Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 11 Nasi Padang Dibungkus


__ADS_3

"Sensi, kamu pulangnya bareng saya saja. Saya tidak ijinkan kamu pulang naik motor karena ini sudah malam," cegah Pak Rangka menahan langkahku.



"Tapi bagaimana, Pak, dengan motor saya?" tanyaku was-was pada motor cantikku satu-satunya itu.


"Tenang saja, nanti biar Supir saya yang antar. Kamu tinggal kasih alamat kamu saja yang jelas," tekan Pak Rangka menenangkanku.


Sejenak aku berpikir, kalau Pak Rangka punya Supir lantas kenapa saat berangkat kerja Pak Rangka justru nyupir sendiri? Terlebih saat itu Pak Rangka asmanya kambuh?



"Bapak ada Supir?" tanyaku ragu-ragu. Pak Rangka sekilas menatapku heran lalu berkata.


"Punya. Tapi dia khusus Supir di rumah, antar jemput asisten rumah tangga saya, dan ngantar anak saya sekolah atau jalan-jalan, itupun kalau saya sedang sibuk," cerita Pak Rangka. Sepertinya saat Pak Rangka menceritakan tentang anaknya, dia begitu antusias, dan terpancar rasa kasih sayang yang besar pada anaknya itu.


"Ayo, masuklah, ini sudah malam! Nanti di simpang empat kita berhenti dulu untuk makan malam," ujar Pak Rangka.


"Saya tidak usah makan malam dulu Pak, ini sudah malam. Saya takut kemalaman, Bapak dan Ibu saya takut menunggu dan khawatir," ucapku risau menolak ajakan Pak Rangka untuk makan malam.


"Tapi kamu belum makan?"


"Saya tidak apa-apa, saya makan malam di rumah saja," ucapku lagi resah. Pak Rangka tidak menyahut lagi ucapanku, dia segera menyalakan mesin mobil dan mobil Pajira miliknya segera keluar dari halaman PT. Kertassindo Gemilang.


Tiba di simpang empat, mobil Pak Rangka berbelok ke arah kanan dan memasuki rumah makan Padang. Rupanya Pak Rangka malah ngajak aku makan dulu, padahal tadi sudan aku katakan tidak usah. Aku takut pulang kemalaman, Bapak dan Ibu takut khawatir.



"Pak, saya tidak akan makan dulu. Ini sudah malam banget," cegahku.


"Tidak, apa-apa. Kamu tenang saja, saya akan bungkuskan nasi buat kamu dibawa pulang jika kamu tidak mau makan di sini," ujar Pak Rangka memaksa. Aku tidak bisa apa-apa selain pasrah dengan apa yang mau Pak Rangka buat.


"Kamu tunggu saja di dalam, biar saya yang pesankan." Aku hanya mengangguk dan mengikuti arahan Pak Rangka. Lima belas menit kemudian Pak Rangka sudah tiba di mobil dengan membawa beberapa kantong kresek berisi nasi Padang yang dibungkus.



"Ini buat kamu," sodor Pak Rangka memberikan kresek warna hitam berisi nasi Padang. Aku tercengang, sebab nasi Padang yang diberikan Pak Rangka banyak banget ada empat bungkus.

__ADS_1



"Lho, ini banyak banget Pak. Tidak usah repot-repot. Kan tadi sudah saya bilang, saya tidak mau makan."


"Iya, saya tahu. Tapi kan ini buat kamu makan di rumah. Yang tiga bungkusnya buat orang di rumah kamu, siapa saja yang mau," ujar Pak Rangka sembari menyalakan mesin mobil dan meninggalkan halaman rumah makan nasi Padang.


"Kalau begitu, terimakasih banyak, Pak. Saya jadi merepotkan Bapak," ujarku meminta maaf dan malu-malu.



"Tidak, kamu tidak merepotkan saya, justru saya yang minta maaf sama kamu. Saya sudah membuat pulangmu terlambat dan tidak bisa mengajakmu makan dulu. Lain kali saya pasti ajak kamu makan bersama, ya," ucap Pak Rangka terdengar menyesal.



