
Pajira Pak Rangka tiba di sebuah warung tenda yang khusus menjajakan makanan fast food. Aku kegirangan banget saat melihat menu yang tersaji. Cumi asam pedas tergorok garpu, kerang gong-gong aduhai, udang melayang, sama lobster menari. Semua nama menu lautnya ditambahi kata yang sedikit nyeleneh. Aku senyum-senyum membacanya sambil menuliskan beberapa menu yang ada di list daftar menu.
"Benaran ini sebanyak itu?" Pak Rangka hampir melotot saat aku pesan empat macam makanan laut.
"Benar kok, Pak. Saya suka semua soalnya," jawabku santai. "Bukankah tadi Bapak bilang mau mempersembahkan fast food paling kumplit di kota ini?" tanyaku menyinggung perkataan Pak Rangka tadi sebelum datang ke sini.
"Bukan begitu maksudnya, saya pikir kamu tidak akan bisa menghabiskan sebanyak itu." Pak Rangka berkilah.
"Kalau Bapak tidak sanggup traktir saya sebanyak itu karena takut duit Bapak habis, ya sudah tidak usah sok-sokan mau traktir saya. Lebih baik saya nraktir sendiri ayam goreng panggang di warung sana," ujarku merajuk seraya berdiri dari meja dan berjingkat.
"Sensi, tunggu, kok merajukkan sih? Saya hanya takut kamu tidak habis makan sebanyak itu. Saya tidak masalah kalau kamu bisa habiskan. Ayo, duduklah, jangan marah begitu dong orang yang mencinta saya!" ledeknya sembari mengungkit ucapan ku tadi yang sempat mengartikan bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia. Aku seketika manyun mendengar ucapan Pak Rangka seperti itu.
"Ihhhh makin cantik saja pacarku ini kalau manyun begitu," ledeknya lagi. Aku diam sampai pesanan kami datang. Berbagai menu sudah disajikan di atas meja. Semua pesananku ada semua. Pesanannya banyak tapi isinya cuma seuprit, gimana tidak habis? Aku pasti sanggup menghabiskan, apalagi perutku sedang lapar begini.
"Ayo dimakan, ini kan pesanan kamu," ucap Pak Rangka mempersilahkan namun nadanya seperti meremehkan. Pak Rangka tidak percaya kalau aku sanggup habiskan ini saat aku sedang lapar.
Sebelum makan aku berdoa dulu biar makanan yang kita makan jadi berkah dan dijauhkan dari setan. Akhirnya aku memulai makan dengan diawali dulu kerang gonggong kesukaanku. Setelah kerang gonggong, lalu cumi asam pedas, lanjut lagi, lanjut lagi, dan tidak terasa cuma butuh waktu 40 menit semua pesananku ludes, telah berpindah dari piring ke dalam perutku.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucapku penuh syukur. Benar-benar traktiran Pak Rangka kali ini nikmat luar biasa, sepertinya Pak Rangka rido mentraktirnya. Sementara Pak Rangka baru menyelesaikan makanannya.
"Sebenarnya saya sejak tadi ingin bertanya sesuatu padamu, tapi melihat kamu makan begitu bersemangat, saya tidak jadi bertanya," tutur Pak Rangka seraya menatap ke arahku. Aku tersipu malu mendengar pengakuan Pak Rangka begitu. Terus terang malunya makan begitu banyak dan rakus itu saat detik-detik akhir seperti sekarang ini.
"Maaf, Pak, tadi saya kalap makannya, sebab saya baru sekarang ini makan makanan laut seenak ini di sini," ujarku malu-malu.
"Tidak masalah, saya senang melihatnya. Lanjutkan gaya unik dan apa adanya kamu, saya suka," ungkapnya seraya menatapku lebih dalam.
"Lantas apa yang mau Bapak katakan?"
"Kamu tahu mengenai gosip kita yang sengaja disebarkan Dian?" Aku mengangguk sebab gosip itu benar-benar menyebar bak jamur di musim hujan.
