Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 51 Pantai Carita Banyak Cerita


__ADS_3

Hari ini aku dibebastugaskan dari pekerjaan kantor, akan tetapi pekerjaan kantorku dialihkan menjadi pengasuh anaknya Pak Rangka, Glassy. Senang sih, apalagi Glassy mudah akrab denganku, seperti tidak ragu-ragu lagi. Dia nampak bahagia dan ceria saat aku temani bermain.



Setelah sarapan tadi pagi, agenda Pak Rangka hari ini yaitu mengajak Glassy jalan-jalan ke pantai? Otomatis akupun menyertai. Pantai Carita menjadi tujuan Pak Rangka. Bu Catly juga ikut serta. Aku senang Bu Catly ikut, ini bisa jadi jembatan antara aku dan Pak Rangka jika kami dalam keadaan kaku atau tidak ada topik pembicaraan, Bu Catly bisa jadi penengah.



Tapi sayangnya Bu Catly bawa mobil sendiri, dan nyetir sendiri. Dan yang tidak beruntungnya lagi Glassy malah ikut naik mobil Bu Catly.



"Aku naik mobil Nene, Tante asuh dulu Papa ya, Papa juga kadang-kadang manja. Kalau di mobil suka pengen dibukain minuman." Cukup terhenyak mendengar Glassy bicara seperti itu, katanya aku hari ini tugasnya jadi pengasuh Glassy, tapi malah beralih jadi pengasuh Pak Rangka.



Terpaksa aku naik mobil Pak Rangka. Mobil Bu Catly dan Pak Rangka beriringan. Bu Catly berada di depan kami, sementara Pak Rangka berada di belakangnya.



"Sensi, tolong dong bukakan Bagelen itu, terus kamu suapin ya! Kalau saya yang nyuap takutnya bahaya. Kamu juga jangan lupa sambil ngemil. Perjalanan kita lumayan jauh ke Carita, jadi saya sengaja membeli cemilan ini untuk kita di jalan," ujar Pak Rangka memberi tahu. Aku mengangguk paham.



Dan mulailah adegan menyuapi anak dewasa usia 35 tahun. Ada perasaan ragu dan malu awalnya karena baru pertama kali menyuapi lelaki dewasa, dan itu Pak Rangka.



Pak Rangka sangat lahap makan bagelen, roti kering ini memang menggiurkan lidah. Sebenarnya aku juga ingin mencicipi tapi malu sama Pak Rangka.



"Ayo dong, kamu makan juga bagelennya. Sepotong suapan buat saya dan sepotongnya buat kamu," perintahnya. Tapi aku tidak ikuti, aku menggeleng dan masih merasa malu.



Aku suapkan lagi roti kering itu, saat jariku menyentuh bibir Pak Rangka, ada rasa hangat menjalar yang dialirkan lewat jemariku melalui hatiku. Rasa yang aneh, rasa cinta yang aku bangun diam-diam kini terasa ke hati saat menyuapkan bagelen ke dalam mulut Pak Rangka yang manis itu. Tentu saja manis, sebab saat pertama kali Pak Rangka menciumku, bibir Pak Rangka ternyata manis.



"Awwww," jeritku seketika. Rupanya jariku kena gigitan gigi Pak Rangka. Tidak sakit sebenarnya, hanya kaget. Pak Rangka segera meraih jariku yang kena gigit, lalu diperhatikan dengan seksama, kemudian dengan gerakan cepat dia kenyot jemariku yang tadi tergigit kecil. Dua kenyotan lalu dikeluarkan lagi jariku.



"Sakit tidak? Saya minta maaf, saya tidak sengaja," ujarnya menyesal. Aku tersenyum dan mengangguk, manis banget jika Pak Rangka dalam mode meminta maaf, tambah dua kali lipat kegantengan Lee Min Jonya.



"Sensi apakah kamu sedang memiliki pacar saat ini?" Tiba-tiba Pak Rangka bertanya yang sulit untuk aku jawab. Bilang tidak, memang benar aku tidak punya. Dan jika bilang iya, aku juga belum punya kekasih. Lantas aku harus menjawab apa bingung.



