Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 41 Insiden di Kafe dan Nomer Sepatu


__ADS_3

Tubuhku melayang dan jatuh tepat di atas rumput. Sikuku menekuk tajam dan menekan. Rasa malu dan sakit menyatu. Aku meringis seketika karena sikuku luka kena gesekan dengan rumput. Semua mata menuju ke arahku, beberapa orang laki-laki ingin menghampiri dan menolongku, namun aku berusaha bangkit duluan meskipun harus meringis menahan sakit di siku.



Aku segera meraih inhaler yang jatuh ke kolong meja, dengan sedikit berjongkok aku meraih inhaler itu dan berdiri, lalu aku persembahkan untuk Pak Rangka. "Ini, Pak. Segera pakai," ujarku ngos-ngosan. Rasa malu saat terjerembab tadi kini hilang sudah terganti rasa simpatik pada Pak Rangka pujaan hati.



"Prok, prok, prok," tiba-tiba semua orang bertepuk tangan ke arahku, entah apa yang mereka hingar bingarkan, padahal aku lagi panik dengan Pak Rangka yang asmanya kumat.



"Bagaimana, Pak, sudah baikan?" tanyaku saat Pak Rangka sudah terlihat bisa menguasai diri. Pak Rangka mengangguk dengan wajahnya yang tetap segar bugar. Ahhh, memang sih kalau dari sononya sudah dikasih setampan pahatan dewa Yunani kuno, maka saat sedang asma kambuh pun Pak Rangka tetap ganteng dan tidak pernah membosankan.



"Sensi, terimakasih, ya. Kamu berhasil menyelamatkan saya untuk yang kedua kali. Rupanya kamu adalah dewi penolong buat saya," ujar Pak Rangka berterimakasih.



"Hehehe, iya, Pak, tidak apa-apa. Berterimakasihlah pada Allah, sebab dialah dewi penolong sesungguhnya. Saya hanya sebagai perantara," ujarku sembari senyum-senyum bahagia. Pak Rangka tersenyum lalu berujar,


"benar juga ya, tumben kamu cerdas."


"Hahaha, Bapak ini jangan terlalu memuji saya, nanti saya malah terbang kalau dipuji terus," tanggapku sembari senyum-senyum bahagia.


"Pak Rangka, bagaimana? Apakah asmanya sudah baikan?" Beberapa kolega Pak Rangka menghampiri, otomatis kami jadi tontonan. Duhhh rasa malu itu tiba-tiba muncul lagi sehingga membuatku salah tingkah.



"Aku sudah lumayan baik," sahut Pak Rangka seraya melihat ke arahku. Pak Rangka menatap kakiku yang kini pincang sebelah akibat hak pentopelnya patah.



Lama kelamaan kolega dan teman bisnis Pak Rangka satu persatu bubar dari meja kami. Berkumpul pun sama sekali tidak membantu kami. "Sensi, sepatu kamu bagaimana? Haknya patah?" Pak Rangka terlihat khawatir.



"Tidak masalah sih, Pak. Biar saya patahkan yang satunya lagi," sahutku enteng. Dalam hati aku sebetulnya sedih, gara-gara ide adikku Aloe, yang memberi saran pakai sepatu pentopel berhak lima senti akhirnya jadi begini. "*Al, bukannya sempurna* *penampilan teteh, tapi malah hancur minah. Coba tadi pakai Sneaker saja yang lima senti, sama-sama lima senti ini kok. Huhhh*." Aku menggerutu dalam hati karena kesal sama Aloe adikku yang seminggu yang lalu menyarankan beli pentopel dari Lazanda yang harganya cuma 50 ribu. Ehhhhh hasilnya malah begini.



"Sensi, kenapa, kok termenung?" Pak Rangka merasa heran melihat aku yang diam saja.

__ADS_1


"Ti-tidak, Pak. Saya hanya melamunkan, melamunkan apa ya?"


"Nikahhh," serobot seseorang yang belum aku ketahui siapa tapi suaranya aku kenal.


"I-iya, Pak, menikah. Iya betul menikah," ucapku latah. Ya ampun kok tiba-tiba kaget dan malah latah.



"Tuh kan menikah, bagusnya kalian menikah cepat-cepat deh. Soalnya sudah ada yang kebelet nikah lho," ujar seseorang lagi yang suaranya kini berhasil aku kenali.



"Mba Dian!"


"Dian," pekikku dan Pak Rangka bersamaan. Kami sama-sama terkejut mendengar suara Mbak Dian. Sepertinya urusan kami dengan Mbak Dian harus dituntaskan sekarang juga, sepertinya aku dan Pak Rangka punya dendam yang sama.


"Kebetulan kamu berada di sini, aku ada urusan sama kamu," tegas Pak Rangka pada Mbak Dian yang tidak ada hormat-hormatnya sama Pak Rangka yang notebene adalah masih Bosnya, sebab Mbak Dian belum murni keluar dari kantor soalnya belum ada laporan resign.