"Tapi kita tidak melakukan apa-apa, kan, Pak? Maksud saya, saat saya tidur pulas, Bapak tidak apa-apain saya, saya masih perawan, kan?" tanyaku was-was. Pak Rangka langsung tertawa mendengar ucapanku barusan.
"Tapi Paak, kenapa Mbak Dian menggosipkan kita seperti itu? Kan jadinya hancur reputasi saya jika didengar lelaki lain. Mereka bisa jadi mundur untuk menyukai saya," protesku kecewa dengan Mbak Dian yang menggosipkan tidak benar seperti itu.
"Tenang saja, gosip Dian yang itu tidak ada apa-apanya dengan gosip yang satunya lagi, ini lebih dahsyat malah," ujar Pak Rangka serius. Aku menyimpan telingaku hampir dekat dengan Pak Rangka.
__ADS_1
"Gosipnya lebih gila malah."
"Apa tuh, Pak?"
"Katanya kamu sedang hamil oleh saya, saat saya mendengar pertama kali, saya langsung marah dan kecewa. Tapi setelah ditelusuri siapa yang bikin gosip, ohhhh rupanya orang di depan saya ini yang ingin dihamili, upsss maksud saya dinikahi. Sepertinya kamu sudah kebelet pengen nikah ya?"
Jlebbb, penuturan Pak Rangka barusan membuatku mak jleb, rasanya pengen sembunyi ke liang semut saja biar tidak ketahuan oleh siapa-siapa keberadaanku. Malu dan tidak ada muka kini sedang aku rasakan. Mau bohong lagi, sepertinya tidak bisa sebab Pak Rangka bilang dia tahu gosip itu dari aku yang menyebarkan sendiri.
"Maaf, Pak. Saya saat itu sangat kesal sama lingkungan sekitar yang seolah menekan saya. Belum lagi gosip yang muncul bak jamur yang menyebutkan bahwa kita habis bulan madu di Kalimantan. Saat itu juga saya merasa sedih dan kecewa. Tapi saya yakin yang menyebarkan gosip itu Mbak Dian. Tadinya saya mau langsung datangi Mbak Dian untuk meminta tanggungjawabnya, tapi sore itu saya lupa karena saking kecewanya saya sama semua." Aku berhenti sejenak untuk membuang sesak yang tiba-tiba muncul dalam dada.
"Dannn, mengenai gosip saya hamil oleh Pak Rangka, itu juga ulah saya, sebab saya merasa terpojok oleh gosip itu, belum lagi Kak Tari yang marah-marah terus terhadap saya. Juga Bapak yang tiba-tiba judes. Akhirnya dengan putus asa saya bikin gosip sendiri. Reputasi saya sudah hancur dengan gosip dari Mbak Dian. Akhirnya saya nekad saja bikin gosip sendiri, menghancurkan reputasi sendiri sebelum dihancurkan orang lain," paparku panjang lebar dan terengah saking sesaknya memberi penjelasan.
"Kamu ini, ya, nekad dan unik. Ingin menghancurkan reputasi sendiri dan mempermalukan diri sendiri, dengan jalan menghancurkan reputasi sendiri. Baiklah, jika memang itu yang kamu inginkan, maka saya akan menunaikan keinginan kamu," ujar Pak Rangka santai.
"Tidak, bukan begitu," sangkalku seraya senyum-senyum tidak jelas. Terlanjur malu akhirnya aku hanya bisa senyum-senyum tidak karuan. Biarin Pak Rangka nyebut aku stress atau apalah yang penting aku kini sedang bahagia.
__ADS_1
Keesokan harinya, gosip tentang aku di ruanganku rupanya masih santer dibicarakan. Tapi sejak itu Pak Rangka malah lebih perhatian dan sering ngajak aku jalan dan yang paling salut Pak Rangka selalu membela aku saat aku dimarahi Kak Tari. Tapi aku masih bingung, hubungan aku dengan Pak Rangka ini sebenarnya apa? Sebab Pak Rangka tidak lagi menyinggung tentang *abdi* *bogoh ka anjeun* nya kala itu.
.