
Mobil Rangka masuk ke dalam gerbang. Mereka berdua turun dengan perubahan wajah di keduanya. Rangka mendadak sedikit murung. Tentu saja ini akibat dari berita Pak Mamat yang menyampaikan kedatangan Delana yang menanyakan Glassy.
Sensi masuk duluan, dia sudah merasakan perubahan di wajah suaminya, pastinya Sensi tahu perasaan suaminya seperti apa jika sudah menyangkut yang namanya Delana. Suaminya akan meradang dan marah. Entahlah sesakit itu Rangka dikhianati mantan istrinya sehingga mendengar namanya saja dia tidak suka.
"Kasihan Mas Rangka, setiap mengingat nama Mbak Delana pasti hatinya sakit. Semoga Mbak Delana cepat disadarkan supaya bisa menyadari kesalahannya dulu begitu menyakiti Mas Rangka. Semoga Mba Delana bisa berubah dan tidak ngotot lagi ingin bertemu dulu dengan Glassy sebelum Mas Rangka hatinya luluh," harap Sensi dalam hati.
Sensi masuk kamar duluan dengan hati yang tidak enak juga melihat perubahan sang suami, dia bingung harus bagaimana dia bersikap. Sensi segera ke kamar mandi, membilas dirinya yang mendadak gerah sekalian mandi wajib sehabis perang tadi di ruang private restoran bintang tujuh.
Saat Sensi mandi, Rangka masuk ke kamar dan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Sakit kepala tiba-tiba menyerang, dan setelah ini sering kali asmanya kambuh. Tapi Rangka sudah sigap dengan inhaler yang kini tidak pernah lupa selalu dia bawa.
Rangka membayangkan masa lalu bersama Delana. Dua tahun pernikahan awalnya sangat indah, Delana yang baru tahu bahwa Rangka mengidap asma setelah dua tahun pernikahan, tidak ada masalah dan pernikahan masih berjalan seperti biasa. Namun di usia Glassy yang kedua tahun, Delana mulai berubah, dia mulai ogah-ogahan jika diajak Rangka untuk menghadiri acara di kantornya. Alasan utamanya yaitu terang-terangan malu karena Rangka selalu kumat asmanya. Dan sejak itu Delana selalu menolak jika diajak dalam acara kantornya.
Tidak sedih dan kecewa bagaimana, Rangka yang harus didampingi sang istri dalam acara launching produk baru dalam perusahaannya, harus menelan kekecewaan atas ketidakhadiran Delana. Bahkan yang membuat Rangka sangat kecewa adalah disaat Rangka launching produk baru, Delana tertangkap kamera mata-mata dari pihak Rangka tengah bersenang-senang dengan seorang pria. Rangka tahu pria itu, dia pengusaha kelas kakap dalam bidang retail. Jelas beda jauh sekali jika membandingkan Rangka dengan sang pengusaha kelas kakap itu. Tapi apakah sikap Delana bisa dibenarkan?
Rangka kecewa berat dengan pengkhianatan Delana, dia seakan tidak ingat memiliki anak gadis yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Saat itu Delana pulang ke rumah, bukan meminta maaf atau bersujud di kaki Rangka ketika kesalahannya diketahui Rangka, dia pulang hanya membawa sebagian surat-surat penting dan mobil pemberian Rangka sebagai hadiah pernikahan. Delana pergi dengan teganya, meninggalkan Glassy yang meraung memanggil-manggil namanya untuk kembali. Sayang, Delana sedang dirasuki iblis betina yang jahat, yang mampu menutup mati dan hatinya untuk berpikir jernih.
"Mamaaaa, mamaaaa." Rangka ikut menangis saat balitanya menangis meraung-raung memanggil sosok mama yang sedang jatuh cinta lagi dengan lelaki lain. Tega bukan? Bahkan sangat tega. Sekarang Delana meminta Glassy untuk diasuh olehnya. Jangankan diasuh, dipertemukan seminggu sekali saja Rangka tidak rela, sakit saat membayangkan betapa tega dirinya meninggalkan Rangka dan Glassy saat itu.
