
NB; Ada dua bab dalam satu part
"Sensi, siapkan bajuku untuk besok. Aku akan keluar daerah selama dua hari," berita Rangka. Sejenak Sensi tertegun dan berpikir, kenapa tiba-tiba suaminya akan keluar kota, ke daerah lagi. Dan yang membuat Sensi sedikit sedih, kini suaminya tidak lagi memanggilnya sayang seperti biasa. Bisa jadi semua ini gara-gara ulah ucapan Krisna tempo hari saat bertemu di acara pertunangan Dian.
"Ke luar daerah. Kemana, Mas? Kenapa tidak Kak Cakar saja yang diperintahkan keluar daerah, dia kan tangan kanan Mas Rangka? Mas Rangka Bos perusahaan Kertassindo Gemilang, punya wewenang untuk memberi mandat pada bawahannya untuk melaksanakan tugas ke luar daerah. Kalau Mas lagi, Mas lagi, lebih baik tidak usah punya tangan kanan," protes Sensi seraya memilihkan kemeja paling pantas untuk Rangka.
"Kamu kenapa merepet seperti itu, aku tidak perlu diajarin sama kamu? Lagipula ini sangat mendesak, hanya pemilik perusahaanya yang bisa menghadiri, tidak bisa diwakilkan. Dan ini sangat urgent, kecuali sang pemilik perusahaan sakit keras," terang Rangka tegas. Sensi menghela nafas dalam, sejenak dia tertegun.
"Apakah Mas Rangka tidak butuh aku temani?" tanya Sensi melemah, tiba-tiba dia sangat begitu sedih mengingat akan ditinggalkan Rangka ke luar daerah.
"Kenapa? Kamu ingin menemaniku? Atau kamu kesepian jauh dari aku? Bukankah diluaran sana masih banyak pria-pria yang mengagumi kamu? Seharusnya itu cukup membuatmu bahagia dan tidak sepi karena kamu bisa membayangkan kekaguman mereka sama kamu. Kalau aku, apaaalah aku ini? Hanya seorang suami yang penyakitan dan dan harus rela istrinya dikagumi orang lain," tutur Rangka pesimis dan datar, membuat Sensi hatinya teriris.
"Mas, stop, Mas. Walau kata Mas tadi aku dikagumi banyak laki-laki lain, tapi aku tidak pernah merasa bangga dikagumi lelaki lain. Aku tidak butuh kekaguman mereka, Mas. Aku hanya cukup dikagumi satu pria, yaitu kamu. Kamu yang aku cinta," ungkap Sensi seraya memeluk erat Rangka seraya menangis.
"Kenapa tidak ajak sekalian aku, Mas? Aku takut di luaran sana kamu terpikat perempuan lain yang lebih segalanya dari aku dan tidak ceplas-ceplos seperti aku," pintanya masih terisak.
Perlahan Rangka melepaskan pelukan Sensi, dia menatap lekat istri yang masih baru dinikahinya itu. Ada iba dalam dirinya, tapi kecemburuan terlanjur menguasai dirinya. Rangka sadar, setelah menikah dengan Sensi dia otomatis mengajak Sensi kemana-mana, memperkenalkannya pada relasinya dan teman bisnisnya. Tapi, dari sinilah masalah dimulai. Ada saja salah satu atau bahkan beberapa temannya yang sengaja mengagumi Sensi. Rangka menjadi sangat kesal dan rasa kesalnya kini sedang dicurahkan pada Sensi yang memang tidak melayani pria-pria itu.
"Aku tidak mau ngajak kamu lagi. Lagipula pastinya semua teman-teman aku akan fokus sama kamu dan mengagumi kamu. Kamu tidak ingin melihat aku BT terus seperti ini lagi, kan?" cetus Rangka seraya menjauh dari Sensi.
Sensi semakin sedih dengan ucapan Rangka barusan. "Harusnya kamu bangga, Mas, melihat istrinya dikagumi pria lain. Lagipula aku tidak pernah membalasnya dan melayani mereka, lalu kenapa kamu keberatan?" ujar Sensi menghampiri Rangka masih terisak.
