Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Memblokir Pertemanan Termasuk Dengan Delana


__ADS_3

   Tepat jam 12 siang, Rangka terbangun. Sensi yang tadi berada di pelukannya kini sudah tidak ada. Sejenak Rangka meregangkan ototnya yang kaku, sembari mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. Rangka bangkit dan menuju kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya dengan air shower yang sangat menyejukkan. Tidak berapa lama Rangka menyudahi mandinya, dia segera keluar, berbaju yang rapi dan bersih serta menjalankan ibadah sholat Zuhur.


   Tiba-tiba Sensi masuk dengan tangan yang menenteng HP. Dilihatnya Hp itu layarnya baru saja padam, itu artinya baru saja Sensi habis melakukan aktifitas media sosial atau menggunakan untuk yang lainnya. Yang jelas, Rangka kini selalu diliputi rasa curiga dan cemburu jika sedikit saja melihat Sensi memainkan Hpnya.


   "Sini Hp kamu," sambarnya seraya meraih Hp Sensi yang masih dipegangnya. Sensi tidak bisa apa-apa, dia pasrah Hpnya dikuasai Rangka sepenuhnya sebab di dalam Hpnya tidak ada sesuatu hal yang mencurigakan atau rahasia.


   Rangka memasuki media sosial Sensi, mulai dari Telegram, WA, juga facebook. Hanya tiga media sosial itu yang Sensi punya, dia tidak memiliki tok-tok, Instagram ataupun YouTube. WA dan telegram sepertinya tidak ada yang mencurigakan. Dan kini Rangka menyusuri media sosial facebook. Di sana Rangka terlihat anteng memasuki facebook Sensi.


   Mata Rangka tertuju pada pesan inbox, meskipun lonceng notifikasi sudah mencuri perhatiannya. Namun dia abaikan, dia lebih tertaik dengan pesan di inbox. Satu kali klik dan kini Rangka memasuki pesan inbox.


   Mata Rangka terbelalak, lagi-lagi dia melihat nama Krisna di sana, mengirimkan sebuah pesan. Dan pesan inbox itu saling berbalas. Satu per satu dibacanya. Memang tidak ada pembicaraan yang menjurus pada birahi. Tapi cukup membuat amarahnya kembali berada di ubun-ubun.


   Terlebih baru saja kemarin Sensi ada membalas satu kali pesan dari Krisna, yang isinya meminta maaf dan menyuruh Krisna untuk mengakhiri mengirimkan pesan inbox atau apapun itu. Rangka geleng-geleng kepala, meskipun balasan dari Sensi isinya ingin menyudahi pertemanan di dunia maya demi menghargai dirnya sebagai suami, tapi hati Rangka jelas sedang terbakar api cemburu.


   "Sayang, kamu masih berhubungan dengan si Krisna?" tanya Rangka menatap Sensi tajam. Sensi mengeleng. "Tapi, buktinya kemarin kamu masih membalas inboxnya."


   "Iya, Mas. Kemarin aku meminta pada Mas Krisna untuk menyudahi mengirimkan pesan inbox apapun, dan aku sekarang tidak akan peduli Mas Krisna mau mengirimkan pesan apapun ke inbox," tegasnya.


   "Caranya bukan seperti itu, kamu blokir saja orangnya, otomatis dia tidak akan lagi kirim inbox ke facebook kamu. Kamu paham? Kalau cuma memperingatinya dengan sebuah kata-kata seperti ini, aku rasa dia tidak akan pernah berhenti mengirimkan pesan inbox atau berhenti mengganggumu. Selama pertemanan kalian terhubung, dia pasti ada jalan untuk menghubungi kamu," tandas Rangka terdengar sangat tegas.


   Sensi menunduk, dia hanya bisa diam danbelum sepatah katapun menyahut lagi. "Jadi mau kamu bagaimana? Masih mempertahankan dia sebagai teman dan membuat dia terus dan terus penasaran lalu mengirimkan pesan inbox sampai kamu kembali membalas?"


   "Tidak, Mas. Aku setuju nam Mas Rangka di blokir dari sebuah pertemanan. Aku juga tidak mau lagi berteman dengan lelaki manapun jika itu bisa membuat hubungan runah tangga kita berantakan," jawab Sensi terdengar serius dan tegas.


   "Ok, sekarang aku blokir pertemanan dia. Mulai sekarang kamu dan dia tidak lagi bisa saling sapa sebab namanya sudah aku blokir." Rangka sedikit lega, hilang satu kekhawatiran pada Krisna. Dan kini dia kembali ke dinding facebook milik Sensi. Matanya kini tertuju pada lonceng notifikasi.


