Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 39 Ajakan Pak Rangka


__ADS_3

Sebulan kemudian setelah kejadian aku menterjemahkan arti *abdi bogoh ka anjeun* (aku cinta padamu), Pak Rangka memang benar-benar sedikit perhatian padaku, meskipun aku belum yakin hubungan kami ini sebenarnya apa? Pacaran atau seperti orang pacaran? Sebab jika tidak dikatakan pacaran, Pak Rangka selalu cemburu jika melihat aku dekat dengan lelaki atau menerima chat dari laki-laki.



Pagi itu seperti biasa aku masuk kerja. Kak Tari Leader bawel dan judesku kali ini nampak kalem. Entah apa yang membuat dia berubah dan jadi sedikit pendiam.



"Sensi, aku sudah simpan map di atas meja kamu. Segera kerjakan! Dan aku ada amanat dari Pak Bos, kamu segera ke ruangannya setelah menyelesaikan map ini, tidak perlu nunggu setelah istirahat," ujar Kak Tari memberi tahu. Kata-katanya masih tegas dan menghentak, namun anehnya Kak Tari tidak menatap wajahku dengan tatapan benci seperti biasanya.



"Siap Kak," jawabku singkat, setelah itu Kak Tari langsung pergi ke ruangannya. "*Kok aneh, ya*?" pikirku dalam hati.



"Weuyyyy, ngapain melamun Jeng, apa sudah ada tanda-tanda cinta dari sang pujaan hati?" Rima tiba-tiba datang dengan pertanyaan aneh. Keningku seketika mengkerut.


"Apaan sih Rima? Sotoy!" sengakku tidak suka.


"Is, is, is, gitu saja marah. Aku, kan pengen tahu," ujar Rima bergelayut manja di pundakku.


"Aduh Rima, apa-apaan, aku harus segera mengerjakan map ini dari Kak Tari. Nanti kalau lambat, aku bisa kena marah!" tegurku tidak suka.



"Rimaaa, pergi ke meja kamu. Kerjakan tugas kamu!" sentak Kak Tari dari arah belakang secara tiba-tiba. Aku dan Rima tersentak kaget. Tuh, kan, benar saja Kak Tari tiba-tiba muncul menegur Rima yang konyol. Aku tersenyum dan kaget sebab baru kali ini aku mendengar Kak Tari menyentak Rima. Rima berjingkat dan kembali ke mejanya. Aku segera mengerjakan tugasku dengan segera.



Hanya butuh satu setengah jam, kedua mapku selesai, dan aku berniat menuju ruangan Pak Rangka, namun tiba-tiba Kak Tari datang dengan tiga map di tangan dan langsung menyimpan di atas meja.



"Ini sekalian selesaikan, nanti ke ruangan Bosnya setelah yang ini beres." Ya ampun baru saja aku memuji Kak Tari sedikit kalem, tapi kini malah datang dan menumpuk pekerjaanku lagi.

__ADS_1



"Ini semua Kak?" tanyaku dongkol dalam hati.


"Iya, semuanya. Habis istirahat, kamu segera kasihkan ke ruangan Bos," ujarnya sambil berlalu. Aku terduduk lemas menyaksikan tiga map di mejaku yang harus aku kerjakan sekarang.


Walaupun dongkol akhirnya aku mulai mengerjakan map-map itu. Tiba jam istirahat, satu map lagi ternyata belum selesai. Terpaksa aku bereskan dulu dengan hati yang benar-benar dongkol.



"Belum beres ya?" Kak Tari datang sejenak dengan pertanyaan nyeleneh lalu pergi lagi. Duhhh kalau bukan si bawel ini sudah ku timpuk pulpen. Tiba-tiba Rima datang dengan senyum yang jailnya.



"Belum beres Say?" tanya Rima lebay, tadi Jeng sekarang say, benar-benar menyebalkan.


"Jangan ganggu, sana pergi! Ikutin si bawel dan si jutek tuh ke kantin," usirku kesal, habisnya Rima selalu usil disaat aku lagi banyak kerjaan.


"Baiklah, sini aku bantuin, ya," ucap Rima membuat aku girang.


"Aku cuma mau bantuin kamu dengan doa." Makjleb omongan Rima bikin aku seperti mau nyungseb ke jurang derita.


