Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Pernikahan Koral


__ADS_3

   Satu bulan kemudian setelah kedatangan Delana ke rumah Rangka yang sempat mencari Glassy ke rumah Rangka, pernikahan Sensi dan Rangka yang kini sudah hampir empat bulan masih belum dihadirkan janin di dalam rahim Sensi, padahal Nyonya Catly Catyred sudah sering berharap Rangka dan Sensi diberi momongan. Terlebih keluarganya Sensi, kedua orang tua Sensi terang-terang ingin segera mendapatkan cucu dari Sensi dan Rangka.


   "Semoga kalian cepat diberi kepercayaan sama Allah, biar Ibu sama Bapak bisa segera nimbang cucu dari kalian, mungpung kami masih ada," ujar Bu Santi, ibunya Sensi suatu hari saat mereka nginap di rumah kedua orang tua Sensi.


   "Kami minta doa saja dari Ibu dan Bapak, semoga aku cepat hamil," sahut Sensi menghibur kedua orang tuanya agar tidak terlalu sedih dan tetap mendoakan yang terbaik buat Sensi dan rumah tangganya.


   Permintaan dari kedua orang tua kedua belah pihak, rupanya sampai usia pernikahan mereka menginjak empat bulan, belum ada tanda-tanda Sensi hamil, padahal Sensi tidak menggunakan pil KB atau alat kontrasepsi lainya.


   Keadaan Sensi yang masih belum hamil di usia pernikahan yang terbilang baru, tidak membuat Sensi atau Rangka menjadi pikiran atau bahkan beban. Justru mereka sangat menikmati. Kadang pertengkaran kecil masih mewarnai rumah tangga mereka, tapi pertengkaran itu justru semakin menguatkan cinta mereka.


   "Sayang, hari ini aku yang antar Glassy ke sekolah. Kamu mau ikut antar atau tidak?" tanya Rangka pada Sensi yang tengah mempersiapkan pakaian untuk Glassy.


   Sejenak Sensi menggeleng seraya masih sibuk. "Boleh. Aku ingin ikut sekalian ke kantor kamu, Mas," ujar Sensi senang.


   "Ok. Sayang, semingu lagi pernikahan Koral digelar. Nanti siang setelah menjemput Glassy sekolah kita langsung ke Naufara Butik fitting baju couple-an kita nanti menghadiri pesta pernikahan Koral dan Dewa," ujar Rangka.


   "Boleh Mas."


   "Lalu bagaimana kesiapan Al adikmu, apakah dia benar-benar mau untuk sementara mengisi kekosongan Sekretaris di kantorku menggantikan Koral?" tanya Rangka menyinggung kesiapan Aloe yang tempo hari saat mereka nginap di rumah kedua orang tua Sensi, Aloe pernah ditanya kesiapan Aloe untuk mengisi kekosongan jabatan Sekretaris di kantor Rangka.


   "Aloe insha Alla siap, Mas. Lagipula dia butuh uang juga untuk sidang dan wisuda nanti. Dia empat bulan lagi, kan sidang."


   "Bagus deh kalau begitu," respon Rangka seraya merapikan dasinya yang tadi sempat dipasangkan Sensi.


   "Tapi, Aloe sedikit dilanda dilema, Mas ...." Sensi tidak melanjutkan bicaranya seperti ada keraguan.


   "Dilema kenapa? Bukankah Al senang dengan tawaran ini?"


   "Iya, Mas, Al senang. Tapi kalau dia menerima tawaran ini di waktu yang mendekati sidang, tentu pastinya Aloe akan banyak tugas yang tiba-tiba dari Dosennya. Ini yang menjadi kendala, Al takut tugas dari Dosen mengganggu pekerjaannya. Malah bisa saja sewaktu-waktu Al ijin tidak masuk kerja karena berbenturan dengan tugas skripsi," terang Sensi menjelaskan dilema yang melanda adiknya itu jika suatu saat menerima lowongan Sekretaris yang ditawarkan Rangka.

__ADS_1


   "Itu tidak jadi masalah, kalau Al harus ijin karena tugas kuliah, maka aku akan ijinkan. Pekerjaan Al selama ijin akan aku limpahkan sama Cakar atau kamu misalnya, jika mau," ujar Rangka dengan enteng melempar sembarangan pada Cakar atau Sensi tugas Aloe jika dia meminta ijin.