"Sensi, kamu memiliki pacar?" Sekali lagi pertanyaan itu muncul. Ingin aku jawab saja iya, dan jawabannya adalah Pak Rangka, dan setelah itu aku ingin melihat bagaimana reaksi Pak Rangka atas jawaban asalku itu. Namun aku tidak PD, sebab aku mencintai Pak Rangka diam-diam.



Aku menjadi semakin bingung dengan jawabanku yang masih ditunggu Pak Rangka. "Saya belum punya pacar, Pak. Saya jomblo setia," jawabku apa adanya.

__ADS_1



"Jomblo setia? Maksudnya?"


"Maksudnya jomblo, tapi setia mencintai seseorang, uppsss!" Wahhhh kali ini aku keceplosan lagi tentang isi hatiku di depan Pak Rangka. Pak Rangka mesem entah apa yang dia pahami. Yang jelas saat Pak Rangka sedang mesem, bibirnya itu sangat menggiurkan. Kalau aku cewek liar dan nakal sudah aku cium bibir manis Pak Rangka itu.



"Ha, ha, kamu ini, memangnya tidak sakit hati diam-diam mencintai?" Pertanyaan Pak Rangka tanpa jawaban, aku merenung sesaat.



"Sensi?" Pak Rangka mengejutkan lamunanku. Aku sedikit kecewa kenapa Pak Rangka tidak peka, padahal aku naksir berat sama Pak Rangka. Tulus dan ikhlas, walau penyakitan atau killer kata orang-orang, aku tetap cinta.



"Ya, Pak?"


"Tipe pria seperti apa yang kamu suka?"


"Tipe pria? Saya, Pak?"


"Iya dong kamu, memangnya saya ngajak ngobrol hantu."


"Saya suka pria dewasa seperti Lee Min Jo," jawabku jujur.


"Lee Min Jo? Aktor Korea? Setahu saya dia bukan Lee Min Jo, tapi Lee Min Ho," ralatnya sembari menatap lelap ke arahku. Aku melengos menghindari tatapan matanya yang berubah sendu.


"Setinggi itu harapanmu. Lantas kamu pernah diapakan oleh Lee Min Jo kamu itu?"


"Kami pernah ciuman, upsss .... " Aduhhhh ya ampun, ceplos lagi deh. Gawat, bisa-bisa Pak Rangka menganggap aku perempuan murahan dengan mengungkapkan pernah ciuman dengan Lee Min Jo.



"Itu betul Pak, bibir saya ternoda untuk pertama kali oleh Pak Rangka, dan Lee Min Jo yang saya maksud adalah .... "



"Siapa?"


"Siapa, apa maksudnya Pak?" Aku mendadak linglung. Di dalam mobil Pak Rangka ini aku bisa-bisa jujur dalam hal apapun sama Pak Rangka, dan aku sungguh kecewa ketika Pak Rangka tidak peka bahwa aku mencintai Lee Min Jo alias Pak Rangka.


"Wahhh, sudah sampai kita nih. Ayo turun, dan ambil ini." Pak Rangka menyodorkan paper bag yang berisi entah apa. Ketibaan kami di Pantai Carita, menolongku terhindar dari rasa malu dan gugup karena aku sering keceplosan bicara.



"Kita sambung lagi pembicaraan kita di mobil saat pulang nanti. Sekarang ajak senang-senang anak saya, buat Glassy bahagia," ujarnya meminta. Aku mengangguk dan paham maksud Pak Rangka.



"Nanti kita ganti baju dengan kostum pantai, kamu pakai kostum yang saya kasih itu. Kita sudah sewa satu kamar untuk ganti, bahkan untuk kita tidur berdua juga bisa," ujar Pak Rangka diakhiri senyuman. Pak Rangka ini semakin aneh, kadang memancing-mancing perasaanku yang kian hari kian memunculkan cinta buat Pak Rangka, namun Pak Rangka kadang terlihat seperti bercanda.



"Maaf, cuma bercanda. Kamu ini jangan dimasukin ke dalam hati, ya," tukasnya meluruskan. Tuh benar, kan? Pak Rangka hanya bercanda, dia pandainya memancing-mancing perasaanku supaya mencintai tapi Pak Rangka tidak peka.


