Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 48 Insiden


__ADS_3

"Dilamar? Dilamar siapa? Saya tidak punya pacar, Pak," jawabku.


"Itu tadi kamu menceritakan kawan masa kecil kamu yang dekil dan culun, tapi tiba-tiba kamu mendengar kabar dia dilamar oleh pria mapan dan tampan. Apakah kamu ingin dilamar juga?" Pak Rangka menatapku penasaran.


"Siapa yang mau melamar saya, Pak? Lagipula saya tidak punya pacar?" tegasku lalu fokus ke map-map yang menumpuk.


"Benar kamu tidak punya pacar?"


"Benar, saya tidak bohong," tekanku.


"Baiklah, segera kerjakan tugas kamu. Dan ingat harus sudah selesai saat jam istirahat," titahnya lalu kembali ke mejanya. Tidak berapa lama Mbak Koral masuk bersama Pak Cakar, mereka seakan kompak diperintah Pak Rangka.


"Ehhhh, rupanya sudah ada Sensi. Apakabar Sen, kamu serius sekali?" Mbak Koral menghampiri lalu duduk di sebelahku dan meraih salah satu map yang sudah selesai aku kerjakan


"Wahhhhh, tidak salah aku mempercayakan tugas-tugas ini pada Sensi, rupanya Sensi handal juga dalam mengerjakan map-map ini. Dia sudah sangat lancar membuat laporan keuangan. Laporan keuangan saja lihai, apalagi mengurus rumah tangga bersama Bos Rangka."


"Mbak Koral, apa-apaan sih!" Aku langsung protes akan ucapan Mbak Koral yang sangat tidak srek bagiku, terlebih di depanku ada Pak Rangka dan Pak Cakar. Apalagi ucapan Mbak Koral keras sehingga terdengar oleh kedua lelaki tampan di depan kami. Aku menunduk malu, tenggelam dalam sebuah map.


"Apaan sih kamu Sensi, wajah kamu itu jangan terlalu telungkup begitu. Ayo, seperti biasa saja. Kamu ini, apa-apa dibikin baper," sergah Mbak Koral membuat aku semakin keki.


"Ehehmmmm, Koral kemarilah! Saya ada tugas untukmu." Untung saja Pak Rangka memanggil Mbak Koral yang mulutnya suka frontal kalau ngomong. Mereka bertigapun seakan serius membicarakan sesuatu yang penting. Aku tidak peduli, lebih baik fokus dengan map-map yang numpuk ini.



Jam 12 siang tiba, tapi satu map lagi belum aku selesaikan. Pak Rangka sudah mulai berdiri dari kursi kebesarannya dan menuju ke arahku.



"Sensi, bagaimana, apakah sudah selesai?" tanyanya membuat aku gugup.


"Satu map lagi, Pak."


"Ya, sudah, selesaikan lima belas menit dari sekarang!" titahnya membatasi waktu. Aku sebetulnya kesal, namun mau bagaimana lagi? Terpaksa mau tidak mau harus aku kerjakan.

__ADS_1


"Tapi, Pak, maaf. Boleh saya ke kamar mandi dulu, saya kebelet pengen pipis," ujarku meringis menahan pipis.


"Silahkan, masuk ke kamar istirahat saya dan pipislah di sana," ujarnya mengarahkan.


"Tapi, Pak. Saya pipis di kamar mandi karyawan saja," kelitku seraya hendak melangkah keluar.


"Jangan!" Pak Rangka menahan langkahku dengan memegangi tanganku erat. Seketika jantungku berpacu kencang.


"Masuklah ke kamar peristirahatan saya, dan pipislah atau BAB atau apapun di sana semau kamu, cepatlah! Kamu masih ada pekerjaan, jadi jangan lelet!" tukasnya seraya melepaskan pegangan tangannya. Aku terpaksa mengikuti arahannya, lalu masuk ke dalam kamar peristirahatan Pak Rangka yang wangi dan rapi serta elegan persis orangnya.



Tidak mau berlama-lama mengagumi kamar mandinya yang keren juga, aku mempercepat tubuhku keluar kamar mandi. Dari kamar mandi langkahku mulai pelan dan mataku mulai jelalatan mengagumi keadaan kamar peristirahatan Pak Rangka di ruangannya ini. Kesan bersih, wangi, mewah, dan elegan seketika menghipnotisku untuk beberapa jenak mengaguminya, sampai aku lupa ada Pak Rangka di luar kamar sudah kesal menunggu.