   Di sana banyak notif yang memberitahukan bahwa Krisna menyukai foto dan status Sensi yang tahun-tahun lalu. Rangka melewatinya, sebab kini Krisna sudah tidak bisa lagi menghubungi Sensi baik inbox atau menyukai status apapun yang disematkan Sensi.


   Lalu kini giliran ke notif permintaan teman. Rangka penasaran, dia tidak mau Sensi memiliki teman facebook laki-laki. Atau kalau perlu, dia tidak perlu menerima pertemanan dari siapa saja tidak terkecuali perempuan.


   Rangka membuka siapa-siapa saja yang meminta pertemanan. Ada begitu banyak permintaan pertemanan pada Sensi, tapi sepertinya dari sejak tahun lalu Sensi tidak menghiraukan permintaan pertemanan.


   Namun Rangka terhenyak, matanya membulat penuh saat tertuju pada sebuah nama yang tidak asing baginya. Rangka sangat mengenal orang yang ada dalam foto profil itu. Seorang wanita dewasa dan anak kecil.


   "Delana dan Glassy," gumannya terhenyak. Rangka seperti tidak suka dan tidak menginginkan foto Glassy berada di sana, intinya Rangka tidak menyukai Glassy berdekatan dengan Delana. Luka lama Rangka akibat pengkhianatan Delana tiga tahun yang lalu kini seakan merekah kembali dan menganga.


   "Foto ini sepertinya baru beberapa hari yang lalu. Delana memanfaatkan kebersamaannya dengan Glassy untuk menarik simpatikku. Aku tidak peduli dia mau mencari simpatik aku atau tidak, yang jelas aku tidak akan pernah biarkan dia dekat-dekat dengan wanita yang tidak tulus itu." Rangka berkata-kata di dalam hatinya.


   "Jangan kamu terima pertemanan wanita ini, aku tidak sudi dia berteman denganmu. Atau, sebaiknya kamu tidak sama sekali main facebook. Kamu sudah bersuami, bukan ABG lagi yang sedang mencari jodoh, buat apa main facebook jika tidak ada gunanya? Hanya nambah-nambah dosa saja," cetusnya melarang keras Sensi untuk main facebook lagi.


  "Tapi, Mas. Aku hanya mencari yang bermanfaat dari grup yang aku ikuti. Tidak untuk yang lain," sergah Sensi sedikit protes.

__ADS_1


  "Tidak perlu protes, kamu mau ikuti kata hatimu atau aku imammu?" Rangka melotot ke arah Sensi.


  "Iya, Mas. Aku ikut apa kata kamu, imamku," jawab Sensi menunduk. Sensi memutuskan mengikuti apa yang diinginkan Rangka.


   "Baiklah, sekarang aku blok Delana. Kamu masih boleh membuka facebook sekali-kali untuk hiburan. Tapi ingat, jika kamu ketahuan menggunakan facebook untuk hal-hal yang tidak bermanfaat atau melanggar, maka aku pastikan kamu akan menyesal," ancam Rangka membuat Sensi menciut.


   Setelah memberi ancaman, Rangka tidak cukup di situ. Kini giliran nomer kontak Hp. Rangka memeriksa nomer Hp siapa saja yang tersimpan di Hp Sensi. Namun rupanya Sensi sudah lebih dulu menghapus kontak yang lain. Jadi nomer kontak yang ada di Hpnya hanyalah orang-orang terdekat saja. Rangka puas dengan langkah Sensi yang dianggapnya lebih cepat ini. Itu artinya Sensi sudah paham dengan apa yang diinginkan suaminya.


   "Nah, ambillah Hpmu. Tapi sewaktu-waktu aku akan terus memeriksanya," ucapnya seraya meletakkan Hp itu di atas meja rias. Sensi hanya mengangguk tetapi tidak meraih Hp itu. Dia melangkah meninggalkan Rangka yang kini tengah bersiap akan menjemput Glassy di sekolah.


   Sensi menuju dapur meninggalkan kamar yang masih ada Rangka di sana.


   "Sensi!" Raka memanggil Sensi yang sudah tidak ada di dalam kamar. Rangka mencari Sensi ke seisi kamar. Namun Sensi sudah tidak ada.


   Sensi yang dicari Rangka kini menuju taman belakang sembari menenteng kopi hitam yang tidak biasanya dia minum. Dia merasa sangat sedih dengan ancaman Rangka. Kesedihannya bukan hanya karena masalah itu saja, ucapan Rangka saat di telpon yang memakinya masih terngiang di telinganya. Juga saat Sensi melihat nama dia di kontaknya Rangka, dengan nama si Pengganggu Bodoh, masih juga diingatnya padahal sebetulnya tidak ditujukan untuknya. Tapi rasa sakit itu malah mengalir ke seluruh tubuhnya.


