Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Sakitnya Hati Sensi


__ADS_3

   "Rangka, aku mohon jangan pisahkan aku dengan anakku! Walaupun kita berpisah, tapi hubungan aku dengan anakku jangan kau batasi. Aku mohon," pinta Delana memohon.


   "Kamu sekarang berbicara tentang hubungan seorang anak dan ibunya. Dulu kemana saja saat Glassy benar-benar butuh kamu? Dia saat itu sedang sakit saat kamu tinggalkan, dia butuh sandaran saat itu. Tapi sayang, hati kamu tidak tersentuh, kamu sedang asyik dengan pengkhianatan mu. Pergilah, aku tidak mau di depan anakku, aku berkata-kata tidak pantas." Rangka mengusir Delana dengan keras, lagipula dia memang tidak mau memperlihatkan sikap kasar di depan Glassy.


   Delana mendengus seraya perlahan memundurkan kakinya. Saat dia mulai beringsut, Delana menatap tajam ke arah Sensi yang kini sedang dipeluk dilehernya oleh Glassy, dengan tatapan yang tidak senang. Delana terlihat menghela nafasnya kasar, sembari menghentakkan kaki, Delana pergi dari tempat itu, tentu saja dengan rasa kecewa yang dalam.


   "Bye, bye, Glass, Mama pamit," pamit Delana seraya melambai ke arah Glassy yang sama sekali tidak mau melihat ke arah Delana, Mama kandungnya.


   "Ayo, masuklah," titah Raka saat Delana sudah pergi bersama mobil mewahnya.

__ADS_1


   Sensi segera bergegas menuju rumah tanpa menoleh ke arah Rangka yang tadi sempat membuatnya kecewa. Rangka masuk kembali ke dalam mobilnya dan memasukkan mobil itu ke dalam garasi rumah.


   "Cakar, aku siang ini tidak kembali lagi ke kantor. Handle semua urusan olehmu. Jadwal meeting kali ini dengan Pak Samudera tunda sampai besok." Rangka memberi perintahnya lewat telpon setelah turun dari mobil, pada Cakar sang asisten.


  Sensi kini mulai menaiki tangga dan masuk ke kamar Glassy dengan maksud menidurkan Glassy.


   Glassy nampak seperti ketakutan, sejak berada dalam pangkuannya, tidak berbicara apa-apa.


   Begitu lancarnya Sensi bercerita sampai meniru suara auman Harimau hampir menyerupainya. Akhirnya Glassy tertidur dengan pulas, terdengar dari suara dengkuran lembut nafasnya.

__ADS_1


   Sensi tidak segera bangkit dan keluar dari kamar Glassy, dia sengaja menahan dirinya di dalam kamar Glassy, karena menghindar dari Rangka. Sensi masih terngiang-ngiang saat tadi Rangka marah dan membanting Hpnya sampai terburai. Sensi merasa Rangka kini sangat berbeda, padahal pernikahan baru dibangun kurang lebih dua bulan.


   Sensi hanya bisa menarik nafasnya berat, dia kangen dengan Rangka yang galak dan jutek saat masih jadi Bosnya. Eh, tapi saat Sensi mengamati, sikap Rangka memang tidak jauh beda. Setelah jadi suami malah lebih galak.


   Apakah Sensi salah memilih jodoh? Ini memang sudah takdir dari Illahi, bukankah sejak awal dia memang menyukai Rangka dengan segala kejutekan dan kegalakannya. Jadi, di mana kesalahannya? Sejak awal Sensi sudah memilih Rangka sepaket dengan Glassy dan sakit asma yang dideritanya. Bukan Sensi menyesali, tapi kadang ketika hati gundah dan ingin dimanja, Sensi ingin Rangka peka dan memahami kegundahannya.


   "Keluarlah, biarkan Glassy tidur sendiri," bisik Rangka yang tiba-tiba datang dan meraba tangannya untuk mengajak Sensi keluar kamar Glassy kemudian masuk ke kamar mereka lewat pintu penghubung.


   Sensi melepaskan pegangan Rangka dengan perlahan, dia berjalan seakan terpaksa menuju kamarnya. Rangka mendudukkan tubuh Sensi di sofa dalam kamar itu, dia pun duduk di samping Sensi dan meraih tangan Sensi.

__ADS_1


   "Sayang, aku minta maaf. Karena tadi sudah membentakmu," ujar Rangka seraya mencium tangan Sensi. Tiba-tiba Sensi meneteskan air mata, terbayang saat bentakan Rangka di mobil tadi. Sensi berdiri lalu beranjak dari kamar dan membuka pintu kamar dengan cepat. Sensi keluar dari kamar itu lalu menuruni tangga. Tempat yang nyaman baginya kini untuk menumpahkan segala sesak di dada hanyalah taman belakang yang penuh warna-warni bunga.


   Sensi menangis di sana menumpahkan segala yang menghantam di dadanya atas amarah yang pernah Rangka timpakan padanya. Tidak waras, keganjenan, gatel, bahkan ada lagi yang lainnya terlontar begitu saja dari mulut Rangka yang dulu begitu sangat dirindukannya, tapi kini mampu berkata-kata yang nyelekit bagi hati Sensi, meskipun tadi Rangka sudah meminta maaf padanya.


__ADS_2