Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Remmmmm!!!


__ADS_3

   Sensi menuju kamar diikuti Rangka di belakangnya. Keberadaan Rangka yang mengendap tidak diketahui Sensi. Setelah berada dalam kamar, Sensi segera masuk kamar mandi, dia segera mengguyur tubuhnya dengan shower air hangat. Semua yang terasa lengket di badannya dia lepaskan dan hempaskan dengan air dan gosokan badan.


   Namun, selagi mandi saja rasa sedih akibat kemarahan Rangka, masih saja membayanginya. Dia tidak pernah mau dibentak atau dikata-katai kasar oleh Rangka, Sensi sungguh sakit hati. Dan tangisan itu tumpah kembali di sana. Bersama guyuran air shower.


   Setelah Sensi merasa puas menumpahkan kesedihannya, dia segera membilas tubuhnya sebagai bilasan terakhir. Air mata yang deras tadi ikut luruh dan hanyut bersama air bilasan mandi. Sensi menyeka tubuhnya dengan handuk perlahan-lahan. Terakhir handuk itu dia balutkan di sekujur tubuhnya, tidak lupa rambutnya yang panjang itu dia gelung dengan satu handuk yang lain supaya airnya tidak menetes ke lantai.


   Sensi keluar kamar mandi dengan hati yang sedikit lega karena sudah dia tumpahkan kesedihan itu di dalam kamar mandi. Sensi masih belum menyadari bahwa Rangka sudah berada di dalam kamarnya mengutak-atik Hp Sensi. Sepertinya Rangka sedang memeriksa isi dari Hp Sensi, semua media sosial milik Sensi tidak luput dari pemeriksaan Rangka. Rangka tetap Rangka, dia harus selalu mengecek isi aplikasi Sensi supaya kejadian pertama dalam rumah tangganya tidak terulang kembali.


   "Mas Rangka," kejut Sensi saat mendapati suaminya sudah duduk di tepi ranjang dengan mata yang menatap lekat. Sensi berjalan perlahan menuju lemari pakaian tanpa mendekati Rangka, dia berjalan menunduk, sama sekali tidak ingin bersitatap dengan suaminya yang kini sudah tiba-tiba berada dalam kamar.


   "Sejak kapan Mas Rangka pulang dan berada di dalam kamar ini? Padahal aku sedang tidak ingin bertemu dengan Mas Rangka," batin Sensi sedikit kecewa.


   Sensi segera menggunakan baju santainya di depan lemari sesegera mungkin, lalu dia mendirikan sholat Zuhur yang sudah terlewat beberapa menit yang lalu. Rangka melihat Sensi dengan mata yang penuh. Dia tertegun dan terharu, rupanya Sensi sedang solat. Tanpa menunda, Rangka pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan ambil wudhu.


   Rangka keluar kamar mandi dan melihat Sensi kini sudah berada di depan cermin meja rias, dia menyisir rambutnya yang basah. Rangka sempat greget melihat rambut basah Sensi, inginnya dia keringkan dengan hair dryer supaya cepat kering.


   Rangka segera menepi ke ruangan sholat di kamar itu dan segera mendirikan sholat. Setelah sholat dengan khusu, kakinya dia arahkan menuju Sensi yang masih di depan meja rias. Kini Sensi sedang memoles wajahnya dengan skin care tipis-tipis, juga bedak dan lipstik tipis-tipis. Rangka menyadari jika Sensi tidak pernah terlihat jelek, dia selalu terlihat cantik meskipun di rumah atau di mana saja, memang dasarnya sudah cantik, ditambah lagi riasan tipis itu semakin membuat Sensi menarik.


   Namun kini senyuman genit, manja, ceplas-ceplos dari bibir sang istri seakan hilang, terganti dengan wajah yang kusut. Meskipun sudah ditutupi make up, tapi kesedihan di wajah itu masih terlihat.


   Rangka segera meraih hair dryer, lalu dia colokkan ke penyambung daya. Rangka meletakkan hair dryer itu di meja. Dengan cepat dia menangkap tubuh Sensi dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di leher Sensi. Sensi nampak terkejut, terasa dari reaksi tubuhnya yang sedikit berontak.


   "Sayang, aku minta maaf atas bentakan aku tadi," ucap Rangka seraya mencium pipi dan leher Sensi. Sensi jelas merasa geli, dia berusaha melepaskan Rangka. Tapi Rangka tidak mau melepaskan.


   "Sayang, kita keringkan rambutmu yang basah ini, aku gereget banget melihatnya." Dengan gerakan cepat Rangka segera meraih pengering rambut dan mulai menyalakannya.


