Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Membujuk Glassy Berangkat Sekolah


__ADS_3

   Tidak biasanya hari ini Glassy sangat rewel, dia ingin diantar sekolah oleh Rangka, tidak mau diantar sama Pak Mamat seperti hari biasanya ketika Rangka tidak berada di rumah.


   "Papa hari ini tidak bisa antar kamu sekolah, Sayang. Kebetulan perusahaan Papa seminggu ke depan akan kedatangan tamu tiap pagi sekali dan Papa harus sudah ada di sana lebih pagi. Sekarang Glassy pergi sekolah sama Pak Mamat dulu, ya," bujuk Rangka sambil merunduk menyamai tinggi Glassy.


   Glassy keukeuh ingin diantar sekolah oleh Rangka, membuat Rangka dilanda bingung. Rangka bukan tidak ingin. Namun seperti yang diungkap tadi bahwa perusahaannya kini sedang kedatangan tamu penting untuk beberapa hari ke depan.


   Rangka kini menyerahkan Glassy sepenuhnya pada Sensi yang diharpakan bisa membujuk Glassy.


 "Papa aku mau pergi sekolah, asal diantar oleh Bunda sampai sekolah, pakai motor," tegas Glassy dengan bibir yang cemberut dan tangan berpangku.


   "Papa tidak ijinkan Glassy pergi atau pulang diantar Bunda naik motor, Papa khawatri Glass kepanasan," larang Rangka tidak setuju.


   "Glassy tidak mau kalau bukan Bunda yang antar. Kalau Bunda tidak antar, maka Glassy tidak mau sekolah," kukuhnya dengan muka jutek. Rangka menepuk keningnya , dia merasa Glassy kini mulai bisa membantah. Dia menuding bahwa semua ini karena Sensi.


   "Ok, Glassy tunggu sebentar, Papa mau bicara dengan Bunda dulu." Rangka membawa Sensi keluar kamar, dan kini mereka berada di ruang tengah lantai itu juga.


   "Sayang, kamu tahu tidak sejak kapan Glassy bisa bersikap membantah seperti itu? Semua sikapnya, ngeyelnya, persis sama seperti dirimu. Lalu kini membantah, aku juga yakin ini karena menurun dari kamu. Dia peniru yang ulung, jadi jangan sampai kamu memberi contoh yang tidak baik bagi Glassy," tuding Rangka membuat Sensi tidak terima.


   "Ya ampun, Mas. Kenapa aku yang disalahin, kan Glassy turunan kamu sama Mbak Delana? Mungkin saja, Glassy ngeyel dan ngebantahnya nurun dari Mbak Delana. Iya, kan? Kenapa aku juga yang kena getahnya?" protes Sensi tidak terima.


   "Aku tidak sudi, ya, Glassy sifat atau apapun dibilang nurun dari Ibunya, sampai kapanpun Glassy tidak akan sama seperti dia, sebab Glassy anak yang baik dan selalu patuh. Jangan kau sebut-sebut nama Delana lagi di hadapanku, sebab aku akan sangat stress jika mendengar namanya disebut," sengaknya tidak terima dengan debatan Sensi barusan.


   "Ya sudah, sebaiknya Mas Rangka tenang dulu. Glassy itu bukan maksud membantah, tapi dia punya keinginan yang sederhana, dia ingin sesekali naik motor seperti temannya, Ceri. Ceri teman satu kelasnya sering kedapatan diantar Mamanya naik motor, bahkan naik motornya bersamaan sama gendong bayi. Jadi, Mas Rangka jangan terlalu khawatirkan Glassy jika aku antar naik motor."


   "Itu pasti maunya kamu saja, supaya kamu bisa keluyuran naik motor dan dilihatin para lelaki hidung belang diluaran sana, supaya mereka kagum sama kamu," tuduh Rangka.


   "Mas Rangka itu selalu nuduh aku tidak benar. Lagipula kalaupun ada lelaki lain yang mengagumi aku, aku mana pernah melayani mereka," ujar Sensi seraya berjingkat meninggalkan Rangka yang terhenyak.


   "Sensi, sebentar," tarik Rangka menghentikan langkah Sensi yang terpaksa berhenti. Sensi diam, hanya menatap ke arah lain.


   "Jadi sekarang bagaimana?" tanya Rangka bingung.


   "Mas Rangka pikirkan sendiri saja, aku tidak mau disalahkan gara-gara menemani Glassy, kemudian sifat buruknya Mas bilang nurun dari aku. Padahal itu hanya kenakalan biasa saja," tukas Sensi kecewa.


