Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 59 Malam Pertama yang Menegangkan


__ADS_3

Ya ampun aku terbelalak setelah aku selesai menggunakan tahapan gaun tidur super transparan mirip lingeri itu. Semuanya seperti percuma, sebab kulit tubuhku masih terlihat nerawang. Seketika aku merasa malu, padahal Pak Rangka belum ada di dalam kamar itu. Akan tetapi rasa maluku makin menjadi saat bunyi handle pintu terdengar.



"Trek." Dan pintu pun terbuka. Sosok tampan berpiyama nerawang muncul dengan celana boxer yang terlihat, lengkap dengan jeroannya yang sekilas nampak jelas. Sesuatu hal yang baru kali ini aku lihat dengan nyata walau sekilas. Mendadak pikiranku merasa seram dan jantungku semakin berdebar kencang. Pikiran yang tidak-tidak muncul seketika.



Pak Rangka semakin mendekat, sementara aku berusaha menyembunyikan tubuhku di balik kedua tanganku. "Kenapa kamu tutupi, toh tidak akan bisa tertutup cuma dihalangi oleh dua tangan," sergahnya sembari mendekat dan mendekap tubuhku dari belakang. Wajahnya yang tampan dan klimis ditenggelamkan di leherku dan menatap langsung mataku dari wajah yang berada di leherku.



"Kamu sangat seksi dan menggairahkan. Saya sangat bangga memiliki kamu," ucapnya tersenyum penuh kemenangan. "Tubuhmu harum sekali, Sayang," pujinya seraya mencium pipiku penuh perasaan. Hatiku makin ketar-ketir saat tangan kekar Pak Rangka melilit erat di pinggangku. Semua pergerakan tubuhku dikuncinya sehingga sulit sedetikpun bergerak.



"Malam ini semua yang ada di tubuhmu milik saya," ucapnya lagi setengah berbisik. Sejenak Pak Rangka melepaskan lilitan tangan kekarnya, lalu membalik tubuhku. Pak Rangka menatap sekujur tubuhku yang masih dibalut gaun tidur nerawang, dari atas sampai bawah seakan diteliti dengan seksama sesekali diiringi decak kagum.



"Sempurna Tuhan menciptakan kamu untuk saya, saya malam ini akan menjadi lelaki yang paling bahagia karena bisa memiliki kamu," ungkapnya seraya meraih pinggangku. Kami saling berhadapan dengan tubuh yang semakin erat karena dekapan erat tangan Pak Rangka yang melingkar di pinggangku merapatkan tubuh kami. Suara deru nafas kami sama-sama tidak beraturan saat wajah Pak Rangka semakin mendekat dengan wajahku. Aku sudah bersiap dengan reaksi dari Pak Rangka, perlahan aku memejamkan mata bersamaan dengan itu sentuhan lembut dan hangat menyentuh bibirku.



"Sepertinya kamu semakin terbiasa dengan pagutan ini, dan hari ini kamu sudah tidak kaku lagi," ujarnya sengaja membuka aibku yang sudah tidak kaku lagi menerima sentuhan bibirnya yang manis. Dan lagi-lagi ciuman itu Pak Rangka labuhkan tidak henti-henti. Sebagai pemanasan katanya. Sejengkalpun dari tubuhku, Pak Rangka bilang tidak ingin melewatkannya.



"Kamu diibaratkan apel muda yang kalau di makan bunyinya sangat kriuk dan renyah. Kamu anugrah terindah buat saya," ungkapnya sembari membawaku ke atas ranjang. Dengan elegan aku dibaringkannya. Kemudian Pak Rangka juga baring di sisiku dengan kaki mengunci kakiku.



"Apakah kamu bahagia bersanding dengan saya?" tanya Pak Rangka tiba-tiba. Dibalik hasratnya yang menggebu-gebu masih saja sempat bertanya, dan itu membuat aku sedikit bersyukur setidaknya bisa mengulur-ngulur waktu.

__ADS_1



"Bahagia, sangat bahagia," jawabku jujur apa adanya.


"Apanya yang membuat kamu bahagia?"


"Semuanya yang ada dalam diri Pak Rangka," jawabku. Pak Rangka tersenyum seraya memelukku erat.


"Malam ini, kamu harus siap-siap, karena saya akan buat kamu tidak tidur sampai subuh," ancamnya berbisik diakhiri ciuman gemas di telingaku yang sontak membuat aku geli.



"Hentikan Pak, ini geli," protesku seraya menahan rasa geli yang diberikan Pak Rangka.


"Kamu harusnya jangan lagi manggil saya Pak dong, sayang kek atau mas kek. Kalau Pak, kesannya terlalu formal. Kamu sekarang kan sudah menjadi istri saya," protesnya sambil mencium kembali pipiku yang makin merona merah.