   "Hiks, hiks, hiks." Sensi menangis menyandarkan punggungnya di dinding tembok belakang rumah. Rasa sakit ini imbas dari semua perlakuan Rangka yang cemburu buta. Padahal Sensi tidak pernah melakukan pengkhianatan terhadap Rangka.


   Tangisan itu mulai reda, Sensi kembali menyeruput kopi hitamnya yang kini bagai teman dalam sedih dan laranya. Sampai suara mobil Rangka bercekit, Sensi sama sekali tidak menyadarinya, dia fokus dengan rasa sakit hati dan sesak di dalam dadanya. Biasanya jika sudah ditumpahkan dengan tangisan, rasa sesak di dadanya akan perlahan hilang.


#Menikmati Nikmatnya Es Krim


   Rangka kini dalam perjalanan menuju sekolah Glassy, tadinya dia ingin mengajak Sensi sekalian menjemput Glassy, namun Sensi sudah tidak ada di dalam kamarnya. Terpaksa Rangka pergi sendiri karena sudah telat jika harus menunggu Sensi.


   Rangka melambai ke arah Glassy yang berjalan perlahan menuju pintu gerbang keluar sekolah.


   "Glass, kamu dijemput siapa?" tanya Sindi teman satu kelas Glassy dengan celotehan khas anak usia enam tahun ke atas. Glassy menoleh dan menjawab, "aku dijemput Pak Mamat supirnya Papa." Glassy menjawab lemah sebab dia selama Papanya keluar kota hanya dijemput oleh Supir suruhan Papanya, yakni Mang Mamat.


   "Sayanggggg," panggil seseroang yang kini melambaikan tangannya ke arah Glassy . Pada saat iu juga Glassy menoleh ke arah siapa yang memanggill nama.


  "Papaaaaa," teriakny seraya menghambur ke arah Rangka yang sudah siap merekahkan tangannya. "Papa jemput aku kenapa tidak bersama Bunda, padahal aku ingin mengajak Bunda beli es krim di toko dekat pengkolan rumah kita," rengek Glassy yang kini sudah ada dalam dekapan Rangka.


   "Bunda tadi sedang sibuk, makanya Papa tidak mengajaknya untuk sama-sama menjemput kamu, kalaupun menunggu Bunda, kamu pasti akan sangat telat saat dijemput Papa." Rangka membawa Glassy menuju parkiran sekolah, lalu segera menyalakan mobilnya menuju pulang.


   Di dalam perjalanan, fokus Rangka sepertinya terbagi. Antara memikirkan Sensi dan menyetir menjadi dua hal yang dipikirkan sekaligus saat ini.


   Sekilas saat Sensi keluar dari kamar, Rangka melihat kesedihan yang teramat dalam. Rangka menduga, kesedihan Sensi akibat pasti akibat ancamannya tadi yang membolehkan main Hp tapi tidak digunakan untuk hal-hal yang tidak berfaedah.


   "Sensi sepertinya sakit hati, dia terlalu aku beri tekanan. Padahal tujunku baik untuknya supaya dia tidak mudah baik sama lawan jenis terlebih dia kini sudah memiliki suami.


   "Papaaa, mampir ke toko es krim," peringat Glassy membuyarkan lamunan Rangka. Untung saja Glassy ingat, jika tidak, maka dia sudah kebablasan dan keburu berbelok menuju rumahnya.

__ADS_1


   "Ok, ayo, kita turun sebentar untuk membeli es krim kesukaan kamu," ajak Rangka seraya menuruni mobil lalu menuntun lengan Glassy menuju toko es krim.


   Di toko es krim Rangka memperhatikan Glassy yang memilih banyak es krim. Selain untuknya, Glassy rupanya membelikan banyak es krim utnuk Sensi. Dia sangat sayang sama Sensi, Ibu sambungnya yang baru beberapa bulan menjadi ibu sambungnya.


   "Ayo kita pulang," ajak Glassy seraya menenteng keresek yang di dalamnya sudah terdapat banyak es krim untuknya dan juga untuk Sensi. Glassy begitu gembira, bocah enam tahun itu begitu antusias menyambut pertemuannya kembali dengan Ibu sambngnya yang beberapa waktu yang lalu sengaja dipisahkan oleh Rangka karena alasan sesuatu hal.


   Saat memasuki rumah, Glassy segera menuju tangga. Tujuan utamanya hanyalah kamar kedua orang tuanya. Glassy sambl berseri membawakan es krim itu dalam kantong kresek.


   "Bundaaa, assalamualaikum!" ucapnya lantang dengan mata bergulir kesana kemari. Namun yang Glassy cari sepertinya tidak ditemukan. Di balkon kamar juga tidak ada, di semua ruangan lantai atas Sensi tidak ditemukan. Glassy menjadi sangat sedih. Dia mulai berkaca-kaca dan akan menangis.