   "Tungg sebentar, kamu jangan pernah berani melawan aku, itu dosa, kamu tahu? Sekarang bujuk Glassy berangkat sama mobil diantar Pak Mamat. Kamu sekalian yang mengantar dia pulang pergi. Jangan membantah lagi, ini perintah dari suamimu," sergah Rangka masih menahan tangan Sensi.


   "Aku bukan ingin melawan atau membantah kamu, Mas. Tapi jangan sekali-sekali menuding bahwa aku yang menurunkan sifat jelek pada Glassy," balasnya lagi.


   "Ok, sekarang kamu berangkat antar anakku dengan mobil," titah Rangka lagi yang tidak bisa Sensi bantah lagi. Sensi hanya sakit hati dikatain bahwa sifat ngeyel dan membantah Glassy adalah menurun darinya.


   "Dari mana membantahnya atau ngeyelnya? Selama ini aku selalu patuh dan tidak banyak maunya. Mas Rangka memang mengada-ngada. Bilang saja sifat Glassy menun dari Mamanya," dumel Sensi dalam hati.


   Sensi segera menghampiri Glassy yang masih bermuram durja, dia harus bisa merayunya untuk pergi sekolah dengan menaiki mobil disupiri Pak Mamat.

__ADS_1


   "Aku pergi dulu, aku akan terlambat jika dalam lima menit tidak segera pergi," ucap Rangka seraya meraih kepala Sensi dan mencium keningnya, lalu beralih ke Glassy, juga mencium kening dan sekujur wajahnya.


   "Sayang, Papa berangkat dulu. Hati-hati, ya. Sekarang Bunda yang antar pakai mobil dan Pak Mamat yang mengantar kalian," ujar Rangka seraya bergegas keluar kamar.


   "Tapi, Mas. Aku tidak enak pulang pergi disupiri Pak Mamat. Masa iya aku berduaan dengan Pak Mamat. Aku tidak mau terjadi fitnah yang kejam dari kamu atau yang lain," protes Sensi sebelum Rangka menuruni tangga.


   "Tidak, anggap saja Pak Mamat orang tua sendiri. Lagipula Pak Mamat pria betanggung jawab dan baik serta tulus, itu makanya aku percaya dan tidak menaruh curiga padanya. Sudah, jangan terlalu pikirkan itu. Nanti pulang kerja, aku pikirkan rencana baru untukmu. Sekarang bujuklah Glassy," tutur Rangka meyakinkan/


   "Mas, Mas Rangka tidak akan cium ini?" tanya Sensu berubah genit. Tadi marah sekarang genit berubah-ubah dengan cepat, bak kembali lagi sifatnya ke Sensi yang masih single. Rangka menghentikan langkahnya lagi dan menatap sedikit kesal karena dia takut terlambat.


   "Apa Sayang? Aku buru-buru, nanti pulang kerja saja. Atau setelah antar Glassy, kamu mampirlah ke kantor. Aku akan berikan yang kamu minta," janjinya seraya berlari kecil menuruni tangga. Sensi menatap pria kesayangannya dengan penuh cinta. Meskipun sering menyebalkan, tapi Sensi sangat mencintai dan menyayangkan pria setampan dan setanggung jawab Rangka, tidak akan dibiarkan terluka oleh sebuah pengkhiatan.


   "Baiklah, Mas. Nanti aku mampir ke kantor merayumu sambil melihat Kak Tari yang dulu selalu memojokkan aku dan memarahi aku."


   Sensi segera ke kamar Glassy dan merayu Glassy supaya mau diantar ke sekolah dengan menaiki mobil yang disupiri Pak Mamat.


   "Ayo, Sayang. Glassy harus segera bersiap. Nanti setelah sarapan kita berangkat sekolah diantar Pak Mamat," bujuknya membuat Glassy terbelalak.


   "Tidak, aku hanya mau diantar Bunda naik motor," sengitnya membalikkan badan/.


   "Glassy Sayang, Glassy tidak boleh bantah Papa, lho. Karena itu tidak baik. Lagi pula motor Bunda bannya kempes tidak bisa dipakai. Jadi sekarang kita pergi sekolah sama Pak Mamat, dan Bunda yang akan ikut ngantar. Ayo dong, jadilah anak patuh sama orang tua," bujuk Sensi lagi berusaha keras merayu anak sambungnya yang kini sifatnya sedikit keras.


   "Ok. Tapi janji Bunda antar aku tiap hari."


