
Sore menjelang, kami menyudahi petualangan kami di Pantai Carita. Glassy tampak bahagia, begitupun Bu Catly selalu menyunggingkan senyum. Mereka sungguh pasangan Nenek dan cucu yang kompak. Mereka seakan kompak membiarkan aku dan Pak Rangka terlibat kebersamaan di setiap kesempatan. Ada apa dengan Glassy dan Bu Catly?
"Sensi, makasih banyak ya, kamu tadi sudah menolong saya lagi dari kumatnya sesak nafas," ucap Pak Rangka memecah kebekuan. Aku menoleh dan tersenyum kecil, lalu kembali menundukkan kepala karena merasa malu.
"Sensi, apakah kamu bahagia dengan apa yang kita lakukan tadi?" tanya Pak Rangka menyinggung kejadian setelah aku memberi nafas buatan tadi. Wajahku langsung merona merah, malu dan entah apa yang harus aku katakan. Lagipula kejadian itu Pak Rangka yang mulai dan nyosor, sehingga tidak memberi kesempatan aku untuk menghindar.
"Kamu kenapa, malu?" Pak Rangka malah bertanya, jelas saja aku malu sebab kejadian itu Pak Rangkalah yang memulai. "Ok, kita lupakan kejadian tadi. Anggap saja itu adalah rasa terimakasih saya sama kamu, karena kamu telah menyembuhkan asma saya yang kambuh. Sekarang kita pulang dan kembali ke rutinitas kita seperti biasanya," ucap Pak Rangka dengan senyum yang tersungging.
Aku sedikit kecewa dengan ucapan Pak Rangka barusan, sedikitpun tidak menyinggung mengenai hubungan kita selanjutnya ke depan setelah apa yang Pak Rangka lakukan tadi. Menodai kesucian bibirku untuk kedua kali yang dilakukannya sangat rakus itu. Bilangnya hanya rasa terimakasih atas kesembuhan asmanya yang aku sembuhkan tadi. Dan aku begitu bodohnya tadi ikut terbuai oleh nafsu sesaatnya Pak Rangka, yang Pak Rangka anggap hanya sebagai rasa terimakasih.
Bagaimana kalau tadi aku terbuai dengan hal yang lebih liar? Apakah Pak Rangka masih akan mengatakan itu sebagai rasa terimakasih? Padahal tadi aku merasakan getaran dalam dada aku dan Pak Rangka sama dahsyatnya. Aku pikir Pak Rangka akan mengambil keputusan, mengajakku untuk membina hubungan yang serius dan membina hubungan halal. Aku menjadi sangat sedih, ternyata Pak Rangka lebih mengedepankan nafsu bukan keseriusan.
Seminggu kemudian, hubungan aku dan Glassy semakin akrab dan dekat. Hubunganku dengan Bu Catly juga sangat baik. Tapi tidak hubunganku dengan Pak Rangka. Aku kini berusaha jaga jarak dan menghindari Pak Rangka, tapi tetap saja aku dituntut kerja profesional
"Sensi, kenapa sih kamu melamun terus. Ada apa sebenarnya?" tiba-tiba Rima muncul dan kepo dengan sikap aku yang akhir-akhir ini murung. Aku tidak menjawab lagipula Rima dan lainnya sama saja selalu kepo dan suka menyebar gosip yang kadang tidak benar.
Sampai aku mendengar selentingan bahwa Pak Rangka mau melamar seseorang di minggu terakhir bulan ini. Gosip ini menyebar dari Rima, Rima bilang dia mendengar dari sumber gosip yang terpercaya dan up to date.
__ADS_1
"Lantas kalau gosip ini up to date, kamu pasti tahu kan, siapa perempuan yang akan dilamarnya?" Rima langsung menggeleng, sepertinya kali ini dia memang tidak tahu siapa calon yang akan dilamar Pak Rangka.
Berita atau gosip tentang rencana Pak Rangka akan melamar seseorang, cukup menyedihkan perasaanku. Aku terpuruk dalam diam, kadang saat sedang di kamar mandi aku menangis memikirkan nasibku yang telah dinodai kesucian bibir oleh Pak Rangka.
