Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 14 Hukuman Pak Rangka


__ADS_3

Aku mengikuti Pak Rangka menuju kembali ke ruangannya. Tiba di sana Pak Rangka langsung menyuruhku duduk. Pak Rangka menatapku dengan tatapan yang mengandung banyak pertanyaan. Aku menunduk tidak berani menatapnya lagipula setiap ketemu dengannya, aku memang tidak pernah berani menatap matanya. Jika itu terjadi aku takut malah aku terhipnotis oleh pesona Pak Rangka.



"Mana Hp kamu?" Tiba-tiba Pak Rangka malah menanyakan Hp aku, ada apa? Aku langsung merogoh Hpku di tas lalu perlahan aku sodorkan ke hadapannya. Pak Rangka segera meraihnya dan menggelengkan kepala.



"Kamu tahu kan gunanya Hp ini untuk apa? Jika ada yang mau menghubungi kamu pasti lewat Hp itu. Lalu jika Hp itu mati dan batrenya ngedrop seperti itu, apa gunanya kamu bawa Hp? Tadi saya sebelum menemui kamu di meja kamu yang kosong itu, berkali-kali saya hubungi kamu namun nomer kamu tidak aktif. Coba kalau Hp kamu aktif, maka kebohongan kamu sama Tari tidak akan sampai terbongkar, kamu tidak akan malu karena ketahuan berbohong," tandas Pak Rangka panjang dan mengena.



Aku sama sekali tidak berani menjawab atau memberi pembelaan terhadap diriku sendiri karena aku akui aku memang salah. Tadi setelah dari ruangan Pak Rangka aku malah mampir ke toilet tamu dan malah tertidur dua jam di sana.


__ADS_1


"Ahhh, sudahlah. Saya jadi sakit kepala. Lebih baik sebagai hukumannya kamu harus kerjakan map-map ini sampai saya siap berangkat ke Kalimantan nanti sore." Pak Rangka terlihat kesal dan semakin tegas saja padaku.



"Saya minta maaf, Pak. Saya salah," ucapku meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Saat itu aku seakan tidak berguna lagi dan putus asa serta malu berada di hadapan Pak Rangka.



"Lantas setelah kamu dari ruangan saya, kamu pergi kemana?" selidik Pak Rangka penasaran. Pertanyaan ini sepertinya akan benar-benar sulit aku jawab. Jika aku katakan yang sebenarnya aku pasti akan sangat malu dan bisa jadi Pak Rangka menertawakan kekonyolanku tadi. Dan aku tidak berani menjawab pertanyaan Pak Rangka.



"Sekali lagi saya tanya, kamu pergi kemana setelah dari ruangan saya?" Pak Rangka bertanya kembali dengan wajah yang sedikit galak. Aku menjadi ciut akhirnya aku mencoba menjawab pertanyaan Pak Rangka dengan jujur, meskipun akibatnya akan ditertawakan bahkan dimarahinya kembali.


"Saya, saya, emmm, ketiduran di toilet tamu, Pak," jawabku jujur dan ragu. Sejenak Pak Rangka menatap ke arahku heran dan tidak percaya.

__ADS_1


"Ketiduran di toilet tamu? Memangnya apa yang kamu lakukan di dalam sana?" Pak Rangka masih penasaran dengan alasanku yang sebenarnya.


"Saya ketiduran di bath tub, Pak." Aku sudah berkata jujur, mengenai dimarah atau ditegur lagi oleh Pak Rangka, aku sudah siap. Seketika Pak Rangka mengerutkan keningnya dan tertawa seperti menemukan hal yang lucu.



"Haha hahahha." Tawa Pak Rangka tiba-tiba menggema di ruangannya, begitu renyah dan seperti enak. Aku malah semakin malu melihat Pak Rangka tertawa seperti itu.



Setelah berhenti tertawa, Pak Rangka sejenak menatapku yang masih malu. "Ya sudah, sekarang kerjakan tugas kamu. Selesaikan sebelm saya pergi Kalimantan," tegasnya memerintah. Aku segera mengerjakan tugasku di meja Pak Rangka.



"Sensi, jika tugas kamu tidak selesai sampai menjelang saya berangkat ke Kalimantan, maka sebagai hukumannya kamu harus ikut saya menggantikan Koral," putusnya membuat aku merasa mak jleb jeledar, seperti disambar petir.

__ADS_1



"Apa? Kenapa saya, Pak?" Jantungku rasanya mau copot mendengar keputusan sepihak Pak Rangka. Namun demikian aku percaya diri, tugasku yang berada di meja Pak Rangka ini sebentar lagi pasti akan aku selesaikan sebelum tiba keberangkatan Pak Rangka ke Kalimantan.


__ADS_2