
Sensi menutup facebooknya dan keluar dari halaman facebook. Sejenak dia tercenung mengatur nafasnya yang tiba-tiba sesak. Komentar Delana, mantan istri Rangka tadi, sungguh menyesakkan dadanya. Ada sakit hati yang dirasakannya saat Rangka dikatakan penyakitan.
Rangka hanya memiliki asma yang kadang kala tiba-tiba kumat, tapi sejauh ini selama Sensi mengenalnya, Rangka hanya sekali saja mengalami kambuh asma, itupun ketika pertama kali bertemu saat Rangka sengaja mencegatnya di jalan beberapa bulan yang lalu.
Dada Sensi kini sudah tidak terasa sesak lagi. Lalu dia meraih Hpnya, membuka aplikasi WA. Sensi mengklik satu nomer yaitu milik Rangka. Ingin rasanya saat itu juga dia menghubungi Rangka dan memberitahu bahwa dia sudah memiliki nomer baru. Namun, entah kenapa rasa ragu itu terlalu menggelayut di dalam dadanya.
"Apakah aku beri pesan WA saja sama Mas Rangka bahwa ini nomer baru aku dan aku baru membelinya?" Sensi bertanya pada dirinya sendiri. Dia bingung harus mengatakan apa pada suaminya. Laporan langsung atau nanti saja setelah pulang ke rumah?
Namun pada akhirnya, Sensi iseng menghubungi Rangka. Beberapa saat panggilan itu dibiarkan berdering tanpa diangkat. Sensi berhenti dan memutuskan panggilan. Sensi menimbang-nimbang kembali kira-kira dia harus mengirimkan pesan WA sekarang atau nanti saja? Lagi-lagi kebimbangan melanda Sensi, dia sama sekali tidak bisa memutuskan harus apa.
Tapi panggilan itu kembali dia ulangi, Sensi mendial nomer Rangka lagi. Dan lagi-lagi panggilannya hanya dibiarkan. Sensi jadi khawatir sedang apa Rangka di luar sana.
"Mungkin dia sibuk kali, ya? Atau memang Hpnya tidak sedang dibawa, atau bahkan di silent sehingga saat ada yang menghubungi tidak kedengaran?" Sensi masih beranggapan positif terhadap Rangka, dia tidak mau berpikiran negatif.
"Coba lagi saja kali, ya? Aku akan coba misscall, siapa tahu Mas Rangka langsung merespon," harapnya seraya mendial kembali nomer Rangka yang tadi sudah dua kali dia hubungi.
Panggilan itu diulangi untuk yang ketiga kali, Sensi masih belum menyerah menghubungi Rangka. Dan Hp Rangka masih berdering, itu tandanya WA dia aktif. Dan tidak terduga, panggilan Sensi yang ketiga kali ini berhasil Rangka angkat. Namun, baru saja diangkat, Sensi langsung mematikan sambungan telponnya. Lalu dia memeluk Hpnya persis orang yang mendapatkan rejeki nomplok.
Sensi terlihat bahagia saat barusan panggilannya berhasil diangkat Rangka, kemudian dengan cepat Sensi tutup kembali dengan senyum di wajahnya.
Sementara di kota lain, Rangka sangat kesal dengan orang yang dengan sengaja mempermainkannya. Sudah tiga kali nomer yang sama menghubunginya, tapi tidak diangkatnya saat panggilan pertama maupun yang kedua. Sebab Rangka berprinsip pantang mengangkat telpon dari nomer yang masih baru atau tanpa nama, dia lebih baik di beri pesan WA terlebih dahulu untuk sekedar basa-basi memperkenalkan diri dahulu.
Rangka memang tidak mau mengangkat nomer telpon baru jika ada yang menghubunginya, sebab dia sudah kapok pernah menjadi korban teror dari seseorang yang mengaku dari keluarga mantan istrinya. Tapi itu sudah berlalu, dan itu terjadi saat masih hangat-hangatnya Rangka menggugat cerai Delana.
Akan tetapi saat panggilan itu bunyi kembali untuk yang ketiga kalinya, Rangka dengan terpaksa mengangkatnya. Namun baru saja diangkat, tiba-tiba orang itu memutuskan sambungan telponnya seperti sengaja mempermainkannya sehingga Rangka menjadi naik pitam.
"Sialan, siapa orang ini, mengganggu orang yang lagi sibuk saja. Dasar tidak punya otak," umpatnya tidak segan-segan. Lalu Rangka berinisiatif untuk menghubunginya dan berniat menegurnya dengan teguran marah andalannya.
Kini Rangka sudah dalam panggilan, dia sengaja menghubungi orang yang tadi berhasil membuat mood bekerjanya hancur berantakan. Rangka sangat kesal dipermainkan, terlebih saat ini dia sedang kalut dalam pekerjaannya yang harusnya settle hari ini, berhubung ada klien baru yang meminta desain baru dalam cetakan kertas ang dipesan di perusahaan Rangka.
