Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 16 Kamar Horor


__ADS_3

Jam 9 WITA, pesawat yang ditumpangi kami tiba di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan. Dari bandara, rombongan sudah dijemput oleh mobil khusus, sepertinya mobil perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan milik Pak Rangka. Mobil Alphard itu membawa kami pada sebuah hotel.



Hanya sepuluh menit dari bandara, kami tiba di hotel. Hotel berbintang yang lumayan mewah. Aku segera turun dari mobil jemputan tadi, Pak Rangka dan yang lainpun demikian. Semua rombongan yang terdiri dari empat orang, aku, Pak Rangka, Dian (Divisi keuangan), Rudi, kini memasuki loby hotel. Pak Rangka sejenak berbincang dengan Resepsionis hotel yang memberikan kunci kamar hotel pada kami, masing-masing diberi kunci.



Kami berjalan menuju lift karena kamar kami berada di lantai 3 hotel itu. Tiba di lantai tiga kami mencari kamar kami masing-masing. Kamarku dengan kamar Pak Rangka letaknya bersebrangan, sedangkan kamar Pak Rangka, Rudi dan Dian berdampingan.



Kami masuk ke kamar kami masing-masing. Hotel ini memang mewah dan aku baru pertama kali masuk ke dalam hotel semewah ini. Akan tetapi pertama kali memasukkan kaki ke dalam kamar ini, aku tidak merasakan rasa takjub ketika di bandingkan masuk toilet tamu di perusahaan Pak Rangka waktu itu.



Aku segera ke kamar mandi, kamar mandinya juga benar-benar mewah dan lagi-lagi aku tidak merasakan rasa takjub saat memasukinya, aneh dan entah kenapa. Harum aroma terapinya juga beda dengan toilet tamu di perusahaan Pak Rangka, ini tidak beda dengan bau melati yang membuatku tiba-tiba merinding.



Setelah mandi dan berpakaian kasual, aku segera keluar kamar, karena rombongan kami malam ini ada acara makan malam bersama. Diantaranya bersama kolega dan teman bisnis Pak Rangka sesama Pengusaha se Indonesia.



Makan malam yang mewah ini dilalui dengan suka cita, aku yang baru pertama kali makan malam di hotel mewah sedikit merasa sungkan terlebih Dian duduknya berada di sebrang meja, Rudi juga sama. Sedangkan Pak Rangka berada di meja lain. Aduhhh tiba-tiba aku merasa kikuk dan tegang.



"Mbak Dian, Mbak!" Dian yang aku panggil cuek saja tidak mendengar, dia nampaknya sibuk masukin makanan ke dalam piringnya. Lalu makan dengan santai dan lahap. Aku menjadi sangat lapar. Lalu aku juga mulai menuangkan lauk ke dalam piring dan mulai makan.



Aku ngambil steak dan salad serta acar ke dalam piringku. Sepertinya salad dan acar jika disatukan akan terasa segar saat dimakan. Dan benar saja, rasanya sungguh segar. Ditambah lagi steak yang super empuk dengan tingkat kematangannya yang bagus. Sungguh malam ini adalah makan malamku terenak sepanjang hidupku.


__ADS_1


Setelah makan malam, aku dan yang lainnya segera ke kamar, sedangkan Pak Rangka dan Rudi sebagai Auditor dari perusahaan Kertassindo Gemilang, mengadakan pertemuan singkat dengan para pebisnis muda di lobby hotel ini. Pak Rangka memberi kode kepada aku dan Dian supaya masuk duluan ke kamar kami masing-masing.



Akan tetapi Dian tidak segera menuju kamar, saat itu aku heran mau ke mana Dian. "Mbak Dian, nggak masuk kamar langsung?"


"Nggak Sen, aku ada janji sebentar dengan teman aku di taman hotel. Kebetulan teman aku ada juga yang nginap di hotel yang sama. Kamu duluan saja ya. Aku lima belas menit kemudian pasti nyusul," ucap Mbak Dian sembari tersenyum. Aku hanya mengangguk, setelah itu aku segera menuju kamarku.


Di dalam kamar, aku membersihkan sejenak wajahku dari semua make up yang tadi menempel tipis di wajahku. Setelah itu aku bermaksud segera membaringkan tubuh untuk melepas lelah, karena besok masih ada kegiatan yang memerlukan tubuh dan mata yang segar.



