
"Assalamualaikum!" Suara salam menggema bersamaan dengan berdebarnya jantungku. Ibu dan Bapak juga Aloe adikku sepertinya juga merasakan debaran jantung yang sama. Yang mampu kami lakukan sejenak hanya saling pandang satu sama lain. Bapak memberi kode supaya Ibu saja yang membuka pintu, sedangkan Ibu memberi kode supaya Aloe saja yang membuka pintu. Mereka sepertinya saling tuding untuk membukakan pintu.
"Teh, gawat, di luar sepertinya bukan utusan Bosnya Teteh, akan tetapi Bos Teteh sendiri dan rombongannya." Aloe berkata dengan risau, ia sepertinya sangat terkejut dengan kedatangan rombongan tamu yang banyak dari keluarga Pak Rangka.
"Pak, Bapak saja yang buka pintu. Sepertinya Bosnya si Teteh sudah tidak sabar ingin segera dibukakan pintu. Bapak tanyakan saja apa maksud kedatangan mereka. Kita, kan, tidak tahu apa maksud mereka sebenarnya," suruh Ibu menuding Bapak. Bapak nampak segan, beliau menghela nafas sejenak mengatur nafas yang dalam. Kemudian berdiri dan bermaksud membuka pintu. Sementara hatiku semakin berdesir dilanda gelisah dan beribu pertanyaan.
"Waalaikumsalam," balas Bapak lirih seraya membuka pintu lebar-lebar. Mendengar sambutan dari Bapak, Pak Rangka nampak tersenyum gembira. Hatiku mendadak semakin kacau melihat senyuman semanis itu. Di depan Bapak, jelas berdiri pria tampan yang berpakaian rapi dengan parfum yang menguar di udara, membuat semua terpana dengan wangi yang semerbak dari tubuhnya. Untuk sejenak Bapak termenung dan heran melihat kedatangan rombongan Pak Rangka yang banyakan dan sepertinya bukan sekedar mau menjemputku semata kalau dilihat dari tampilannya.
"Pak, apakah saya beserta rombongan boleh masuk ke rumah Bapak ini?" tanya Pak Rangka membuyarkan termenungnya Bapak.
"Oh, bo-boleh, Nak Rangka. Si-silahkan. Silahkan masuk," ujar Bapak sedikit gugup sembari mempersilahkan rombongan Pak Rangka masuk. Untung saja ruang tamu dan ruang tengah tidak berantakan, jadi semua kru rombongan Pak Rangka pada saat itu juga bisa dipersilahkan masuk dan memenuhi ruangan tamu dan tengah rumah kami. Rombongan yang sekitar 20 orang itu bisa muat dalam rumah Bapak.
Hatiku semakin gelisah tidak karuan, setelah Pak Rangka menanyakan keberadaanku. "Sensinya di mana, Pak?" tanya Pak Rangka sembari celingukan mencariku.
"Ohhh, ada. Sensi di dalam. Tapi, kalau boleh tahu maksud kedatangan Nak Rangka mendatangi rumah kami dengan rombongan ini untuk apa?" Akhirnya rasa heran Bapak bisa dilontarkan saat itu juga.
__ADS_1
"Sebelumnya saya minta maaf apabila kedatangan kami ke rumah Bapak secara mendadak ini cukup mengejutkan keluarga Bapak. Bukan tidak ada maksud kami datang kemari, namun kedatangan kami khususnya saya kemari, ada maksud khusus pada anak Bapak. Untuk lebih jelasnya biar Ibu saya langsung yang menyampaikan." Pak Rangka dengan lantang berbicara, lalu menyerahkan pembicaraan selanjutnya pada Bu Catly yang sepertinya sudah siap dengan apa yang akan dikatakannya.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Catly Baja, ibu kandung dari anak saya yang bernama Rangka Baja. Maksud kedatangan kami kemari tidak lain adalah ingin melamar anak Bapak dan Ibu, yaitu Sensi untuk anak saya Rangka Baja," jelasnya tegas, padat dan singkat membuat semua penghuni rumah ini terkejut tidak percaya sekaligus terharu. Tanpa basa-basi Bu Catly menyampaikan niatnya.
