Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 31 Cemburu atau Apa?


__ADS_3

"Sensi, dipanggil Pak Bos, tuh!" ujar Rima memberitahu. Aku tersentak, belum juga menjatuhkan bokong di kursi sudah mendapat panggilan.



B"Siapa, Rim?"


"Ya, kamulah, masa aku," sungut Rima.


"Hati-hati ya, nanti malah dikasih persekot," goda Rima.


"Persekot, persekot apaan?"


"Persekot bulan madu," ujar Rima santai.


"Ihhhh, kamu ini apaan sih. Bulan madu apa? Kawin saja tidak, kok tiba-tiba bulan madu, ngarang."


"Kamu tidak tahu gosip yang tengah melanda kubikel kita ini, bahwa kamu dengan Pak Rangka terjadi affair dan kepergok dalam satu kamar saat di hotel Samarinda," jelas Rima membuat aku terhenyak. Itu artinya gosip yang beredar tentang bulan madu antara aku dan Pak Rangka bukan isapan jempol belaka.



"*Duhhhh, celaka ini. Pasti ini kerjaan Mbak Dian* yang menyebar gosip tidak jelas. Rupanya Mbak Dian menyebarkan gosip aku dan Pak Rangka bulan madu, terkait penemuannya tempo hari saat aku ketahuan keluar kamar Pak Rangka. Gawatt nih, berita nggak benar ini pasti akan cepat beredar di lingkungan kantor," batinku was-was.



"Sensi, kamu dipanggil Pak Rangka ke ruangannya. Bawa map ini sekalian. Serahkan sama Pak Rangka, segera!" perintah Kak Tari galak.



"Siap, Kak," ujarku sembari meraih map yang diberikan Kak Tari, lalu permisi menuju ruangan Pak Rangka. Kak Tari menatapku sinis saat aku melangkahkan kaki menjauh darinya.



Beberapa langkah lagi menuju pintu ruangan Pak Rangka, kebetulan pintu ruangan Pak Rangka terbuka sedikit, terdengar dari dalam suara Mbak Koral dan Pak Cakar sedang berbincang.



"Bagaimana Pak Bos, apakah gadis itu cukup menarik dan memberi tantangan baru buat Pak Bos?"


"Lumayan sih, aku hanya butuh beberapa waktu lagi untuk meyakinkan apakah gadis itu tulus atau tidak."


"Kalau menurut saya dia baik dan tulus, walau kadang suka ceplas-ceplos." Pak Cakar menimpali.


"Jangan salah Pak Cakar, walau dia ceplas-ceplos tapi dia baik. Aku bisa melihatnya lho. Aku kan pakar dalam hal menilai gestur tubuh dan gerak-geriknya," yakin Mbak Koral.


Obrolan itu sepertinya seru dan sedang membicarakan seseorang, aku sengaja menjauh beberapa meter dari pintu untuk menghindar dari tudingan mereka kalau aku habis nguping pembicaraan mereka.

__ADS_1



Aku kembali berjalan menuju pintu ruangan Pak Rangka dan mengetuknya. Pintu yang masih terbuka itu aku ketuk, bersamaan dengan itu Mbak Koral keluar disusul Pak Cakar. Aku menyapa ramah mereka berdua.


"Pagi Pak Cakar, pagi Mbak Koral," sapaku. Mbak. Koral tersenyum ramah sembari mempersilahkan aku masuk, begitu juga Pak Cakar.


"Masuk Sen, dari tadi lho si Bos nunggu, sepertinya sudah kangen dia," ucap Mbak Koral sembari tersenyum. Aku balas senyum meski kurang paham dengan maksudnya.



"Selamat pag, Pak!" sapaku menghampiri depan meja Pak Rangka.


"Pagi, duduklah!" perintahnya tidak bisa dibantah.


"Itu map yang dikasih Tari, kan?"


"Iya, Pak." Aku meletakkan map di depan Pak Rangka.


"Bagaimana perjalanan dinas kamu di Barjarmasin, apakah menyenangkan?" Tiba-tiba Pak Rangka menanyakan perjalanan dinas kemarin, yang otomatis mengingatkan aku pada gosip tadi pagi..



"Menyenangkan, Pak." Aku hanya bisa menjawab pendek, sebab gosip tadi pagi cukup menyita pikiranku. Tega-teganya Mbak Dian bikin gosip tidak benar seperti itu. Bisa-bisa hancur reputasiku sebagai gadis baik-baik yang selalu menjaga kehormatannya.



"Iya, Pak. Ada yang sedang saya pikirkan," aku menjawab dengan cepat dan spontan.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, sehingga kamu berubah murung dan tidak ceria seperti biasanya?" tanya Pak Rangka lagi, sepertinya kali ini dia penasaran.


"Tidak ada, Pak. Hanya masalah biasa," kelitku.


