
Akhirnya Rangka mencari Sensi ke seluruh ruangan di lantai bawah. Ruang tengah, ruang tamu, dapur, taman belakang, tempat jemur baju. Namun Sensi tidak ditemukan sama sekali. Rangka masih melewatkan satu ruangan lagi yang belum dia cari yaitu gudang. Sepertinya Sensi sembunyi di gudang dan Rangka yakin.
Perlahan Rangka mengendap mendekati gudang. Dia menempelkan telinganya di dinding pintu. Tidak terdengar apa-apa. Lalu Rangka menarik gagang pintu perlahan. Namun pintu itu terkunci.
"Kenapa pintunya dikunci? Dikunci dari luar atau dikunci dari dalam?" pikirnya bingung. Lalu Rangka menemui Bi Narti menanyakan pintu gudang.
"Bi Narti, apakah gudang biasanya dikunci tiap hari?" tanya Rangka.
"Ah, tidak, Den. Gudang tidak pernah Bibi kunci. Setahu bibi kuncinya selalu menggantung di pintu bagian dalam. Kalau terkunci, itu artinya Non Sensi ada di dalam dan mengunci pintunya dari dalam," ujar Bi Narti.
Rangka manggut-manggut memahami ucapan Bi Narti. Dan sepertinya dia kini yakin, bahwa Sensi memang berada di dalam gudang. "Kenapa kamu harus bersembunyi di gudang segala sih?" tanya Rangka dalam hati.
Akhirnya Rangka memutuskan akan membiarkan Sensi lebih tenang dulu, setelah itu baru dia hampiri.
Waktu semakin bergulir dan menunjukkan ke angka satu siang, itu artinya sebentar lagi Rangka harus menjemput Glassy. Kepala Rangka pusing, dia bingung harus bilang apa ke Glassy seumpama Glassy bertanya kemana Bundanya.
Rangka akhirnya memutuskan untuk segera menjemput Glassy. Mengenai nanti Glassy bertanya di mana Bundanya, Rangka akan jawab sedang ke pasar atau ke rumah orang tuanya. Tapi Rangka geleng kepala, alasan itu tidak bagus juga, akhirnya dia memutuskan untuk meminta bantuan Mamanya yaitu Nyonya Catly Catyred. Rangka akan minta tolong supaya Mamanya mengajak Glassy jalan-jalan dulu sampai Sensi keadaannya membaik.
"Assalamualaikum, Ma. Rangka mau minta tolong, boleh?"
"Waalaikumsalam. Minta tolong apa Rangka?"
"Hari ini Mama ajak Glassy ke rumah Mama, bilang saja Mama kangen dan mau ajak Glassy jalan-jalan. Soalnya Rangka ada urusan sebentar bersama Sensi."
"Apakah kalian tidak sedang berantem, kan Rangka?" Nyonya Catly bertanya dengan nada curiga.
"Tidak, Ma. Kami baik-baik saja. Hanya ada kesalahpahaman sedikit antara Rangka dan Sensi."
"Kesalahpahaman lagi. Kamu jangan bikin Sensi sedih dan kesal dong Rangka. Kamu harus berusaha ambil hatinya biar dia tidak sedih." Nyonya Catly memberi peringatan keras pada Rangka.
"Ok, Ma, Rangka paham. Mama nanti siap\=siap di rumah sambut Glassy, ya."
"Ok, mama tunggu."
Sambungan telpon itu berakhir. Rangka menyudahi telponnya setelah Mamanya sepakat untuk dititipi Glassy sebentar.
Mobil Rangka kini sudah berada di depan sekolah Glassy. Tidak berapa lama, kelas Glassy segera bubaran. Glassy menghampiri Rangka saat Rangka melambaikan tangan ke arahnya.
__ADS_1
"Papaaaa."
"Sayang. Ayo masuk," ajak Rangka seraya membuka pintu mobil.
"Bunda, kemana Bunda?" herannya seraya mencari sosok Sensi.
"Bunda tidak ikut, soalnya Bunda sedang tidak enak badan. Jadi kali ini Papa yang jemput Sensi. Tapi, hari ini setelah pulang sekolah, Glassy akan Papa antar ke rumah Nene, sebab Nene meminta Papa mengantarkan Glassy ke rumahnya. Katanya Nene kangen dan ingin ngajak Glassy jalan-jalan," ujar Rangka membujuk terselubung. Glassy diam seperti sedang berpikir keras.