"Ok, sekarang kamu masih terlihat lugu dan tidak ada indikasi ke arah curang di belakang aku. Tapi, detik ini aku mulai jaga-jaga supaya kejadian di masa lalu hidupku tidak terulang lagi. Apakah kamu tahu, mantan istri aku yang pengkhianat itu pergi meninggalkan aku gara-gara aku penyakitan dan asmaku sering kambuh saat jalan bersama dia? Dia malu dan pergi karena kepincut lelaki lain yang menurutnya lebih baik. Apakah kamu mau mengikuti jejaknya? Apalagi kamu yang sering beramah tamah dengan teman aku yang sengaja menggodamu, itu sudah cukup jelas memberi sinyal yang mengarahkan jika kamu juga punya potensi meninggalkan aku dan Glassy," tegas Rangka membuat Sensi terhenyak.
Sensi sedih dituduh negatif seperti itu, dia mencintai Rangka, tidak mungkin dia pergi dan berkhianat sama suaminya yang sangat dia cintai. Sumpah demi apapun, Sensi pantang untuk berselingkuh atau berkhianat.
"Mas Rangka, tega banget Mas tuduh aku senegatif itu. Aku tidak pernah berpikir ke arah sana. Aku mencintai kamu sejak awal, jadi tidak mungkin aku berkhianat padamu. Aku sungguh-sungguh cinta padamu, Mas. Kalau masalah aku beramah-tamah sama teman Mas Rangka yang menegurku, masa iya aku harus membalasnya ketus? Aku juga punya perasaan dan sikap. Aku rasa, selama teman-teman Mas Rangka menegur aku, aku selalu bersikap sewajarnya dan tidak keganjenan atau kegatelan seperti yang pernah kamu bilang," ujar Sensi membela diri dengan isak tangis.
Isak tangis kini memenuhi kamar itu, Sensi sakit hati dengan perlakuan Rangka yang menuduhnya negatif.
"Sudahlah, tidak perlu menangis lagi. Lagipula kenapa kamu ingin ikut? Kalau kamu ikut, lantas Glassy di sini dengan siapa? Kamu menikah dengan aku selain ingin menjadi istri aku, juga ingin jadi Ibu sambung yang baik buat Glassy, bukan?" tekan Rangka menyadarkan Sensi.
Sensi termenung sejenak sembari menyeka air matanya yang bercucuran. Tanpa bicara lagi, Sensi menyiapkan segala keperluan suaminya, dari mulai inhaler, obat masuk angin cair dan sikat giginya dalam dua wadah yang berbeda kemudian dia letakkan di dalam tas kecil yang akan disampirkan di leher Rangka.
**
__ADS_1
Keesokan harinya, Rangka sudah bersiap akan pergi ke kota Banjarmasin. "Mas di kantong ini inhaler dan obat masuk anginnya. Sikat gigi di sini," aba-abanya menunjuk tas kecil yang akan disampir Rangka.
"Papa, jangan lupa oleh-olehnya." Glassy menghampiri seraya mencium tangan Rangka. Rangka membalas, dipangkunya Glassy lalu diciumi kening dan wajah Glassy.
"Papa pergi dulu, ya, Sayang. Hati-hati di rumah. Jangan lupa sekolahnya yang semangat," pesan Rangka lalu melepaskan Glassy yang langsung lari menuju Neneknya yang kebetulan berkunjung karena ingin mengantar kepergian rangka ke kota Banjarmasin.
"Mas." Sensi meraih tangan Rangka lalu diciumnya meskipun Rangka tidak bersikap hangat. Sejenak Sensi memeluk Rangka cepat, tiba-tiba Rangka mencium kening Sensi dan menetapnya sejenak. Sensi melepaskan pelukan Sensi, dia berlalu tanpa melihat lagi Sensi.
Sensi terpuruk dan menangis di dalam kamar, sikap dingin Rangka jelas sangat menyakitinya. Sensi segera keluar kamar menuju balkon dia melihat dan melambaikan tangan meskipun Rangka tidak melihatnya.
"Semoga kamu selamat Mas, pulang dan pergi dalam keadaan sehat wal'afiat. Cinta dan doaku selalu menyertaimu, I love you, Mas Rangka," bisik Sensi mengiringi kepergian Rangka Baja suami yang sangat dicintainya.
Suara Bu Catly Baja sang Mama mertua menyadarkan Sensi supaya menyudahi kesedihan dan isak tangisnya.Sensi menuruni tangga dan menghampiri Mama mertuanya, wanita paruh baya yang humble, modis, serta cantik, juga baik hati.
