
Tepat jam 10 malam film besutan Sutradara Hanu Bramantra selesai. Pak Rangka segera menarik tanganku keluar dari dalam studio. Kami meninggalkan studio dengan meninggalkan sisa popcorn yang berserakan di kursi dan lantai bekas kami duduk.
"Saya akan mengantar kamu pulang. Tapi, saya bingung harus bilang apa sama kedua orang tua kamu?" kata Pak Rangka terlihat bingung.
"Kenapa Bapak harus bingung, kalau Bapak saya tidak bertanya, ya sudah jangan katakan apa-apa, cukup Bapak ngantar saya lalu pamit," ujarku memberi saran.
"Ok, deh kita pulang, ya. Terimakasih untuk malam ini. Kamu ternyata teman nonton yang menyenangkan, cantik, kocak sekaligus bikin saya kesal," beber Pak Rangka walaupun ujungnya tidak menyenangkan hati.
Besok kamu kerja seperti biasa. Dan ingat, supaya besok tidak kesiangan bangun. Setelah pulang ini kamu langsung tidur," titahnya.
Baru saja mobil Pak Rangka meninggalkan studio, WAku berbunyi sebuah panggilan. Aku berpikir ini pasti dari Bapak atau Aloe, adikku. Namun saat dilihat ternyata bukan, di sana tertulis Krisna Love.
Sejenak aku berpikir tentang nama yang muncul barusan, aku sungguh bingung sebab aku tidak merasa punya teman bernama Krisna Love.
"Sensi, Hp kamu bunyi kenapa dibiarkan? Angkat dong, berisik!" titah Pak Rangka tidak senang. Mendengar Pak Rangka bicara seperti itu aku segera menerima panggilan itu, namun belum sampai aku angkat Hpku malah jatuh tepat di bawah kaki pedal rem Pak Rangka. Otomatis Pak menghentikan sejenak Pajiranya dan spontan meraih Hpku di bawah kakinya.
"Kamu ini selalu ceroboh, ngangkat Hp saja sampai jatuh," omelnya seraya melihat layar Hpku. Sontak raut wajahnya berubah dan penasaran.
__ADS_1
"Maaf, Pak!" ucapku seraya mengangkat panggilan dari yang bernama Krisna Love.
"Halo, assalamuaikum. Ini siapa ya? Ohhh, Mas Krisna. Apa kabar Mas?" sambutku pada orang di ujung telpon sana. Sekilas aku melihat Pak Rangka melirik dengan kilatan kecewa. Sehingga aku menjadi serba salah untuk meneruskan lagi obrolanku dengan Mas Krisna.
"Baik Mas Krisna, nanti lagi disambung ya, soalnya saya sedang dalam perjalanan pulang bersama Bos saya," ujarku meminta mengakhiri sambungan telpon. Sebelum ditutup Aku melihat sekilas Hpku yang telah dimatikan sambungannya oleh Mas Krisna.
"Siapa Mas Krisna? Pasti laki-laki yang ngobrol saat kamu ada di Banjarmasin?" tanyanya tepat.
"Iya, Pak. Kok Bapak tahu?" Aku balik tanya dengan muka tanpa dosa.
Pajira Pak Rangka sudah tepat berada di depan rumah kedua orangtuaku. "Turunlah, dan mohon sampaikan maaf saya pada kedua orang tuamu, saya tidak bisa mengantar sampai dalam rumah," ujar Pak Rangka seraya bermaksud turun dan membukakan pintu untukku.
Aku sudah turun duluan, seraya mengucapkan terimakasih. "Terimakasih, ya, Pak tontonan bioskopnya hari ini. Bapak hati-hati di jalan!" ucapku seraya berlari kecil menuju rumah. Perlahan mobil Pak Rangka melaju pelan meninggalkan depan halaman rumahku.
__ADS_1
Esokpun tiba, aku pergi kerja seperti biasa. Tiba di kantor, Kak Tari seperti biasa sudah menclok di mejanya. Dengan tatapan elangnya yang tajam, matanya mengarah padaku. Aku menyapanya seperti biasa. Setelah itu Kak Tari berjingkat dari mejanya.
Makin siang semua karyawan berdatangan. Dan setiap kubikel sudah mulai terisi para karyawan. Rima teman satu ruanganku datang menyapa, dia senyam-senyum seraya menjatuhkan pantatnya di kursiku.
"Sen, tahu tidak gosip yang beredar hari ini?"
"Gosip apaan Rim?"
"Gosip Bos Rangka habis bulan madu."
"Bulan madu, bulan madu sama siapa?" tanyaku penasaran. Rima mendekatkan bibirnya di telingaku lalu membisikkan sesuatu yang membuat aku terhenyak.
__ADS_1
"Apa?" Aku hanya bisa ternganga tidak percaya. Tega banget ada orang yang menggosipkan bahwa Pak Rangka pergi ke Banjarmasin adalah bulan madu bersamaku.
Mendengar berita itu, aku kini menjadi sedih dan serba salah di kantor.