"Apa, melamar anak saya? Bukankah Nak Rangka datang ke sini untuk menjemput Sensi sebagai tamu khusus di acara lamaran Nak Rangka?" kejut Bapak tidak percaya. Ibu dan Aloe pun terkesima dibuatnya atas ucapan Bu Catly.
"Benar sekali. Sensi adalah tamu khusus untuk acara lamaran anak saya. Dan dia sebagai orang yang akan dilamarnya," tegas Bu Catly membuat kami berempat termasuk aku semakin dilanda tidak percaya.
"Tante Sensi, ayo kemari," ajaknya diikuti Aloe yang ternyata sudah lebih dulu sadar dari keterkejutannya. Aku hanya bisa pasrah menerima kejutan indah sekaligus mendebarkan ini. Sebab dari awal aku tidak menyangka bahwa Pak Rangka akan betul-betul melamarku.
Akhirnya aku dibawa ke tengah-tengah mereka, lalu duduk di sofa ruang tamu di hadapkan pada Ibu Catly dan Pak Rangka. Sementara Ibu dan Bapak berada di samping kananku. Sementara Aloe dan Glassy serta tamu dari pihak Pak Rangka menyaksikan acara lamaran dadakan ini dari depan. Sungguh suasananya sangat menegangkan.
"Sensi Vera binti Bagja apakah kamu mau menjadi istri saya?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar cepat dari mulut manis Pak Rangka yang sukses membuat aku dan semua yang ada di sana terkesima tidak percaya. Sebelum aku benar-benar bisa menjawabnya, aku tiba-tiba sangat gugup dan keringat dingin. Sungguh ini pengalaman pertama dalam hidupku dilamar seorang laki-laki dewasa yang benar-benar aku cintai.
__ADS_1
Aku masih dilanda tidak percaya, sementara Pak Rangka dan rombongannya harap-harap cemas menunggu jawabanku. "Jawab, jawab, jawab," ujar mereka semakin membuatku grogi. Tiba-tiba Aloe dan Glassy datang menghimpit sisi kiri dan kananku, sepertinya mereka berdua bermaksud memberikanku kekuatan. Dan benar sekali, setelah mereka berusaha duduk di sisi kanan dan kiriku, pikiranku mendadak mulai tenang.
Sejenak aku menarik nafasku dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, untuk mencoba memulai memberi jawaban untuk Pak Rangka.
"Ayo, berikan jawabannya biar semua yang di sini senang," desak salah satu rombongan Pak Rangka tidak sabar. Dan pada akhirnya aku memberi jawaban.
"Saya Sensi Vera, menerima lamaran Pak Rangka Baja," balasku menunduk sebab aku merasa malu karena telah menjadi tontonan mereka semua. Mendadak suasana menjadi riuh dan berisik. Mereka semua termasuk keluargaku bersorak bahagia seperti mendapat kemenangan atas sebuah permainan bola.
Pak Rangka tiba-tiba menghampiriku lalu menarik tubuhku dan memeluknya erat. Aku sempat terkejut, namun lama-kelamaan aku menikmati pelukan itu.
"Sensi, kamu sungguh-sungguh menerima lamaran saya?" tanya Pak Rangka sesaat setelah memeluk tubuhku erat. Aku menatap Pak Rangka dalam lalu menunduk. Kalau tidak ada orang ingin rasanya aku mencium bibir manis Lee Min Jo di hadapanku ini, sayangnya banyak orang.
Akhirnya sebuah cincin pertanda lamaran telah tersemat dijari manisku sebelah kiri. Pak Rangka dengan penuh perasaan menyematkan cincin itu di jari manisku, lalu menciumnya dengan mesra. Deg, jantungku langsung deg degan keras.
"Baiklah, bulan depan kita menikah. Persiapkan diri dan hati kamu. Kamu dan keluargamu tidak perlu repot-repot mempersiapkan apa-apa. Biar kami saja," putus Pak Rangka kemudian. Akhirnya kesepakatan telah diraih dan disepakati bersama. Maka bulan depan ditetapkan sebagai hari pernikahan kami. Aku sungguh senang luar biasa, terlebih Ibu dan Bapak.
__ADS_1
Tamu rombongan Pak Rangka perlahan sudah mulai pulang duluan termasuk Bu Catly dan Glassy yang tadinya ingin pulang bersama Pak Rangka, namun dengan bujukan Bu Catly akhirnya Glassy berhasil dibawa pulang duluan.