"Apakah benar Nene akan ajak aku jalan-jalan?" tanya Glassy merasa tidak yakin.
"Benar, Nene tidak mungkin bohong. Makanya sekarang kita menuju rumah Nene. Come on baby," ajak Rangka bersemangat dengan maksud menyemangati Glassy. Akhirnya Glassy mau dibujuk dan mau diantar ke rumah Nenenya yakni Nyonya Catly Catyred.
Tidak berapa lama Glassy sampai di rumah mamanya. Nyonya Catly langsung menyambut bahagia kedatangan anak dan cucunya.
"Glassy. Cucu Nene. Ayo, Sayang kita jalan-jalan. Glassy mau kemana? Nanti Nene antar sesuka Glassy," seru Nyonya Catly bahagia akan mengajak cucunya jalan-jalan.
"Aku mau ke mall, pengen main kereta sama beli es krim," sahutnya tidak kalah senang. Rangka bahagia melihat keceriaan yang ditunjukkan Glassy.
Setelah Glassy masuk mobil. Rangka bicara sejenak pada mamanya.
"Ma, titip dulu Glassy, ya. Mungkin nanti malam setelah Maghrib, Rangka akan jemput dia," ujar Rangka seraya berpamitan.
"Tapi, Rangka rasa tidak untuk malam ini. Sebab Sensi terlanjur sakit hati dan kecewa berat dengan perlakuan Rangka padanya. Rangka memarahinya saking kesal, sebab dia belajar nyetir tidak pernah fokus dan banyak bercanda. Akhirnya gagal lagi, gagal lagi, dan Rangka kesal dia tidak serius," cerita Rangka mirip anak kecil yang sedang mengadu pada mamanya.
"Rangka, Rangka. Kalau Sensi tidak mood dalam berlatih, kamu stop dulu latihannya dan jangan paksakan. Kalau sudah begini, jadinya kan runyam. Istrimu akhirnya merajuk." Nyonya Catly geleng-geleng kepala.
"Ok, kalau begitu Rangka pamit, ya, Ma. Nanti usul kerennya biar Rangka pikirkan. Assalamualaikum." Rangka berpamitan seraya melambaikan tangannya ke mamanya juga ke Glassy yang sudah lebih dulu berada di dalam mobil.
Nyonya Catly tersenyum dan menatap kepergian anak satu-satunya kembali ke rumahnya, berharap Rangka bisa membujuk dan meluluhkan hati Sensi dan mengajak jalan berdua tanpa Glassy.
"Ayo, Nek. Kita juga harus segera pergi. Nanti malah kesiangan." Glassy tidak sabar untuk pergi, wajahnya sampai cemberut menunggu Nyonya Catly masuk mobil. Nyonya Catly pun segera masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan mobilnya keluar halaman rumah. Kali ini mereka berdua akan pergi jalan-jalan ditemani Bi Dorothi sekedar mendampingi Glassy.
Sedangkan mobil Rangka, kini berbelok ke sebuah butik. Malam besok Rangka mempunyai rencana ingin mengajak Sensi kencan seperti apa yang disarankan Mamanya tadi. Rangka berharap rencananya berhasil dan membawa hati Sensi kembali ceria dan bahagia sebagaimana Sensi yang dia kenal selama ini.
Di butik, Rangka membelikan gaun malam yang indah lengkap dengan tas dan sepatunya yang senada dengan gaun malam hijau toska favorite Sensi. Rangka keluar dari butik langsung menuju parkiran mobil. Rangka kembali menjalankan mobilnya menuju rumah dengan harapan baru.
Hanya lima belas menit, mobil Rangka tiba di depan rumahnya. Rangka segera turun dan menuju rumahnya yang sudah disambut Bi Narti.
__ADS_1
"Bagaimana, Bi, apakah istri saya ada keluar dari gudang itu selama saya pergi?" Rangka bertanya dan berharap jawaban Bi Narti membahagiakan.
"Tidak ada, Den. Sejak tadi tidak ada yang keluar dari gudang ini. Malah sepertinya Non Sensi tertidur di dalam," jawab Bi Narti membuat Rangka lesu. Rangka memijit pangkal hidungnya seakan sakit kepala. Rangka memutuskan menaiki tangga dan ke kamarnya saja untuk mengistirahatkan sekujur tubuhnya yang sangat lelah. Hari ini Rangka benar-benar lelah, karena bulak-balik seharian ini.
