Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 17 Sekamar Gara-gara Gangguan Makhluk Gaib


__ADS_3

"Pak Rangka, tolong Pak! Kamar saya sepertinya serem, saya takut dan saya tidak tahu mau tidur di mana? Tadi lampunya mati dan dari kamar mandi terdengar suara seseorang mandi," ceritaku masih memeluk Pak Rangka disertai suara yang bergetar saking soaknya.


Pak Rangka mencoba menenangkanku dan membawaku kembali kembali ke kamar. "Tidakkk, saya tidak mau kembali ke kamar, saya takut," tahanku.


"Tidak, saya hanya ingin memastikan saja, apakah benar di dalam kamar ini horor dan ada hantunya. Kamu lepas dulu dong pelukan kamu, kalau begini saya tidak bisa jalan. Terus kalau tubuh kamu nempel di tubuh saya, salah-salah nanti ada yang berdiri," sergah Pak Rangka sembari mencoba melepaskan dengan perlahan pelukan aku, dan bersamaan dengan itu benar saja di bawah sana seperti ada yang bergerak menusuk-nusuk pahaku.


"Awwww, aduhhhh, apa itu Pak?" Aku sontak menjauhkan tubuhku dari tubuh Pak Rangka sebab ada sesuatu yang terjadi di bawah sana. "Astaghfirullah!" ucapku soak.


"Ayo, masuklah. Saya ingin buktikan apakah yang kamu takutkan benar ada." Pak Rangka malah menantang dan sepertinya tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan tadi. Aku mengikuti Pak Rangka dari belakang dengan tangan berpegangan pada kaosnya.


"Ini lampunya menyala, tadi kamu bilang mati hidup. Coba kita ke kamar mandi, kita lihat apakah ada bekas mandi," ujar Pak Rangka sembari menuju kamar mandi dan masih diikuti aku di belakangnya.


Pak Rangka membuka pintu kamar mandi lebar-lebar dan nampaklah isi kamar mandi yang sama. Tidak ada air bekas baru mandi atau sampo yang tadi sempat menyuruk hidung. Keadaannya masih lembab bekas mandi aku tadi saja. Dan anehnya, kini aroma terapi harum melati tidak tercium lagi. Yang tercium kini benar-benar aroma terapi yang menenangkan. Aneh benar-benar aneh. Keadaan inilah membuat aku benar-benar jadi merinding dan semakin takut.



"Keadaannya aman, sekarang kamu bisa tidur nyenyak. Saya tinggal ya," ucap Pak Rangka seraya membalikkan badan.


"Pak!" panggilku menahan langkah Pak Rangka. Pak Rangka menatapku heran.


"Saya benar-benar takut Pak, bolehkah saya minta tidur di Mbak Dian saja? Saya akan coba ngetuk pintunya dan tidur di kamarnya." Mendengar permintaanku itu Pak Rangka diam seakan berpikir.



"Saya tidak tahu apakah Dian sudah tidur atau tidak, coba kamu telpon dulu." Akhirnya aku mencoba menghubungi Mbak Dian. Akan tetapi nomernya sudah tidak aktif, seperti yang sudah diketahui di kalangan teman-teman satu ruangan, bahwa Mbak Dian punya kebiasaan \*\*\*\*\*, alias baru saja nempel langsung molor dan tidak mempan jika diganggu, apalagi jamnya istirahat begini, Mbak Dian pasti susah dibangunkan.



"Tidak bisa Pak," ucapku putus asa.

__ADS_1


"Gimana dong? Ya sudah, kamu sekarang tenang dulu, kamu itu hanya tersugesti saja jadi sekarang seolah-olah merasakan hal yang bikin kamu takut. Sekarang kamu tenangkan dulu pikiran kamu, baca doa dulu sebelum tidur," ujar Pak Rangka mencoba menenangkan.


"Ya sudah Pak, akan saya coba. Dan semoga saya bisa langsung tidur," ujarku lesu karena tidak ada pilihan lain. Pak Rangka kemudian keluar dari kamarku. Aku segera mengunci selot pintu bukan dikunci dari lubang kunci. Perlahan aku naik ranjang dan segera berbaring lalu berselimut. Perlahan ku pejamkan mata sambil berdoa dan berharap rasa kantuk cepat datang.



