Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 29 Hormantis


__ADS_3

Kami keluar dari ruko sekitar jam 20.00 malam. Entah agenda apa lagi yang akan dihadiri Pak Rangka, sedangkan pertemuan dengan rekan bisnisnya sudah di cancel?


Mobil Pajira milik Pak Rangka melesat di jalanan Ibu Kota yang selalu lebih riuh di malam hari. Hatiku bertanya-tanya, mau kemanakah gerangan?


"Sekarang masih jam delapan malam, saya sudah ijin ke Ibu kamu bahwa kamu akan pulang lebih dari jam 9 malam. Agenda saya dengan rekan bisnis terpaksa harus di cancel dan ini dadakan, dia memberitahu saya last minute, jadi saya harap kamu tidak berprasangka buruk terhadap saya bahwa saya yang merencanakan semua ini," ujar Pak Rangka panjang lebar. Lagipula aku sama sekali tidak mencurigai bahwa ini bagian dari rencana Pak Rangka. Aku lurus dan percaya-percaya saja pada apa yang dikatakan Pak Rangka.



"Emmmm, saya tidak berprasangka bahwa ini rencana Pak Rangka. Kalau sudah takdir mau bagaimana lagi?" responku positif. Namun entah apa yang menjadi Pak Rangka tiba-tiba tertawa terbahak, tidak ada lawakan atau lelucon doger monyet, tiba-tiba tawanya menggema mengalahkan berisiknya suara klakson.



"Hahahahahaha ...." tawanya membuat aku terheran. Lalu mobil Pajiranya menepi hanya untuk tertawa.



"Pak, apakah Bapak tidak kesambet?" tanyaku khawatir, dan saat ini Pak Rangka masih tertawa sambil memegangi perutnya. Mungkin saking enaknya tertawa. Sejenak Pak Rangka menyelesaikan tawanya dengan mengatur kembali nafasnya dan posisi badannya kembali tegak dengan pandangan lurus ke depan. Pak Rangka memang tidak bisa ditampik. Mau ketawa ngakak sambil merem atau guling-gulingpun tetap ganteng dan menarik.



"Kamu tahu tidak apa yang membuat barusan saya tertawa terbahak-bahak?" tanya Pak Rangka sambil melirik ke arahku. Aku menggeleng karena memang aku tidak tahu penyebab Pak Rangka tertawa terbahak-bahak.



Sebelum memulai berbicara lagi, Pak Rangka beberapa detik terkekeh lagi, lalu mengatur nafas dan kini sepertinya sudah akan memulai pembicaraan sambil menjalankan kembali kemudi mobil.



"Saya tidak sedang kesambet setan, melainkan kesambet omongan kamu. Tahu tidak kamu itu tadi lucu banget, kamu bilang rekan bisnis saya tidak jadi terbang ke Indonesia itu karena takdir? Saya tahu itu takdir, tapi cara kamu menyampaikannya membuat saya terhibur, hahahaha," alasan Pak Rangka diakhiri tawa kembali. Aku malah bingung dengan apa yang Pak Rangka ucapkan. Konekku seperti tidak nyambung dan malah mirip orang oon.



"He, He, he, iya, kan, Pak? Semua hal yang terjadi, apapun itu adalah atas kuasa sang Pencipta, jadi semua hal yang terjadi ini sudah takdirnya. Seperti halnya kita di dalam mobil ini adalah takdir juga," jelasku sumringah. Pak Rangka mesem-mesem, dugaanku dia sedang bahagia atas ucapanku.



"Ya, sudah kita tidak usah bahas dulu takdir lebih lama. Karena sekarang ini saya ingin ngajak kamu ke suatu tempat. Kira-kira kamu ingin kemana?" Pak Rangka bertanya sambil melirik ke arahku. Aku yang sedang salah tingkah karena dilirik Pak Rangka, duduk gelisah sembari memutar-mutar cincin tengkorak di jari tengahku.

__ADS_1



"Sensi?" gertak Pak Rangka membuat aku tersentak dan hampir saja tubuhku oleng menimpa dashborad.


"Kamu ini ceroboh banget sih!" tegur Pak Rangka sambil geleng kepala.


"Maaf, Pak!" ujarku.


"Tidak apa-apa. Sekarang kamu mau saya ajak jalan kemana? Apa tempat yang ingin kamu kunjungi?" Ditanya seperti itu, aku jelas bingung. Banyak tempat yang belum aku kunjungi, walaupun di dekat lingkungan tempat tinggalku yang banyak wisatanya.


"Tempat keramaian apa yang ingin kamu kunjungi?" ulangnya lagi.


"Emmm, apa, ya?" Aku berpikir beberapa detik kira-kira tempat rame apa yang ingin aku kunjungi?


"Mall, Monas, Dufan, bioskop, .... "


"Bioskop, Pak. Saya pilih bioskop," potongku dengan cepat saat Pak Rangka menyebut pilihan bioskop.


