Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 49 Bos Mesum


__ADS_3

"Ayo makan siang dulu, setelah ini tugas kamu menemui anak saya, sebab anak saya mau ditemani kamu sampai dia tidur siang," titah Pak Rangka seenak jidat. Setelah kejadian umpak-umpakan tadi di kamar pribadinya, Pak Rangka terlihat santai dan seakan tidak terjadi apa-apa.



"Bapak makan saja sendiri, saya sedang tidak nafsu. Saya mau pulang, sebab mendadak tidak enak badan," ucapku lemah memberi alasan. Pak Rangka nampak kaget, kemudian dia meraih tanganku lalu mengarahkan tubuhku ke hadapannya.



"Ehhh, ada apa sih kamu ini? Kamu kan belum makan siang, kita makan siang dulu. Nanti kita bahas hal lain setelah makan," ujarnya. Aku segera menepis tangannya lalu segera memburu tas kerjaku dan kusampirkan di bahuku, kemudian berlari kecil menuju pintu keluar ruangan Pak Rangka. Mataku sudah berkaca-kaca, sebab kejadian di kamar pribadi Pak Rangka tadi masih jelas membayang-bayangiku.



"Saya mau pulang. Sebaiknya mantan istri Bapak saja yang menemani anak Bapak tidur siang," ucapku seraya menuju pintu. Tangisku pun luruh. Pak Rangka berhasil menahan tanganku dan menariknya.



"Ada apa sih kamu? Kamu ingat kejadian tadi?"


"Memangnya Bapak pikir saya langsung lupa dan bahagia begitu saja saat bagian tubuh saya dinodai oleh Bapak?" tegasku sedih.

__ADS_1



"Saya tahu, saya minta maaf. Saya tadi masuk ke dalam untuk mencari kamu yang lama tidak muncul-muncul. Saat saya masuk, sepertinya kamu sedang menuju pintu dengan mata yang jelalatan entah kemana sehingga saat saya masuk, kita bentrok lalu tabrakan dan ambruk sehingga kita seolah lagi mesum. Lagipula atas kejadian itu, kaki saya sakit kok, dan sekarang masih sakit," tutur Pak Rangka sembari meringis.



"Saya tetap mau pulang, saya tidak enak badan, maaf saya tidak bisa temani anak Bapak. Lebih baik .... "



"Saya tidak butuh lagi bantuan mantan istri saya, lagi pula mantan saya tidak pernah ingat akan anaknya kok," cetus Pak Rangka memotong ucapanku, membuatku mengerutkan kening, masa iya mamanya Glassy sama sekali tidak ingat akan anak kandungnya sendiri?




"Sensi, Sensi, tunggu!" Walaupun Pak Rangka berteriak memanggil namaku, namun aku tidak menggubrisnya, bahkan kini aku sudah berada di lantai bawah dan menuju parkiran.


__ADS_1


Besoknya tiba, kali ini aku tidak akan masuk kantor. Biarlah Pak Rangka menantikan kehadiranku. Lagipula sepertinya aku merasa malu harus masuk kerja gara-gara tragedi tekanan pada si kembarku tadi malam.



Namun baru saja merebahkan tubuh dengan santainya, tiba-tiba sebuah notif WA masuk ke dalam HPku.



"Sensi, kenapa belum tiba di kantor?"


"Kalau dalam waktu satu jam kamu tidak datang, maka saya yang akan menjemputmu ke rumah." Lagi pesan itu masuk. Pesan yang kedua ini membuatku terhenyak, aku benar-benar takut jika Pak Rangka akan benar-benar datang ke rumah dan menjemputku.



"Sudah bersiap-siaplah, jangan mencari alasan lagi untuk tidak datang ke kantor, kalau tidak, nanti saya akan cium kamu di depan semua para karyawan Kertassindo Gemilang," ancamnya tidak lucu.



"Huhh, emangnya aku takut dengan ancamannya. Dasar Bos mesum!"

__ADS_1


__ADS_2