   "Mas ..." pekik Sensi ingin menolak, tapi tidak bisa, dengan pandainya Rangka mengeringkan rambut Sensi yang basah itu. Akhirnya Sensi diam menerima perlakuan manis dari Rangka. Akan tetapi Sensi masih menyimpan sedih dalam dadanya.


   Rangka menyudahi mengeringkan rambut istrinya, kini dia ingin merayu Sensi sebelum dirinya harus pergi untuk menjemput Glassy.


   "Sayang, lihatlah. Rambutmu kini sudah kering dan indah. Wajahmu pun semakin mempesona." Rangka memuji Sensi seraya meraih pinggang Sensi dari belakang, lalu dia tenggelamkan kepalanya di pundak Sensi. Mata Rangka tetap awas menuju cermin, bersamaan dengan itu Rangka membawa wajah Sensi juga menatap cermin.


   Didongakkan kepala Sensi supaya menatap ke arah cermin, Sensi terpaksa mendongak dengan wajah yang jelas muram dan kusut, bahkan garis sembab di wajah itu kentara. Seketika Rangka tersentak, rupanya akibat kemarahannya tadi membuat Sensi sakit hati dan sedih seperti ini.


   "Sayang, kamu masih sedih dengan kemarahan aku tadi?" Rangka bertanya seraya menatap pantulan wajah Sensi di cermin. Sensi tidak menjawab.

__ADS_1


   "Ayolah jangan begini, aku minta maaf. Tadi aku benar-benar emosi karena kamu yang tiba-tiba nyosor lalu air kopi panas itu tumpah di atas pahaku. Rangka membawa tubuh Sensi berdiri kemudian dia memeluknya erat.


   "Sayanggg, betapa aku mencintaimu. Kemarahan aku tadi hanyalah spontanitas, kamu jangan keterusan marah dan sedihnya seperti ini. Ayolah, sekarang bersiap, kita akan jemput Glassy." Rangka membujuk Sensi sungguh-sunguh.


   "Tapi, Mas, aku tidak akan ikut jemput Glassy. Aku merasa tidak enak badan," ujar Sensi beralasan.


   "Tidak enak badan, kamu sakit?" tanya Rangka heran seraya menangkup wajah Sensi yang dari tadi berusaha menghindarinya.


   "Kamu tidak sakit, kamu bohong." Rangka melepaskan tubuh Sensi lalu meraih kunci mobil dan segera bergegas keluar dari kamar. Kini giliran Sensi melongo, lalu dengan segera dia mengejar Rangka yang sudah di pintu keluar rumah.


   "Mas, tunggu," tahannya dengan mata yang berkaca-kaca. Rangka menoleh dan menghentikan langkah kakinya di sana. Sensi berlari kecil dan menabrakan dirinya di punggung Rangka, Sensi menangis di sana.


   "Aku minta maaf, Mas. Hiks, hiks, hiks ...." Tangisan Sensi tumpah di sana, lalu Rangka membalik tubuh Sensi dan meraih wajah yang kini basah air mata. Rangka menyeka air mata yang membasahi pipi Sensi dengan tangan kosong.


   "Sudahlah, ayo kita pergi. Kita jemput Glassy. Sekalah air mata kamu yang masih basah itu dengan tisu," titah Rangka seraya menuntun lengan Sensi membawanya ke dalam mobil.


   Rangka menyunggingkan senyum, bidadarinya yang terluka tadi kini sudah bisa tersenyum dan berbicara. "Kamu memang mudah diluluhkan, Sayang," batin Rangka bahagia.


   Siang itu, Rangka dan Sensi berhasil menjemput Glassy di sekolahnya dengan suasana yang ceria kembali, sebab kemarahan dari keduanya sudah mencair bagai es batu.


   Rangka masuk ke dalam kamar dengan tergesa setelah pulang dari mengantar Glassy sekolah. Sensi heran sebab setahunya tadi Rangka sempat bilang akan ke kantor langsung, untuk menandatangani sebuah kontrak kerja sama dengan sebuah perusahaan. Sensi yang masih di depan cermin terkejut lalu melihat ke arah Rangka yang sudah mengangkat tubuhnya menuju ranjang.


   "Aku kangen, kita hangatkan dulu pagi ini dengan olah raga pagi yang menyenangkan, aku tidak kuasa menahannya jika harus bekerja dengan perasaan kalut," ungkapnya mendamba.