"Sepertinya kamu antusias banget dengan bioskop. Apa kamu sering ke bioskop?"


"Belum pernah sih, Pak. Saya hanya sering dengar dari teman," jawabku cepat.


"Kata teman saya di bioskop banyak pilihan film-film bagus."


"Kamu sukanya film apa?"


"Saya suka komedi horor dan komedi romantis."


"Baiklah kalau begitu, kita deal ke bioskop, ya. Dan kita cari film antara dua yang kamu suka," ujar Pak Rangka seraya mengarahkan mobil Pajiranya ke arah Jalan Sastra, dimana bioskop berada.


Akhirnya kami tiba di bioskop. Sebelum pesan tiket, Pak Rangka memilih film yang akan diputar, dan pilihannya jatuh pada film komedi romantis. Yang kebetulan sepuluh menit lagi akan segera diputar. Wah, kedatangan kami tepat banget. Tidak perlu menunggu lama dan antri lama.



Sebelum masuk bioskop, Pak Rangka membeli cemilan dan air bersoda. Dua pincuk papcorn sudah cukup melengkapi kehadiran kami menikmati tontonan di bioskop.


__ADS_1


Kami masuk dan memilih tempat duduk dua baris dari depan. Pak Rangka sengaja tidak memilih tempat duduk di belakang atau di tengah.


"Di sini saja, ini pencahayaannya bagus dan efek suara juga Ok," ujarnya sembari duduk dengan tampan.


"Siap-siap ya, kita nonton film ini. Ini keren lho besutan Sutradara ternama Hanu Bramantra, dan penulis naskah terkenal ***Deyulia***," jelas Pak Rangka hafal betul.



Dan filmpun segera dimulai dengan intro instrumen musik yang ringan dan menggembirakan. Aku antusias saat melihat judul yang ditayangkan '***Naksir Bos Ganteng, Yang Sakit*** ***Asma***', judunya saja nyeleneh, ringan dan kocak. Aku yakin film besutan Sutradara ternama Hanu Bramantra ini seru dan kocak. Ehh, ngomong-ngomong Hanu Bramantra benaran Sutradara ternama? Soalnya telinga aku seakan baru mendengar.



Adegan-adegan konyolpun dipertontonkan, aku sering kali tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan pemeran wanita yang sedikit unik, ceplas-ceplos dan lucu. Dipasangkan dengan seorang aktor tampan penuh wibawa. Tapi peran sang aktor bertolak belakang, dia galak, tegas dan kadang nyebelin, tapi asli tampan banget, kalau disejajarin dengan Pak Rangka sebelas dua belas tampannya. Aku senyum-senyum saat membayangkan pemeran utama dalam film itu aku dan Pak Rangka.



Tiba di adegan sedikit romantis, saat pemeran pria mau mencium pemeran wanita, tiba-tiba tubuhku menegang, ada perasaan malu yang tiba-tiba menyerang. Jantungku ikut berpacu, saat sedikit lagi protagonis pria mau mencium protagonis wanita. Namun, yaaaa gagal deh. Rupanya protagonis pria tidak jadi mencium. Dan ketegangan itu berakhir.



Namun ketegangan itu kini berubah horor ketika protagonis wanita diganggu makhluk tak kasat mata di sebuah kamar hotel. Saat protagonis wanita akan akan membaringkan tubuhnya di ranjang, tiba-tiba sebuah tangan buntung ingin meraba kaki hingga betis protagonis wanita.



"Awwwww, jangannnnnn," jeritku tiba-tiba saat adegan tangan buntung itu mulai meraba kaki dan betis protagonis wanita. Tanpa aku sadari aku memeluk erat Pak Rangka yang saat itu sedang memakan popcornnya.



Pak Rangka sontak terperanjat dan melempar pincuk popcorn ke udara sehingga berhamburan tepat di atas kepala kami yang mirip seperti disawer popcorn.



"Pakkk, saya takut," ujarku bergetar dan memang benar-benar ketakutan. Tanganku yang memeluk Pak Rangka begitu kuat dan sukar untuk dilepaskan dari Pak Rangka, sehingga kami sekilas seperti pasangan yang sedang berpelukan.



Akhirnya sampai dengan film selesai, aku tidak sedikitpun melepas rangkulanku dari Pak Rangka. Pak Rangka pun demikian, dia merasa kasihan melihat aku ketakutan, tapi bersamaan dengan itu Pak Rangka terus tersenyum bahagia sampai film berakhir. Sepertinya filmnya harus diganti bukan genre komedi romantis, akan tetapi hormantis alias horor romantis.

__ADS_1


Seketika terbit senyuman di bibirku saat kami menyudahi acara nonton film hormantis besutan Sutradara Hanu Bramantra.


__ADS_2