
Sensi membalikkan tubuh, saat menyadari ada yang memeluknya dari belakang. Dari wangi dan suaranya, jelas Sensi kenal siapa itu. Sensi langsung memeluk erat Rangka seraya menangis.
"Mas Rangka, hu, hu, hu," ucapnya menangis terisak. Bagaimana tidak, sikap Rangka yang dingin saat akan pergi gara-gara cemburu buta karena melihat Sensi ditatap kagum oleh kawan-kawannya juga sikap Sensi yang dianggapnya terlalu beramah-tamah pada teman-temannya saat ditanya, yang membuat Rangka tidak suka dan bersikap dingin, membuat Sensi dilanda sedih dan menangis. Tapi, kini Rangka pulang dan tiba-tiba memeluk dari belakang dan mencium rambutnya, itu suatu kebahagiaan yang tidak diduga-duga oleh Sensi.
Sensi berpikir bahwa Rangka sudah memaafkannya dan tidak marah lagi gara-gara rasa cemburunya pada teman-temannya.
"Mas, kamu sudah pulang, kamu tidak marah lagi sama aku, kan?" Sensi mendongak dan menatap wajah tampan Rangka yang kini terlihat lelah.
"Sudahlah, mari kita masuk kamar aku sangat lelah. Aku bawa oleh-oleh buat kamu dan Glassy juga Mama, juga buat semua." Rangka menarik lengan Sensi menuju ke dalam. Sensi seketika sangat bahagia dan kembali ceria.
Rangka membuka pintu dan masuk diiringi Sensi yang tersenyum-senyum bahagia, karena sebentar lagi akan membuka oleh-oleh dari Rangka.
"Bukalah, di sana sudah ada nama siapa-siapa yang dapat oleh-oleh," ujar Rangka seraya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Asikkk, apa isinya, nih?" soraknya seraya membuka salah satu kotak yang ada namanya. Sensi membuka kotak itu yang luarnya dibungkus kertas kado. Setelah kertas kado itu terbuka, Sensi melihat kotak kado itu mirip kotak perhiasan. Dengan senang hati Sensi membukanya. Alangkah terkejutnya Sensi, ternyata dalamnya adalah sebuah kalung berlian yang sangat mewah.
Sensi tidak tahu berapa harga kalung berlian itu, yang dia tahu berlian adalah mahal. Perhiasan itu terdiri dari kalung dan cincin berlian.
"Wahhhh, sangat mewah. Ini pasti harganya sangat mahal. Duhhh, Mas Rangka, kenapa repot-repot belikan perhiasan berlian segala. Terimakasih Mas," bisiknya terharu, perlahan tetes air mata membasahi pipinya.
"Makasih banyak Mas, kamu sangat royal dan perhatian. Aku sangat mencintai kamu," ucap Sensi sekali lagi sambil mencium kalung berlian dan cincin berlian itu.
Sensi merapikan oleh-oleh untuk Glassy dan Mama mertuanya. Ada juga oleh-oleh untuk kedua orang tuanya, ternyata Rangka membelikan oleh-oleh tidak hanya buat dirinya saja melainkan untuk seluruh keluarga dan Asisten Rumah Tangga juga.
"Baik sekali Mas Rangka."
"Ehemmm." Sejenak Sensi tersentak saat Rangka berdehem dan sudah berada di dalam kamarnya. Sensi segera memburu tubuh Rangka lalu memeluknya dan menciumi wajah Rangka.
"Terimakasih banyak, Mas. Kamu sangat royal dan perhatian sampai semua anggota keluarga kamu belikan oleh-oleh. Apalagi oleh-oleh kalung dan cincin berlian ini sangat mahal," ujar Sensi masih memeluk Rangka yang kini sangat dilanda rindu pada Sensi.
"Baiklah, aku balas ucapan terimakasih kamu dengan sebuah permintaan dan anggap saja sebagai imbalannya."
"Apa itu, Mas?"
Dengan cepat tanpa menjawab, Rangka membawa tubuh Sensi ke atas ranjang, lalu direbahkan. Sensi sudah tahu suaminya pasti sangat kangen dirinya yang juga sangat kangen sama Rangka.
"Sayang, ayo, aku sudah sangat rindu." Ajakan Rangka sangat disetujui Sensi, tidak menunggu lama, Sensi beraksi membuka apa saja yang menempel di tubuhnya. Dan pagi menjelang siang itu menjadi saksi pasangan sah tengah dilanda rindu yang membuncah.
