
"Apa kamu bilang, kamu ingin bulan madu dengan saya?" tanya Pak Rangka penasaran.
"Bulan madu? Ihhh, siapa bilang Pak? Saya hanya membayangkan sedang berbulan madu." Aduhhh, ceplos lagi, ceplos lagi. Lagi-lagi mulutku ini tidak terkontrol untuk tidak berkata jujur. Malu rasanya di depan lelaki tampan yang aku kagumi, aku ceplas-ceplos melulu.
Tiba-tiba bunyi Hp yang mirip sama nada dering WAku berbunyi, sontak aku terkejut dan berusaha mencari di mana arah suara itu. "Kamu cari apa?"
"Ini, Pak, suara nada deringnya mirip nada dering WA saya. Dan kebetulan Hp saya sejak tadi pagi hilang entah kemana?"
"Kamu dari sejak pagi apakah tidak ingat bahwa Hpmu ketinggalan di sini?"
"Oh, ya, Pak! Aduhhh, sejak tadi saya cari oh rupanya bersama Bapak."
"Dari sejak tadi pacar kamu si Krisna nelpon terus, apakah dia tidak tahu kalau ini jam kerja?" dengus Pak Rangka kesal.
Aku meraih Hpku dengan lemas sesaat setelah Pak Rangka bicara seperti itu, nadanya seperti marah dan merasa cemburu. Saat mau aku angkat, tatapan Pak Rangka mendelik sebal seolah menyiratkan kekesalan. Akhirnya aku biarkan saja panggilan WA itu berdering tanpa diangkat.
Tiba-tiba Pak Rangka meraih Hpku dan langsung merebutnya sembari mengangkatnya. Namun untungnya panggilan itu segera berakhir, mungkin karena kelamaan, jadi diputus sendiri oleh Mas Krisna.
"Tolong, ya, jangan biarkan pacar kamu menghubungi di saat jam kerja. Saya tidak suka kantor saya diberisiki oleh pembicaraan di luar masalah kerja," peringat Pak Rangka tegas dan penuh penekanan. Aku mengangguk paham.
Dan lagi-lagi bunyi dering Hpku berbunyi. "Krisna Love, memanggil," ujar Pak Rangka sembari menyodorkan Hpku lalu mengusirku dari ruangannya.
"Ambil Hp ini, dan jika kamu mau pacaran alangkah baiknya kamu langsung pulang. Di kantor ini dilarang berpacaran," tegas Pak Rangka judes. Aku terkesima dibuatnya. Pak Rangka mengusir aku dengan tegasnya.
"Tapi, Pak, saya tidak sedang pacaran dengan Mas Krisna, dia hanya mengagumi saya. Kami belum pacaran kok," jelasku sebelum pergi dari ruangannya. Dengan perasaan sedih aku pamit.
__ADS_1
Aku kembali ke mejaku. Lagi-lagi Kak Tari ada disitu dan mata elang betinanya bermain dengan ganasnya seakan mau memangsa. Dia perlahan menghampiri lalu memberikan sebuah map. Firasatku pasti dia mau menyuruhku menyelesaikannya.
"Ini selesaikan!" Aku menatap map yang disimpan di mejaku dengan tatapan sedih. Kak Tari bersuara setelah aku tidak respon apa-apa.
"Kamu tidak dengar aku ngomong?" Pelan tapi judes sangat jelas nada bicara Kak Tari. Aku berdiri, kali ini ingin rasanya aku membalas mempertanyakan kenapa Kak Tari selalu sinis dan judes terus sama aku, padahal sama yang lain baik-baik saja. Apalagi sama karyawan cowok, dia manis banget.
"Maaf Kak, saya dengar lho Kak Tari ngomong. Terus saya mau tanya, kenapa Kak Tari selalu jutek dan sinis kalau berurusan dengan saya?" tanyaku sedikit berwibawa.
"Sesuai namamu, kamu selalu bikin aku sensi," alasannya seraya berlalu.
"Kak Tari, apa karena itu? Hei Kak Tari, apakah Kak Tari tidak tahu gosip terbaru tentang saya?" Kak Tari langsung menghampiri dengan kening berkerut.
"Bukan cuma itu Kak. Tapi ada yang lebih heboh lho. Gosip baru tentang saya adalah bahwa saya sekarang lagi hamil lho anak Pak Rangka," ujarku sambil tersenyum.