"Mama," panggil Sensi seraya menyalami Bu Catly yang baru selesai mengiringi kepergian anaknya ke bandara.
"Sensi Sayang, kamu tidak antar Rangka barusan di sini?" tanya Bu Catly mempertanyakan Sensi yang tadi tidak mengantar kepergian Rangka ke bandara.
"Tidak, Ma. Tadi di kamar setelah Mas Rangka pamit, Sensi langsung ke kamar mandi karena skit perut. Perut Sensi tadi mulas sehingga tidak bisa antar sampai pintu depan." Sensi memberi alasan yang jelas bohong.
"Kamu habis menangis?" tanya Bu Catly heran. Sensi menggeleng.
"Ya, ampun, Sayang. Kok bisa. Apakah kamu masuk angin. Ya sudah suruh Bi Narti kerokan supaya tubuh kami enakan, sepertinya kamu masuk angin." Bu Catly terlihat panik sembari memanggil Bi Narti untuk mengambil obat di kotak P3K untuk mengobati Sensi.
Dalam hati Sensi sudah ketar-ketir karena ulah bohongnya.
"Tidak, Ma, tidak usah. Biarkan saja, ini hanya sakit biasa. Lagipula Sensi tidak biasa dikerok," cegah Sensi seraya mengangkat tangannya menolak tawaran Mama mertuanya.
Bu Catly akhirnya percaya dengan apa yang diucapkan Sensi. Wajah khawatirnya kini hilang lagi.
***
#Dicintai Lelaki Yang Sama-sama Duda
Rangka kini sedang menikmati perjalanan udaranya bersama tim dari perusahaan Kertassindo Gemilang. Seketika bayangan Sensi yang sedih dan menangis tadi kini terbayang kembali. Sebetulnya dia memang tidak tega membiarkan Sensi sedih dan menangis seperti tadi. Tapi karena perasaan cemburu yang terlalu besar, Rangka sengaja membiarkan Sensi merasa bersalah. Terlebih saat Sensi terlihat sangat sedih ketika Rangka tidak memanggilnya lagi 'sayang', hati Rangka sempat merasa puas.
__ADS_1
"Ya ampun, istri sebaik Sensi tega aku buat sedih dan menangis. Aku minta maaf, sayang. Aku menyesal, aku bersikap demikian karena aku cemburu. Aku takut kehilangan dirimu. Sebab bayang-bayang masa lalu aku seakan menari-nari dalam benakku. Aku takut kamu melakukan hal yang sama saat dirimu mampu beramah-tamah dengan pria lain." Rangka berpikir di dalam hatinya dan menyesali sikapnya yang tidak baik terhadap Sensi tadi.
Sikap Rangka ini, bisa jadi dipicu oleh messenger dari Delana, Ibu kadung Glassy yang tiba-tiba ingin bertemu Glassy. Rangka tidak peduli dengan messenger itu. Lagipula dia tidak tertarik mempertemukan Glassy dangan Ibu kandungnya yang telah mengkhianatinya dua tahun yang lalu.
Pesawat semakin tinggi meninggalkan daratan entah di ketinggian berapa kaki, yang jelas pada saat pesawat akan mendarat, Rangka terkejut dan bangun.
"Sensi," gumannya seraya tersentak dan bangun.
Saat bersamaan, Sensi yang kini sedang merasa sedih karena sikap Rangka tadi, semakin murung saat tiba-tiba akun media sosialnya dibanjiri sebuah pesan messenger dari seseorang.
"Sensi, saya kecewa mendengar kamu sudah menikah dengan Pak Rangka, padahal sejak ketemu kamu di Banjarmasin saat itu, saya sudah merencanakan akan melamar kamu. Dan tahukah kamu saat di acara pertunangan Dian, rencana saya tadinya akan menemui kamu dan melamar kamu. Tapi sayang, saya malah bertemu kamu sama Pak Rangka yang tiba-tiba saat itu mengakui kalau kamu istri sahnya dia. Hancur hati saya. Kamu memang sudah membuat hati saya hancur berkeping-keping. Saya pikir saat bertemu di Banjarmasin itu, kamu tidak sedang pacaran dengan Rangka. Saya benar-benar kecewa."
