
Rupanya lelaki tampan yang bertubrukan dengan Aloe di depan toko jam tangan terbesar di kota itu adalah Cakar Besi asisten pribadinya Rangka Baja. Setelah berhasil mengantongi nomer plat motor gadis muda itu, Cakar penasaran ingin tahu dengan nama gadis tadi dengan menanyakan pada pelayan jam tangan tadi yang menerima bon tanda lunas.
"Mbak, boleh tahu siapa nama gadis yang tadi ambil jam tangan sebelum saya?" tanya Cakar penasaran.
"Yang mana, ya, Mas? Yang pakai helm tadi, bukan?" Cakar langsung mengangguk, sebab apa yang ditanyakan pelayan jam tangan tadi, tepat.
"Oh sebentar, saya lihat di bon." Cakar sabar menunggu sembari harap-harap cemas.
"Ini, kebetulan bonnya masih ada di kami. Namanya Aloe Vera," ujar pelayan toko itu jelas.
"Wah kebetulan ada nomer telponnya, bolehkah saya meminta nomer telponnya, sekalian saya ada perlu sebab barusan euhh, pulpen dia sempat jatuh," alasan Cakar bohong besar hanya untuk mendapatkan nomer Hp Aloe.
Pelayan toko itu sejenak termenung, mungkin saja dia tengah berpikir keras, apakah memberikan atau tidak nomer Hp customer pada orang lain.
"Tapi benar, ya, untuk mengembalikan pulpennya yang jatuh, maaf jangan disalah gunakan nomernya, Mas." Pelayan toko memberikan peringatan keras pada Cakar supaya tidak disalahgunakan.
"Tidak, kok, Mbak. Masa orang setampan saya sejahat itu. Malu dong sama tampang," seloroh Cakar diakhiri senyum penuh canda. Pelayan toko itu hanya tersenyum membalas candaan Cakar.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Cakar kemudian pamit, bergegas menuju mobilnya. Lalu kembali ke kantornya karena jam istirahat hampir habis.
Kembali ke Sensi
__ADS_1
Tidak berapa lama setelah Aloe, adiknya pamit pulang karena mau ke toko jam tangan dulu, Pak Sukir penjual pempek keliling tiba bersama gerobaknya ditemani Bu Sindi istrinya. Sensi sangat senang, setelah tadi dia menunggu lama akhirnya penantian dia datang juga.
"Asik, pempeknya datang juga," gumannya gembira. "Sayang banget, Aloe sudah keburu pulang. Coba kalau belum pulang pasti aku traktir jajan pempek," celotehnya kecil seraya mendekati gerobak Pak Sukir. Kedatangan Sensi disambut bahagia keduanya, suami istri itu kompak menyapa Sensi.
"Non pempeknya, Non?" tawar mereka bersamaan. Kompak banget suami istri pedagang pempek ini, membuat Sensi begitu salut. Iseng-iseng Sensi rasanya ingin bertanya pada kedua orang paruh baya ini, selalu kompak dan saling dukung satu sama lain. Sensi penasaran, apakah mereka pernah bertengkar atau tidak.
"I~iya, Pak Sukir, Bu Sindi. Saya pesan empat porsi. Semuanya pakai pedas, ya, supaya lebih nampol." Sensi sengaja pesan empat porsi, untuk dirinya dua bungkus, untuk Bi Narti dan Pak Mamat satu bungkus.
Pak Sukir dibantu Bu Sindi menyiapkan masing-masing pesanan pempek Sensi. "Apa saja, Non, kumplit atau tidak?" tanya Bu Sindi.
"Campur saja, Bu."
Dengan sigap dan cekatan, Bu Sindi menyiapkan mangkok yang di atasnya dialasi plastik transparan untuk wadah pempek yang dipesan Sensi. Sambil mereka menyiapkan, Sensi bersiap-siap menyiapkan pertanyaan untuk kedua orang tua itu yang terlihat selalu akur dan kompak. Sensi menilai mereka tidak pernah bertengkar.
"Sepertinya kalian berdua selalu akur dan kompak, apakah kalian pernah bertengkar satu sama lain, lalu kalau kesal sampai keluar kata-kata kasar yang bisa menyakitkan hati pasangan masing-masing?" lanjut Sensi tanpa menunggu jawaban dari dua orang paruh baya penjual keliling pempek itu.