   Akhirnya setelah dibujuk dengan setulus hati, Glassy mau juga berangkat sekolah dengan diantar Pak Mamat disertai Sensi yang juga mengantar.


   "Pak Mamat, ayo, antar kami ke sekolah Glassy!" ajak Sensi setelah mereka selesai sarapan pagi. Mobil yang disupiri Pak Mamat keluar gerbang dan siap meluncur mengantarkan Glassy ke sekolahnya.


#Menemui Rima di Kantor Rangka


   Setelah turun dulu sebentar dan menitipkan Glassy ke Bu Guru wali kelasnya, yaitu Bu Dewi, Sensi meminta Pak Mamat mengantarnya ke kantor Rangka, Kertassindo Gemilang yang jaraknya lumayan dari sekolahan Glassy.


   "Pak Mamat antarkan saya ke kantor suami saya," titah Sensi setelah menaiki mobil dan duduk di jok belakang. Pak Mamat manggut dan patuh, segera menjalankan mobilnya ke kantor Kertassindo Gemilang.


   Kurang lebih tiga puluh kemudian, mobil yang disupiri Pak Mamat tiba di halaman kantor Kertassindo Gemilang. Sensi segera menuruni mobil. Sebelum bergegas, Sensi berteimakasih dulu pada Pak Mamat serta memberikan uang 50 ribu untuk jajan Pak Mamat.


   "Pak Mamat, terimakasih, ya. Ini ambil, siapa tahu Pak Mamat mau jajan es teller atau es campur di pengkolan depan," ujar Sensi seraya menyodorkan uang itu yang awalnya dipelototi Pak Mamat dengan segan, tapi akhirnya diambil sebab Sensi memaksa.


   "Waduhhh, terimakasih banyak, Non. Padahal tidak perlu begini," ujarnya ragu-ragu.


   "Tidak apa-apa Pak Mamat, lagian ini sekali-sekali, kok. Ok, saya turun, ya. Nanti jemputnya biar saya konfirmasi terlebih dhulu ke Hp Pak Mamat."


   "Siap, Non." Sensi turun dan segera menuju lobby kantor Kertassindo Gemilang. Di sana dia disambut seorang Resepsionis laki-laki yang menyambutnya dengan hormat. Sensi sudah kenal lagi dengan Resepsionis itu, dia Torne. Dulu saat dia masih menjadi staff di bagian administrasi, Torne termasuk teman yang juga sama-sama sering makan di taman perusahaan Kertassindo Gemolang, karena Torne sama seperti Sensi sering bawa bekal dari rumah.

__ADS_1


   "Selamat pagi, Bu Sensi," sapa Torne tersenyum.


   "A Torne, santuy saja A, jangan formal-formal amat sama aku. Aku masih Sensi kayak dulu kok. Hanya status saja yang berubah, yang lainnya masih tetap sama." Sensi merendah, membuat Torne merasa bangga melihat Sensi begitu rendah hati.


   "Tapi tetap saja aku manggil kamu Ibu, jangan menolak sebab di sini lingkungan kantor, aku tidak mau orang-orang berpikiran yang tidak-tidak. Aku memanggil kamu, bukan berarti menganggap kamu tua atau apa, aku hanya menghargai kamu karena kamu sekarang adalah atasan aku," ujar Torne menjelaskan.


   "Iya A Torne, makasih, ya. Aku ke atas dulu. Tetap semangat," ujar Sensi memberi support pada Torne teman satu nasib dulu. Nasib makan bawa bekal dari rumah, kemudian di makan bersama di taman perusahaan bersama-sama dengan Rima juga.


   Ada rasa sesal sedikit di dalam hati Sensi, kenapa dia tadi harus lewat resepsionis bukannya memilih jalan samping saja melewati tangga.


   "Harusnya aku tadi lewat pintu samping saja supaya tidak bertemu teman-teman yang dulu pernah kenal dekat. Tapi mau gimana lagi, lambat laun aku pasti bakal selalu bertemu mereka. Aku harus siap bertemu mereka dengan mental yang kuat. Dan pastinya aku akan tetap jadi Sensi yang seperti dulu, tapi tentunya dengan sikap yang sedikit dijaga," sesalnya sembari berjalan perlahan menuju tangga. Sensi memutuskan lewat tangga saja, sebab dia merencanakan akan mampir dulu ke beberap departemen di kantor itu.


   Sambil berjalan Sensi berpikir harus kemana dulu dia mampir, ke kubikel Rima atau ke ruangan HRD atau ke ruangan Kak Tari sang Leader galak, jutek dan bengal?