   "Baiklah, Mas. Kalau begitu Aloe harus aku yakinkan bahwa pekerjaannya tidak akan sampai mengganggu pekerjaannya." Rangka mengangguk seraya mengajak Sensi dan Glassy segera ke bawah untuk sarapan.


   Setelah menjemput Glassy dari sekolah, mobil Rangka dia arahkan ke sebuah butik ternama di kotanya, yakni Naufara Butik. Kebetulan pemilik butik adalah istri dari sahabat Rangka yakni Sakti Bimantara (Karya Jangan Sebut Aku Pelakor).


   Tiba di butik, ternyata di sana sudah ada Cakar Besi sang Asisten. Sensi memindai ke seluruh samping kiri dan kanan Cakar mencari sosok perempuan pendamping Cakar jika nanti menghadiri pesta pernikahan Koral.


   "Apa yang sedang dicari Nyonya Rangka ini di samping saya? Apakah saya persis penjahat?" tegur Cakar membuyarkan pencarian Sensi.


   Rangka sejenak mengalihkan fokusnya pada Cakar yang barusan bicara, "Apa yang kamu bicarakan Cakar?" heran Rangka menatap antara Cakar dan Sensi.


   "Tidak, Bos. Hanya saja istri tercinta Bos Rangka sejak bertemu saya di sini, dia sibuk melihat ke sisi kiri maupun sisi kanan saya, saya jadi bingung. Macam saya ini seorang penjahat saja," jelas Cakar sembari mengangkat tangannya setinggi dada.


   "Sayang, jelaskan maksud kamu apa melihat ke sisi kiri dan kanan Cakar? Apakah ada yang mencurigakan di sisi Cakar?" Rangka ikut penasaran.


   "Aku, aku hanya penasaran dengan Kak Cakar, jangan-jangan dia datang ke sini sekalian bersama pasangannya, kan aku ingin tahu, Mas. Supaya aku bisa kenalan dengan calon pendampingnya." Mendengar penuturan Sensi seperti itu, baik Rangka dan Cakar hanya saling pandang dan akhirnya tertawa terbahak-bahak membuat Sensi heran.


   "Ha ha ha ha, jelas dong, Sayang. Pertanyaan kamu ini persis lawakan kang Sule yang ngocol habis. Cakar kalau kamu ingin tahu, dia sekarang sedang jomblo akut alias tidak punya pasangan. Pasangannya lari bersama lelaki lain setelah menggondol habis harta Cakar. Cakar sekarang lagi jomblo plus bangkrut gara-gara hartanya digondol janda anak satu itu saking Cakar percaya dan sekaligus bodoh," sindir Rangka telak membuat Cakar padam muka, wajahnya memerah mirip kepiting di goreng.


   "Apa sih Bos, senang banget dengan penderitaan orang lain? Saya sedang apes saja. Dan itu bukan satu-satunya alasan saya harus putus asa," tukas Cakar membela diri. Rangka hanya tersenyum simpul seraya menarik lengan Glassy masuk ke dalam butik itu.


   "Yang sabar ya, Kak Cakar. Aku doain semoga gantinya si janda beranak satu itu, gadis muda perawan yang cantik dan baik hati serta mau menerima Kak Cakar apa adanya, bukan menerima Kak Cakar saat sedang ada apa-apanya," hibur Sensi baik hati diiringi senyum yang menyejukkan hati mirip seseorang yang pernah sekilas ditemui Cakar, tapi dia lupa di mana dia pernah melihat senyum yang mirip dengan senyuman sensi.


   'Saya aminkan dulu doanya, Nyonya Rangka." Cakar membalas doa Sensi dengan rasa bahagia. Seketika bayangan gadis muda yang bertabrakan dengannya saat di depan toko jam ternama itu.


   Setelah terjadi sedikit keseruan di muka butik, akhirnya Rangka dan Sensi juga Cakar mencari baju untuk menghadiri pesta pernikahan Koral, yang kini sudah menjadi mantan Sekretaris di perusahaan Rangka.


   "Bunda, apakah Tante Al baju ke pestanya nanti akan samaan dengan baju kita?" tanya Glassy tiba-tiba.

