
Satu minggu kemudian, pagi itu di hari Senin yang menurutku sangat memuakkan. Aku mendengar kabar bahwa Pak Rangka untuk seminggu ke depan akan ke luar kota. Dalam rangka kerja sama dengan Pengusaha kayu di Pulau Kalimantan.
Mendengar berita itu tiba-tiba terasa ada yang sesak dalam dadaku, aku merasa kehilangan Pak Rangka. Sebab walaupun kata sebagian orang Pak Rangka itu killer, kaku, dan penuh disiplin, namun dia perhatian termasuk padaku yang sering kena marah Kak Tari.
"Sensi, map ini tolong segera selesaikan, dan jika sudah maka kamu antar ke ruangan Pak Rangka," titah Kak Tari seraya menyodorkan beberapa map ke mejaku dengan muka yang masih mode jutek.
"Siap, Kak," sahutku cepat.
Aku segera mengerjakan map-map yang diberikan Kak Tari tadi. Walaupun masih dibalut rasa sesak di dada karena akan kehilangan sikap tegas dan perhatian Pak Rangka untuk beberapa hari, namun aku tetap berusaha semangat menyelesaikan satu per satu tugasku.
Akhirnya jam 12 siang tiba, waktu istirahat sudah dimulai. Teman-teman satu ruangan berhamburan satu persatu keluar dari kubikelnya masing-masing. Ada yang ke kantin bahkan ke taman dekat mushola juga ada, seperti aku y akan akan ke sana juga. Namun aku masih belum bangkit dari kursi kerjaku. Sejenak aku bersandar dan melakukan peregangan pada otot-otot tanganku yang sejak pagi dipakai menulis, mencet keyboard bahkan mencet Hp. Sedikit enak dan rileks.
"Sen, ngapain kamu, nggak ke taman?" Rima menyapa seraya menepuk bahuku yang tengah bersandar keenakan di kursi kerjaku.
"Ehhh, Rima, aku lagi peregangan nih. Semua ototku seperti tegang dan kram. Kamu saja duluan, aku lima lima menit kemudian nyusul," ujarku.
"Hayohhh, kamu ini jangan lelet. Nanti masalah telat pergi istirahat saja dibilang lelet sama Kak Tari, terus merembat deh sama hal lain, nggak ada kapoknya kamu dimarahi Kak Tari."
"Ahh, sudahlah aku ini sedang melakukan peregangan. Kamu duluan geh ke taman, lagipula Kak Tari itu emang hobinya marahin aku sejak aku kerja di sini," ujarku masih bersandar di kursi kerja tanpa peduli Rima.
"Ehheemmm." Tiba-tiba suara deheman terdengar menggelegar di dekat kubikelku yang sontak membuat tubuhku hampir terjungkal dari kursinya.
"Ya, Robbi. Kak Tari! Duhkha jadi tengsin aku," bisikku dalam hati.
"Kenapa kamu masih berada di depan mejamu, sementara yang lain sudah pada keluar mengisi perutnya?" Kak Tari bertanya dengan ciri khasnya yaitu judes dan jutek. Aku gelagapan sebab rasa terkejutku yang tadi belum hilang.
__ADS_1
"Iya, Kak, sebentar lagi saya mau ke taman, ini sedang melakukan peregangan biar otot ini tidak kaku saat mukul, ehh melakukan aktivitas lagi nanti." Duhhhh hampir saja keceplosan lagi, tapi kayaknya tadi sudah keceplosan. Tapi biarin sajalah, biar Kak Tari kali ini mikir dengan omonganku.
"Apa, mukul apa maksudmu?" tanyanya penasaran dengan ucapanku tadi, rupanya Kak Tari mendengarnya.
"Iya, Kak, mukul. Mukul tembok kalau saya lagi kesal," ujarku asal.
"Huhhhh, dasar lelet. Cepat kamu pergi istirahat, kalau tidak, nanti kamu telat ke ruangan Pak Rangka. Makan tuh Bos killer," usir Kak Tari, tidak bosan-bosannya menghardik aku. Perlahan aku segera bangkit, tidak lupa membawa map yang nanti mau aku kasihkan pada Pak Rangka.
Tiba di taman, Rima dan kawan-kawan sedang asik menikmati makanan bekal ataupun yang beli dari kantin. Aku segera duduk di kursi taman yang masih kosong. Lalu segera membuka tas sampir untuk mengambil bekalku.
Setelah makan dan sholat, aku segera ke ruangan Pak Rangka. Sejenak aku berdiri di depan pintu, ada rasa ragu yang mendera ketika akan memasuki ruangan ini. Karena jujur, Pak Rangka yang kata Rima killer atau kata yang lain penyakitan, tapi bagiku perhatian dan bikin kangen. Rasa sedih seketika mendera. Sebab sebentar lagi Pak Rangka akan keluar kota.