"Ba-baiklah Pak, eh Mas," ralatku masih belum terbiasa.


"Sepertinya saya sudah tidak kuat menahan beban ini, setiap menatap wajahmu saya ingin segera menuntaskannya. Kamu harus bersiap dan bertahan ya, Sayang. Demi kebahagiaan kita bersama," bisiknya kembali dengan raut wajah sendu. Dan aksinya kini dimulai, dari mulai melepaskan helai perhelai yang melekat di tubuhku dan juga di tubuhnya dengan pelan namun pasti.



"Tunggu, lampunya kenapa tidak dimatikan saja, saya malu Mas," tahanku sembari menutup tubuhku dengan kedua tanganku.



"Ini cukup, Sayang. Malam pertama, saya ingin melihat sekujur tubuhmu dengan utuh lengkap dengan semua gerakanmu, kamu tenang saja. Saya akan bimbing kamu supaya malam ini tidak menyakitkan," ujarnya seraya mulai beraksi sedangkan mukaku dan tubuhku makin tegang saja sebab malam ini merupakan pengalaman pertamaku akan terjamahnya mahkota kehornatanku oleh suamiku sendiri.



"Tenang sayang, jika kamu tenang maka ini semua tidak akan menyakitkan."


**

__ADS_1


Satu jam kemudian, nyatanya rasa sakit itu memang benar-benar menyiksaku. Aku merasakan bagian bawahku seperti ada rasa tidak enak dan perih. Aku menangis saat pertama kali Pak Rangka memasukinya. Aku tidak digubrisnya saat merasakan rasa sakit itu. Yang ada Pak Rangka malah memberikan ciuman supaya aku tenang katanya.



Jeritan-jeritan kecil keluar dari bibirku yang lagi-lagi dibungkamnya. "Sakittttttttt," jeritku.


"Sayang, kamu itu sangat tegang. Jadinya sakit. Tapi aku bahagia melihat kamu seperti ini. Ini kebanggaan buatku," ujar Pak Rangka disela-sela tangisanku dan menyudahi petualangan liarnya menjelajahi hutan yang baru saja dijelajahinya.


"Hutan larangan yang masih sangat terjaga kesucian dan kehornatannya. Terimakasih Sayang, karena kmau sudah mengijinkan aku memasukinya meski dengan derai air mata. Ayo, istirahat dulu sejenak, nanti aku mandikan air hangat biar rasa sakitnya segera menghilang," ucapnya lagi panjang, padahal aku masih menangis merasakan rasa yang tidak nyaman tadi.



Pak Rangka atau Mas Rangka kemudian membawaku ke dalam kamar mandi, membaringkanku di atas buthtab dan dimandikan dengan air hangat. Kami berdua benar-benar mandi, Mas Rangka menggosok badanku pelan penuh kasih sayang. Kadang dia tersenyum sendiri melihat bekas gigitan semutnya yang meninggalkan tanda merah di sekujur tubuhku.



Sekujur tubuhku lebam-lebam bukan karena siksa KDRT, tapi hampir tiap incinya digigit semut bibir Mas Rangka, leher, bibir, si kembar, paha kiri dan kanan sehingga kurang lebih sejam memberi tanda itu sebelum menjamah hutan larangan yang masih suci. Alasannya untuk membuat aku supaya tidak tegang ataupun sakit saat dimasuki. Tapi semua itu tidak pengaruh, buktinya aku masih merasakan sakit, saat hutan laranganku benar-benar terjamah sampai ke dalam jurangnya.



Setelah badanku dan badan Mas Rangka terbilas bersih, dengan lembut tubuhku dipangkunya ala bayi dengan berselimutkan handuk yang tebal. Lalu dibaringkannya di atas ranjang.



"Pakailah dulu piyama ini, makan malam kita sebentar lagi sampai. Kamu jangan lupa makan yang banyak, sebab babak kedua dan seterusnya akan kita gelar lagi setelah makan dan istirahat sejenak," ujarnya membujukku.



"Tapi, Mas. Ini saja masih sakit, bagaimana bisa akan melanjutkan babak kedua?" protesku.


"Bisa sayang, nanti sakitnya tidak akan sesakit ini kok. Nanti sakitnya akan enak kok," bujuknya lagi seraya mengeringkan rambutku yang panjang.


"Pokoknya malam ini kita akan lanjutkan lagi petualangan kita yang indah tadi. Aku sudah tidak sabar, maklum dua tahun lebih berpuasa," ujar Mas Rangka mengelus lembut rambutku.

__ADS_1


__ADS_2