"Ya, ampun, lukisan itu bagus banget. Pasti lukisan Glassy ini dibuat oleh tangan Pelukis handal sekelas Van Gogh." Aku masih asik mengagumi sudut ruangan dan lukisan di kamar itu sambil berjalan menuju pinta keluar kamar.




"Bugggg."


"Awww."


"Aduhhhhh."



Layaknya paduan suara, bunyi rintihan dan raungan keluar dari mulutku juga Pak Rangka. Bersamaan dengan itu tiba-tiba tubuh Pak Rangka dengan leluasa menimpa tepat di atas tubuhku, sehingga tangannya memberi tekanan tepat di atas si kembar yang tidak bisa dihindarkan lagi. Gawat, pelecehan yang tidak direncanakan sedang menimpaku. Sialnya tubuhku terkunci dan tanganku terjepit diantara tubuh Pak Rangka sehingga susah untuk sekedar menyingkirkan telapak tangan Pak Rangka. Saat itu, aku hanya bisa memejamkan mata saat tekanan itu semakin kuat.


__ADS_1


"Pak Rangka, awassss, jangan ditekan!" jeritku mengingatkan Pak Rangka supaya telapak tangannya menyingkir. Namun sia-sia, semua sudah terjadi dan kesucian si kembarku kini ternoda sudah oleh telapak tangan Pak Rangka. Pak Rangka bukannya bangkit tapi malah kesusahan untuk bangkit, sebab kaki kiri yang sebelahnya malah menimpa ujung ranjang, sampai bunyinya tadi sempat terdengar.



"Aduhhh, Sensi, apa-apaan sih kamu ini. Makanya jalan itu yang benar, pake jelalatan segala lihat sana-sini," omelnya sembari susah payah ingin bangkit namun sepertinya susah.



"Bapak, awas dong tangan Bapaknya, angkat. Tangan saya juga kenapa Bapak tindih?" rutukku kesal.


"Angkat bagaimana, kaki saya saja sakit? Aduhhh."


"Eeh, ada apa ini? Kok gaduh sih? Pak Rangka! Sensi! Apa-apaan di sini? Ya ampun, kalian, kalau sudah tidak tahan kenapa kalian tidak menikah saja?" ujar Mbak Koral yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar pribadi Pak Rangka dengan mata melotot. Juga entah kenapa Mbak Koral tangannya asik memainkan HP yang diarahkan pada kami yang mengalami insiden tidak tahu diri ini.



Tidak berapa lama Pak Cakar juga datang dan menghambur ke dalam kamar pribadi Pak Rangka. Pak Cakar melotot tapi akhirnya senyam senyum tidak karuan, bukannya menolong kami.



"Mbak Koral tolong kami," ucapku meminta bantuan.


"Ya ampun, Bos, apa-apaan sih. Kenapa tidak halalkan saja, kalau seperti ini rugi dong, dapatnya sedikit," ujar Pak Cakar asal. Dikiranya kami ini mesum dan sengaja umpak-umpakan. Perlahan Pak Rangka bangkit sambil meringis, dan akhirnya kami berhasil dipisahkan. Aku benar-benar malu dibuatnya. Lantas aku segera berdiri dan hendak keluar kamar, namun keberadaan Pak Cakar dan Mbak Koral yang berada di mulut pintu menghalangi jalanku.


"Kalian ini apa-apaan, memangnya kami mau mesum dan mau melakukan gencatan senjata? Lihat pakai mata, kami ini kecelakaan, dan saya menabrak Sensi lalu menimpa tubuhnya," aku Pak Rangka sungguh-sungguh.



"Insiden tapi asik kan Bos?"


"Asik apaan, kamu jangan sembarangan bilang. Kaki saya saja sakit terantuk ranjang. Menyingkirlah kalian, kami mau lewat. Panggil Rando, belikan makan siang di kedai depan untuk dua orang. Saya lapar," dengusnya kesal lalu mengusir Mbak Koral dan Pak Cakar.


__ADS_1


Aku menunduk sedih dan malu, sebab kejadian yang tidak disengaja dan direncanakan ini sungguh memalukan. Apalagi dilihat Pak Cakar dan Mbak Koral. Aku keluar kamar pribadi Pak Rangka setelah Mbak Koral dan Pak Cakar keluar duluan dengan wajah tidak lepas dari senyum.


__ADS_2