   "Ahh, rasanya membingungkan. Tapi alangkah kebih baiknya ke ruangan HRD dulu. Aku temui Mbak Mira sebagai penghormatanku pada beliau, karena selama aku bekerja jadi staff administrasi, Mbak Mira tidak pernah bikin hati aku nelangsa. Nanti giliran ke Rima, lalu ke mantan Leader galakku yang nyebelin, aku pengen tahu reaksi dia bagaimana setelah melihatku ada di ruangannya." Sensi berpikir dalam hati kemana dulu kira-kira dia mampir. Dan akhirnya Sensi memutuskan untuk ke kantin dulu sebelum menemui mereka.


   "Aku ke kantin dulu saja, deh. Aku akan bawa oleh-oleh buat Rima, membelikan beberapa makanan kecil untuk dia buat camilan. Rima sama aku kan dulu tidak pernah jajan camilan karena faktor duit, hehehhe." Sensi membelokkan tubuhnya ke arah kiri samping tangga yang akan dia naiki ke lantai atas, dia memutuskan untuk ke kantin dulu membeli makanan kecil untuk Rima.


   Tiba di kantin, Sensi disambut baik oleh Ibu kantin yang sudah kenal baik dengannya, meskipun Sensi jarang jajan, tapi Ibu kantin sudah mengenal Sensi. Terlebih sekarang Sensi merupakan istri pemilik perusahaan.


   "Non Sensi, wahhh, mimpi apa Ibu semalam bertemu dengan istri pemilik perusahaan? Silahkan, Non. Ada yang bisa ibu bantu? Nona menginginkan apa?" sambut Ibu kantin ramah.


   Sensi tersenyum dan membalas sambutan ramah Bu Kantin dengan suka cita, hatinya senang dan terharu melihat respon baik orang-orang setelah dirinya menikah.


   "Iya Bu, saya kesini mau beli camilan yang banyak buat saya dan teman saya makan nanti di taman. Saya minta camilan ini, juga itu, lalu itu," tunjuk Sensi menunjuk beberapa makanan kecil yang dia mau, seperti snack dan lain-lain.


   "Cukup segini, Non? Apakah ada yang lain lagi?"


   "Cukup, Bu. Ini saja dulu," ujarnya seraya menerima kantong kresek yang disodorkan Ibu kantin, lalu Sensi memberikan dua lembar uang seratus ribuan.


   "Kembaliannya ambil saja, terimakasih. Saya ke atas dulu, ya, Bu." Setelah membayar, Sensi segera bergegas menuju pintu tadi yang dia lewati untuk ke kantin.


   "Sama-sama, Non. Terimakasih kembali. Semoga hari-hari Non Sensi selau diliputi kebahagian dan keselamatan," ujar Bu kantin gembira diiringi doa-doa baik untuk Sensi.


   Kini Sensi menaiki tangga untuk menuju ruangan yang dulu sempat menjadi tempatnya mencari nafkah selama beberapa tahun. Hatinya kini sangat gembira, sebab akan bertemu dengan Rima teman seperjuangannya beberapa bulan yang lalu sebelum Sensi memutuskan untuk menikah.


   Langkah kaki Sensi dia tujukan ke ruangan HRD dulu. Namun saat di samping pintu, Sensi melihat sepertinya HRD Mira sedang sibuk dengan dua orang berkemeja putih dan rok hitam. Sensi menyimpulkan mereka berdua merupakan calon pekerja baru yang sedang diwawancara.


   Sensi mengurungkan niatnya memasuki ruangan HRD. Langkah kakinya dia mantapkan ke ruangan Rima, alias kubikel Rima. Sensi jadi teringat kenangannya saat menepati salah satu kubikel di ruangan itu dulu. Suka duka, senang bahagia, telah dia lewati di sana.


   Beberapa meter lagi kakinya tiba di kubikel Rima. Hati Sensi sangat bahagia bisa berjumpa kembali dengan teman satu perjuangannya dulu.


   Tap, tap, tap. Langkah kaki Sensi semakin dekat. "Rima, kerjakan map ini. Kamu harus selesaikan map-map ini sebelum jam 12 siang. Kalau tidak, maka kamu akan tahu rasa," sentak Sensi menirukan gaya Tari sang Leader.

__ADS_1


   Rima tersentak, lalu menoleh ke belakang. Rima terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lalu apa yang menyebabkan Rima begitu sangat terkejut.


__ADS_2