
Note; Cerita ini beralur lambat, tapi nantinya nggak akan dibuat panjang babnya oleh Author. Bagi sesama Author boleh boomlike sesukanya selagi jempolnya kuat!
"Kamu sih, tangannya tidak cepat dikeluarkan dari mulut saya, kan jadinya jari kamu kegigit," ucap Pak Rangka menyalahkan. Aku tengah kesakitan malah menyalahkan.
"Awwww, ini benar-benar sakit!" ringisku spontan seraya mengipas-ngipas tanganku. Pak Rangka terlihat khawatir. Lantas dia beranjak menuju kulkas, lalu meraih sesuatu dari atas kulkas. Rupanya itu kotak P3K. Pak Rangka segera melakukan tindakan pengobatan untuk jariku yang terluka.
Pak Rangka mulai membuka kotak P3K lalu meraih betadin dan plester paling jempol tanpa oow. "Jangan pakai betadin Pak, ini malah tambah merah," cegahku. Pak Rangka tidak mendengar ucapanku dia fokus dengan plester dan jari manisku sambil ngomel.
"Sudah, terserah saya yang ngobatin. Kamu tinggal diam saja, nanti kalau sudah terbalut plester maka rasa sakitnya akan hilang. Fungsi betadin ini mengeringkan lukamu," ujarnya seraya mengutak- atik jari tengahku yang aku pasang cincin tengkorak.
Sejenak Pak Rangka terlihat tersenyum, namun senyum itu berubah menjadi terkekeh. Aku heran apakah jari manisku sudah diplester sampai Pak Rangka bisa terkekeh.
"Hahahaha ...." kekehnya sembari memegangi jari tengahku.
"Pak, apakah jari manis saya sudah diplester paling jempol?" Pak Rangka masih sengar sengir sisa kekehan tadi. Entah apa yang membuatnya sangat lucu sehingga Pak Rangka sebahagia itu.
"Jari manis kamu sudah beres saya plester," jawabnya masih menyimpan sisa tawa di bibirnya yang memikat itu. "Sejak kapan kamu memakai cincin tengkorak itu?" Pertanyaan Pak Rangka sontak membuatku ternganga. Cincin tengkorak yang nempel di jari tengahku rupanya jadi perhatiannya.
"Sejak keluar SMA, Pak. Memangnya kenapa Pak?" heranku menyelidik.
"Ohhhh, tidak. Hanya aneh saja, kamu kan cewek, kok bisa-bisanya pakai cincin tengkorak?" Pak Rangka terlihat penasaran dengan cincin tengkorak yang aku pakai.
"Itu pemberian cowok kamu?" tanyanya penasaran.
"Bukan, Pak. Ini saya beli saat saya dan adik saya jalan-jalan ke pasar Suddenly. Saat itu saya melihat penjual aksesoris, lalu mata saya tertarik dengan cincin tengkorak itu, dan saya membelinya walaupun sedikit mahal," ujarku sedikit menyayangkan harga cincin tengkorak yang sedikit mahal saat itu.
"Sebentar-sebentar, tadi kamu bilang pasar *Suddenly*, apakah memang ada nama pasar Suddenly di tempat kamu?" Pak Rangka penasaran.
__ADS_1
"Ada Pak, pasarnya mangkal saat hari Minggu saja, orang-orang sering memanggilnya pasar kaget. Tapi biar keren saya dan adik saya selalu menyebutnya Pasar *Suddenly*," jelasku membuat Pak Rangka manggut-manggut paham.
"Begitu, ya? Lantas, harga cincin tengkorak yang kamu sebut mahal itu berapa?" Pak Rangka masih saja penasaran.
"Iya, Pak, mahal, sebab saya belinya pakai duit celengan sapi saya yang dibobok." Sejenak aku menjadi murung dan sedih, mengingat saat melempar dengan keras celengan sapi dari tanah liat milikku lima tahun yang lalu. Padahal aku sayang banget sama celengan sapiku itu.
"Iya, terus harga cincinnya berapa?" tanya Pak Rangka tidak sabar.
"Harganya Rp. 50.000,-." ujarku dengan tatapan yang hampa. Sebab aku terkenang kembali dengan celengan sapiku yang lucu itu.
"Kamu bilang harga lima puluh ribu mahal Kamu ini terlalu lebay," ejek Pak Rangka. Aku kesal seketika, sebab Pak Rangka menyebut aku lebay. Padahal dia tidak tahu sesayang apa aku sama celengan sapiku itu.
"Bagi saya mahal, Pak," ucapku sedikit ditekan.
"Ya sudahlah, harga cincin tengkorak kamu tidak perlu dibahas lagi. Sekarang saya mau tanya, apakah sepanjang usia kamu sekarang 24 tahun kamu pernah disematkan cincin oleh seorang pria?" Tanya Pak Rangka mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum pernah, Pak," jawabku jujur.
"Serius?" Aku langsung mengangguk.
"Mau, Pak, mau," jawabku antusias. Pak Rangka lagi-lagi terkekeh mendengar jawabanku barusan.