Jam lima sore Rangka sudah terlihat segar. Rasa lelah yang terlihat di matanya, kini tidak kelihatan lagi. Rangka menuruni tangga, dia bermaksud ke gudang menemui Sensi bagaimanapun caranya.
Tiba di depan gudang, Rangka masih harus berdecak kesal, sebab dia lagi-lagi harus mendapati gudang yang masih tertutup dengan tanpa ada tanda-tanda Sensi keluar gudang.
Dengan perasaan yang campur aduk, akhirnya Rangka memutuskan jalan terakhir, yaitu menggedor pintu gudang berharap Sensi membukanya.
"Tok, tok, tok."
"Sayang, buka pintunya, ijinkan aku masuk." Rangka berteriak dengan lembut sembari menarik gagang pintu berharap kuncinya sudah dibuka. Namun pintu itu masih dalam keadaan dikunci.
Masih belum menyerah, Rangka mengetuk lagi pintu itu.
"Tok ... Tok ... Tok ...."
"Sayang, dengar aku. Buka pintunya, aku mau masuk. Ada hal yang ingin aku bicarakan," teriak Rangka lagi dengan lantang.
Sensi yang baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar ketukan pintu gudang, tersentak dan bangun dalam keadaan yang masih ngantuk. Setelah tadi lelah menangis, Sensi rupanya sangat ngantuk dan akhirnya tertidur dalam gudang.
Perlahan Sensi bangkit dan bermaksud membukakan kunci pintu gudang tanpa bersuara. Pintu itu kini sudah tidak terkunci, akan tetapi Sensi tidak membukanya. Dia membiarkan pintu itu digedor lalu dibuka sendiri oleh suaminya.
Dan pada gedoran yang ketiga, Rangka kembali mencoba menarik handle pintu, dan ternyata pintu itu sudah tidak terkunci lagi. Pintu itu terbuka. Rangka bisa memasukinya dan melihat ke sekeliling gudang.
Sensi masih terbaring di atas bangku tumpukan sisa koran bekas tanpa terlihat merasa sakit. Rangka menghampirinya dan duduk di samping Sensi seraya mengusap lembut bahu Sensi.
"Sayang, pindah tidurnya ke kamar. Ayo, di sini banyak nyamuk. Aku takut tubuhmu bentol-bentol dan sakit gara-gara di gigit nyamuk," bujuk Rangka sepenuh hati.
Rangka meraih bahu Sensi dan mengangkat paksa tubuh Sensi. Sensi berhasil diangkatnya. Tapi dengan wajah yang berusaha dipalingkan dari tatapan Rangka. Rangka menahan wajah Sensi supaya bisa ditatapnya. Alangkah terkejutnya Rangka, wajah Sensi sembab dan bengkak, sepertinya di gudang ini, Sensi menangis lama.
"Sayang, wajahmu sembab. Ayo ikut aku, kamu harus membersihkan diri dan membasuh mukamu yang sembab. Aku mohon." Rangka memaksa meraih tubuh Sensi. Namun Sensi menepis, dia segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Rangka segera menyusul Sensi yang menuju tangga.
Rangka bersyukur, Sensi masuk ke dalam kamarnya. Namun hal yang tidak diduga terjadi, Sensi malah menaiki ranjang, dan melanjutkan sisa ngantuknya di sana. Sensi mendengkur dengan wajah terlihat sangat lelah dan sedih.
Ya ampun, gara-gara aku, Sensiku jadi bersedih begini. Dia begitu lelah karena seharian menangis," guman Rangka seraya mengelus lembut pipi Sensi tanpa terusik.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul enam sore, suara kumandang adzan terdengar di mana-mana. Sensi bergerak dan bergeliat lalu bangun. Rangka yang melihat senang, dia menghampiri dan meraih tangan Sensi.
"Sayang kamu bangun? Ayo ke kamar mandi, kamu harus mandi," suruh Rangka seraya membantu Sensi berdiri. Tapi Sensi menepis tangan angka, dia masih terlihat marah dan tidak mau disentuh oleh Raka.