"Huhhh, dasar Rima, awas ya!" ancamku dengan tangan mengambang di udara. Rima tertawa cekikikan sambil berlalu menuju kantin. Tidak Leader, tidak teman satu tim, dua-duanya sungguh somplak bikin jantungan.



Setengah jam kemudian, akhirnya pekerjaanku beres. Aku segera bergegas menuju taman samping mushola untuk makan bekalku, perutku yang sudah bergitar ingin segera dimasuki makanan.


"Sensi, mau kemana?" tahan Kak Tari yang sudah muncul menyudahi makan siangnya di kantin.


"Saya mau ke taman, mau makan bekal siang saya."


"Tidak perlu, cepatlah langsung ke ruangan Pak Rangka," titah Kak Tari mencegat niatku yang akan ke taman. Aku melongo tidak percaya, padahal aku sudah lapar ingin segera makan bekalku.


Tanpa basa-basi aku membelokkan kakiku ke arah tangga dan menaikinya sampai lantai 4, lalu menuju ruangan Pak Rangka. Sebelum masuk aku dihadang Mbak Koral yang sudah siap dengan senyum jail mengembang.

__ADS_1



"Silahkan masuk, Pak Rangka sudah sangat merindukan kedatanganmu," ujarnya menahan senyum. Aku hanya membalasnya dengan senyum menahan lapar. Perutku kini mulai bergitar spanyol minta diisi.



Di depan ruangan Pak Rangka, sejenak aku mengatur nafas dalam-dalam, lalu kutarik handlenya dan terbukalah pintu itu. Di sana udah ada Pak Cakar menoleh ke arahku sambil tersenyum.



"Masuklah Sensi!" Pak Rangka mempersilahkan masuk. Aku segera menuju meja Pak Rangka lalu meletakkan map. Sementara Pak Cakar akhirnya berdiri dan bermaksud keluar, namun bersamaan dengan itu bunyi kriuk dari perutku berbunyi nyaring. Pak Rangka dan Pak Cakar saling tatap kemudian tertawa membuat aku malu.


.


Pak Cakar keluar dan berpamitan dari ruang Pak Rangka meninggalkan kami berdua.


"Duduklah, dan kalau kamu belum makan, makanlah dulu di sofa. Tanpa menunggu lama aku segera ke sofa dan membuka bekal makan siangku.


Tanpa basa-basi aku langsung menyantap bekal makan siangku cepat-cepat karena perutku sudah lapar.



"Sensi, minggu besok saya mau ajak kamu makan malam, apakah kamu ada waktu?" Pertanyaan Pak Rangka barusan sontak membuatku terkejut setengah mati.



"Makan malam?" tanyaku tidak percaya. Pak Rangka hanya mengangguk seraya menatap keterkejutanku atas ajakan Pak Rangka.


"Apakah Bapak, serius?"


"Apanya yang serius?" Pak Rangka balik bertanya membuat aku keder. "Hei, hei, Sensi, apa yang kamu pikirkan? Saya serius dong, masa bohongan. Sudahlah, sekarang lebih baik kamu santai-santai dulu di sofa. Makan malam yang saya janjikan masih satu minggu lagi," ujar Pak Rangka menjawab rasa tidak percayaku akan ajakannya.


Aku tersenyum malu-malu setelah mendengar perkataan Pak Rangka barusan. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk segera satu minggu kemudian untuk menikmati hidangan makan malam bersama Pak Rangka. Akhirnya lamat-lamat aku yang kekenyangan karena bekalku barusan, merasa ngantuk dan tanpa menunggu lama aku tertidur di sofa ruangan Pak Rangka.


__ADS_1


Satu minggu kemudian waktu yang dijanjikan Pak Rangka tiba. Aku sudah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Dan kali ini aku harus bisa membuat Pak Rangka terpesona dengan semua dandananku juga outfit yang aku pakai. Akan aku buat terpukau Pak Rangka dengan pesonaku. Semua baju dan perlengkapan yang lain semuanya telah di beli seminggu yang lalu dari pasar online terkenal yang biasa aku beli. Akupun tersenyum puas dengan semua perlengkapanku nanti malam yang akan aku pakai.


__ADS_2