Sensi membuka messenger itu yang terpaksa dia baca. Isinya sangat memprihatinkan, tentang isi hati seorang lelaki duda yang mendambakan cintanya gadis seperti Sensi. Tapi harus patah hati karena ternyata gadis itu sudah diketahuinya menikah tanpa dia duga sebelumnya.
"Maafkan aku Mas Krisna, aku tidak ada maksud menyakiti atau membuatmu patah hati. Mungkin kita bukan jodoh. Aku tahu Mas Krisna baik, dan aku yakin suatu hari nanti Mas Krisna pasti akan mendapatkan jodoh perempuan yang lebih baik segalanya dari aku." Sensi berdoa dengan tulus untuk Krisna yang patah hati karena dirinya.
Sensi segera menutup akun sosial medianya dan tidak membukanya lagi, sebab dia takut Krisna menghubunginya lagi lewat messenger itu. Sensi menarik nafasnya berat, kini dia juga merasa bersalah dan iba pada Krisna. Padahal jika dilihat dan dibandingkan, Krisna menurut Sensi tipe cowok yang sabar dan lemah lembut, tidak seperti Rangka yang menurutnya baru dua bulan menikah sudah terlihat sifat aslinya tidak sabaran dan mudah marah karena dilanda cemburu buta.
"Ya ampun, mikir apa aku ini, kenapa jadi membandingkan Mas Rangka sama Mas Krisna? Duhhh, ampuni aku, ya Allah." Sensi langsung menyadari kekeliruannya yang tiba-tiba saja dalam pikirannya membandingkan Rangka dan Krisna.
Dua hari kemudian, pagi itu setelah mengantar Glassy sekolah, Sensi menuju halaman belakang untuk menyiram tanaman sambil menenangkan hati dan pikirannya yang sedang galau. Sebab sudah dua hari sejak kepergian Rangka ke Kalimantan, suaminya itu entah kenapa tidak bisa dihubungi maupun menghubunginya sekali pun. Hal ini menjadi Sensi sangat sedih.
Sensi duduk di bangku panjang taman itu sembari menatap satu persatu bunga yang bermekaran yang nampak segar setelah disiram barusan.
Sensi perlahan meraih Hpnya di saku rok. Dia kini membuka aplikasi WA, lalu melihat percakapan bersama Rangka. Terakhir percakapannya hanya sampai di menanyakan sudah makan atau belum. Dan pesan WA itu pun terjadi saat dua minggu yang lain. Rasa sedih dan merasa disisihkan kini muncul di dalam dada Sensi.
Dia merasa Rangka berubah dan mudah marah, padahal dia sama sekali tidak pernah berpikir untuk pergi atau mengkhianati Rangka. Sensi ingin mencoba menghubungi Rangka lagi, tapi dia ragu.
Akhirnya Sensi hanya bisa menatap layar percakapan dirinya dengan Rangka. Sensi rindu dengan panggilan sayang dari Rangka lagi.
"Mas, kamu di mana, kenapa tidak mengabari aku? Sudah aku hubungi berulang kali tapi Hp kamu di luar jangkauan. Aku rindu kamu yang dulu saat masih jadi Bos aku, walaupun galak tapi perhatian. Kenapa kamu sekarang berubah dan marah padaku tiap aku disapa ole salah satu atau beberapa teman pria kamu? Sungguh aku sedih saat kamu menuding aku ditakutkan mengikuti jejak mantan istri Mas Rangka." Ketak-ketik akhirnya pesan yang tadinya hanya ketikan saja, kini terkirim ke HP Rangka, dan bikin kagetnya pesan WA itu langsung terkirim.
Ada lega dalam hati Sensi. Saat bersamaan Hp Sensi tiba-tiba berbunyi sebuah panggilan masuk dari Rangka membuat Sensi berdiri dan terlonjak.
Sensi mengangkat telpon itu dengan hati gembira.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Mas, kamu apa kabar? Kenapa baru menghubungi? Maafkan aku jika membuatmu selalu kesal dan kecewa," jawabnya ambil terisak. Suara tangisnya kini terdengar seperti dalam sebuah speaker.
"Sensi," ucap seseorang seraya memeluk Sensi dari belakang seraya mencium kepala Sensi sayang.