"Sensi, Rima, kalian ini bergosip saja. Selesaikan kerjaan kalian. Dan kamu Sensi, bawa map kamu ke ruangan Pak Rangka, kamu kerjakan di ruangannya saja!" perintah Kak Tari menunjuk ke arahku.
Sebetulnya aku malas dengan perintah Kak Tari yang harus ke ruangan Pak Rangka, tapi sepertinya Kak Tari dapat perintah langsung dari Pak Rangka. Dengan malas aku membereskan map-map yang berada di atas mejaku lalu membawanya ke ruangan Pak Rangka.
Saat aku masuk ruangan Pak Rangka, Pak Rangka sepertinya sudah menunggu kedatanganku. Aku masuk dengan wajah yang datar namum masih bersikap hormat.
"Sensi, sepertinya minggu depan saya akan melamar seseorang, kamu tahu betapa saya senang karena sebentar lagi saya bisa memiliki gadis itu seutuhnya?" Berita Pak Rangka yang tiba-tiba seakan menghantam ulu hatiku, seketika aku seakan diterjang ombak tsunami yang dahsyat yang mampu menghancurkan pertahanan jiwaku. Aku mendadak lemas tidak bertenaga dan sepertinya bulir bening di pelupuk mataku siap akan jatuh. Namun sekuat tenaga aku tahan supaya tidak jatuh.
"Bagaimana, apakah kamu cukup senang mendengar berita ini?" tanya Pak Rangka lagi memberi pertanyaan yang berat untuk aku jawab. Secepat kilat aku menyeka bulir yang sudah jatuh saat Pak Rangka tatapannya lengah menuju arah lain. Aku berusaha menguatkan hati dan kembali fokus dengan pekerjaanku.
"Siapa perempuan yang beruntung itu Pak?" tanyaku pura-pura ikut senang dengan senyum yang tersungging.
__ADS_1
"Nanti juga kamu akan tahu jika saatnya tiba. Kamu juga pasti akan dapat undangannya dari saya," ujar Pak Rangka dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibirnya. Aku cukup terhenyak dengan ucapan Pak Rangka bahwa aku merupakan salah satu tamu undangannya diacara lamarannya nanti. Ini cukup miris bagiku, sebab aku yang selama ini begitu mengharapkan Pak Rangka bahkan mencintai Pak Rangka diam-diam. Tapi sungguh Pak Rangka ini membuat aku kecewa. Pak Rangka tidak pernah peka dengan perasaanku.
Siap-siap setelah ini sepertinya aku lebih baik resign saja dari perusahaan Pak Rangka. Aku tidak mau mengingat bayang-bayang Pak Rangka beserta rasa cintaku untuknya tertinggal di sini.
"Oh iya tentu saja Pak, saya akan hadir di acara lamaran Pak Rangka. Tapi jika saya sehat dan ada waktu tentunya," jawabku sedikit terbata.
"Kamu harus hadir, karena ini momen penting dalam hidup saya untuk mengakhiri kesendirian saya yang sudah dua tahun menduda," jelasnya sembari berdiri dan kembali ke mejanya.
Aku cukup sedih dan kecewa dengan mendengar semua ucapan Pak Rangka mengenai rencananya minggu depan yang akan melamar seorang gadis pilihannya.
"*Pak Rangka sungguh kejam. Setelah apa yang diperbuatnya padaku, dia tiba-tiba akan melamar seseorang, tapi bukan melamar aku seperti apa yang selama ini aku bayangkan. Aku sungguh bodoh dan murahan karena selama ini hanya dijadikan sebagai pelampiasan nafsunya*."
Jam istirahat tiba, tugasku juga selesai tepat waktu. Aku segera membereskan mapku dan merapikannya lalu berdiri menuju meja Pak Rangka.
"Tugasnya sudah selesai, Pak. Saya permisi mau istirahat dan makan siang nasi bekal di taman dekat mushola," pamitku kumplit beserta tujuanku. Pak Rangka melongo dengan sikapku yang datar tanpa senyum malu-malu lagi. Secepat langkahku beranjak dari ruangan Pak Rangka menuju taman dekat mushola untuk makan siang dengan nasi bekalku dari rumah.
__ADS_1
"Sensi, tunggu!" Aku tidak menggubris meskipun Pak Rangka memanggilku. "Sensi, kembali!"