Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 13 Ketahuan Bohong


__ADS_3

"Saya, sore nanti akan ke Kalimantan. Kamu baik-baik kerja di sini. Jangan mau dimarahin Tari terus, tingkatkan kinerja dan prestasi kerja kamu!" pesannya terasa perhatian.



"Iya, Pak, terimakasih. Bapak juga hati-hati perjalanannya, semoga selamat dan lancar," ucapku.



"Apakah, saya sudah boleh keluar, Pak?" tanyaku ragu sebab map yang aku berikan sudah diambil Pak Cakar. Dan Pak Rangka sepertinya sudah tidak ada perlu lagi padaku.



"Ya, pergilah." Setelah Pak Rangka mengatakan itu, aku segera bangkit dan bermaksud segera keluar.


"Jangan lupa obat sesak nafasnya, Pak. Semoga perjalanan Bapak menyenangkan." Setelah mengucapkan itu aku segera beranjak dari ruangan Pak Rangka tidak lupa mengucapkan permisi.


Aku keluar dari ruangan Pak Rangka membawa hati yang sedikit luka. Entah kenapa hari ini aku begitu merasa sedih. Sikap ceplas ceplosku tiba-tiba saja hilang terganti rasa peka dan merasa sakit hati. Biasanya setiap Kak Tari ngomel, aku selalu menghadapinya polos dan ceplas ceplos hanya menggerutu dalam hati saja tidak sampai terasa sakit hati seperti sekarang ini.



Aku ingin Allah kembalikan sikap ceplas ceplosku saja biar aku tidak merasa sakit hati dan mudah tersinggung seperti hari ini. Sikap Pak Rangka juga hari ini beda, dia seperti marah dan cuek padaku. Tidak galak tapi hangat kayak saat kami lembur. Hari ini Pak Rangka berubah sinis dan seperti kesal padaku. Dan itu membuat hatiku sakit.



Sebelum aku turun dan tiba di ruanganku, aku mampir dulu ke toilet khusus tamu di lantai tiga. Toilet yang hampir selalu bersih ini, membuat aku betah di dalam. Dulu sebelum aku kenal Pak Rangka, Kak Tari Leader galak dan bawelku itu selalu mempekerjakan aku layaknya OB. Aku kadang disuruh naruh tisu gulung di toilet tamu. Alasannya aku selalu rapi dalam memasang tisu gulung, padahal Rando yang OB sebenarnya dia lebih jago dalam hal per OBan.



Harum ruangan toilet tamu di lantai 3 sudah tercium, aku menikmati aromanya yang seketika menyuruk ke dalam lubang hidungku. Aku segera masuk ke toilet bagian wanita. Dan di sinilah seketika kesedihan dan sesak di dadaku atas perlakuan Kak Tari maupun sikap sinis Pak Rangka perlahan hilang. Bisa jadi aroma terapi yang dikeluarkan dari lilin-lilin dan pengharum ruangan ini membuat segala kesedihanku hilang.



Sejenak aku menatap wajah di dalam cermin. Masih terlihat berbedak dan tidak kusam. Jadi aku tidak perlu touch up lagi pipi dan bibirku ini. Aku hanya cukup menambahkan celak merek Vive di bawah mataku, sekilas aku mirip Shandy Aulia masih muda, yang masih polos dan glowing. Aku tersenyum mengagumi diriku sendiri.


__ADS_1


Benar-benar toilet khusus tamu ini bersih dan mewah, ada bath tubnya juga. Sejenak aku berpikir, "apakah tamu-tamu khusus Pak Rangka akan selalu mandi setelah audit, rapat, atau bahkan pertemuan kerjasama?" Pertanyaan itu kini bersarang dalam otakku. Namun tidak berapa lama aku tidak pusing lagi dengan pertanyaan itu, buktinya aku tiba-tiba merasa ngantuk setelah melihat bath tub yang bersih dan wangi itu.



Sebentar aku menuju pintu toilet, mengunci pintu supaya tidak ada orang lain masuk bahkan Rando sang OB tidak akan bisa masuk jika ku kunci. Perlahan aku langkahkan kakiku memasuki bath tub. Aku duduk selonjoran, ahhh terasa adem dan rasanya seperti orang kaya. Bayang-bayang menjadi orang kayapun bersliweran dalam kepalaku. Sambil senyum-senyum aku nampak bahagia dalam bayangan itu.



Seketika itu lupakan dulu tujuanku untuk kembali ke ruanganku. Aku rasanya pingin ngadem di sini daripada harus kepanasan di ruanganku sendiri karena Kak Tari yang tidak pernah puas dalam setiap pekerjaanku.