"Sen, langsung masuk saja, Pak Rangka sudah menunggu kok," ujar Mbak Koral dari pintu ruangannya.
"Sen, sebentar!" tahan Mbak Koral seraya meraih tanganku.
Aku menghampiri Mbak Koral, sepertinya penting sampai membawaku ke depan ruangannya.
"Iya, Mbak?" tanyaku heran.
"Emmm, kamu senang bekerja dengan Pak Rangka?" tanya Mbak Koral penasaran sembari tersenyum-senyum.
"Senang, Mbak," jawabku pendek.
"Ok, deh, silahkan kamu langsung masuk ke ruangan Pak Rangka, jangan lupa senyum terbaiknya berikan ya, hehehhe," ujar Mbak Koral diimbuhi tawa.
"Baik, Mbak, kalau gitu saya permisi dulu," ujarku meninggalkan Mbak Koral, tentu saja dengan tanda tanya yang banyak, akan sikap Mbak Koral.
Perlahan kubuka pintu ruangan Pak Rangka. "Permisi, Pak!" ucapku seraya masuk. Di sana ternyata ada Pak Cakar yang menatapku namun langsung berdiri. Aku Aku memberikan senyum ramahku pada Pak Cakar yang sama tampannya dengan Pak Rangka, Song Joong-ki saja kalah. Ini tampannya gagah, keren, dan atletis, badannya sebelas dua belas kekarnya dengan Pak Rangka. Namun aku lebih menyukai Pak Rangka. Upsss.
__ADS_1
"Sensi, masuklah. Kenapa kamu lama? Sudah saya bilang setelah istirahat kamu langsung ke ruangan saya. Apakah waktu istirahat kamu tidak cukup untuk makan dan sholat? Perlu waktu tambahan lagi sekalian buat berias setelah sholat?"
Deggg, seketika jantungku berdetak kencang. Bukan detakan grogi atau tegang karena bertemu kekasih, namun ini detakan yang kaget sekaligus sedih yang tiba-tiba ingin menangis. Namun aku tahan supaya tidak menangis, aku kuat-kuatkan air mataku tidak jatuh. Terlebih Pak. Rangka kali ini menegurku dihadapan Pak Cakar. Belum lagi kemarahan Kak Tari saat di ruanganku, sekarang di ruangan Pak Rangka, semakin menambah rasa sakit hatiku dobel. Ahhhh rasanya kerja di tempat ini lama-lama hanya jadi bahan emosi orang saja.
"Maaf, Pak, tadi saya makannya lama!" jawabku ngarang. Padahal bukan itu alasan keterlambatanku. Tapi daripada membahas orang lain yang menjadi sebab keterlambatanku, lebih baik aku buat alasan yang ada pada diriku saja, walaupun ngarang, kena marah sekalian juga tidak apa.
"Mana map kamu?" tanya Pak Rangka sembari menatapku. Aku langsung menaruh map itu di meja Pak Rangka tidak lupa permisi pada Pak Cakar yang masih di depan Pak Rangka.
"Maaf, Pak!" ucapku pada Pak Cakar. Pak Cakar menoleh dan tersenyum sekilas.
"Cak, ini segera selesaikan sebelum terlambat, kamu urus dan lobby para klien supaya mau bekerjasama dengan perusahaan kita. Satu lagi, katakan saya tidak bisa hadir karena harus menemui klien di Kalimantan," tukas Pak Rangka memberi arahan pada Pak Cakar sebelum dia kembali.
"Ok, Bos. Segera saya laksanakan. Kalau begitu saya permisi dulu." Pak Cakar pamit seraya menoleh ke arahku dan menyapa. "Ok, Sensi, selamat bekerja keras," ujarnya seraya berlalu dan keluar dari ruangan Pak Rangka.
Setelah Pak Cakar keluar, Pak Rangka mempersilahkan aku duduk. "Duduklah!" Aku duduk perlahan dengan wajah yang tidak berani menatap Pak Rangka.
"Bagaimana apakah kamu ada kesulitan dalam pekerjaan kamu?" Pak Rangka tiga bertanya tentang pekerjaanku.
"Sedikit, Pak." Aku menjawab dengan wajah yang menunduk.
"Saya minta maaf, tadi saya sedikit emosi. Karena map kamu sudah terlambat 10 menit, dan kamu saat saya tunggu belum muncul juga, padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu lebih," tukas Pak Rangka terdengar sedikit menyesal.
Perlahan aku mendongak mencoba membalas ucapan Pak Rangka. "Iya, Pak tidak apa-apa, saya yang salah."
__ADS_1
***************