"Ya , sudah kalau kamu tidak ada masalah, silahkan kamu kembali ke ruangan kamu," usir Pak Rangka menyuruhku kembali. Tapi aku masih duduk di kursi hadapan Pak Rangka, tiba-tiba Hpku berbunyi entah siapa yang menghubungi di pagi ini membuat aku sedikit keki.


Ku rogoh Hp di saku samping rokku, lalu kulihat siapa gerangan yang telpon. Wah, rupanya Mas Krisna yang telpon, setelah tadi malam hanya sebentar, kini menelpon lagi. Setelah tadi murung, kini sedikit senyum terbit dari sudut bibirku. Aku segera berdiri dari kursi hadapan Pak Rangka dan bermaksud kembali ke ruanganku sesuai perintah Pak Rangka tadi.



"Siapa yang telpon?" tanya Pak Rangka menyelidik.


"Anu, Pak. Itu Mas Krisna," jawabku sembari bermaksud akan keluar ruangan Pak Rangka.


"Stop, kamu angkat dulu telponya dan katakan bahwa kamu sedang bekerja dan tidak bisa diganggu," titahnya tegas. Aku patuh dan segera mengangkat panggilan dari Mas Krisna.


"Halo, Assalamualaikum, Mas Krisna. Mas, nanti ...." Belum sampai aku melanjutkan untuk memberitahu Mas Krisna supaya nanti saja nelponnya setelah pulang kerja, Pak Rangka sudah merebut Hpku dan berbicara pada Mas Krisna.

__ADS_1



"Halo, Krisna, jangan hubungi karyawan saya saat jam kerja. Ini sangat mengganggu kinerjanya. Dia bukannya kerja malah sibuk berbicara dengan kamu," peringat Pak Rangka lalu memutus panggilan Mas Krisna sepihak.



"Kalau dia menghubungi kamu lagi, sebaiknya jangan kamu angkat! Kamu kan tahu ini jam kerja, harusnya jangan dihiraukan," peringat Pak Rangka mendelik kesal.



"Biak, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," ujarku pamit dan kembali ke ruanganku di lantai dua. Sepanjang jalan menuju ruanganku, aku memikirkan Mas Krisna, takutnya dia salah paham dan menduga bahwa aku sedang dimarahi Pak Rangka.



Saat tiba di mejaku semua teman-teman seruanganku sedang sibuk dengan di kubikelnya dengan pekerjaannya masing-masing. Aku segera ambil posisi di hadapan mejaku dan mengerjakan map yang sudah Kak Tari simpan di atas mejaku.



Lama-lama Pak Rangka itu aneh dan bikin bingung, dia kelihatan marah dan cemburu saat tadi melihatku menerima telpon dari Mas Krisna. Dari caranya marah Pak Rangka seakan menempatkan dirinya sebagai kekasih.



"Sensi, bagaimana kerjaan kamu, apakah sudah ada yang selesai?" Kak Tari menghampiri dan bertanya.


"Ini Kak, baru sebagian," jawabku.


"Kamu tahu tidak gosip yang sedang beredar?" tanya Kak Tari sambil tersenyum mengejek.


"Gosip apa, Mbak?" tanyaku kepo. KakTari terkekeh, kemudian dia duduk di atas meja kerjaku.



"Masa iya, kamu belum tahu?"


"Saya tidak tahu Mbak, gosip apa?"


"Dengar, ya. Gosipnya kamu dengan Pak Rangka saat pergi kemarin ke Banjarmasin, sebetulnya sambil bulan madu, ya? Sebab gosip yang beredar, kalian berdua kepergok sedang keluar dari kamar yang sama dengan rambut yang basah," jelas Kak Tari membuat aku terperanjat sebab gosip yang beredar benar-benar nggak benar. Masalah satu kamarnya sih benar, akan tetapi bulan madunya yang tidak benar.


"Ha, ha, ha, rupanya muka tanpa dosa dan sikap yang polos ceplas ceplos tidak menandakan diri kamu baik, ya? Diam-diam kamu menghanyutkan. Rela ditiduri oleh seorang laki-laki tanpa ikatan pernikahan hanya karena mentang-mentang dia Bos," tuduhnya sok benar. Aku terhenyak dan langsung sakit hati mendengar tuduhan kejam Kak Tari. Kalau begini aku tahu siapa yang harus aku cari, Mbak Dian. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya menyebarkan gosip yang tidak benar.



"Itu tidak benar Mbak," sangkalku seraya berkaca-kaca.


"Mau nyangkal juga, tapi kan ada bukti bahwa kalian satu kamar."

__ADS_1


"Itu tidak benar, stop kalian menggosipkan saya dengan Pak Rangka," ujarku sambil berdiri dan berurai air mata.


__ADS_2