
Sensi berpangku tangan menatap ke arah Rangka yang baru keluar dari kamar dengan mendengus kesal. Rangka terkejut bukan main, saat melihat di depannya ada penampakan yang nyata.
"Cantik luar biasa," bisiknya dalam hati seraya mematung terpesona.
"Sayang, kamu sudah siap?" Rangka nampak sumringah seraya menggamit lengan Sensi, tapi Sensi menepis. Rangka melongo.
Akhirnya rangka membiarkan Sensi berjalan duluan menuruni tangga. Dari belakang, Rangka tidak henti mengagumi Sensi, dia sungguh sangat cantik dan menawan. Ternyata ketakutannya tadi saat sedang menunggu Sensi di luar kamar, tidak kejadian. Sensi sungguh-sungguh mengikuti permintaannya. Kali ini Rangka benar-benar terharu, Sensi tidak membuat asmanya kumat dengan tidak menuruti permintaanya.
Rangka membukakan pintu mobil untuk Sensi dan mempersilahkannya masuk duluan ke dalam mobil.
"Bruggghhh." Pintu tertutup.
Lalu Rangka memutar, dia pun masuk ke dalam mobil sambil menatap ke arah Sensi yang tidak tersenyum sama sekali.
"Ya ampun, istriku ini masih merajuk. Tapi tidak apa-apa, nanti juga dia luluh. Lihat saja, akan aku buat luluh. Aku tahu sifat kamu sayang, kamu tidak akan lama-lama mendinginkan aku seperti ini. Sebaiknya aku colong dulu dengan ciuman, biar istriku ini melayang-layang dan salah tingkah."
Rangka memasang sabuk pengaman untuknya dengan benar, sementara Sensi masih belum memasang. Ini kesempatan untuknya memasangkan sabuk pengaman sambil mencium sesuai rencananya tadi.
"Sayang, kamu belum menggunakan sabuk pengaman. Kalau tidak memasang, nanti bahaya," ujar Rangka dengan wajah yang sangat dekat dengan bibir merah sang istri. Sensi tersentak saat wajah suaminya sangat dekat. Seketika wangi mint campur wangi rokok tercium oleh hidungnya. Sejenak Sensi memejamkan mata untuk merasakan wangi dari mulut suaminya itu. Menyegarkan.
Tidak buang kesempatan, saat itu juga Rangka melabuhkan ciuman tepat di bibir Sensi yang merah menyala. Walau tersentak, untuk beberapa saat Sensi menikmati ciuman itu. Manis bekas sisa batang rokok dikecapnya dari bibir Rangka, Rangka tersenyum bahagia saat bibir Sensi terasa ********** kuat.
"Huhhhhh ... hahhhh." Deru nafas Sensi sangat dalam saat Rangka melepaskan pagutannya.
"Sayang," sapa Rangka seraya menatap wajah Sensi dengan senyum bahagia di wajahnya. Sensi segera mengeluarkan cermin dari tasnya, melihat bibirnya yang sudah pasti sebagian gincunya luntur akibat ciuman barusan.
"Mas Rangka, lihat nih bibirku, habis gincunya." Sensi protes seraya menambah gincu di bibirnya.
"Tenang sayang, itu bisa dipoles lagi dengan gincu lain. Sekarang kita sebaiknya segera pergi," ajak Rangka seraya menjalankan mobilnya dengan kekuatan sedang menuju sebuah restoran mewah bintang tujuh.
"Ayo turunlah, Sayang. Kita sudah sampai," ajak Rangka seraya membuka pintu mobil untuk Sensi. Saat Sensi turun dari mobil, dia seketika terkejut, bukankah ini restoran mewah yang terkenal itu? Sebuah restoran mewah sekelas bintang tujuh. Jika mengingat nama restoran ini, Sensi mendadak senyum-senyum mengingat restoran ini mirip sebuah puyer sakit kepala yaitu bintang tujuh.
__ADS_1
Rangka heran sekaligus penasaran melihat Sensi yang tersenyum-senyum dari wajah Sensi. Tidak pikir panjang lagi Rangka segera meraih jemari Sensi kemudian direkatkan. Rangka menarik lembut tangan Sensi menuju restoran yang sudah dia pesan terlebih dahulu.