Lalu, ketika Rangka membaca status facebook Delana yang diperlihatkan Sensi kemarin itu, statusnya seakan ditujukan untuknya sehingga membuat Sensi dilanda takut dan cemburu. Rangka justru sakit hatinya lebih-lebih, sekarang Delana seakan penuh penyesalan dan mengharapkannya kembali. Tapi, nanti dulu. Rangka tidak mungkin kembali pada masa lalu yang telah menghempasnya ke dalam jurang kekecewaan, terlebih kini Rangka sudah ada tambatan hati yang jauh lebih baik dari perempuan manapun termasuk Delana.
Sosok Sensi walau masih banyak kekurangannya dari segi skill. Belum bisa nyetir mobil, masih ceplas ceplos, kadang manja, dan kadang ngeselin karena ceroboh dan dan kurang fokus, tapi semua itu justru warna baru dalam kehidupan rumah tangganya. Justru Sensi yang sederhana, yang makan cukup di warteg dan nyegat tukang jual makanan di penjual gerobak yang didorong, membuat Rangka terkesan dan bangga. Sensi tidak banyak menuntut dan bermewah-mewahan.
"Krekekek."
Pintu kamar mandi terdengar dibuka, Rangka tersentak dari lamunannya. Matanya yang berkaca-kaca lantas segera dia seka, tidak mau bulirnya jatuh dan diketahui Sensi, perempuan sederhana yang tulus mencintainya.
Sensi terlihat basah dengan berbalut handuk di kepala dan tubuhnya, nampak segar dan wangi. Rangka melihat dengan ujung mata, perempuan cantik yang sederhana itu sudah sering ia marahi, padahal selama menikah dengan Delana, Rangka belum pernah marah pada Delana.
__ADS_1
Sejak Delana mengkhianatinya, Rangka berubah. Bahkan karyawan di kantornya mengenal Rangka dengan sebutan Bos killer dan susah dijamah oleh perempuan manapun. Sebab, sejak kecewa oleh Delana, rangka seakan menutup diri dari sosok perempuan, Rangka trauma. Namun, saat bertemu Sensi, hatinya mulai terbuka dan benih cinta mulai tumbuh, karena Rangka merasakan ketulusan yang diberikan Sensi.
"Mas Rangka, mandilah dulu Mas. Apakah mau aku mandikan?" tanya Sensi seraya tersenyum menggoda. Saat Rangka kecewa karena teringat masa lalu yang menyakitkan, Sensi menghampiri merayu dan membujuknya dengan godaan yang membuat dia tidak bisa bungkam. Rangka menyunggingkan senyum seraya bermaksud mau mencolek pinggang Sensi, tapi Sensi langsung menghindar.
"Mas, jangan! Aku sudah ambil wudhu, ayo Mas Rangka segera ke kamar mandi bersihkan diri. Kita sholat bersama, bukankah kita jarang sholat bersama?" ujar Sensi mengingatkan, membuat Rangka tersipu malu. Rangka beranjak dan masuk kamar mandi.
"Awas, ya, nanti habis ini, kamu habis sama aku. Ku tagih janjimu dua ronde dan tiga rondemu tadi di restoran," ujar Rangka sembari mendongak dari balik pintu. Sensi geleng-geleng kepala seraya meraba kepalanya yang tidak sakit.
Malam ini mereka sholat bersama. Setelah itu baik Sensi maupun Rangka belum ada yang membaringkan diri di ranjang, Rangka entah kenapa kembali murung. Dia memikirkan Glassy, putri semata wayangnya yang sangat dia sayangi. Rangka tidak mau kehilangan Glassy sampai kapanpun. Bagaimanapun Rangka tidak mau menyerahkan Glassy kepada Delana, sebab Delana bukan seorang ibu yang baik menurutnya.
Sensi berpikir bagaimana caranya supaya Rangka tidak murung dan kembali seperti biasa. Dia berinisiatif membuatkan kopi kesukaan Rangka di dapur. Sensi segera beranjak keluar kamar dan menuruni tangga lalu ke dapur. Di sana dia membuat kopi buat Rangka yang wanginya langsung menguar di udara.
"Non Sensi, buat apa Non? Biar bibi buatkan," tawar Bi Narti tiba-tiba muncul dari belakang.
"Tidak, Bi. Saya sudah buat kok. Ini tinggal ambil dan diberikan pada suami saya," tolak Sensi seraya bergegas menuju tangga.
