Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 9 Tragedi Pelukan Itu


__ADS_3

"Pak!" tegurku. Pak Rangka menoleh dengan muka yang sedikit terkejut. Mungkin tadi dia sedang melamun saat aku sapa, sehingga terkejut.



"Kamu sudah selesai beberesnya?" Pak Rangka balik bertanya seraya melihat ke arahku dalam. Tatapannya seperti terpesona melihatku. Aku sungguh malu dan tidak percaya diri dibuatnya. Aku hanya bisa menunduk menyembunyikan rasa maluku.



"Ayo!" ajaknya mengejutkanku.


"I-iya, Pak!" gugupku seraya mengikuti Pak Rangka yang mulai melangkahkan kaki keluar kamar.


"Apakah kamu lelah, sepertinya kamu tadi lelah? Jika kamu lelah, kamu bisa istirahat di sini. Atau kalau kamu mau, kita bisa istirahat dulu di sini," ujar Pak Rangka menghentikan langkahnya.


Untuk beberapa detik aku terdiam tidak menyahut, aku berusaha mencerna ucapan Pak Rangka barusan. "Maksud Bapak?" ujarku kaget.



"Maksud saya, jika kamu lelah kamu bisa istirahat di kamar ini," jelas Pak Rangka diimbuhi senyuman.


"Emm, ti-tidak, Pak. Saya tidak lelah," jawabku terbata.


"Kamu ini kenapa gugup begitu? Saya hanya menawarkan kamu untuk istirahat jika kamu lelah, kita juga bisa tidur bersama di sini," ujar Pak Rangka diiringi senyum lagi. Aku sedikit ternganga tidak percaya dengan ucapan Pak Rangka, kok arah pembicaraan Pak Rangka ke sana sih? Apalagi kita sedang berada di dalam kamar.


"Hemmm, saya belum selesai bicara Sensi, maksud saya kita bisa tidur bersama di kamar ini jika kita menikah nanti," lanjut Pak Rangka santai, membuatku sekonyong-konyong tidak percaya.



"I-iya, Pak. Emm, hehehe .... " balasku cengengesan.


"Kenapa, apakah kamu senang?" Aduuh Pak Rangka terus saja bertanya membuat aku seperti hilang muka, ingin rasanya saat ini aku menghilang.


"Iya, Pak, saya senang," jawabku sekenanya sembari menunduk.


"Senang kenapa?" Pak Rangka masih saja bertanya sehingga aku menjadi sesak nafas. Biasanya yang sesak nafas adalah Pak Rangka, tapi kini aku yang seakan-akan sesak nafas.


"Senang karena, apa ya?" jawabku bingung.


"Ya sudah kamu tidak usah bingung begitu, yang jelas sekarang kita harus segera selesaikan pekerjaannya. Mac-April kamu sedang menunggu di meja. Ayo!" ajaknya membuyarkan rasa malu dan sesak nafasku.

__ADS_1


Pak Rangka berjalan lebih dulu dan aku di belakangnya. Perkataannya tadi yang membahas menikah sontak memenuhi kepalaku. Benar-benar terbayang jelas di kepalaku. Rasanya aku ingin menikah dengan Pak Rangka. Saat Ku pandangi dari belakang saja, langkah Pak Rangka sangat berwibawa penuh kharisma. Sosok lelaki ideal impianku. Aku tersenyum sembari mengikuti Pak Rangka, sehingga sesuatu tidak disangka terjadi padaku.



"Dugghhh,"


"Aduhhhh," ringisku karena tiba-tiba menubruk tubuh tinggi dan atletis Pak Rangka yang berbalik badan. Ya ampun aku seperti sedang memeluk Pak Rangka. Tubuh aku yang menubruknya tadi langsung ditangkap tangan kekar Pak Rangka.



Pak Rangka tidak langsung melepaskan tubuhku dari tangkapannya, dia seperti sengaja ingin merapatkan tubuhku. Seketika jantungku berdetak kencang.



"Kamu ini sedang melamun ya, tadi saya berhenti dan membalikkan badan saya lihat kamu masih berdiri dan senyum-senyum aneh, apakah kamu sedang berfantasi?" tanya Pak Rangka di depan wajahku dan menatapnya tajam. Harum nafasnya wangi, tidak bau. Sepertinya tadi Pak Rangka sudah sudah menggosok gigi. Pak Rangka memang cowok yang bersih dan tidak jorok. Sangat menjaga kebersihan dan ketampanannya.