Lima menit aku tidak merasakan apa-apa, dan aku mulai bisa tenang. Aku berusaha tidur. Namun entah dari mana asalnya, tiba-tiba aku mendengar suara hembusan angin tapi jendela kamarku tidak terbuka. "Ya Allah apa lagi ini, aduhhh, gimana ini?" bisikku takut.



Tidak lama dari itu aku sepertinya merasakan kakiku dingin yang menjalar sampai betis, lalu saat itu juga seperti ada yang meraba kakiku sampai betis. Seperti tangan kasar mengusap kaki. Sontak aku menjerit dan loncat dari ranjang.



"Awwww, jangan gangguuuu. Pak Rangka, Pakkkk!" Yang aku bisa hanya berteriak sambil menatap takut ke arah ranjang yang tidak ada apa-apa. Perlahan aku membalikkan badan membuka selot kunci. Aku benar-benar tidak akan bisa bertahan jika keadaannya seperti ini. Aku soak sehingga selot kunci begitu sukar aku buka. Namun beberapa menit kemudian selot berhasil dibuka. Tanpa menunggu lama aku membuka pintu dan aku keluar dari kamar dengan kaki yang sudah lemas.




"Ada apa ini?" Rupanya suara hantaman pintu yang keras itu mampu membangunkan tetangga sebelah kamarku, dia melihat ke arahku namun tanpa jawaban.



Aku berusaha melangkah menuju pintu Pak Rangka, lalu mengetuknya. Namun entah kenapa pintu kamar Pak Rangka lama dibuka, apakah Pak Rangka sudah tidur?



Jalan terakhir hanyalah dengan mencoba menghubungi Pak Rangka. Hpnya aktif namun panggilanku belum diangkat. Pada panggilan kedua, setelah satu menit baru diangkat.

__ADS_1


"Sensi, ada apa kamu telpon saya?"


"Buka pintunya, Pak. Saya ada di depan pintu Bapak," ucapku lemes. Tidak berapa lama pintu kamar Pak Rangka terbuka. Pak. Rangka terkejut melihatku, spontan aku langsung berhambur ke arah Pak Rangka dan memeluknya erat seperti tadi.


"Pak Rangka saya takut Pak, ijinkan saya tidur di sini," pintaku memohon dan masih memeluk erat tubuh Pak Rangka yang kekar. Pak Rangka membawa tubuhku ke dalam kemudian mengunci pintu. Pak Rangka membawaku ke ranjang dan mendudukkan tubuh aku yang lemas.



"Coba katakan, ada apa lagi tadi di kamar kamu sampai kamu ketakutan begini?" Pak Rangka bertanya sambil menatapku.


"Sa-saya tidur di sini saja, Pak. Saya takut di tidur kamar saya." Pak Rangka mengkerutkan keningnya heran.


"Kenapa?"


"Kejadian aneh di kamar saya, tadi terulang lagi. Saya takut. Untuk itu ijinkan saya tidur bersama Bapak," ujarku sambil berkaca-kaca. Pak Rangka sontak tersenyum penuh misteri.


"Boleh. Tapi benaran nih kamu mau tidur bersama saya?"


"Maksud Bapak?" Aku bertanya balik tidak paham. Yang jelas malam ini aku tidak akan balik lagi ke kamarku, aku sungguh-sungguh takut.



"Sudahlah, daripada kamu semakin bingung, lebih baik kamu segera tidur. Dan siapkan diri kamu besok. Kamu bisa tidur di kasur yang sama dengan saya," ujar Pak Rangka akhirnya memutuskan bahwa aku boleh tidur di ranjang yang sama.



Aku masih duduk di ranjang dengan bingung, sementara Pak Rangka menyeduh kopi hitam yang telah disiapkan pihak hotel. Akhirnya gara-gara gangguan makhluk gaib, aku harus tidur satu kamar dengan Pak Rangka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2