
Sementara sesaat setelah rombongan Pak Rangka sudah pulang, Pak Rangka meminta ijin pada Ibu dan Bapak untuk membawaku sebentar ke suatu tempat. Bapak dan Ibu memberi ijin asal pulangnya tidak larut malam. Kebetulan jam masih menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit, masih belum terlalu larut malam kami pikir.
Pak Rangka membawaku pada suatu tempat. Makan malam romantis di ruangan VVIP yang sangat privat. Aku sungguh terhenyak dengan suasana romantis yang diciptakan di dalam ruangan itu. Suara instrumen musik yang diperdengarkan dari sebuah audio memenuhi lembut ruangan itu. Menambah semakin romantisnya suasana makan malam yang diterangi cahaya lilin sekelilingnya. Sungguh romantis dan menumbuhkan rasa cinta yang semakin dalam dadaku ini.
"Inilah Sensi, candle light dinner kita malam ini. Saya persembahkan buat kebahagiaan kita," ujar Pak Rangka. Aku tersenyum malu-malu dibuatnya, terlebih Pak Rangka menatapku begitu intens.
"Sebelum makan malam, alangkah lebih baiknya kita dansa dulu." Pak Rangka menarik tubuhku lalu merangkulnya dan meletakkan tangan kananku di pundaknya, lalu tangan kiriku di pinggangnya. Tubuh kami sungguh tidak bisa dihindarkan lagi untuk tidak saling bertatap-tatapan, sebab Pak Rangka seakan memaksa aku untuk melakukan dansa yang aku benar-benar tidak bisa.
"Tenang saja, kita tidak akan melakukan banyak gerakan. Lagipula saya tahu kamu tidak pandai berdansa kok." Akhirnya Pak Rangka memahami aku yang memang tidak bisa berdansa. Dan akhirnya dengan bimbingan Pak Rangka aku mengikuti arahan Pak Rangka untuk berdansa. Lama-kelamaan aku berhasil mengimbangi gerakan Pak Rangka. Gerakan tangan dan kaki sudah sama-sama senada dan seirama.
Sampai pada instrumen musik yang romantis, gerakan kami semakin pelan mengikuti suara musik. Perlahan tangan Pak Rangka meraih wajahku lembut, aku sedikit meremang namum tidak sanggup menepis jamahan tangan itu. Lalu tangan itu menuju tengkukku, rupanya Pak Rangka mendekatkan wajah kami.
__ADS_1
Perlahan aku pejamkan mataku seiring semakin dekatnya wajahku bersama dengan wajah Pak Rangka. Dan akhirnya bibir kami bertemu, lembut, hangat dan penuh perasaan Pak Rangka berikan di bibirku. Aku sungguh menikmatinya dengan memejamkan mata.
"Sensi, apakah kamu tidak keberatan saya ingin mencium bibir kamu lama?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Pak Rangka setelah kurang lebih melabuhkan ciuman panjang satu menit tadi. Dan sekarang minta lagi, dan aku dengan girangnya menganggukinya.
Kamipun menautkan kembali bibir kami dengan hati yang sama-sama menikmati. Aku sudah pasrah malam ini benar-benar menikmatinya.
Akhirnya makan malam yang romantis itu kami lewati dengan suasana yang benar-benar romantis. Pak Rangka memperlakukan aku layaknya ratu.
"Siap-siap, malam setelah malam pernikahan kita, kamu tidak hanya habis disentuh bibir saja, melainkan hal lain yang lebih spesial. Maka, dari sekarang persiapkan diri kamu," peringat Pak Rangka serius. Aku menunduk malu, sebab aku paham apa yang dimaksudkan Pak Rangka. Aku hanya menunduk malu mendengarnya.
__ADS_1
Malam itu akan menjadi malam pertama dalam hidupku, untuk mempersembahkan suatu hal yang paling ku jaga dalam hidup. Aku tersenyum bangga, sebab aku merasa bahagia bahwa Pak Rangkalah yang akan menjadi perdana dan istimewa menjadi tamu kehormatanku.
"Sensi, kok kamu senyum-senyum? Apakah kamu masih ingin saya cium lagi?" Pak Rangka berhasil membuyarkan lamunan indahku tentang malam pertamaku nanti.
"Tidak Pak, saya tidak mau nambah dulu. Ini saja gigitan tadi masih terasa di bibir saya," tolakku yang berhasil membuat Pak Rangka tersenyum.
"Kalau begitu, ayo sebaiknya kita pulang mungpung hari belum larut malam." Akhirnya Pak Rangka mengajakku pulang dan mengantarku sampai rumah. Hari ini benar-benar membuatku bahagia karena Pak Rangka memberi ciuman yang terlama dan penuh perasaan. Ditambah lagi pernyataan cintanya yang tadi sempat dia ucapkan.
"Aku mencintaimu Sensi."
Bersambung....
__ADS_1