"Biarin saja deh, Kak Tari paling mikirnya aku sedang di ruangan Pak Rangka," gumanku santai seraya tersenyum bahagia.


Tanpa terasa rasa kantuk itu muncul, saat itu lamat-lamat aku tidak sadarkan diri karena tidur saking ngantuknya. Aku tertidur di bath tub dengan tas sampir sebagai bantalku. Harum aroma terapi membuat tidur siangku selain nyenyak, dan tenang, juga nyaman.



Dua jam kemudian, apa yang terjadi di ruanganku? Aku juga tidak tahu. Yang jelas saat aku terbangun jam di tanganku sudah menunjukkan pukul tiga sore. "Astaghfirullah!" gumanku sangat terkejut.




Dengan santai aku bangkit dari bath tub dan berjalan menuju kaca toilet. Nampak wajah sayu habis bangun tidur. Aku basuh mukaku, lalu kembali dipoles dengan skincare tipis serta bedak cushion andalanku. Sempurna, wajahku kembali fresh dan bukan habis suntuk bekerja.



Aku segera keluar dari toilet tamu yang mewah dan harum itu, lalu kembali dengan santai berjalan melalui menuruni tangga menuju lantai tiga ruanganku.



Tiba di sana, sepertinya ada yang terjadi. Mejaku dikerubungi beberapa orang termasuk Kak Tari. Duhhh ada apa gerangan? Tapi aku harus tetap santai karena aku ada alasan yang masuk akal.



Baru saja aku tiba, saat itu juga Kak Tari menoleh ke arahku dan langsung menyalak bagaikan aungan serigala lapar. "Sensi, dari mana saja kamu, hampir dua jam kamu tidak balik ke mejamu. Mulai berani tidak disiplin, ya?" tegasnya dengan mata belototnya yang hampir saja keluar.

__ADS_1



"Lho, kan saya dari ruangan Pak Rangka. Habis istirahat saya langsung ke sana dan mengerjakan tugas lain di sana. Jadi, selama dua jam saya di sana dong," jawabku santai tanpa rasa takut.



Kak Tari tersenyum sinis menertawakanku, dan anehnya yang lain juga sama menertawakanku. Aku masih santai karena tidak merasa bersalah. "Di ruangan Pak Rangka katamu? Lelucon apa yang kamu katakan? Asal kamu tahu setengah jam yang lalu Pak Rangka datang ke sini mencari kamu," ujar Kak Tari membuatku terbelalak tidak percaya.



"Huhhhh, sudah lelet, kerjaan tidak ada yang benar, ini malah keluyuran tidak jelas, pakai berbohong segala habis dari ruangan Pak Rangka. Sekarang ketahuan bohongnya," omel Kak Tari lagi sambil berjalan ke sana kemari dari ujung mejaku ke ujung meja yang lain.



Aku diam mematung entah apa yang mau aku perbuat, malu ada, sedih ada, kesel juga ada. Kesel pada kebodohan diriku sendiri. Tiba-tiba saat aku merasa tertekan, Pak Rangka datang dan menghampiri mejaku menghentikan kericuhan di mejaku akibat suara kencang Kak Tari.



Kedatangan Pak Rangka membuatku serasa ingin menghilang saja dari kantor ini. Kali ini aku ketahuan telah berbohong oleh Pak Rangka. "Duhhh Gustiii Nu Agung, meni kieu-kieu teuing nasib teh," (duhhh Gustiii Yang Agung, kok begini amat nasib). Rasa sesal dan malu kini menyelimuti. Seperti tidak ada muka.



"Kalian semua pergi ke meja masing-masing. Kerjakan pekerjaan kalian, jangan mencampuri urusan pegawai lain," sentak Pak Rangka mengusir kerumunan di meja Sensi. Satu per satu teman seruanganku termasuk Tari kembali ke mejanya masing-masing.



"Tari pergilah ke mejamu, biar dia jadi urusanku." Pak Rangka mengusir Kak Tari dari mejaku. Kak Tari yang nyebelin patuh dan menjauh dari mejaku.



"Bawa semua map ini ruanganku. Kamu kerjakan di ruangan saya!" titahnya yang tidak bisa aku bantah. Aku segera membereskan mejaku yang sudah dipenuhi map-map baru yang membuat aku serasa stress.



Akupun mengikuti Pak Rangka dan kembali ke ruangannya. Yang menjadi pertanyaanku, "untuk apa Pak Rangka mendatangi mejaku, lalu apakah rencana ke Kalimantannya dibatalkan?"

__ADS_1


__ADS_2