Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Kedatangan Delana ke Kantor Rangka


__ADS_3

   "Bu Sensi, apa yang Anda lakukan di sini, kenapa tidak masuk saja, ini kan ruangan suami Anda?" tanya Koral yang tiba-tiba muncul saat Sensi sedang membuka sedikit dari pintu ruangan suaminya. Sensi terkejut, segera dia lepaskan tangannya dari dinding pintu, lalu menoleh ke arah datangnya suara yang mengejutkannya tadi.


   "Mbak Koral, shuuuttt, di dalam ruangan suami saya sepertinya ada tamu, tapi mendengar suaranya dia seorang perempuan, dan mereka sepertinya sedang bertengkar," ujar Sensi berbisik seraya meletakkan tanganya di bibirnya.


   "Iya betul, saya sudah tahu siapa tamu di dalam. Sebab, tamunya tadi permisi sama saya tapi dengan gaya slonong women, sebelum dikasih ijin sudah main nyosor. Tadi saya sudah larang, sebab Pak Rangka tidak akan senang jika kedatangan tamunya dia." Koral menjelaskan dengan muka yang dongkol.


   "Kenapa juga Mbak Koral tidak panggil Satpam untuk mengusirnya? Lalu siapa tamu yang slonong women itu, apakah Mbak Koral tahu?"


   "Saya tadi sudah mencegahnya baik-baik, tapi wanita itu tidak mau mendengar. Lagi pula sudah saya katakan tadi, dia itu main slonong women alias main nyosor tidak menggubris larangan atau perkataan saya. Ya akhir begini deh. Karena memang sepertinya sudah kebiasaan mantan istri Pak Rangka seperti itu, dia main nyosor dan tidak pernah akan bisa mendengar kata siapapun untuk tidak masuk ke dalam ruangan seseorang. Dia tidak punya sopan santun," tutur Koral panjang lebar sambil mengangkat kedua tangannya.


   "Apa? Mantan istrinya Mas Rangka? Serius? Wah, kalau begitu saya harus masuk dong. Tapi, bagaimana kalau Mas Rangka balik memarahi saya?" Sensi terlihat bingung.


   "Bu Sensi sebaiknya masuk saja, tidak apa-apa. Permisi dulu sambil memasang muka terkejut." Koral sedikit memberi tips untuk Sensi.


   "Ihhh Mbak Koral ini, bisa nggak sih panggil saya dengan nama saya seperti biasanya, jangan bu bu bu, nggak enak banget dengarnya," sergah Sensi tidak suka.


   "He he he, saya tidak ada maksud menganggap kamu Ibu tua atau bagaimana. Tapi panggilan bu di sini hanyalah sebagai penghormatan belaka, jangan menampik karena secara otomatis kamu akan selalu saya panggil Ibu selama di dalam kantor ini. Tapi kalau di luar kantor jika Bu Sensi tidak mau dipangil Ibu, saya akan ikuti kemauan Bu Sensi," ujar Koral menyepakati keputusannya sendiri. Sensi hanya mengangguk pelan seraya beralih menuju pintu ruangan suaminya kembali.

__ADS_1


   "Mbak Koral, apa yang harus saya lakukan, apakah saya wajar jika masuk slonong women di saat mereka sedang bedebat di dalam?" Sensi meminta pendapat Koral sebagai Sekretaris suaminya.


   "Seperti yang tadi sempat saya katakan, alangkah lebih baiknya Bu Sensi masuk saja. Bu Sensi justru punya hak untuk masuk dan melerai pertengkaran di dalam, sebab yang berada di dalam adalah suami Anda dan mantannya." Koral kembali memberikan sarannya dengan penuh penekanan.


   "Baiklah akan saya lakukan, saya akan masuk dan mencoba menghentikan perdebatan di dalam," ujar Sensi seraya melangkah mendekati pintu ruangan suaminya.


   "Tapi, Bu Sensi, ijinkan saya merekam kejadian di dalam. Saya hanya perlu dokumentasi jika di dalam terjadi apa-apa. Saya hanya takut salah satu pihak ada yang dirugikan di dalam, maka kamera ini akan jadi bukti. Saya hanya mengingatkan, jika Bu Sensi sudah di dalam, tolong cegah Pak Rangka supaya tidak bertindak kekerasan, sebab dengar-dengar Bu Delana akan mencari cara supaya anaknya, Non Glassy bisa jatuh ke tangannya. Bu Delana akan memancing Pak Rangka untuk melakukan kekerasan fisik, supaya bisa menjeratnya dalam merebut hak asuh anak, dan berharap bisa jatuh ke tangannya," beber Koral panjang lebar membuat Sensi paham.


   "Baiklah Mbak Koral, saya akan berusaha melerai pertengkaran di dalam dan mencegah suami saya melakukan kekerasan," ucap Sensi seraya membalikkan badannya menuju arah pintu.


