
POV 3 (Author)
Jam dua siang Rangka keluar kantor lebih awal, hari ini dia merasa jenuh dan tidak bahagia berada di kantor. Ketidakhadiran Sensi membuat Rangka tidak bersemangat, terlebih di kantornya kini tengah beredar gosip yang sepertinya sengaja dihembuskan Dian sepupunya.
"Cak, aku keluar dulu. Titip kantor ya! Jika ada klien, kau handle dulu." Rangka berlalu setelah memberi perintah pada Cakar sang Asisten. Cakar mesem memahami perubahan sikap Bosnya. Biasanya dia selalu melihat Bosnya bersemangat dan lebih garang tapi kini Singa jantan di kantor ini seperti kehilangan taringnya.
"Kor, selesaikan tugasmu. Jika sudah selesai kasih Cakar, saya keluar dulu." Rangka berpamitan juga pada Koral sang Sekretaris. Koral hanya mesem dan senyum memahami suasana hati sang Bos.
"Jangan lupa ngopi dulu Bos!" peringat Koral menggoda sang Bos yang kelihatannya sumpek. Rangka berlalu dengan senyum simpul yang ditahan. Sebelum keluar kantor, Rangka sengaja mampir ke divisi keuangan, dia sengaja ingin menemui Dian sang sepupu yang sudah beraninya menyebar gosip tidak benar tentang dirinya dan Sensi.
"Selamat siang Pak Rangka," sapa Leader Tim di divisi keuangan hormat, diikuti yang lain memberikan penghormatan yang sama pada Rangka sang pemilik perusahaan. Rangka tersenyum membalas sapaan mereka. Tiba di ruangan Dian, rupanya ruangan itu kosong. Rangka merasa heran kemana Dian sebenarnya?
"Risa, Dian di mana?" Rangka bertanya pada Risa Leader Tim divisi keuangan.
"Laporannya ijin, Pak. Sejak kemarin Dian sudah tidak masuk," ucap Risa melaporkan. Rangka mengerutkan kening heran.
"Kemana bocah nakal itu? Dasar tidak pernah konsisten," gerutu Rangka sembari beranjak dari ruangan Dian. Rangka keluar kantor dan tujuan utamanya sekarang ke rumah Sensi.
Mobil Pajira milik Rangka kini keluar gerbang, dan melaju membelah jalanan kota yang selalu ramai. Sepanjang jalan Rangka bingung, sebetulnya dia ingin menemui Sensi, tapi jika dia ke rumahnya langsung, keadaan ini pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan. Akhirnya Rangka ada ide untuk mencoba menghubungi via telpon WA saja, siapa tahu kali ini WAnya aktif.
Saat akan menghubungi, rupanya WAnya sedang aktif. Namun Rangka urung menghubungi, dalam pikirannya langsung ada ide untuk mengecek keberadaan Sensi via GPS, di rumah atau diluar? Rangka segera membuka GPS dan akhirnya dia mengetahui di mana Sensi sekarang berada. "Ohhhhh, di sana rupanya," guman Rangka tersenyum bahagia. Seketika wajahnya yang sejak di kantor tadi muram, kini kembali berseri.
"Sedang apa dia di sana? Janjian dengan seseorang atau sengaja ke taman itu?" Rangka masih berbisik-bisik sendiri sembari melajukan Pajiranya dengan kecepatan sedang menuju taman yang kini didatangi Sensi.
__ADS_1
Tiba di Taman Jodoh Selamanya, Rangka memarkirkan Pajiranya dengan baik, kebetulan di sana ada tukang Parkir yang membantu mengarahkan parkir.
Keluar dari mobil, Rangka sejenak berdiri di pinggir taman. Lumayan ada beberapa pengunjung di taman itu, pastinya yang sering ke sana adalah muda-muda yang tengah pacaran, tapi akhir-akhir ini bukan hanya muda-mudi yang pacaran saja, melainkan taman ini ramah untuk dikunjungi keluarga yang bawa anak-anak. Sebab di taman ini ada juga mainannya.
Sejenak Rangka berpikir, jangan-jangan Sensi ke taman ini untuk pacaran dan ketemuan sama seseorang. Rangka menebak-nebak, bahkan dia kini membayangkan akan segera memergoki Sensi tengah pacaran. Dan seketika perasaan cemburu itu langsung menyergap dadanya. Rangka bukan pacarnya tapi dia cemburu luar biasa membayangkan Sensi bersama pria lain.
"Taman Jodoh Selamanya. Nama yang unik, apakah aku di taman ini akan menemukan jodoh selamanya sesuai nama taman ini?" Sejenak Rangka membaca plang nama taman yang kini disinggahinya sambil tersenyum kecil.
Rangka kini menuju tempat di mana Sensi berada sesuai GPS yang dia lacak. Manurut GPS langkah Rangka dengan Sensi hanya tinggal beberapa meter lagi. Saat pandangannya tepat ke depan sana, dilihatnya ada seseorang tengah duduk di sebuah bangku yang membelakanginya. Otomatis orang itu hanya kelihatan punggungnya saja. Rangka yakin itu Sensi, dari ciri-ciri rambutnya yang sama sebahu.