__ADS_1


   "Tidak Sayang, Tante Al tentu saja akan memilih dan mencari baju ke pestanya sesuai dengan seleranya." Sensi menjawab lalu bersiap mencoba baju yang akan dipakainya nanti saat ke pesta pernikahan Koral


***


   Seminggu kemudian, acara pesta pernikahan Koral di sebuah gedung ternama di kota itu kini tengah digelar. Suara musik menggema memenuhi seisi ruangan. Namun tidak mengurangi sakralnya ijab qabul dan janji suci yang telah di ucapkan pengantin lelaki pada Koral sang pengantin perempuan.


   Rangka dan Sensi serta Glassy datang dengan tampan dan cantik dengan dress couple. Mereka tampak serasi dengan balutan dress warna kuning keemasan, senada dengan kemeja satin yang dipakai Rangka. Semuanya tampak sangat cantik, serasi dan elegan.


   Sementara Cakar yang datang bersama teman-teman satu kantornya, juga terlihat sangat tampan. Lelaki yang sudah genap 34 tahun itu, terlihat tampan dan bersahaja dengan hanya menggunakan celana bahan dan batik satin warna krem yang semakin membuat penampilan Cakar muda dan berkharisma, padahal usianya sudah tidak muda, yakni 34 tahun satu tahun lebih muda dari Rangka.


   "Wahhhh, Kak Cakar, tampan banget penampilan Kak Cakar hari ini. Lalu pasangannya mana? Sayang banget penampilan setampan dan sekeren ini tidak ada pasangannya," tutur Sensi terpesona melihat penampilan Cakar yang tampan. Namun tidak ada pasangan.


   "Nyonya Rangka, stop Anda memuji saya tapi hanya untuk mengolok saya," sergah Cakar dengan wajah yang merengut. Sementara itu Rangka dan Glassy menghampiri percakapan di antara istrinya dan Cakar Besi.


   "Bos." Cakar segera menyapa sang Bos dengan senyuman hormat.


   "Betul kata istriku, kamu sungguh tampan dan dan berkharisma, sungguh sangat disayangkan sudah setampan ini tidak ada pendamping. Cakar, Cakar, ngasin saja di pinggir pantai Carita sambil minum air laut," ejek Rangka tertawa lepas.


   Cakar bersikap kalem dan tidak terpancing provokasi Rangka, dia hanya tersenyum hambar saat ejekan itu lagi-lagi menghantamnya.


   "Tapi tenang saja Cak, sebentar lagi calon bidadari itu akan segera sampai, kamu pasti akan terpesona pada pandangan pertama," ujar Rangka di telinga Cakar diiringi senyum yang penuh misteri. Benar, bisikan Rangka barusan mengundang teka-teki dan misteri bagi Cakar. Cakar penasaran apa yang dimaksudkan Rangka.


   Sementara itu Sensi tengah gelisah menantikan kedatangan Aloe sang adik yang belum sampai juga padahal gelaran acara sudah dimulai dan tamu undangan mulai banyak berdatangan. Dan tiba-tiba sebuah grab berhenti di depan gedung pesta pernikahan. Muncullah gadis muda yang nampak fress dari grab yang mengantarkannya.


   "Ah itu dia," pekiknya bahagia melihat kedatangan Aloe sang adik yang penampilannya sungguh memukau.


   "Teteh, apa yang Teteh lihat, kenapa seperti orang yang tidak kenal aku?" serobot Aloe heran melihat kakaknya menatap penuh takjub. Jelas banget, sebab penampilan Aloe benar-benar beda, sangat cantik dan mempesona jauh dari hari biasanya, ini benar-benar cantik dan membuat semua orang pangling.


   "Kamu cantik banget Al, pasti setelah ini semua cowok jomblo akan tertegun penuh pesona melihatmu secantik ini dirimu," puji Sensi jujur, dia bangga dengan sang adik yang terlihat sangat cantik dan mempesona di hari pernikahan Koral sang mantan Sekretaris dari Rangka.

__ADS_1


   "Ayo masuklah lebih dalam, pengantin beberapa saat lagi akan segera lempar bunga. Kamu siap-siap siapa tahu bisa dapat bunganya," instruksi Sensi pada Aloe yang kini mulai berjalan di depan Rangka dan Cakar. Aloe segera menyalami Rangka sebagai Kakak iparnya dengan hormat.


   Sejenak Cakar yang berada di samping Rangka menatap lekat ke arah Aloe, dia seakan mengenal gadis yang baru saja menyalami Rangka. Cantik dan mempesona. Lantas siapakah perempuan yang kini berdiri di samping Sensi. Benar Cakar bertanya-tanya dengan jantung berdesir kuat.


__ADS_2