
"Biarin saja, kali ini tidak akan aku turuti perintah Bos mesum itu. Pengen tahu bagaimana reaksinya. Lagipula dia tidak akan bela-belain datang kesini untuk menjemputku. Lebih baik aku tidur lagi." Kembali selimut hangat itu menutupi tubuhku, nyaman rasanya.
"Teh, Teh Sensi, di luar sepertinya ada mobil Bos Teteh yang tampan itu. Tuh, dia sudah turun dan datang kemari lho, Teh," seru Aloe dari luar kamar dengan suara yang sedikit keras. Bapak dan Ibu yang sedang berada di dapur akhirnya mendengar ucapan Aloe.
Sampai suara salam itu terdengar, aku masih malas untuk bangun. "Teh, Teteh tidak akan bangun, itu Bos Teteh sudah di depan dan menunggu. Bapak barusan yang membuka pintu." Lagi suara Aloe mengganggu tidurku. Terpaksa, aku bangkit dan keluar kamar.
Saat keluar kamar, sejenak aku menuju ruang tengah dan sengaja mengintip dan menguping obrolan Bapak dan Pak Rangka.
"Tunggu sebentar Nak Rangka, anak saya sepertinya sedang bersiap-siap dulu. Maklum anak gadis, kalau berdandan suka lama."
"Tidak apa-apa Pak, saya santai saja. Kemarin saya sempat khawatir, soalnya Sensi saat pulang sangat terburu-buru dan bilangnya tidak enak badan."
"Tapi, sepertinya sekarang anak saya sudah baikan," ujar Bapak lagi. Obrolan keduanya mengalir begitu saja membahas aku yang sebenarnya sedang mengintip dari balik pintu ruang tengah. Saat aku berhasil melihat tampilan Pak Rangka, seketika hatiku lulu. Pak Rangka tampilannya keren sekeren Lee Min Jo mau ke kantor. Dari awal yang membuat aku suka sama Pak Rangka adalah ketampanan dan wangi tubuhnya. Parfumnya saja wanginya sampai ke dapur.
"Teteh, kenapa malah ngintip di sini, bukannya siap-siap. Itu lho Nak Rangka sudah menunggu di depan," ujar Ibu mengacaukan misi ngintipku. Suaranya yang kedengaran sampai ruang tamu, otomatis membuat Pak Rangka dan Bapak terkejut, Pak Rangka sampai berdiri dengan mata menuju pintu ruang tengah, memindai keberadaanku yang disebutkan Ibu tadi.
Aku membelalak dan terkejut, lalu dengan segera membalikkan badan dan berlari kecil hendak menuju kamar. Ibu yang melihat kelakuanku senyum-senyum dan geleng kepala, lalu mengikutiku. Sayangnya Ibu tidak bisa masuk karena pintu sudah aku kunci.
Dengan berat hati akhirnya akau berdandan memakai pakaian kantor seperti biasanya dengan kemeja atas ku tutupi dengan blazer hijau sage. Setelah merasa cantik tapi dandananku tidak menor, dengan perasaan ragu aku keluar kamar dan berjalan kecil menuju ruang tamu. Mendadak aku merasa seperti akan menemui pacar padahal bukan.
"Tuh, anak saya sudah siap rupanya." Bapak menoleh sambil menunjuk ke arahku yang langsung diikuti tatapan mesum Pak Rangka. Setakjub apapun, kini tatapannya bagiku bagaikan tatapan mesum.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, Pak, Bu." Pak Rangka berpamitan sama Bapak dan Ibu sesopan mungkin, padahal aku yakin ini hanya trik Pak Rangka saja supaya mendapat simpatik Ibu dan Bapak.
"Baiklah Nak Rangka, hati-hati ya! Titip anak saya," ujar Bapak. Pak Rangka kembali tersenyum ramah pada Bapak dan Ibu serta memberi kode padaku supaya mengikutinya. Aku mengekorinya dan langsung pada pintu mobil yang ternyata dibukakan Pak Rangka. Seketika aku merasa so sweet, bak putri raja yang dibukakan pintu oleh pangerannya.
Mobil Pak Rangka keluar halaman rumah orangtuaku. Lalu melajukan kemudinya dengan kecepatan sedang, sesekali wajahnya menoleh ke arahku lalu tersenyum. Entah senyum apa, yang jelas saat ditatap seperti itu, tiba-tiba ada desiran kuat dalam hati. Aku hanya menunduk tersipu malu ditatap lembut Lee Min Jo, rasanya~.
"Kenapa, kok kamu malu-malu dilihat saya seperti itu. Kamu terpesona akan ketampanan saya?" ujarnya membuat aku tiba-tiba hilang selera mendengar kata-kata narsisnya. Aku memalingkan muka ke samping pintu, rasanya tidak sanggup harus bersitatap dengan muka tampan yang kini sok kepedean.
"Kamu cantik banget hari ini, rasanya saya jadi gemas ingin ...." sendatnya tidak melanjutkan kata-katanya, aku jadi curiga jangan-jangan Pak Rangka mau berbuat mesum padaku melihat jalanan yang masih sepi karena masih pagi. Dan dugaanku mendekati benar, tiba-tiba saja mobil Pak Rangka menepi di bahu jalan dan kini benar-benar berhenti.
