Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 6 Merasa Sial


__ADS_3

POV Rangka


"Gadis itu bernama Sensi Vera, usianya masih muda 24 tahun. Awal mendengar namanya untuk beberapa saat aku merasa lucu, sebab mengingatkan aku pada bunga-bunga yang sedang booming saat ini.


Sensivera sejenis tumbuhan yang booming bersama tumbuhan lain seperti Sukulen, Janda Bolong, Adenuim dan lain sebagainya. Aku saat itu tersenyum merasa lucu dan langsung teringat bunga janda bolong yang hits juga di tahun yang sama.



"Sensi Vera, bukan Janda Bolong?" tanyaku saat itu. Gadis itu menjawab dengan spontan dan menurutku sangat kocak.


"Bukan, Pak, saya belum bolong," jawabnya membuat aku terkekeh. Aku tidak menyangka saja, gadis yang menurutku lumayan cantik itu bicaranya ceplas ceplos dan kocak. Aku melihat dia begitu polos dan lugu, serta apa adanya. Terlebih saat berdekatan denganku, dia seakan terpesona denganku. Setidaknya itu penilaian pertamaku melihat dari gelagatnya yang salah tingkah dan sering keceplosan mengagumiku.


Selain sederhana dan apa adanya, gadis yang lumayan cantik dengan postur tubuh sedang itu, memiliki kulit yang bersih kuning langsat, tubuhnya tidak kurus kerempeng akan tetapi langsing dan berisi, semua mata lelaki yang memandang termasuk aku sedikitnya akan terpesona dan dia termasuk tipe cewek yang menarik. Dandanannya juga seimbang, tidak norak atau berlebihan, jadi dipastikan dia bakal menarik siapa saja terlebih lelaki hidung belang.



Aku sebetulnya sudah mengetahui dia siapa, dari seragam kerja yang dia pakai. Dia rupanya pegawai di perusahaanku. Memang wajahnya agak familiar, mungkin karena secara tidak sengaja kami sering berpapasan saat naik lift atau saat makan di kantin.



Akan tetapi aku baru tahu nama dia sejak kejadian tadi pagi. Sakit sesak nafas yang tiba-tiba mendera pagi itu, memaksaku menghentikan mobil di pinggir jalan. Lantas aku tergopoh-gopoh keluar mobil dan berusaha menghentikan kendaraan yang lewat.



Jalanan pagi itu masih sepi. Hanya satu, dua yang sudah lewat. Dan aku berusaha menghentikan salah satu dari mereka, entah mobil atau motor. Namun, belum ada satupun yang mau berhenti. Aku tidak menyerah, dengan nafas yang hampir habis aku berusaha melambai kembali menghentikan kendaraan yang lewat. Saat motor yang entah ke berapa aku lambai, akhirnya motor tersebut berhenti, dan aku segera meminta bantuannya.



Akhirnya aku dibantunya dengan membelikan obat sesak nafas ke apotek terdekat. Sejak itulah aku mengenalnya dan dia memang pegawai di perusahaanku.


__ADS_1


Setelah jam istirahat habis, pintu ruanganku terdengar diketuk. Aku tahu, pasti gadis bernama Sensi Vera itu yang datang, sebab tadi pagi aku sudah menyuruhnya datang ke ruanganku. Cakar, aspri yang tadi membawakan motor matic gadis itu, langsung pamit keluar setelah urusan denganku selesai. Kemudian Sensi masuk dan memberi hormat pada Cakar sebelum Cakar meninggalkan ruanganku. Aku melihat attitude gadis itu sangat baik.



Selain menyuruh dia ke ruanganku untuk mengembalikan uangnya yang terpakai saat membelikan obat sesak nafasku tadi. Ada hal lain yang ingin aku sampaikan perihal pekerjaan, yang berkaitan dengan map-map menumpuk yang diberikan Leadernya tadi.



Gadis yang lumayan cantik, lugu, sederhana, polos namun terlihat tulus itu, masuk ke ruanganku setelah dipersilahkan. Namun anehnya dia datang dengan tangan hampa, tanpa membawa map yang seharusnya dia bawa untuk dilaporkan padaku. Memangnya dia datang ke ruanganku hanya untuk menemaniku ngobrol?



