Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 8 Kamu Mau Jadi Makmum Saya?


__ADS_3

Notes; alur di Novel saya kali ini sengaja ambil alur lambat yang, sebab saya lebih banyak menceritakan kehidupan di kantor dan seputaran kehidupan sebelum. pernikahan, jadi harap maklum. Terimakasih.... mampir ya teman-teman pembaca!


"Sensi ngapaian saja kamu, katanya mau ke mushola?" Aku yang sedang berdiri termenung setelah berbicara sedikit tadi dengan Pak Cakar, tiba-tiba dikejutkan oleh Pak Rangka yang datang seperti jelangkung. Sontak aku gelagapan saking kagetnya.



"Oh i-iya, Pak. Ini saya mau ke mushola."


"Sholatnya bareng saya saja, kebetulan saya juga belum sholat Asar," selanya sambil melirik aneh ke arahku. Aku hanya mengangguk lalu mengikuti ke mana arah Pak Rangka menuju mushola.


Rupanya di ruangan Pak Rangka ada sebuah kamar, mungkin kamar peristirahatan Pak Rangka jika Pak Rangka sedang lelah. Dan di dalam kamar itu ada ruangan kecil yang didesain khusus untuk mushola. Luar biasa Pak Rangka ini, dalam ruangan di kamarnya masih menyisakan ruangan kecil untuk beribadah. Ini nilai plus buatku jika nanti menjadikan Pak Rangka dalam daftar pencarian jodohku. Astaghfirullah, mikir apa aku ini, sepertinya ketinggian banget.



"Ambil wudhunya di kamar mandi saja!" perintahnya. Aku tidak membantah dan segera bergegas menuju kamar mandi. Sejenak aku berdiri terpaku melihat dalam kamar mandi Pak Rangka yang begitu luas, bersih dan megah. Kesan mewah terpancar di sana. Wangi aroma terapi langsung menyuruk ke dalam hidungku dan aku begitu menikmatinya.



Duhhh, harum banget kamar mandi ini, ada bath tubnya, juga shower untuk mandi. Mau berdiri bisa atau leyeh-leyeh di bath tub juga bisa. Ini sungguh menakjubkan. Selain itu di sebelah kiri bath tub rupanya ada keran khusus buat wudhu. Jadi air wudhu tidak bercampur dengan keran yang lain. Sungguh Excellent! Baru kali ini aku melihat dan merasakan kamar mandi yang begitu mewah. Aku senyum-senyum tidak henti-henti mengagumi kamar mandi Pak Rangka yang mewah dan wangi itu.



Tidak berapa lama, pintu kamar mandi terdengar diketuk. Aku sontak terkejut dan tersadar dari kekagumanku akan kamar mandi Pak Rangka ini. Segera aku buang air dan ambil wudhu.



Aku segera keluar kamar mandi dan sontak terkejut sekaligus malu sebab Pak Rangka sudah ada di depan pintu kamar mandi seraya berkacak pinggang dengan kemeja yang sudah digulung.



"Sedang apa kamu berlama-lama di kamar mandi?" Pak Rangka menatap tajam ke arahku. Hawanya mendadak horor dan tegang gara-gara aku lama di kamar mandi saking mengagumi kamar mandi Pak Rangka.

__ADS_1



"Anu, Pak, tadi wudhu sekalian boker," sahutku merunduk.


"Boker, apa tuh?"


"Itu, Pak, buang air," jawabku. Pak Rangka sontak menutup hidungnya, padahal aku bukan buang hajat melainkan buang air kecil. Tapi entah kenapa barusan aku spontan malah bilang boker. Duhhh mulut ini memang kadang-kadang suka keseleo.


Pak Rangka langsung masuk kamar mandi, dengan tangan kiri yang masih menutup hidungnya. Namun balik lagi dengan mendongakkan tubuhnya keluar pintu.



"Sholat Asarnya bareng saya, tunggu sebentar," ucapnya sedikit berteriak. Aku patuh dan menunggu Pak Rangka di atas ranjang. Sejenak aku begitu menikmati lembutnya ranjang di kamar Pak Rangka ini sambil memejamkan mata. Ini berbeda dengan di rumahku yang hanya pakai dipan biasa, di atasnya kasur busa biasa. Itupun sudah membuat aku begitu nyaman dan bahagia setiap kali bangun tidur.



"Sensi, Sensi, kenapa kamu? Ayo, bukannya kamu mau sholat Asar. Ini sudah setengah lima lewat, lho," sentak Pak Rangka mengagetkanku yang saat itu benar-benar khilaf menikmati kelembutan ranjang Pak Rangka. Mungkin ini yang dinamakan ranjang king size yang sering aku dengar itu.