Dengan langkah yang sangat anggun dan percaya diri, Sensi berjalan di samping Rangka dengan tidak ada keraguan. Tiba-tiba sebuah sorot mata bahkan lebih, tengah menatap dan mengawasi langkah keduanya. Bahkan mereka berdecak kagum melihat kecantikan seorang Sensi Vera wanita cantik yang terkenal ceplas-ceplos dan sederhana di kalangan para staff di kantor Rangka kala itu.
"Ya ampun, cantik banget bininya Rangka. Kalau saja bininya Rangka mau gue ajak selingkuh, alangkah gue bahagia," celetuk Samudera salah satu teman bisnis Rangka.
"Gue juga mau, bro. Gua juga pengen jadi selingkuhannya, minimal cicip sedikit, alangkah bahagianya," sela Redi masih temannya Rangka dengan pikiran yang mesum.
"Cacap-cicip, cacap-cicip, sembarangan kalian bicara, kedengaran Rangka bisa patah leher kalian." Salah satu diantara mereka menyergah dengan nada tidak suka.
"Bercyanda, bro. Hidup itu harus diselingi cyanda biar tidak cepat tua. Whahahahhahha." Mereka tertawa sembari tidak lepas memperhatikan langkah Rangka dan Sensi menuju ruangan khusus di restoran tersebut.
"Silahkan Pak, masuk!" Seorang pelayan mempersilahkan masuk pada keduanya pada sebuah ruangan VVIP restoran tersebut. Rangka tersenyum membalas sambutan sopan pelayan tersebut.
"Silahkan, Sayang. Masuklah." Rangka mempersilahkan Sensi masuk duluan dan menarik salah satu kursi untuk Sensi. Sensi mendadak tegang dan melayang-layang diperlakukan istimewa oleh Rangka.
Ruangan ini seperti ruangan private yang khusus disewa oleh orang-orang kalangan tertentu. Tentu saja yang namanya private tersedia juga fasilitas lain yang istimewa yaitu dilengkapi dengan sebuah kamar. Kalau diartikan ruangan private ini konsepnya khusus untuk pasangan suami istri yang ingin sekalian berbulan madu. Sepertinya Manager restoran bintang tujuh ini, merancang sebuah konsep restoran sekaligus tempat bulan madu bagi pasangan suami istri yang tidak sempat bulan madu ke tempat lain. Konsep yang keren.
Suasana tegang yang dirasakan Sensi mendadak cair dengan diperdengarkan sebuah instrumen musik yang romantis. Bersamaan dengan itu dua orang pelayan masuk menyediakan hidangan istimewa di atas meja makan yang sudah dipasangi lilin dengan aroma romantis.
Setelah hidangan pembuka dinikmati, kemudian dua orang pelayan yang tadi, mempersilahkan Rangka dan Sensi berdansa terlebih dahulu sebelum menikmati hidangan utama dengan musik yang sudah diperdengarkan. Sebuah musik romantis yang bisa menghanyutkan keduanya ke dalam gelora asmara.
"Mas, kenapa harus seperti ini? Aku lebih baik makan di warteg atau warung tenda pinggir jalan yang tidak seformal ini. Ini harus ada makanan pembuka, utama dan penutup. Kalau makan, ya, makan saja." Sensi menggerutu, ternyata keadaan seperti ini tidak nyaman bagi Sensi.
"Sabar, Sayang. Dinikmati saja dulu," bujuk Rangka menahan kegalauan Sensi.
Akhirnya hidangan utama telah disuguhkan seiring berhentinya musik romantis yang mengiringi Sensi dan Rangka dansa. Mereka berdua benar-benar tidak menikmati dansa romantisnya. Sensi keburu bosan dan hilang mood.
Singkat cerita hidangan utama telah habis dilahap keduanya. Rangka tersenyum bahagia melihat Sensi makan tanpa malu-malu.
"Mas, alangkah enaknya makanan di sini. Pasti harganya mahal, ya?" tanya Sensi seraya mengenang makanan enak tadi saat dinikmati
__ADS_1
"Iya, Sayang. Ini kan spesial buat kamu istri aku yang tidak ada duanya. Ini bentuk rasa terimakasih aku karena telah memiliki kamu dan kamu telah bersedia menikah dengan aku yang penyakitan ini. Juga menerima Glassy dan kekurangan aku yang kadang suka marah padamu. Aku minta maaf, ya," ujar Rangka seraya mendekati Sensi dari belakang lalu dengan tiba-tiba mengalungkan sebuah kalung emas yang bergantel eceng.