"Kami hampir tidak pernah bertengkar, Non. Hanya pertengkaran biasa saja yang nantinya sebentar lagi baikan lagi. Kami kalau bertengkar tidak pernah berkata kasar atau mengatakan hal yang menyakiti pasangannya. Kalau salah satu diantara kami berdua ada yang sedang memanas, maka salah satu di antara kami cukup diam saja tidak ikut-ikutan panas." Bu Sindi menuturkan pengalaman hidup dalam pernikahannya.
Sensi manggut-manggut atas cerita Bu Sindi tentang kehidupan rumah tangganya.
"Ini, Non, pempeknya sudah siap, empat bungkus, kan?" sodor Bu Sindi. Sensi yang tengah melamun tersentak, lalu berdiri menerima pempek yang disodorkan Bu Sindi. Sensi membayar harga pempek, lalu berlalu masuk ke dalam gerbang, tidak lupa berterimakasih pada kedua paruh baya tersebut.
__ADS_1
Pak Sukir dan Bu Sindi segera berlalu setelah Sensi selesai jajan pada mereka.
Sensi dengan hati yang senang bergegas menuju dapur untuk menuang pempek yang dia beli. Bi Narti yang sejak tadi mengetahui majikannya menunggu pempek, langsung menghampiri dan menawarkan bantuan.
"Non Sensi, biar saya bantu tuangkan."
"Tidak Bi Narti, tidak usah. Saya udah menuangkan ke dalam mangkok. Ini pempek buat Bi Narti dan Pak Mamat, sengaja saya tadi belikan. Cepat dimakan mungpung masih panas."
"Wahhh, kenapa repot-repot, Non? Padahal tidak perlu belikan Bibi jajanan, makanan di sini saja Bibi sudah cukup," ujar Bi Narti segan.
"Biar saja, Bi. Sekali-sekali ini, kok. Segera dimakan selagi hangat, rasanya enak dan segar." Sensi memberi usul seraya bergegas menuju pintu belakang dengan tujuan taman belakang.
Sensi menikmati dua porsi pempek yang tadi dia tuangkan ke dalam mangkuk besar. Rasa sedihnya gara-gara Rangka yang marah karena air kopi panas tumpah di jalan tadi, sedikit terkikis dan bisa dilupakan sejenak.
"Sruput, sruput." Sensi menyeruput kuah cuka pempeknya yang terakhir hingga tandas tidak bersisa. "Alhamdulillah," ucapnya bersyukur dengan nikmat yang baru saja dia dapatkan.
Dua bungkus porsi pempek dia habiskan tanpa ampun, rasanya itu bagi dia terasa kurang, sebab satu porsinya saja isinya tidak banyak. Entah kenapa Sensi akhir-akhir ini ingin makan yang segar-segar, padahal menurutnya tidak hamil seperti dugaan Aloe, adiknya. Sebab tadi pagi, Sensi sempat melihat flek di jeroannya. Jadi, tidak mungkin dia hamil.
Setelah makan pempek, tiba-tiba kesedihannya akibat dimarahi Rangka kini terbayang kembali diingatannya, Sensi berusaha menepisnya, tapi tetap saja sedih. Untuk menepis ingatannya dari sakit hati yang diakibatkan Rangka, Sensi bangkit dan meraih selang untuk menyiram bunga-bunga di hadapannya.
Aksi menyiram Sensi diam-diam mendapatkan perhatian dari Rangka yang kebetulan sudah kembali dari kantornya tepat kumandang adzan Lohor diperdengarkan. Sensi menghentikan menyiramnya, dia kembai ke bangku kosong di taman itu. Sejenak Sensi seakan ingat dosa-dosanya yang menggunung.
__ADS_1
Sensi masih duduk diam di taman belakang itu dengan berbagai perasaan yang kini berkecamuk di dalam dadanya. Perlahan Sensi bangkit untuk menyudahi menyiram bunganya di taman belakang, dia kini akan ke kamar, sebab rasa kantuk sangat menyerangnya.