"Kamu ini kenapa, ngantuk? Nanti ada saatnya kamu bisa tidur di kasur itu. Sekarang kita sholat Asar berjamaah dulu. Ayo!" ajaknya heran dengan kelakuanku yang mungkin menurut Pak Rangka diluar nalar. Benar saja Pak Rangka sampai geleng-geleng kepala sambil berjalan menuju mushola.



Aku segera memakai mukenaku dan sudah siap untuk sholat, Pak Rangka tiba-tiba menoleh ke belakang ke arahku dan menatapku penuh pesona seraya tersenyum kecil. "Kamu sangat cantik dengan bermukena. Kamu mau jadi makmum saya?" tanyanya tiba-tiba yang membuat aku kembali tersanjung karena dipuji. Pak Rangka.



"Ma-mau Pak. Iya, saya mau, Pak," jawabku antusias dan cepat meskipun sedikit gugup.

__ADS_1


"Ya sudah, siapkan shaf kamu!" ujarnya. Akupun berdiri di belakang Pak Rangka dan mulai mengikuti Pak Rangka sebagai imam.


Tiba di rakaat terakhir dan salam, sejenak Pak Rangka berdoa, aku juga berdoa minimal doa yang aku panjatkan adalah doa untuk kedua orang tuaku dan jodohku. Itu yang selalu aku minta pada Yang Maha Kuasa setiap habis sholatku.



Setelah mengakhiri doanya, Pak Rangka memutar tubuhnya seraya langsung menyodorkan tangannya padaku. Aku sontak menyambut tangannya tanpa segan, lalu ku cium seperti layaknya aku mencium Bapak habis sholat. Namun tiba-tiba aku dan Pak Rangka kompak terkejut, aku merasa kaget setelah aku tersadar bahwa yang kucium adalah tangan Pak Rangka. Pak Rangka juga nampak kaget, aku tidak tahu Pak Rangka kagetnya kenapa. Mungkin saja dia membayangkan aku adalah mantan istrinya.



"Maaf, saya pikir saya sedang sholat bersama anak saya," ucapnya meminta maaf. Ohh rupanya Pak Rangka sedang berpikir jika sholatnya tadi sedang bersama anaknya. Disitu Aku merasa terharu dengan kebiasaan Pak Rangka, dengan begitu artinya Pak Rangka selalu mengajarkan anaknya beribadah bersama. Aku merasa salut, dan aku baru tahu kalau Pak Rangka rupanya punya anak. Itupun tadi dari Mbak Koral yang menegarkan aku saat aku merasa takut karena harus berduaan lembur di dalam ruangan Pak Rangka.



"Pak Rangka, tidak mungkin melakukan pelecehan. Pak Rangka orang beragama, rajin ibadah, sayang anak, dan keluarga, jadi kamu tidak usah takut dengan Pak Rangka," ujar Mbak Koral tadi sebelum pulang duluan. Dan kini, aku baru yakin banget kalau Pak Rangka memang benar-benar sudah punya anak.



"Kamu silahkan beberes dulu, jika mau bedakan atau moles bibir kamu dengan lipstik juga boleh," ujarnya mempersilahkan sambil berlalu menuju kaca di meja rias yang ada di sana. Jantungku seketika langsung bergemuruh malu akan kata-kata Pak Rangka barusan, dia seolah-olah menyindir aku. Mempersilahkan, tapi ucapannya sedikit sinis gimanaa gitu.



Aku segera melipat mukenaku dan kembali aku masukkan ke dalam tas kerjaku. Setelah itu meskipun aku merasa tersindir akan kata-kata Pak Rangka tadi, akan tetapi aku tetap menyisir rambutku dan memoles pipi dan bibirku. Akhirnya bedak dan lipstik itu sudah berpindah ke pipi dan bibirku tipis-tipis.



Perlahan aku menuju Pak Rangka yang masih di meja rias, rambutnya sudah rapi dengan minyak rambut fomed yang wangi khas lelaki tampan. Sungguh Lee Min Jo lewat kalau begini, Pak Rangka sangat tampan dan keren serta wangi. Kini dia sedang membenarkan kembali kemejanya yang tadi dilipat ke posisi semula.


Bersambung, kejutan apa lagi yang akan menimpa Sensi?


NB; Untuk Kak @RiaSuhermin tolong follow balik profil saya. Karena saya ada sedikit kejutan untuk Kakak, terkait dukungan Kakak dari awal sampai akhir pada karya saya yang berjudul "Mendadak Menikah Dengan Pria Jutsu", ditunggu yang Kak.... terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2