   Tidak bisa dicegah ataupun ditahan lagi, dua sejoli itu akhirnya saling beradu kasih menumpahkan amarah cinta yang membara dalam jiwanya masing-masing. Sehingga pertautan itu terjadi berulang kali diiringi tawa tertahan keduanya melepas rasa lega yang melayang-layang di udara.


   "I love you, Mas Rangka. Cupppp," ujar Sensi sesaat setelah pertautan panjang tadi dituntaskan, seraya menyatukan bibirnya dengan bibir Rangka. Sensi kini seakan kembali ke Sensi yang genit, tapi disukai Rangka. Rangka tidak akan marah jika di tempat seromantis ini Sensi menyerangnya bertubi-tubi, justru inilah yang Rangka sukai.


   "I love you too, Dear." Rangka membalas ucapan Sensi seraya melabuhkan ciuman di tempat yang sama. "Kita tidur pagi dulu sampai nanti jam 10, aku masih ingin dalam posisi begini sebab aku sangat merindukanmu." Rangka mengecup kening Sensi dengan penuh kasih sayang.


   "Sayang, aku pergi dulu, ya. Besok kita latihan nyetir lagi. Mulai besok kamu harus mulai serius dalam belajarnya." Marisa mengangguk seraya melepas kepergian Rangka suaminya tercinta menuju kantornya.


Kembali Latihan Nyetir


   Besoknya pun tiba, waktu yang dijanjikan Rangka untuk latihan nyetir segera dimulai. Setelah mengantar Glassy sekolah tadi, Rangka dan Sensi langsung ke komplek perumahan tempat yang selama ini Sensi latihan nyetir.

__ADS_1


   Rangka memulai memberikan instruksinya. Di awal sepertinya tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebab jalan yang akan ditempuh Sensi masih jalan yang lurus. Dan awalan yang bagus sudah bisa Sensi lewati. Sekarang menuju materi kedua yaitu belokan. Di sini mulai urat saraf Rangka kencang kembali, berulang kali Sensi tekor membelokkan badan mobil. Rangka geleng-geleng kepala dibuatnya, kepalanya kini pusing benaran.


   "Ayolah Sayangggg, ikuti arahanku, kalau aku bilang rem, rem saja. Nih lihat, kamu tekor belokin mobilnya." Berulang-ulang Rangka memberi arahan, akan tetapi belum nempel satu pun di kepala Sensi. Rangka protes dan memberi peringatan pada Sensi.


   Hari selanjutnya, kini materi yang akan diajarkan Rangka adalah gas dan rem. Semua pretelan yang ada di dalam mobil, Rangka terangkan sedetil-detilnya.


   Latihanpun dimulai setelah tadi Rangka memperlihatkan contoh yang nyata di depan Sensi yang kini sepertinya sangat serius mempelajari setiap apa yang Rangka ucapkan.


   "Siap-siap, Sayang. Di depan sana anggap saja ada orang, jadi kamu harus apa?"


   "Harus menghindar," sahut Sensi.


   "Artinya kamu harus ngerem," ujar Rangka.


   "Ok kita mulai, ya." Sensi mengangguk seraya pelan-pelan mengendalikan kemudinya.


   "Pelan-pelan, anggap di depan ada halangan, kamu siap-siap rem, Sayang," peringat Rangka. Sensi mengangguk.


   "Siap, siap, remmmmm," pekik Rangka memekik sebab Sensi malah nylonong nekan gas. Otomatis mobil itu tekor dan hampir saja loncat. Sensi seketika kaget, jantungnya dag dig dug hampir copot.


   Rangka diam memijit kepalanya tanda pusing, dia tidak tahu bagaimana lagi caranya harus ngajarin Sensi nyetir.


   "Sekarang ulang lagi, aku kasih kesempatan untuk gas, ya," ujar Rangka masih bersabar mengajari Sensi yang belum paham.


   "Sayang, kamu jangan tegang, Ok," peringat Rangka.


   Mobil kembali melaju pelan sesuai arahan Rangka. Kali ini Rangka sedang mengajari materi pedal gas. Sensi nampak tenang. Melihat Sensi tenang, Rangka pun ikut tenang, berharap Sensi cepat paham nyetir.


   "Hati-hati lihat kiri kanan apakah akan ada mobil lewat," peringat Rangka. Lalu beberapa saat kemudian.


   "Sayang, Rem, rem, remmmmmmm." Rangka memekik sembari membanting setir ke arah kiri.


   "Brakkkk." Mobil Sensi banting setir ke sisi kiri sebab di depan secara tiba-tiba dari arah kiri ada mobil yang akan belok, sementara Sensi malah terus digas.


   "Sialan," umpat Rangka marah.

__ADS_1


__ADS_2