"Terimakasih, Mas. Kamu tidurlah dulu dan istirahat, kamu pasti capek," ujar Sensi seraya berniat bangkit.
"Jangan pergi, biarlah kamu di sini sampai siang nanti. Aku kangen banget sama kamu, temani aku tidur jangan kemana-mana," larang Rangka sambil menarik tubuh Sensi menuju pembaringan. Sensi tidak membantah dia baring kembali seraya memeluk lengan kekar Rangka dan menatap wajah tampan tapi lelah suaminya.
"Cuppp, selamat bobo dan istirahat Mas," ucapnya sembari ikut memejamkan mata dan berusaha tidur. Lamat-lamat Rangka sudah mulai tertidur pulas, terdengar dari dengkuran yang berat saking lelahnya. Namun Sensi yang sulit ngantuk, terpaksa hanya bisa melek sambil menikmati wajah Rangka yang sedang pulas.
"Uhhhh, Mas Rangka sungguh tampan dan rupawan mirip Lee Min Jo. Ya Allah, beruntung aku mendapatkan Mas Rangka," ucapnya lagi sembari mengetuk-ngetuk kecil dada Rangka yang bidang dan keras.
"Ihhh, ampun, keras banget," pujinya tidak henti-henti. Tiba-tiba suara Hp Rangka berbunyi, sebuah nada panggilan diperdengarkan. Awalnya Sensi tidak peduli, tapi lama-lama panggilan itu berulang dan sepertinya tidak mau berhenti.
Beberapa menit kemudian panggilan itu berhenti dan tidak terdengar lagi. Tapi dua menit kemudian berbunyi lagi. Di sini, Sensi jadi penasaran. Dia perlahan bangkit dan meraih Hp Rangka yang berada di dekat meja lampu duduk pas dekat kepala Rangka. Sensi melihat panggilan itu dari nomer yang belum tersimpan.
"Dari siapa, ya?" tanyanya berbisik, jiwa keponya meronta-ronta dari siapa telpon itu. Akhirnya karena tidak ada yang mengangkat, sepertinya telpon itu berhenti dan bosan. Namun, beberapa saat kemudian ada bunyi pesan WA masuk. Sensi melihat sekilas dari layar utama Hp Rangka. Pesan WA itu terbaca sebagian oleh Sensi.
"Rangka, ini aku Delana. Pertemukan aku ..." Begitu isi chat WA yang hanya sebagian bisa dibaca oleh Sensi. Sayangnya Hp Rangka dikunci dan tidak bisa dibuka sembarangan oleh siapapun.
"Pakai sandi? Kenapa Mas Rangka Hpnya memakai sandi segala? Apakah di dalamnya ada rahasia yang tidak boleh aku tahu?" Sensi bertanya tiada henti tentang Hp Rangka yang menggunakan sandi kemudian bertanya-tanya siapa orang yang mengaku Delana tadi?
__ADS_1
"Delana, Delana, siapa, ya?" Sensi terus bertanya-tanya tentang siapa Delana. "Nanti setelah Mas Rangka bangun, aku tanyakan saja sama dia siapa itu Delana?"
Sensi pun perlahan bangkit dari dekapan Rangka, tapi tangan Rangka sangat erat dan susah dilepaskan. Terpaksa Sensi mendiamkan diri terkurung di dalam dekapan Rangka sembari memainkan Hpnya dan kembali berselancar di media sosialnya.
Sensi iseng membuka kembali facebooknya dan melihat notifikasi. Alangkah terkejutnya dia, sebab Krisna menyukai semua foto Sensi yang pernah Sensi pajang. Sayangnya di Facebook itu, tidak ada foto dirinya dan Rangka.
"Kenapa Mas Krisna ini menyukai semua foto dan statusku? Kalau ketahuan sama Mas Rangka bisa-bisa marah." Sensi menyudahi melihat media sosialnya, lalu meletakkan Hpnya di pinggir tubuhnya.
Sensi kini justru kembali mengingat siapa Delana. Lamat-lamat akhirnya Sensi ikut tertidur dalam dekapan Rangka.
...***...
#Siang Yang Hangat di Ruangan Pribadi
Siang pun menjelang, Sensi terbangun duluan. Lalu menggoyang tubuh Rangka membangunkannya.
"Mas, Mas, bangun. Ini sudah siang, bukankah Mas Rangka mau menjemput Glassy?" Sensi masih menggoyang tubuh suaminya sampai terbangun.