   "Bundaaa," pekiknya sedih. Rangka segera menghampiri dan melihat Glassy begitu sedih.


   "Putri Papa kenapa, kok menangis?" heran Rangka seraya berjongkok menyamai tinggi badannya Glassy.


   "Bunda tidak ada, Pa. Aku sudah cari ke seluruh ruangan tapi tetap tidak ada, Bunda hilang," rengeknya berurai air mata.


   Rangka tersenyum geli mendengar pengakuan Glassy. "Bunda, tidak hilang, Sayang. Papa rasa Bunda sedang berada di taman belakang, Bunda biasanya sering ke sana kalau suntuk. Dan biasanya yang Bunda lakukan adalah menyiram bunga kesukaannya," tutur Rangka menjelaskan dan membujuk Glassy yang terlanjur sedih.


   "Benarkah? Ayo, Pa, kita hampiri Bunda ke sana, aku sudah sangat rindu sama Bunda. Dan es krim ini harus segera dikasih Bunda, sebab kalau tidak, akan segera mencair." Glassy sudah berontak dari pangkuan Papanya dan kini menuju tangga menuruninya demi untuk mencari Sensi sang Ibu sambung.


   Glassy kini menuju taman belakang tanpa mencari lagi. Namun sebelum Glassy membuka pintu belakang, tiba-tiba Rangka menahan lengannya seraya memberi kode supaya Glassy diam dan tidak bersuara untuk memberinya sebuah surprise. Glassy paham dengan maksud Papanya, lalu dia kini mulai melancarkan aksinya untuk memberikan kejutan kecil pada Bunda sambungnya.


   Rangka dan Glassy mulai memasuki area taman. Mereka berdua berjalan mengendap. Dari jarak 10 meter tubuh Sensi sudah kelihatan tengah duduk menikmati hamparan bung-bunga yang nampak segar, sebab tadi sudah Sensi siram dengan air.


   Glassy dan Rangka semakin dekat dengan Sensi yang anteng melamun dengan gelas kosong bekas minum kopi hitam di atas pangkuannya.


   Rangka heran, sejak kapan Sensi minum kopi apalagi kopi hitam? Pertanyaannya atas rasa herannya kini terburai oleh suara nyaring Glassy yang sudah berteriak memanggil Sensi.


   "Bundaaa," pekiknya seraya memeluk Sensi dengan erat. Sensi yang sejak tadi sedang melamun, dia tersentak bukan main sehingga tubuhnya yang dirangkul seolah akan terjungkal. Sigap Rangka menahan tubuh Sensi yang kini sudah mulai condong.


   "Sensi, Glassy," serunya menyebut kedua perempuan beda generasi dengan wajah yang khawatir.


   "Ya, ampun." Sensi mendongak kaget seraya membenarkan posisi tubuhnya yang berat akibat tubuh Glassy menimpa ke tubuhnya.


   "Glassy, Sayang," serunya memeluk Glassy dengan rasa rindu yang begitu membuncah. Bulir bening di sudut mata Sensi kini mulai jebol pertahanannya. Sensi menangis sebab kerinduannya pada Glassy yang begitu besar, kini bisa dia tumpahkan.


   "Bunda, aku belikan es krim kesukaan Bunda banyak. Ayo, kita makan es krimnya segera, cepat aku takut nanti malah mencair esnya," seru Glassy seraya menyodorkan kantong kresek yang berisi banyak es krim untuknya dan gkassy.


   "Ayo kita makan es krimnya di dalam saja," ajak Rangka pada Sensi dan Glassy yang kini masih menenteng kantong kresek berisi es krim.


   Kini mereka bertiga menuju dapur untuk menikmati es krim di meja makan saja. Kebersamaan ini terasa begitu lengkap dan indah terlebih saat melihat kedekatan antara Sensi dan Glassy, mereka bak ibu dan anak kandung. Rangka tersenyum di balik es krim Conello yang dimulai dimakannya.

__ADS_1


   Papaaa, es krim yang itu milik aku. Papa yang ini saja," cegah glassy saat menyadari es krimmya dimakan Rangka. Rangka pura-pura kaget padahal dia sudah tahu itu milik Glassy. Untuk menghilangkan suasana canggung antara dirinya dan Sensi, Rangka berinisiatif mengupas kemasan es krim lainnya untuk dia persembahkan pada Sensi.


   Terimalah, sayang persembahanku yang tidak seberapa ini. Segeralah dimakan agar es krimmya tidak segera mencair. Sensi tersipu malu diperlakukan manis seperti itu oleh Rangka. Siang itu benar-benar menjadi suatu kebahagiaan bagi keluarga kecil Rangka.


__ADS_2