamu tahu tidak, boker?" tanyaku sedikit ditekan.


"Waduhhh, Mbak Sensi mau boker, ya?"


"Propotttt," tiruku menggigit lalu meniup kulit tangan sehingga mengeluarkan bunyi seperti orang kentut. Tentu saja saat aku meniup dan menggigit tanpa sepengetahuan OB Rando. OB Rando melotot dan spontan menutup hidungnya.


Aku berlari lalu masuk ke kamar mandi tamu yang mewah itu, lalu mengunci diri di salah satu WC. Tangisku pecah di sana.



"Mbak, Mbak Sensi! Mbak ora opo-opo?" tanya OB Rando bikin aku gemas saja. OB yang satu ini memang kadang suka kepo, mulutnya agak bawel persis cewek.



"Rando, kenapo sampean melu karo aku? Tak tojos biji mata,e kowe yo," ancamku yang tiba-tiba saja ikutan Rando menggunakan bahasa Jawa, entah benar entah nggak.


__ADS_1


"Aduhhh Mbak'e sing eling karo Gusti Allah. Yo wis, aku tak tinggal yo," jerit Rando sembari membuka pintu toilet yang terdengar bunyinya. Si Rando ini tidak tahu orang lagi sedih malah kepo dan menghampiri. Selain sedih karena Pak Rangka kini aku tambah sedih gara-gara Rando yang bawel dan sok kepo.


__ADS_2