"Ma, bagaimana kabar Glassy? Apakah dia tidak rewel?"
"Tenang saja, Glassy cucuku sangat baik dan penurut. Dia sesekali bertanya tentang kamu dan istrimu. Tapi Mama berusaha menghiburnya supaya tidak terlalu memikirkan kalian yang sedang bulan madu."
"Iya, Ma, terimakasih. Tapi aman, kan, Ma?"
"Aman dong, Rangka. Apalagi di sini ada pengawalan. Begini-begini juga Mama selalu waspada, terlebih mantan istrimu yang serakah itu sudah kembali dan mengganggu hubungan rumah tangga kalian. Mama selalu waspada."
"Wahhh, Mama sudah antisipasi rupanya."
"Iya dong Rangka, kamu tidak usah khawatir."
__ADS_1
"Iya, Ma. Tadi sehabis pulang makan malam, Pak Mamat memberitahukan bahwa Delana datang menanyakan Glassy. Rangka takut Delana sembunyi-sembunyi menyuruh orangnya untuk mengambil Glassy.'
"Jangan takut, Mama sudah persiapkan pengawalan yang ketat buat Glassy. Besok seolah pun Mama sudah siapkan orang-orang terbaik untuk menjaga cucu Mama. Serahkan sama Mama dan Allah. Mama yakin Allah dan orang-orang Mama akan selalu melindungi Glassy cucu Mama." Nyonya Catly meyakinkan sehingga Rangka merasa sedikit tenang.
"Biarkan untuk beberapa hari ke depan, Glassy tinggal bersama Mama, dia juga betah di sini," sambung Nyonya Catly mengambil keputusan.
"Oh ok, Ma. Rangka tidak keberatan."
Setelah itu sambungan telpon terputus. Rangka terlihat sedikit lega. Dan kini giliran Sensi bisa mendekat dan memberikan kopi kesukaan Rangka, berharap Rangka rileks dan tidak murung seperti tadi.
"Mas, kopinya Mas." Sensi menghampiri seraya meletakkan kopi itu di meja. Rangka sedikit terkejut. Namun sedetik kemudian dia terlihat lega dengan kedatangan Sensi.
"Terimakasih Sayang, kopinya." Sensi duduk di samping Rangka seraya menatap kagum ke arah Rangka yang sedang meminum kopinya dengan sangat tampan. Kharisma Lee Min Jo nampak jelas terpancar dari wajahnya yang tegas dan tampan. Saat Rangka meletakkan cangkir kopi di mejanya, Sensi dengan manja bersandar di bahu Rangka. Dia selalu ingin bermanja di bahu lelaki tercintanya itu, apalagi kini Glassy sedang tidak di rumah. Nasib baik Rangka sudah meletakan cangkir yang masih berisi kopi di atas meja sehingga tidak terjadi tumpah ruah seperti tempo hari.
Rangka membalas sikap manja Sensi dengan merangkul lengannya. Kasih sayang yang tulus terasa melalui sentuhan tangannya, sehingga Rangka tidak mau melepaskan cengkramannya itu.
"Ayo masuk. Aku sudah mulai kedinginan dengan angin malam ini. Apakah kamu tidak berminat menghangatkan tubuh aku yang dingin ini?" tanya Rangka sembari tersenyum sengaja menggoda Sensi. Sensi tersipu, dia tahu Rangka sedang menagih janjinya tadi yang sempat mengatakan ronde kedua dan ketiga.
"Trek."
Ruangan seketika menjadi temaram diganti dengan temaram lampu meja dengan kekuatan lima watt. Rangka tiba-tiba meluncur persis akan terjun ke dalam kolam renang. Mereka tertawa-tawa saat Rangka sudah hinggap di atas ranjang.
"Mas, memangnya ini kolam renang," ejeknya sambil tersenyum malu-malu.
"Kamu tidak tahu bahwa aku memang akan berenang di kolam renang?" Sensi mengerutkan keningnya tidak paham.
"Jangan berlagak polos, ayo tunaikan janjimu." Rangka merangsek mencengkram tubuh Sensi dengan serangan yang membangkitkan gejolak asmara antara keduanya membara.
__ADS_1