Sensi sangat terharu mendapat kejutan hadiah dari Rangka itu, dia sampai berkaca-kaca. Lalu Rangka membawa Sensi ke dalam ruangan private khusus pasangan suami istri.
Sensi merasa tidak srek jika harus melakukannya di sini.
"Mas, apakah kamar ini dikhususkan buat kita juga? Kenapa tidak di rumah saja lebih santai dan lama?" ceplos Sensi membuat Rangka tertawa.
"Iya sayang, kamar ini untuk pasangan suami istri," ujar Rangka seraya menangkap pinggang Sensi yang kini sudah tidak bisa berkutik lagi kecuali pasrah. "Kita bikin perut kamu berisi, tapi isinya beda. Calon adik buat Glassy," ujar Rangka seraya melabuhkan ciuman mesra di bibir Sensi.
Sepertinya gelora asmara diantara mereka sudah tidak bisa dibendung lagi. Baik Sensi dan Rangka sudah saling menyatukan hasrat mereka.
"Sayang, bagaimana? Apakah malam ini kamu bahagia?" Sensi mengangguk seraya semakin erat memeluk Rangka.
"Mas, ayo kita pulang. Lebih baik kita lanjut ini di rumah," ajak Sensi entah sadar atau tidak.
"Benar, Sayang? Asikkk, kita bikin ronde kedua dan ketiga di rumah. Let's go," seru Rangka bahagia dan segera bangkit lalu menggunakan kembali baju yang tadi dilucuti akibat pecahnya perang antara asmara antara keduanya.
Jam sepuluh malam, Rangka dan Sensi keluar dari ruangan VVIP dengan keadaan yang bugar dan bahagia, sebab mereka sudah melewati malam bahagia penuh gelora di sana.
Saat mereka akan keluar dari pintu restoran, tiba-tiba Rangka dan Sensi bertemu dengan Samudera dan Redi teman sesama pengusaha berpapasan. Dalam hati sebenarnya Rangka malas bertemu dengan mereka berdua, sebab sudah terbukti mereka berdua di belakang Rangka memang mengagumi Sensi.
"Rangka! Wah kebetulan sekali kita bertemu di sini. Apa kabar Nyonya Rangka, semakin hari semakin cantik saja," ujar Samudera blak-blakan seraya menatap Sensi dengan tatapan yang intens. Rangka sudah tidak ingin lebih lama lagi di depan mereka, sebab Rangka malas melihat kedua temannya melirik ke arah Sensi terus.
Sensi mengangkat kedua tangannya sebagai jawaban pada Samudera. Lalu dengan segera dia menundukkan pandangannya ke arah lain menghindar pandangan keduanya. Sensi sudah merasakan atmosfernya berbeda,
"Maaf, Sam, Redi, gue harus pulang," ujar Rangka seraya menarik lembut tangan Sensi menuju pelataran parkir. Mobil Rangka melaju meninggalkan restoran mewah bintang tujuh itu, tempat di mana baru saja terjadi pertautan antara Rangka dan Sensi.
Akhirnya mobil Rangka tiba di rumah Rangka. Pak Mamat menyambut kedatangan mobil Rangka seraya tergopoh dengan nafas yang turun naik.
Tepat Rangka turun dari mobilnya, Pak Mamat tiba-tiba menyampaikan berita yang cukup mengejutkan.
__ADS_1
"Tadi setelah mobil Aden pergi, sepuluh menit kemudian sebuah mobil mewah datang. Ternyata setelah saya lihat ternyata Nona Delana mantan istri Den Rangka. Dia menanyakan Non Glassy," lapor Pak Mamat.
"Oh ya? Baik Pak Mamat, terimakasih atas infonya." Rangka merasa kedatangan Delana merupakan sebuah ancaman bagi keselamatan Glassy. Rangka harus lebih dulu bertindak sebelum Delana semakin nekad ingin memiliki Glassy dengan cara apapun,"