Belum juga membaringkan tubuh, tiba-tiba pintu kamarku diketuk, aku sejenak terkejut. Aku biarkan orang itu mengetuk untuk memastikan bahwa itu benar orang atau bukan. Dan ketukan itu kembali terdengar. Aku segera bangkit dan membuka pintu. Ternyata Pak Rangka.



"Kamu belum tidur?" tanya Pak Rangka penuh perhatian dengan tangan kanan memegang secangkir kopi latte.


"Belum, Pak. Tadinya saya baru mau tidur. Tapi Pak Rangka keburu mengetuk," ujarku.


"Pak!" Tiba-tiba mulutku malah memanggil Pak Rangka secara repleks. Sontak Pak Rangka menoleh dengan cepat.


"Iya?" serunya sembari menoleh ke arahku dengan heran.


"Eh, eng-enggak jadi, Pak." Aku tiba-tiba gugup dan salah tingkah. Gara-gara mulut ini, akhirnya aku aku keceplosan memanggil Pak Rangka.


"Kenapa, apa kamu ingin satu kamar dengan saya?" tanya Pak Rangka dengan wajah cengengesan.


"Eng-enggak, Pak. Bukan itu. Tapi, tapi."


"Kenapa, kamu kok gugup? Tenang saja, saya hanya bercanda kok. Kamu ini pikirannya dibawa serius saja," sergah Pak Rangka sembari tersenyum menggoda. Aku jadi tersipu malu.


Setelah kedatangan Pak Rangka ke kamarku, aku kembali ingin membaringkan tubuhku dan segera istirahat, namun belum sampai tubuhku terhempas, tiba-tiba di kamar mandi kamar hotelku terdengar suara orang seperti sedang mandi. Sontak aku terkejut lalu segera naik kasur dan bersembunyi di balik selimut.


__ADS_1


Namun aku sama sekali tidak mendapatkan ketenangan setelah bersembunyi di balik selimutpun. Aku coba berdoa sebisaku dan semampuku. Dan suara orang yang sedang mandi itu berhenti seketika. Walau demikian, rasa takut dalam diriku terlanjur menguasai.



Aku mencoba baring lagi, dan membaca doa yang berharap aku segera tidur nyenyak. Namun rasa kantuk entah ke mana perginya, seperti hilang begitu saja. Dan saat ini aku benar-benar ketakutan, saat kakiku seakan ada yang mengusap-usap.



"Ahhh, ahhh, tolonggg, jangannnn," teriakku spontan dan loncat dari ranjang. Aku berdiri siaga di tepi ranjang sembari memegang Hp yang sejak tadi tidak lepas dari tanganku. Meski aku orang beragama tapi dihadapkan dengan hal-hal horor begini, aku jujur saja takut.



Saat itu aku kepikiran untuk menghubungi nomernya Mbak Dian. Namun sialnya nomer Mbak Dian tidak aktif. Aku bermaksud memintanya untuk tidur di kamarnya.



"Ya ampun, baru saja menikmati kamar mewah tapi kok suasananya horor dan menakutkan. Gimana nih, harus tidur di mana?" Aku sebisanya berdoa dalam hati sambil melihat sekeliling. Dan yang bikin aku terkejut tiba-tiba suara orang sedang mandi itu kembali terdengar. Kini bukan keran yang terdengar melainkan suara jebar jebur gayung mengambil air.



Aku benar-benar takut dan ngeri, meskipun tidak ada ceritanya makhluk gaib sampai membunuh manusia, namun nyaliku tidak cukup kuat untuk uji nyali dengan makhluk gaib.



Aku mengatur nafasku perlahan dengan mata yang tetap waspada melihat ke kiri dan ke kanan.


"Titt." Sedetik kemudian terdengar bunyi tit yang entah dari mana arahnya, tiba-tiba lampu kamar hidup mati untuk beberapa detik. Seketika aku soak dan berlari ke arah pintu dengan berusaha membuka kunci.


"Tolong, tolonggg, Pak Rangkaaaaa." Bersamaan dengan itu pintu kamarku terbuka dan tubuhku seperti ada yang menangkap.


"Sensi, kenapa?" Pak Rangka menangkap tubuhku dan aku memeluknya sampai erat seperti tidak ingin lepas.


Bersambung.....


"

__ADS_1


__ADS_2