"Ada apa sih Kak, sok kaget gitu. Gimana, kalian berdua sudah ehem-ehem kan?" ujar Mbak Dian seraya mengadu kedua tangannya memberi kode.




"Alah, suka-suka Kak Rangka deh. Mau laporin atau laporan, dua-duanya boleh," debat Mbak Dian berani, byang berhasil membuat aku berkerut kening karena heran, soalnya Mbak Dian menyebut Pak Rangka dengan sebutan Kak Rangka.



"Dian, kamu ini. Sejak kamu gosipkan kami, di kantor itu heboh dan mereka menyebar gosip dari mulut ke mulut begitu cepat bak jamur di musim hujan," kesal Pak Rangka pada Mbak Dian yang terlihat santai.



"Hehehe, ayolah Kak, jangan munafik. Tapi senang, kan? Makanya kalian cepat nikah saja biar tidak ada gosip yang tidak-tidak. Lagian kalau cuma sekedar gosip, Kakak bisa langsung sumpal karyawan yang bikin gosip, iya kan? La wong, Kakak pemilik perusahaan kok," ujar Mbak Dian santai. Aku jadi lupa-lupa ingat dengan Mbak Dian ini, sepertinya aku pernah dengar bahwa Mbak Dian entah merupakan keponakan atau sepupu Pak Rangka. Aku mencoba mengingat-ingat namun benar-benar lupa lagi.



"Kamu ini, selalu melawan saja apa yang Kakak katakan," sergah Pak Rangka kesal.


"Jadi, kapan kamu akan diajak nikah sama Bosmu yang killer ini, Sensi?" Pertanyaan Mbak Dian yang tiba-tiba menyentak itu seolah petir di siang bolong. Aku langsung terkejut dan salah tingkah dan tidak tahu apa yang mesti aku jawab terhadap Mbak Dian.


"Sudah, kamu jangan tularkan virus sok tahu kamu pada Sensi. Jika sudah kamu tularkan, aku takut gilanya kamu tidak ketulungan." Pak Rangka mencoba mengusir secara halus Mbak Dian.

__ADS_1



"Hahaha, awas lho Kak, nanti keduluan naik pelaminan sama aku. Karena sebentar lagi aku akan nikah lho," ujar Mbak Dian pamer kebahagiaan.



"Wahhh, yang benar Mbak. Mbak Dian mau menikah? Kapan?" seruku gembira.


"Tuh, kan, kamu saja bahagia dengar aku akan menikah, apalagi kamu yang menikah, kan, Sensi?" tunjuk Mbak Dian kepadaku seraya tersenyum.


"Ayo, Sensi, kita ke mobil saja, daripada di sini mendengar kaleng rombeng," sungut Pak Rangka seraya menarik tanganku kesal. Mbak Dian tertawa melihat kami menjauh.



Aku dan Pak Rangka mendekati mobil dan memasukinya walaupun saat dibawa berjalan tadi, kakiku terpincang-pincang karena hak sepatunya masih belum aku patahkan.



"Masuklah, nanti di depan sana saya belikan sepatu," ujar Pak Rangka seraya menjalankan mobilnya keluar dari area kafe outdoor itu.



Sepanjang jalan menuju toko sepatu yang Pak Rangka maksud, aku dan Pak Rangka masih belum ada yang bersuara. Namun sepuluh menit kemudian Pak Rangka tiba-tiba bersuara.



"Sensi, kamu maunya sepatu seperti apa?" Aku bingung mau jawab apa sebab aku tidak tahu sepatu apa yang pantas denganku. Tapi aku malah ingat sneaker aku yang di rumah.


"Saya suka Sneaker, Pak. Tapi itu di rumah saya," jawabku spontan.


"Ok, nanti kamu tunggu saja di mobil, ya. Biar saya yang masuk tokonya. Kamu sebutkan saja nomer sepatunya."


"Eh, oh, apa Pak, kenapa?" tanyaku tidak konek dan gugup. Pak Rangka geleng-geleng kepala melihat tingkah konyolku.


"Saya yang akan turun untuk belikan sepatunya, jadi kamu bilang saja berapa nomer sepatu yang biasa kamu pakai?"


"Tapi, Pak, itu tidak usah. Lagipula sepatu ini masih bisa dipakai kok," ujarku memberi alasan.


"Sudah, patuhlah. Cepat beri tahu nomer sepatunya," paksa Pak Rangka tidak sabar. Akhirnya dengan terpaksa aku sebutkan nomer sepatuku dengan malu-malu.


Rupanya nomer sepatuku beda empat nomer dengan Pak Rangka. Kebayang kaki Pak Rangka panjangnya.


Bersambung.

__ADS_1


Menurut kalian berapa coba nomer sepatu Sensi. Ayo tebak.....


__ADS_2