
Akhirnya rombongan Pak Rangka kembali ke Jakarta, meninggalkan kota Banjarmasin. Pesawat yang kami tumpangi bertolak dari Banjarmasin pukul 10.00 WITA. Sepanjang perjalanan di dalam pesawat aku dan Pak Rangka tidak terlibat pembicaraan apapun. Terlebih Pak Rangka juga sama sekali tidak mengajak bicara.
Keadaan ini membuat aku tidak nyaman dan sedikit kaku berada didekat Pak Rangka, terlebih Pak Rangka berada di sampingku. Mungkin Pak Rangka masih bersikap demikian imbas dari melihat aku ngobrol dan ketawa-ketawa dengan Mas Krisna di bar hotel itu. Tapi kenapa Pak Rangka masih marah, ada apa sebenarnya dengan Pak Rangka?
Pesawat baru satu jam di udara, bersamaan dengan itu seorang Pramugari lewat dengan mendorong troli makanan. Sepertinya Pramugari itu sedang berjualan camilan dan minuman. Saat melewati kami, tiba-tiba Pak Rangka berbicara dengan Pramugari tersebut yang ternyata lumayan cantik dengan body goals. Ditambah dandanan yang sedikit menor. Tiba-tiba hatiku berdesir panas melihat Pak Rangka begitu sopan berbicara pada sang Pramugari tersebut.
Rupanya Pak Rangka sedang membeli beberapa camilan dari Pramugari itu. Aku yang kebetulan duduknya di dekat jendela pesawat, berusaha mengalihkan perhatianku keluar jendela, melihat hamparan daratan yang lama kelamaan semakin kecil terlihat.
Saat sedang melihat hamparan awan yang menggumpal putih, tiba-tiba Pak Rangka meletakkan satu botol air mineral di tanganku. Aku sejenak tersadar dan terperanjat, lalu melihat sekilas ke arah Pak Rangka yang kini sedang meneguk minuman bersoda. Saat Pak Rangka sedang meneguk, kutatap lekat wajah tampannya dari samping tanpa kedip. Aku betul-betul sudah terpesona dengan ketampanan Pak Rangka sejak pertama kali bertemu walaupun Pak Rangka galak dan killer seperti apa yang Rima katakan tempo hari.
Aku mengalihkan pandanganku saat Pak Rangka menoleh. Untung saja aku sudah kembali ke posisi semula, menatap ke luar jendela.
"Kamu tidak akan minum?" tanyanya tiba-tiba. Aku sejenak menoleh lalu menggeleng.
"Saya sudah membeli camilan ini banyak, kamu makanlah!" ucap Pak Rangka seraya memberikan sebuah kantong kresek berisi makanan kecil.
__ADS_1
"Makanlah, daripada kamu gelisah begitu!" titahnya yang terdengar seperti sebuah ejekan padaku. Aku tidak mengikuti arahan Pak Rangka, perhatikanku kembali ke luar jendela pesawat.
Pesawat semakin tinggi dari permukaan, daratan kini sudah tidak terlihat lagi, entah di ketinggian berapa kaki dari permukaan tanah? Saat operator pesawat tadi memberitahukan juga aku sudah lupa lagi. Kini daratan hanya terlihat seperti garis-garis kasar.
Tiba-tiba pesawat melewati awan hitam, hal yang tidak disangkapun terjadi. Pesawat mengalami goncangan yang lumayan kuat, suaranya gradak gruduk persis mobil melewati jalan berlubang. Sontak aku sangat ketakutan dan spontan berhambur ke dalam pelukan Pak Rangka dan mencengkram tangannya kuat.
Pak Rangka terkejut, spontan dia meremat jemariku yang berada di lengannya. Beberapa detik kemudian pesawat berjalan seperti biasa, namun aku masih belum melepaskan rangkulanku di tangan Pak Rangka.
"Maaf, Pak, saya tadi kaget dan takut," alasanku. Pak Rangka tersenyum hambar dan sepertinya menyepelekan ketakutanku karena goncangan tadi.
"Kamu pasti tidak terbiasa naik pesawat, jadinya seperti ini," ucapnya sepele. Aku tidak menyahut sebab memang tidak terbiasa. Setelah Pak Rangka berbicara seperti itu, tiba-tiba mataku sangat ngantuk dan lelah. Akhirnya lamat-lamat aku sudah tidak sadarkan diri dan beralih ke alam mimpi.
__ADS_1
Saat tersadar, rupanya pesawat sudah akan landing. Pak Rangka mengguncang bahuku sehingga aku tersadar dan terbangun. Aku sontak terkejut sebab bersamaan dengan itu pesawat menukik tajam menandakan sebentar lagi akan landing dan menuju landasan pacu.
Jantungku tiba-tiba seperti diayun dan lepas. dari tempatnya, spontan aku merangkul tubuh Pak Rangka dengan kencang. "Pakkkkk," pekikku ketakutan. Pak Rangka spontan membalas rangkulanku dan kami terlihat seperti sedang berpelukan. Tiba-tiba Mbak Dian yang sejak naik pesawat suaranya menghilang kini bersuara dan heboh memberi yel-yel ketika melihat kami sedang berpelukan. Padahal bukan berpelukan melainkan aku yang ketakutan dan merangkul Pak Rangka.
"Cie, cie, kalian mesra," ejek Mbak Dian usil. Kami sontak melepaskan pelukan masing-masing. Alangkah malunya aku ketahuan Mbak Dian si mulut usil dan ember. "Wakwakwakwak, kalian malu-malu, lanjutkan saja, kami tidak apa-apa kok," ujar Mbak Dian lagi dengan nada usil ciri khasnya.
Untungnya, pesawat benar-benar landing dan mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta, tepat pukul 12.52 WITA atau jam 11.52 WIB. Sehingga menyelamatkan kami dari keusilan Mbak Dian.
Keluar dari pesawat, aku mengikuti Pak Rangka di belakang bersama Mbak Dian. Sementara Rudi dan Pak Rangka berjalan di depan kami menuju bagian bagasi mengambil koper sebelum keluar dari pintu bandara.
Singkat cerita kami kembali dengan selamat ke kediaman masing-masing, Mbak Dian dan Rudi diantar lebih dulu ke rumahnya sebab kendaraan milik mereka sudah berada di rumah masing-masing di hari pertama kami berangkat ke Banjarmasin.
Sementara itu, aku tidak serta merta diantar pulang. Pak Rangka tanpa memberitahuku, memerintahkan Supir melajukan kembali mobil yang entah akan kemana. Aku merasa heran dan hanya bisa bengong mau kemana Pak Rangka sebenarnya mengajakku.
__ADS_1
Mobil Alphard yang mengantar kami berhenti tepat di depan restoran mewah. Pak Rangka mengajakku turun untuk makan terlebih dahulu sebelum mengantarkan aku kembali pulang.