Pertanyaan Pak Rangka hanya mampu ku jawab dengan detakan jantung yang semakin kencang, perlahan Pak Rangka melepaskan pelukannya dari tubuhku.




"I-iya, Pak," sahutku tidak konek dengan apa yang Pak Rangka bicarakan tadi, yang aku dengar hanya kata-kata ayo. Aku jadi merasa bodoh di depan Pak Rangka dengan segala tingkahku. Entah bagaimana tadinya Ibu melahirkan aku, sehingga aku terlahir seperti aku sekarang ini. Kadang aku benci ceplas ceplosku dan apa adanya, kenapa tidak menjadi seseorang yang jaim saja supaya aku terlihat baik di hadapan siapa saja termasuk di depan Pak Rangka.



"Duduklah dan tenangkan diri kamu. Maafkan saya, tadi itu saya hanya mengetes kamu saja, dan rupanya kamu bukan tipe perempuan penggoda," ujar Pak Rangka minta maaf, aku jadi bingung akhirnya, kenapa Pak Rangka minta maaf dan apa maksudnya, mengetes? Bukan perempuan penggoda?



"Saya yang seharusnya minta maaf, Pak. Saya selalu ceplas ceplos dan sangat tidak konek terhadap apa yang Bapak bicarakan tadi," ujarku jujur dan menyesali sikapku yang selalu tidak sadar dengan ceplas ceplosku.



"Tidak apa-apa, saya justru suka dengan perempuan yang ceplos ceplos kaya kamu. Ya, sudah sekarang alangkah baiknya kamu segera kerjakan pekerjaan kamu supaya cepat selesai!" ucap Pak Rangka akhirnya, membuat ketegangan dan salah tingkah aku sedikit terobati.


__ADS_1


Pak Rangka menuju mejanya diikuti aku menuju sofa dan mulai mengerjakan satu per satu map yang menumpuk tadi. Belum lagi map yang dari Mbak Koral. Padahal itu harusnya pekerjaan Mbak Koral, tapi justru Pak Rangka malah memberikannya padaku dan aku yang harus menyelesaikannya.



Jam enam tiba, kumandang azan Maghrib segera tiba. Karena belum azan aku masih mengerjakan map-map itu dengan fokus. Lima menit kemudian kumandang azan itu terdengar. Pak Rangka tiba-tiba menyeru.



"Sensi, sudahi dulu pekerjaan kamu. Sudah azan Maghrib, lebih baik kita sholat Maghrib berjamaah dulu!" ajak Pak Rangka seraya membereskan mejanya. Aku tidak membantah, aku langsung berdiri dan menutup dulu map yang tadi aku garap.



"Iya, Pak," jawabku dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kembali. Kejadian tadi rasanya takut terulang kembali, bukan aku tidak senang, tapi malunya itu tidak ketulungan.



"Masuklah duluan!" Aku tidak membantah dan segera ke kamar mandi ambil wudhu. Kali ini tidak ada drama mengagumi kamar mandi seperti tadi. Aku buru-buru wudhu dan keluar kamar mandi. Di sana Pak Rangka sudah menunggu dengan lengan baju yang sudah dilipat ke atas.



Tidak berapa berapa lama, kamipun sholat Maghrib bersama. "Sensi, cepat kerjakan pekerjaanmu, bereskan malam ini juga. Sebab besok harus sudah keluar laporannya."



"Siap, Pak," jawabku seraya cepat-cepat membereskan mukena dan segera berjingkat mendahului Pak Rangka keluar kamar. Pak Rangka menatapku sembari tersenyum heran.



Aku segera menuju mejaku kembali dan menduduki sofa yang sejak sore tadi jadi tumpuan tubuhku. Tiba-tiba suara HP Pak Rangka berbunyi. Dan terjadilah percakapan dua arah antara Pak Rangka dan seseorang di ujung telpon sana.



"Assalamualaikum! Anak gadis Papa!" Rupanya Pak Rangka menerima telpon dari seorang anak kecil yang merupakan anaknya seperti yang baru saja aku dengar. Aku terpaksa nguping karena jarak Pak Rangka hanya beberapa meter dari mejaku.



"Papa, kapan Papa pulang?" tanya anak Pak Rangka gemas, suaranya renyah dan bikin gemas. Sepertinya anak Pak Rangka sangat cantik dan lucu.


__ADS_1


"Sebentar lagi sayang. Ok deh kalau begitu sudah dulu ya, Papa harus menyelesaikan pekerjaan Papa supaya cepat pulang." Pak Rangka menyudahi telponnya dan menutup sambungan telpon.


__ADS_2