Rangka mulai berjalan menghampiri Sensi, namun secara bersamaan dan mengejutkan ada seorang laki-laki lebih muda darinya menghampiri, lalu duduk berdekatan dengan Sensi. Hati Rangka menjadi panas seketika, rasa cemburu menjalar dalam dada. Nafasnya turun naik menahan amarah. "Rupanya kamu janjian dengan laki-laki. Rela bolos kerja demi pacaran, dasar Sensi," gerutu Rangka kesal, dia merasa sangat cemburu dan kecewa melihat Sensi berduaan dengan laki-laki dan terlihat sangat akrab.
Sontak Sensi dengan pasangannya bergerak membalikkan badan dengan wajah yang terkejut sekaligus kesal. "Siapa, ya, ganggu orang pacaran saja," gerutu laki-laki itu kesal.
Saat kedua orang itu membalikkan badan dengan sempurna, Rangka terbelalak tidak percaya. Rupanya perempuan yang dianggapnya Sensi, ternyata bukan Sensi, melainkan orang lain yang sekilas mirip Sensi dari belakang.
"Yang, ini siapa? Kamu kenal nggak?" tanya si lelaki menatap heran pada Rangka. Rangka masih terbelalak tidak percaya, dia masih shock dengan apa yang dilihatnya kini.
"Aku tidak kenal, Yang. Orang nyasar kali," ujar si perempuan menatap Rangka heran.
"Ohhh, maaf, maaf. Maafkan saya Mas, Mbak, rupanya saya salah orang. Saya pikir Mbak ini orang yang saya kenal. Tadi dari belakang mirip pacar saya," ujar Rangka memberi alasan yang jelas bohong.
__ADS_1
"Ohhh, gitu. Kami pikir Anda itu orang yang mau ganggu kami," ujar si perempuan sedikit judes.
"Silahkan dilanjut lagi, sekali lagi saya minta maaf, saya pikir Mbak adalah pacar saya, yang rela bolos kerja demi mengkhianati saya," ulang Rangka meminta maaf dengan wajah bersemu malu.
"Tidak apa-apa Mas, namanya juga salah orang," ujar si lelaki ramah beda dengan si perempuan yang tadi nampak judes dan kesal. Rangka membalikkan badan dan bermaksud kembali, namun tanpa disadarinya sejak Rangka berdebat dengan dua orang pasangan yang salah orang, disebelah kanan tepatnya beberapa meter dari pasangan tadi ada seseorang yang memperhatikan interaksi Rangka bersama dua orang tadi.
Gadis muda itu duduk di bangku yang persis dengan bangku yang diduduki pasangan muda tadi, namun posisi badannya tertutup batang pohon, jadi tidak terlihat bahwa di bangku itu ada orangnya.
"Seperti kenal dengan suara itu," ujarnya seraya berdiri dan celingukan mencari arah suara yang dia kenal. "Pak Rangka, sedang apa Bos nyebelin itu?" Rupanya perempuan muda yang tengah duduk di bangku yang terhalang batang pohon besar adalah Sensi.
Sensi berdiri seraya mendekat beberapa langkah dari arah Bosnya berdebat itu.
"Silahkan dilanjut, sekali lagi saya minta maaf. Saya pikir Mbak adalah pacar saya yang sengaja bolos kerja demi mengkhianati saya." Terdengar jelas Bosnya berbicara meminta maaf pada si perempuan.
"Pacar? Bolos kerja demi mengkhianatinya? Sejak kapan Pak Rangka punya pacar lagi? Rupanya Pak Rangka sudah memiliki pacar, dan aku hanya perempuan bodoh yang sudah naksir berat dengannya." Sensi berbisik-bisik sedih mengingat bahwa Bosnya itu ternyata sudah memiliki pacar sesuai apa yang didengarnya barusan, sementara dirinya selama ini sudah naksir berat sama Rangka tapi tidak pernah dianggap. Benar-benar kecewa.
Sensi sejenak meredam kesedihannya akibat patah hati karena mendengar Bosnya sudah punya pacar. Sensi bermaksud mengejutkan Rangka yang kini sedang berdebat kecil dengan pasangan pacaran itu.
Sensi berjalan menuju mereka bertiga. Setelah perdebatan itu berhenti dan Rangka mulai membalikkan badan, dengan cepat Sensi memanggil Rangka.
"Pak Rangka!" panggilnya sedikit memekik membuat pasangan yang tadi berdebat dengan Rangka menoleh. Rangka mendengar namanya dipanggil sontak menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Alangkah terkejutnya sekaligus bahagianya Rangka. Mendadak wajah suram tadi, kini berubah berseri.
"Sensi," teriaknya sambil berlari kecil menghampiri Sensi yang hendak dirangkulnya.
Bersambung.....
Note; bagi yg masih punya vote, jangan lupa kasih votenya buat karya saya ya!
__ADS_1