"Bapak kok berhenti?" Aku heran seraya mempersiapkan diri siapa tahu Pak Rangka akan berbuat hal yang tidak senonoh.
"Kenapa, ada apa dengan tangan kamu? Memangnya saya mau apa menurutmu?" Pak Rangka berhasil menerka pergerakan tanganku yang tadi akan menepis tangan Pak Rangka yang ternyata memasangkan sabuk pengamanku.
Artinya aku telah salah paham sama Pak Rangka yang kini sudah berhasil memasangkan sabuk pengaman dan berhasil meremas jemariku dengan jalinan yang erat. Kini Pak Rangka bukan menyingkir, namun tubuhnya malah mendekat dengan wajah yang sangat dekat dengan wajahku. Pergerakanku terkunci dengan kungkungannya.
"Kamu tadi sudah salah paham dengan saya, jadi sekarang saya harus menghukummu dengan yang setimpal," ujarnya penuh ancaman. Aku mendadak gemetaran dan takut akan perbuatan Pak Rangka yang akan berbuat tidak senonoh.
Deru nafas Pak Rangka kini terasa memburu, rematan erat tangannya di jemariku semakin erat, tubuhnya semakin mendekati tubuhku. "Aku merindukan kamu Sensi, ijinkan saya menciummu. Mencium bibirmu," mohonnya Sendu. Aku ingin menolak namun hatiku yang liar malah memaksa untuk menerima ajakan mesumnya Pak Rangka. Aku tidak menolak atau menyetujui, yang jelas saat itu mataku refleks terpejam seakan siap menerima ciuman dari Pak Rangka.
Deru nafasku juga memburu, aku yang awalnya takut Pak Rangka akan melakukan hal yang tidak senonoh, kini hasrat keperempuananku yang haus belaian pria tiba-tiba muncul. Sungguh memalukan. Satu menit, dua menit, bibirku belum dicium juga. Namun ....
__ADS_1
"Cup." Lima detik pipi kiriku. Aku semakin memperdalam pejaman mataku. Lalu, "cuppppp." Kecupan itu beralih di keningku lebih lama dari ciuman di pipi. Dan aku semakin memperdalam pejaman mataku.
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin dicium bibirnya. Walaupun saya ingin, tapi belum waktunya. Biarlah ciuman pertama di malam itu menjadi ciuman yang akan kita ulang nanti, jika saatnya tiba," ujar Pak Rangka mengagetkan aku yang tengah terpejam merasakan ciuman Pak Rangka.
Aku langsung merasa sangat malu ketika tersadar. Rasanya ingin pingsan saja saat itu. Perlahan Pak Rangka menjauhkan tubuhnya namun masih meremat jemariku. Dia menatapku yang malu.
"Kenapa kamu malu, bukankah ini keinginan kita? Kamu pikir saya akan mencium bibir kamu yang menggemaskan itu? Tunggulah nanti, ciuman itu akan saya labuhkan disaat yang tepat, akan saya buat orang-orang iri melihat ciuman kita," ungkapnya, sejurus kulihat ucapannya sangat serius.
"Ka-kapan, Pak?" ceplosku tanpa kusadari. Lagi-lagi mulut ini kembali nyeplos begitu saja tanpa rem. Pak Rangka tersenyum melihat tingkahku yang memalukan ini.
"Ohhhh, kamu sudah tidak sabar rupanya? Sekarang juga bisa kalau kamu mau, mungpung sepi," ucap Pak Rangka diiringi tawa lalu mendekati wajahku kembali. Sontak aku menghindar, kali ini aku benar-benar sadar dan akal pikiranku sangat sehat.
"Ha ha ha ha, Sensi, Sensi. Kenapa, kamu takut ya? Tadi pasrah dan sepertinya siap untuk menerima sentuhan bibir saya," ujar Pak Rangka masih tertawa. Aku masih menghindar, wajahku aku sembunyikan ke samping jendela karena sangat malu.
"Sudahlah jangan malu begitu, saya minta maaf jika membuatmu menjadi malu. Ayolah, duduknya yang benar. Kita harus menjemput Glassy di rumah, kita akan sarapan pagi bersama," ujar Pak Rangka sembari membelai pipiku sejenak dan melepaskan rematan tangannya. Deru nafasku sejenak lepas dan teratur kembali, tidak seperti tadi yang memburu.
Pak Rangka kembali memegang kemudinya, lalu melajukan lagi mobilnya perlahan, sesekali masih menoleh ke arahku yang masih malu dan mengatur nafas.
"Jujur saja kamu sangat cantik dan menggemaskan hari ini, sampai hampir saja saya akan menodai kesucian bibir kamu untuk yang kedua kali," godanya sembari mencolek tangan kananku dengan tangan kanannya. Pak Rangka benar-benar mulai genit. Tanpa Pak Rangka sadari aku membalas colekan tangannya dengan cubitan kecil di pinggangnya.
"Sensi, sudah berani kamu ya." Pak Rangka menepikan kembali mobilnya di bahu jalan, lalu membalas cubitannya dengan menggelitik pinggangku.
__ADS_1