"Jam berapa ini? Ya ampun sudah siang rupanya." Rangka bangkit lalu segera ke kamar mandi mendahului Sensi.
"Masss, aku duluan," teriaknya sambil menyusul Rangka ke dalam kamar mandi.
"Kenapa kamu nyusul ke kamar mandi?"
"Aku juga belum mandi, Mas. Kita mandi bersama saja, ya?" ujar Sensi seraya meraih selang shower lalu mengguyur tubuh Rangka jail.
"Ampun, Sayang, nyalakan pemanasnya," jerit Rangka kedinginan. Sensi malah ketawa-ketawa geli melihat Rangka kedinginan.
"Awas ya, aku balas perbuatanmu," ancamnya seraya mengangkat tubuh Sensi lalu dimasukkannya ke dalam bathtub.
"Jangan, jangan, Mas." Menolak tapi tawanya pecah di sana. Rangka dan Sensi saling basuh di sana sambil cekikikan.
"Gendong," rengek Sensi seraya mengulurkan tangannya ke arah Rangka. Rangka meraih tangan Sensi lalu memapahnya. "Mas, gendong," rengeknya lagi memelas. Rangka yang lagi malas akhirnya mengangkat tubuh Sensi yang belum terbalut apa-apa.
Sensi sedikit kecewa dengan Rangka yang tidak seperti biasanya antusias jika disuruh mengangkat tubuhnya. Rangka membawa tubuh Sensi keluar lalu diletakkan perlahan di atas ranjang dan ditutupinya dengan handuk.
Sensi segera memakai handuk itu lalu bangkit menuju lemari untuk berpakaian.
"Mas, aku ikut," pinta Sensi. Rangka menggeleng. Sensi manyun dengan gelengan Rangka.
"Mas, siapa itu Delana?" Tiba-tiba Sensi memberanikan diri menanyakan Delana pada Rangka. Rangka sontak panik dan seperti tidak suka jika nama Delana disebut.
"Dari mana kamu tahu nama Delana?"
"Ini, tadi Hp Mas Rangka bunyi saat Mas Rangka tidur nyenyak. Ada dua kali miss call sama satu buah pesan WA di sana. Aku sempat melihat sekilas pesan WA itu dari layar Hp Mas Rangka. Rangka kaget bukan main mendengar cerita Sensi barusan. Lalu Rangka meraih Hp itu sedikit kasar. Dia tidak kurang terkejutnya, sebab dia tidak mau Sensi tahu tentang masa lalunya yang menyakitkan akibat Delana.
"Dia bukan siapa-siapa. Aku pergi dulu, ya." Rangka pamit tanpa menghiraukan keingintahuan Sensi. Sensi terlihat sangat kecewa.
"Kenapa Mas Rangka seperti menyembunyikan sesuatu saat mendengar nama Delana? Ada apa dengan Delana, dan siapa Delana?"
***
Besok tiba, aktifitas Sensi kini sudah terkonsep dengan rapi dan teratur. Setelah bangun subuh, dia juga membangunkan Glassy untuk diajak sholat subuh. Namun, jika Glassy masih ngantuk dan susah dibangunkan, Sensi mengalah sholat Subuh sendiri, giliran Glassy jam 05.30 baru dibangunkan.
"Sayang, antarkan Glassy dengan Mang Rizal, ya. Aku hari ini buru-buru, ada yang urgent di kantor?" berita Rangka.
__ADS_1
"Mas, kapan-kapan boleh aku ke kantor kamu, kan?" tanya Sensi tiba-tiba, dan sepertinya dia kangen dengan suasana kantor yang sudah kurang lebih dua bulan ditinggalkannya.
"Boleh. Silahkan saja datang, tapi saat senggang dari kesibukan mengurus Glassy," tekannya memberi syarat.
"Mas, emm, Delana itu siapa?" tanya Sensi ragu. Rangka menatap Sensi lekat. Dia seakan enggan menjawab.
"Kamu siap-siaplah, aku juga akan segera berangkat." Rangka segera meninggalkan kamar tanpa menoleh lagi ke belakang. Sensi merasa aneh dan sedih dengan sikap Rangka yang aneh.
Sensi menuntun Glassy menuju mobil yang kini disupiri Mang Rizal yang sudah siap mengantar mereka ke sekolah.
Dua hari kemudian, pagi ini Rangka mengantar kembali ke sekolah Glassy.