"Apa, tidak salah dengar tuh? Bodoh amat gosipin sendiri, bangga banget kayaknya ya dihamili lantas beritanya disebar sendiri," sungut Kak Tari.
"Banget Kak," balasku menyunggingkan senyum. Kak Tari terbelalak, sukur-sukur gosip ini disebarin sama dia, kesal deh lama-lama ditindas melulu. Lebih baik nindas diri sendiri, pengen tahu kayak gimana hasilnya.
"Gila kamu," dengusnya sambil berlalu. Aku tersenyum kecut, lalu kembali ke hadapan meja dan segera memenuhi kewajibanku sebagai karyawan mengerjakan tugasku kembali.
Jam empat sore tiba, aku segera mengemasi meja dan menyampir tas sandangku. Tanpa basa-basi ke siapapun termasuk Rima, aku keluar dari ruanganku menuju tangga dan menuruninya. Seklias aku mendengar namaku dipanggil, tapi aku tidak peduli, yang terpenting sekarang aku cepat pulang. Sepertinya kesadaranku tengah normal, aku merasa cape dengan lembur terus, terlebih Pak Rangka jadi Bos bisanya cuma marah-marah melulu.
__ADS_1
Tiba di parkiran, aku segera mengeluarkan motor dari area parkir lalu hho dan keluar dari gerbang kantor. Tiba di gerbang, sejenak aku bertegur sapa dahulu dengan Pak Umar Sekuriti. "Pak Umar, saya pulang ya!"
"Hati-hati Neng," balas Pak Umar sambil melambaikan tangan.
Motor melaju di jalanan yang mulai ramai, pengguna jalan yang mulai padat karena bersamaan keluar kantornya masing-masing. Akhirnya tepat jam setengah lima aku sampai di rumah dengan peluh lelah yang bergelayut di sekujur tubuh.
***
Besoknya, pagi menjelang, suara kokok ayam mulai bersahutan, sang fajar mulai menampakkan kemilaunya dari ufuk timur. Semburat cahaya memutih tipis menyilaukan pandangan. Sejenak aku menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan ini. Begitu indah dan nikmatnya pagi ini ditemani secangkir kopi latte favorit.
"Teh, kok belum siap-siap kerja, apakah Teteh libur?" tanya Aloe Vera, adikku, yang sudah bersiap memanaskan motornya untuk kuliah.
"Teteh meliburkan diri. Kerja terlalu sumpek Al. Kali-kali santuy dan menikmati indahnya pagi, jangan kerja melulu yang tidak ada habisnya," celotehku sembari duduk bersender di pagar tembok yang tingginya cuma sepinggang. Rasanya seperti di pantai Pangandaran.
"Enak kali kau Teh, macam Bos besar duduk bersandar macam di pantai," canda Aloe menirukan logat Bataknya Bang Poltak pemeran si Poltak.
"Sudahlah kau pergi Al, hari sudah siang, macam manapula kau nanti kesiangan, kena marah kau sama Dosen pembimbing," sentakku ikutan menggunakan logat Bang Poltak. Aloe tertawa mendengar logat Batakku yang menurutnya lucu.
"Hahahhaha, Teteh kalau tidak bisa bicara Batak, sebaiknya mingkem daripada laler masuk," ejek Aloe seraya menyalakan mesin motor dan melambai berpamitan seiring motor maticnya melaju pelan keluar dari halaman rumah.
"Sruputtttt, ahhhhh." Aku begitu menikmati kopi latteku pagi ini dengan santai sembari membayangkan hal yang akan terjadi di kantor tanpa kehadiran aku.
"Biar tahu rasa Pak Rangka tanpa aku, itulah akibat marah karena cemburu buta. Pacar bukan, selingkuhan bukan, istri apalagi, tapi cemburu selangit," gerutuku sedikit kesal.
"Kalau Kak Tari sampai menyampaikan gosip palsu itu, alamat sekantor bakal riuh," ujarku senang dibarengi senyuman tergokil.
__ADS_1
"Halo, Assalamualaikum! Bu hari ini saya ijin tidak masuk, saya sedikit kurang enak badan," laporku via telpon pada Bu Mala HRD, setelah tadi ingat bawa aku belum minta ijin ke pihak HRD.