Pantai Carita

__ADS_1


"Aduhhh, kok pakaian renangnya begini? Ini terlalu terbuka. Masa sih aku pakai beginian dan dilihat Pak Rangka? Malu banget. Pak Rangka apa maksudnya memberikan pakaian renang mini begini?" Saking bingungnya, akhirnya aku keluar dari kamar ganti dengan baju kantor yang aku pakai tadi dari rumah.



Saat aku keluar kamar, Bu Catly, Pak Rangka dan Glassy menatapku heran.


"Tante, kenapa belum ganti pakaiannya dengan yang dikasih Papa tadi?"


"Anu, sayang. Pakaiannya terlalu minim. Tante tidak mau memakainya," jawabku memberi alasan.



"Papaaa, aku tidak mau berenang jika tante Sensi tidak menemani." Glassy berteriak dan merajuk, dia tidak mau berenang jika tidak aku temani.



"Tidak, kamu pasti berenang ditemani Tante Sensi, kok," kelit Pak Rangka seraya menarik lenganku melipir ke arah ruang lain.



"Sensi, ayo dong pakai baju renangnya. Ini baju renang kamu. Yang itu hanya menguji iman kamu. Dan rupanya kamu tidak tergoda. Kamu rupanya tidak ingin memperlihatkan aurat kamu di depan saya ya," ujar Pak Rangka seraya menyodorkan paperbag lain yang isinya pakaian renang yang lebih sopan. Aku jadi bingung, apa sebenarnya yang direncanakan Pak Rangka?



Dan akhirnya kami bersenang-senang di Pantai Caria. Glassy sangat bahagia. Kami berempat layaknya keluarga kecil yang saling menyayangi. Foto-foto keakraban kamipun banyak diambil. Bahkan foto saat Pak Rangka yang sempat menyuapkan makanan seafood ke dalam mulutku pun ada.



Ketika kegiatan kami hampir usai, tiba-tiba tragedi terjadi. Pak Rangka asmanya kembali sesak. Dengan segera aku memapah Pak Rangka masuk ke kamar hotel yang kami sewa. Pak Rangka aku baringkan perlahan di kasur.



Aku panik, begitu juga Bu Catly, terlebih Glassy. Gadis kecil itu menangis melihat Papanya kesakitan karena asma. Aku sibuk mencari inhaller Pak Rangka, namun nihil inhaller yang aku cari entah di mana.



"Tante, tolong Papa, sembuhkan Papa," desak Glassy memohon. Aku menjadi bingung harus berbuat apa, sedangkan inhaller Pak Rangka tidak aku temukan padahal tadi kata Pak Rangka sudah dibawa dari mobil.



"Sensi, pakai nafas buatan," saran Bu Catly membuatku semakin panik.


"Nafas buatan? Pakai apa, Bu?" tanyaku heran.


"Pakai mulutmu dan berikan udara lewat mulutmu. Nanti Rangka akan dapat asupan oksigen, ayo buruan, ini darurat," desak Bu Catly panik. Aku bengong mendengar saran Bu Catly, itu artinya bibirku harus menempel di bibir Pak Rangka?


"Ok, biar kamu bisa tenang dalam memberikan nafas buatannya, kita berdua akan keluar. Cepat laksanakan segera." Bu Catly dan Glassy keluar kamar, kini tinggal aku dan Pak Rangka.



Tanpa, harus melalui mulut ke mulut, akhirnya aku punya akal dalam memberikan nafas buatan pada Pak Rangka. Oksigen dari mulutku, aku tiupkan lewat kedua jemariku yang sengaja ku buat seperti corong. Dan oksigennya masuk lewat celah tanganku itu.



Sepuluh menit kemudian akhirnya Pak Rangka bisa normal kembali setelah aku tiupkan oksigen lewat celah jemariku. Aku bersyukur dan tersenyum gembira.


__ADS_1


"Terimakasih sayang," ucap Pak Rangka sembari memelukku dan memberikan sesuatu hal yang tidak diduga-duga. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang, ketika Pak Rangka memberikan balasan atas keberhasilanku memberikan nafas buatan. Dalam dan lama.


__ADS_2