   "Mbak Delana! Sebetulnya apa yang dia inginkan dari Mas Rangka? Sebaiknya aku perhatikan dulu sejenak hal apa yang didebatkan mereka," guman Sensi seraya berdiri dengan telinga dibuka lebar-lebar. Sepertinya mereka berdua belum menyadari kehadiran Sensi sehingga mereka masih asik berdebat.


   "Rangka, kamu jangan egois, Glassy juga anakku. Aku berhak memberikan kasih sayang sama dia. Untuk itu kamu jangan melarang aku bertemu dengannya, kalau tidak, kita tempuh jalur hukum saja untuk memperebutkan hak asuh anak," sungut Delana geram dengan muka yang memerah.


   "Sekarang kamu bisa berkata punya hak atas Glassy, dulu saat kamu terjerat pesona lelaki lain dan berkhianat dariku, sempat terpikirkah Glassy dalam otakmu yang dangkal itu? Saat itu Glassy masih tiga tahun, balita, apakah kamu saat berselingkuh, masih memikirkan anak yang masih butuh perhatian dan kasih sayang yang lebih dari seorang ibu? Tidak, bukan? Bahkan saat Glassy memanggil mama dan mama, apakah kamu sempat menolehnya untuk sekedar melambaikan tangan? Sekarang bukan saatnya bicara hak, karena sejak pertama kali pengkhianatan kamu terendus, maka hilang hak itu. Camkan itu DELANA!" tandas Rangka penuh penekanan berharap Delana paham apa yang Rangka jabarkan.


   "Tapi ingat Rangka, tidak akan ada Glassy jika tidak ada andil aku di dalamnya. Bukankah kamu dahulu sangat mencintai aku. Sisakan sedikit rasa cinta itu dengan membiarkan aku bertemu sesuka hati aku dengan Glassy, aku mohon. Aku sangat merindukannya," ucap Delana memohon dengan muka yang memelas.

__ADS_1


   Rangka melambaikan tangannya ke udara dengan maksud mengusiir Delana dari ruangannya.


   "Rangka, jangan terlalu egois. Kamu itu bukan laki-laki sempurna juga. Jadi jangan terlalu sombong bisa mengurus Glassy seorang diri. Dan jangan katakan kini kamu sudah memiliki istri yang baru yang bisa menyayangi Glassy. Cuihhh, namanya ibu tiri, pasti baik di depan saja. Tapi di belakang, dia pasti jahat sama Glassy," tandas Delana sengit.


   Sensi terbelalak mendengar statusnya di pandang negatif oleh Delana. Da tidak terima sebab tidak semua ibu sambung jahat.


   "Dan perlu kamu ingat Rangka, dengar ucapanku baik-baik. Tidak akan ada perempuan yang bisa bertahan lama denganmu, sebab sifat egois dan cemburuan kamu akan mambakar dirimu sendiri. Perlahan-lahan perempuan yang bersamamu lama kelamaan akan pergi jauh karena tidak kuat dengan sifat kamu yang terlalu egois dan cemburuan." Delana semakin bersungut membicarakan sifat Rangka. Rangka sejenak terbelalak mendengar ucapan Delana yang sengit itu.


   "Jangan membulak-balikan fakta, Delana! Aku pantas marah dan kesal saat itu karena kamu sedang dimabuk asmara sehingga kamu tidak ingat anak. Jadi jangan harap kamu memiinta hakmu dalam hal ini, sebab aku tidak pernah mau anakku jatuh ke dalam dekapan seorang ibu pengkhianat," cetus Rangka keras.


   "Kuang ajar kamu Rangka, kamu terlalu egois. Pantas saja aku tinggalkan kamu, sebab tidak ada gunanya aku hidup bersama laki-laki penyakitan seperti kamu. Lihat saja, istri barumu itu juga hanya mau menikah denganmu karena ada maunya saja. Lihat setahun ua tahun, dia juga akan pergi meinggalkan kamu, sebab dia tidak akan tahan hidup bersama laki-laki PENYAKITAN," tekan Delana ketus dan sengit membuat Rangka tersulut emosi, dia tidak suka dikata-katain penyakitan, sebab penyakit asmanya bukanlah penyakit yang parah dan mematikan. Bahkan saat ini sudah jarang kumat. Sehingga tangan Rangka refleks terangkat ke atas dan sudah mengayun di udara untuk memberi pelajaran pada mulut Delana di depannya. Namun dengan cepat Sensi mencegah tangan Rangka.


   "Mas, jangannnnnn," cegah Sensi berteriak menahan jemari Rangka yang sudah siap menampar mulut Rangka. Tangan Rangka terangkat ke atas ketika Sensi menahannya. Rangka nampak kecewa melihat Sensi tiba-tiba datang lalu menghentikan aksinya yang marah terhadap Delana.


   Sementara Delana terlihat terkejut dengan kedatangan Sensi yang tiba-tiba, wajahnya penuh gurat sesal yang melanda.


   "Huhhh ... sok pahlawan." Delana mendengus.

__ADS_1


__ADS_2