Terpaksa, Sensi yang datang dengan nafas ngos-ngosan itu, aku suruh kembali ke ruangannya untuk membawa map-map yang harus diperiksa olehku. Sensi patuh dan keluar ruanganku untuk mengambil map-map yang masih menumpuk di mejanya. Aku tersenyum kecil melihat gadis itu berlari kecil tergopoh menuju ruangannya.


POV Rangka End


Back To Sensi Vera


"Sensi, kamu ke ruangan Pak Rangka tanpa membawa map-map ini?" tegur Kak Tari lantang. Aku menatap Kak Tari sejenak lalu menyahut.


"Iya Kak, ini mau saya ambil," ucapku seraya meraih map yang tadi dipegang Kak Tari. Kak Tari nampak geram melihatku.


"Kamu ini lelet jadi pegawai, saya tidak suka punya anak buah kaya kamu," cetus Kak Tari judes. Huh selalu saja bilangnya tidak suka punya anak buah kaya aku karena aku pegawai yang lelet. Padahal selama ini yang selalu dia surah-surah hanya aku yang diejeknya lelet. Emang Kak Tari itu munafik. Akhirnya aku hanya bisa kesal dalam hati dan tidak berani mengungkapkan kemarahan di depan orangnya.



Aku segera mendekati mejaku dan membereskan map-map itu, lalu beranjak meninggalkan mejaku yang atmosfirnya mulai panas, walau demikian aku tidak lupa berpamitan pada Leaderku yang pemarah dan bawel itu. Terlebih akhir-akhir ini, mungkin saja Kak Tari lagi PMS.



Dengan tergopoh aku menuju tangga yang kuturuni tadi, dan menaikinya untuk kembali ke ruangan Pak Rangka memberikan map-map yang sebagian sudah aku kerjakan tadi.

__ADS_1



Tiba di depan pintu ruangannya, perlahan ku ketuk pintu itu dengan sedikit was-was.


"Masuk!" titah suara serak-serak seksi itu mempersilahkan aku masuk. Dengan gerakan canggung aku perlahan memegang handle pintu dan menariknya. Setelah pintu terbuka dengan langkah yang pelan dan penuh hormat aku masuk dan berdiri menatap sekilas ke arah Pak Rangka.


"Duduk!" titahnya. Aku duduk dan langsung menyodorkan map-mapku. "Ini masih ada map yang belum kamu kerjakan?"


"Iya, Pak, maaf!" ujarku mulai resah.


"Tidak apa-apa, tidak mungkin juga kamu menyelesaikan map-map yang menumpuk itu dalam waktu kurang lebih empat jam. Iya kan? Silahkan kamu kerjakan map yang belum dikerjakan, di sana!" tunjuknya ke arah sofa.


Aku berjingkat dari kursi menuju sofa yang ditunjukkan Pak Rangka sambil menenteng map-map yang belum aku kerjakan tadi.



Satu per satu map aku kerjakan dan perlahan mulai berkurang. Sampai jam menunjukkan pukul empat sore, ternyata map yang harus aku kerjakan masih sisa dua lagi. "Alamat harus lembur nih," pikirku getir.



"Pekerjaan kamu belum selesai, kan? Jadi kamu harus lembur hari ini," titahnya tiba-tiba dan sudah ada di hadapanku. Aku mengangguk tanda setuju. Dan masih di sofa untuk melanjutkan pekerjaanku.



Pintu Pak Rangka tiba-tiba terbuka, Mbak Koral, Sekretaris Pak Rangka masuk sambil menenteng beberapa map.



"Pak, ini ada beberapa map yang belum selesai dikerjakan!" sodor Mbak Koral sambil melirik ke arahku dan tersenyum.


"Baiklah!" balas Pak Rangka seraya menghampiriku. Aku sudah punya firasat pasti map itu dilimpahkan padaku untuk aku kerjakan. Duhhhh, rasanya aku sial deh hari ini.

__ADS_1


__ADS_2