"Mas, aku ikut, ya?" tanya Sensi merengek. Rangka menatap ke arah Sensi ragu. "Kenapa sih, Mas? Tidak boleh? Memangnya di kantor Mas Rangka ada orang baru? Aku jadi curiga, jangan-jangan di kantor Mas Rangka ada pekerja baru setelah aku keluar," duga Sensi mulai sensitif.
"Tidak, bukan begitu. Tapi, hari ini aku memang tidak ijinkan kamu ikut. Aku mohon, patuhlah," pinta Rangka setengah memerintah. Nyali Sensi ciut, dengan segera dia beranjak meninggalkan Rangka yang akan bersiap mengantar Glassy.
Sensi segera menjauh dari kamar lalu menuruni tangga dan menuju taman belakang. Rangka menghela nafasnya dalam, seandainya Sensi tahu dan paham, pasti dia tidak akan merajuk dan marah seperti ini.
Rangka segera menuruni tangga dan menyusul Sensi ke taman belakang. Rangka melihat Sensi yang sedang menangis di sana.
"Sayang, ayolah.Ikut aku antar Glassy!" ajaknya seraya menarik lengan Sensi yang sempat menahannya.
"Tidak Mas, pergilah," balas Sensi memalingkan muka.
"Ayo, jangan merajuk. Jangan kayak anak kecil." Rangka menarik tangan Sensi yang akhirnya menyerah dan ikut bersama Rangka. Akhirnya pagi ini Rangka dan Sensi bersama-sama mengantar Glassy sekolah.
"Hati-hati, ya, Sayang," ujar Rangka seraya melambai meyakinkan Glassy sudah masuk ke dalam sekolah dan disambut Gurunya. Setelah itu, Rangka memutar balik mobilnya dan menuju kantornya Kertassindo Gemilang.
Sensi sangat bahagia bisa menginjakkan kaki lagi di kantor milik suaminya ini, dia bergelayut manja dan berhasil melabuhkan ciuman hangat di bibir Rangka saat Rangka sibuk dengan setir.
"Sayang, nantilah dulu, jangan nyosor-nyosor begitu. Ini di jalanan, bahaya lho," cegah Rangka kembali lembut dan mesra seperti awalnya. Sensi senang Rangka kembali mesra kayak dulu.
Tiba di kantor, kedatangan Sensi untuk pertama kalinya setelah menikah, disambut gembira. Terutama oleh timnya Rangka seperti biasa. Diantaranya, Cakar Besi, Koral.
"Nyonya Rangka datang," sambut mereka dengan gaya yang khas tapi tetap hormat.
"Mbak Koral, apa kabar? Kapan undang kami ke pernikahannya?"
"Nanti, ditunggu saja tanggal mainnya," teriak Koral sambil tertawa kecil.
"Kak Cakar juga, kapan nih menggandeng pasangan, masa mau jomblo terus?" goda Sensi pada Asisten yang sangat setia pada Rangka itu.
"Saya masih menunggu jodoh yang diberikan Allah saja, Nyonya Rangka," balasnya manggut.
"Kak Cakar, sudahlah jangan formal seperti itu, aku tidak biasa. Panggil saja aku Sensi sepeti biasa," protes Sensi tidak suka.
"Sayang, ayo dong, ngapain ngobrol terus dengan Cakar? Cakar, pagi ini masih longgar. Jadi, jangan ganggu kami, ya," peringat Rangka yang langsung mendapat gelengan kepala dari Cakar.
"Ya ampun, Bos, Bos. Sepertinya tadi malam masih kurang."
Jam dua belas tiba, itu tandanya waktu istirahat dimulai dan sebentar lagi Rangka harus menjemput Glassy di sekolah. Saat Rangka berdiri dan melonggarkan dasinya, tiba-tiba Sensi merangkul Rangka sembari melabuhkan ciuman hangatnya.
Rangka paham, lalu dengan cepat dia membawa Sensi ke dalam kamar pribadinya.
"Sekarang kesampaian, kamu bisa menikmati nyamannya ranjang ruangan pribadiku, Sayang," ucap Rangka mesra dan mendamba.
__ADS_1
Pada akhirnya karena hasrat keduanya sudah tidak terbendung, Rangka dan Sensi menumpahkan kerinduannya di sana. Mereka sangat erat dan bahagia.
"Ayo, kita jemput Glassy, sekarang sudah jam 13.00." Rangka segera keluar kantor dan kini rencananya akan ke sekolah Glassy.