"Iya, Pak, tidak apa-apa. Saya juga minta maaf telah membuat Bapak mengantar saya." Akhirnya aku dan Pak Rangka sama-sama saling mengatakan maaf. Dan mobilpun kembali berjalan menuju rumahku.



"Rumahmu ke arah mana?"


"Lurus, simpang empat belok kanan."



"Tenang saja, saya akan bicara terus terang pada orang tuamu bahwa kamu lembur sampai malam. Kamu jangan khawatir, ya!" ucap Pak Rangka mencoba menenangkan kekhawatiranku. Akupun segera turun tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Pak Rangka.



Aku diikuti Pak Rangka berjalan memasuki halaman depan rumah orang tuaku yang lumayan luas. Meskipun di pinggir jalan, rumah orang tuaku cukup luas halamannya, sehingga jika mobil Pak Rangka ingin parkir dan masuk ke halamanpun bisa.



"Assalamualaikum!" salamku pada Ibu dan Bapak yang sudah sejak tadi menatap ke arah kami.


"Waalaikumsalam." Bapak dan Ibu kompak membalas salamku seraya menatap heran pada Pak Rangka.


Pak Rangka dengan sopan mengulurkan tangannya dan menyalami orang tuaku. "Rangka, saya teman satu kantor Sensi. Maaf saya mengantar sampai rumah, sebab Sensi lemburnya sampai malam, tadi saya khawatir jika Sensi pulang sendirian naik motor malam-malam. Saya harap Ibu dan Bapak memakluminya," ucap Pak Rangka sambil menyalami Ibu dan Bapak sopan.

__ADS_1



Bapak dan Ibu menerima uluran tangan Pak Rangka sembari menatap dengan penuh rasa lega. Mungkin Bapak dan Ibu lega anaknya diantar seseorang dengan selamat tanpa kurang satu apapun.



"Terimakasih banyak Nak Rangka sudah mengantar anak saya pulang dengan selamat," ujar Bapak ramah. Pak Rangka mengangguk dan berbasa -basi sejenak sebelum akhirnya memutuskan pulang.



"Hati- hati Nak Rangka, semoga selamat sampai tujuan." Bapak melambaikan tangan saat Pak Rangka dan Supirnya mulai melangkahkan kaki menuju mobil.



Bapak dan Ibu masih menatap kepergian Pak Rangka sampai mobil Pajiranya menghilang di belokan jalan. "Teh, bukankah yang barusan itu adalah Bos kamu?" tanya Bapak tiba-tiba.



"Iya, Pak," jawabku pendek seraya memasuki rumah.


"Tapi barusan ngakunya teman kantor kamu?" Bapak sepertinya masih penasaran.


"Bukan, Pak. Sebenarnya dia Bos di kantor Sensi bekerja. Dia yang punya perusahaan," jelasku sembari melangkahkan kaki menuju rumah.


"Ya, sudah, berhubung Sensi sudah pulang. Ayo kita masuk saja, kebetulan Sensi dibelikan nasi Padang sama Pak Rangka tadi. Berhubung tadi Sensi nolak makan di tempat karena sudan malam, akhirnya Pak Rangka membelikan nasi Padang, empat bungkus malah Pak. Pas banget untuk kita yang berempat di rumah ini," ujarku antusias ingin segera menyantap nasi Padang traktiran Pak Rangka.



"Kami sudah makan, Teteh saja yang makan, kayaknya Teteh sangat lapar. Makanlah, kalau adikmu mau Ajak sekalian dia makan," ujar Ibu mengingatkan aku pada adikku yang dari tadi belum kelihatan.



"Eh Iya, ya, ngomong-ngomong Aloe mana, Bu?" tanyaku sambil celingukan mencari adik satu-satunya.


"Sepertinya dia sudah tidur, tadi habis sholat Isya kayaknya langsung tidur."


"Sayang sekali nih, Bu, Pak, nasi Padangnya masih panas. Gimana dong siapa yang mau makan?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, simpan saja buat besok di kulkas, dan besok kalau masih mau bisa dihangatkan," ujar Ibu seraya menutup pintu rumah. Akupun akhirnya makan malam nasi Padang pemberian Pak Rangka. Duhhh terasa nikmatnya. Apalagi saat makan, bayangan Pak Rangka terus membayang di pelupuk mata.


__ADS_2