"Ya, sudahlah. Sekarang kita kembali ke makanan kita. Berhubung saya sudah kenyang, saya sudahi makan sorenya. Kamu habiskan saja bebek gorengnya," titahnya. Aku juga mendadak kenyang gara-gara jari tengahku digigit Pak Rangka.
"Saya juga sudah kenyang, Pak. Ini dibungkus saja buat ***Ciku*** kucing saya di rumah."
"Boleh, kamu bereskan dulu mejanya dan cepat selesaikan map yang satunya lagi. Kita masih ada satu agenda lagi," ujar Pak Rangka. Aku segera melaksanakan titah Pak Rangka, lalu mengerjakan map yang belum dikerjakan.
Waktu kian beranjak, akhirnya map terakhir selesai lebih cepat. Aku segera membereskan mejaku dan merapikan map-map yang tadi aku kerjakan. Jam kini menunjukkan pukul 19.30 malam, aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudu untuk melaksanakan sholat Isya. Sementara Pak Rangka setelah mengobati lukaku tadi, dia keluar entah kemana.
Setelah sholat Isya, aku sejenak menyisir rambut merapikannya, lalu memoles tipis pipi dengan bedak chusionku. Tidak lupa bibir imut ini aku poles juga dengan lipstik merah mudaku yang terang. Seketika aku kembali fresh seperti orang baru mandi. Kembali gaya **Shandy Aulia** berlenggok aku peragakan di hadapan tembok ruangan itu.
__ADS_1
"Sudah berdandannya?" Aku terlonjak kaget saat suara bass Pak Rangka tiba-tiba menggema di ruangan, saat aku memutar tubuh. Otomatis tubuhku yang berputar langsung ditangkap Pak Rangka. Entah ditangkap atau tertangkap, yang jelas saat ini kami saling berhadapan, tubuh kami begitu dekat.
Pak Rangka yang wangi rasanya menjadi candu bagiku. Dan aku tidak berniat melepaskan tangan dan pinggangku dari tangkapannya. "*Biarkan* *posisinya seperti ini, Pak*!" batinku nakal, walaupun aku bukan perempuan nakal tukang jual dada dan paha.
"Kamu cantik. Apakah selama ini belum ada yang bisa menaklukan hati kamu, padahal kamu begitu menarik dan cantik?" puji Pak Rangka membuat aku sangat malu.
"Bukan menaklukan saya, Pak. Tapi saya yang tidak pandai menaklukan cowok," ceplosku lolos begitu saja. Aduhhh mulutku ini jujur banget, harusnya tadi aku iyain saja bahwa aku sering banget menaklukan cowok sampai cowok itu patah hati. Tapi sudah terlanjur aku mengatakan kejujuranku.
"Kamu mau saya taklukan?" tanya Pak Rangka, spontan aku jawab dengan anggukan. Bodohnya aku, bisa-bisa aku dibilang betapa murahannya aku. Demi Pak Rangka, akal sehatku seakan lari entah kemana. Jangan sampai deh aku menggadaikan kehormatanku demi Pak Rangka, meskipun aku naksir berat.
Tiba-tiba Pak Rangka menatap mataku dalam sambil meraba wajahku yang kini memanas, pastinya kalau panas begini ronanya bakal memerah sepe ceri. Jantungku tiba-tiba degupannya sangat kencang. Aku menjadi tegang saat wajah Pak Rangka semakin dekat dengan wajahku. Roman-romannya Pak Rangka akan mencium bibirku yang imut ini.
Bersamaan dengan itu, mataku tiba-tiba terpejam, aku tidak sabar menantikan momen kecupan itu. Bagaimanakah rasanya? Apakah manis seperti kata orang-orang?
Satu menit, dua menit sampai lima menit, kecupan itu tidak juga mendarat. Aku merasa malu lantas aku membuka mataku. Saat terbuka, Pak Rangka hanya menatap bibirku seakan memikirkan sesuatu.
"Belum saatnya bibir ini basah. Nanti tiba saatnya akan selalu basah," ujarnya seraya mengusap bibirku yang terkatup tidak mampu berkata-kata. Betapa malunya aku, dan di sini, saat ini aku merasa bahwa aku telah begitu murahan di depan Pak Rangka.
"Ayo, agenda kita ada satu lagi. Tapi bukan pertemuan dengan rekan bisnis saya yang tadi sore saya ceritakan di hadapan Ibu kamu. Rekan bisnis saya tidak jadi datang dari Singapura. Dia merubah jadwal keberangkatan," ujar Pak Rangka dengan cepat, mengalihkan rasa maluku dengan membicarakan topik lain. Perlahan Pak Rangka melepaskan tubuhku dengan lembut dan penuh perasaan.
"Lantas, kita ke mana, Pak?" tanyaku penasaran seiring rasa malu yang kini perlahan pudar akibat ciuman yang tidak jadi didaratkan di bibirku.
__ADS_1
"Kamu lihat saja nanti," jawabnya penuh teka-teki.