Panggilan itu masih saja berdering, belum ada yang menyahut. Rangka sudah sangat kesal dan marah. Dia akan marah habis-habisan pada si pemilik nomer. Itu yang ada dalam benaknya kini jika si pengganggu tadi mengangkat panggilannya.
Dan setelah beberapa menit berdering, akhirnya penantian Rangka untuk memaki tiba, Rangka sudah sangat gedeg banget dipermainkan.
"Heh, pengganggu! Stop elu hubungi gue, karena gue lagi sibuk! Gara-gara elu, mood gue dalam bekerja sekejap hilang. Kalau hanya mau mempermainkan orang, elu lebih baik hubungi tuh preman-preman kampung di kampung elu supaya elu dikeroyoknya. Mampus-mampus sekalian," umpat Rangka kesal dan amarahnya kini sudah berada di ubun-ubun. Untung saja dia tidak berkata-kata kasar.
Rangka mendengus, sebenarnya tadi dia belum merasa puas menumpahkan marah pada si pengganggu. Tapi Rangka tidak harus pedulikan si pengganggu itu lagi sebab pekerjaannya lebih penting daripada orang yang barusan dimarahinya. Dan kini Rangka kembali pada laptop di hadapannya yang dipenuhi dengan desain-desain untuk kertas cetakan yang selanjutnya.
Sementara itu di kota Bandung di kediaman Rangka, Sensi rupanya sedang terpuruk sedih dengan apa yang barusan menimpanya. Sensi kena marah Rangka di telpon. Sensi tidak menduga bahwa Rangka akan menghubunginya balik, tapi saat diangkat, Rangka malah mengumpat dan mengatainya.
Sensi menarik nafasnya dalam, dia berusaha tenang kembali dan sadar apa yang terjadi barusan awalnya memang dari dia terlebih dahulu yang melakukan panggilan tidak terjawab, wajar saja jika Rangka berpikiran bahwa dia sedang mempermainkan Rangka. Sensi menduga, Rangka mengira bahwa yang menghubunginya adalah orang yang sengaja ingin mengganggunya.
"Aku yang salah, kenapa juga aku tidak kirim pesan WA terlebih dahulu pada Mas Rangka, memberitahu bahwa aku memiliki nomor yang baru." Sensi menyesali perbuatannya dan sempat sedih dengan apa yang dilontarkan Rangka padanya.
"Baiklah, lebih baik aku beritahukan saja Mas Rangka nanti saat kembali dari luar kota," putus Sensi meletakkan Hpnya di atas meja rias, kemudian dia berdiri dan beranjak dari kamarnya untuk menghibur dirinya dengan menyiram bunga di belakang rumah.
__ADS_1
Untuk sejenak kesedihan karena Rangka tadi, kini terobati akibat melihat dan menyiram berbagai bunga di halaman belakang rumah Rangka. Berbagai bunga yang bermekaran membuat Sensi selalu senang menatapnya.
Pagi berganti siang dan siang berganti malam. Kini hari kemarin berganti dengan hari yang baru, yang kemilaunya nampak sangat berbeda semburatnya. Langit nampak mendung seperti akan turun hujan. Sensi khawatir keadaan ini akan berlangsung lama, sebab sebentar lagi Glassy akan berangkat sekolah. Sensi segera menuju kamar Glassy lewat pintu penghubung. Saat pintu itu berhasil dia buka, Sensi tersentak rupanya dia lupa bahwa Glassy sudah beberapa hari tidak di rumah ini.
"Ya ampun, aku lupa kalau Glassy sekarang sedang di rumah Nenenya. Huhhhh, kenapa aku bisa lupa begini? Apa karena aku sedang merindukannya? Hari makin gelap karena mau turun hujan, jika Glassy sekolah semoga hujannya segera reda," sentaknya menyadari dirinya yang kini seakan dilanda lupa.
"Ya Allah semoga hujan yang akan turun ini akan membawa berkah," pinta Sensi seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Dan akhirnya hujan yang sudah digadang-gadang turn lebat itu akhirnya turun juga disertai angin kencang.
"Selamatkanlah seluruh keluargaku, ya Allah." Sensi tidak henti- henti berdoa pada yang Maha Kuasa meminta keselamatan untuk seluruh keluarganya terkait hujan yang tiba-tiba lebat.
#Ketahuan Nomer Hp Sensi Yang Baru/ Si Pengganggu Bodoh
Hujan masih belum reda, bahkan kini butirannya seakan berubah besar saking lebatnya. Sensi menutup pintu menuju balkon kemudian menguncinya, sepertinya pagi ini alangkah nikmatnya untuk tarik selimut. Sensi menaiki ranjang dan mulai berbenah diri menarik selimut kembali.
Lamat-lamat rasa kantuk itu menyerang kembali, dan tidak lama dari itu Sensi tertidur kembali dininabobokan oleh hujan yang lebat dan angin yang kencang. "Kali-kali aku tidur kembali di pagi hari, mungpung aku lagi sendiri," renungnya terselip rasa bahagia karena hujan.
Hari beranjak siang, jam di dinding menunjukkan pukul 09.50 wib. Sepertinya hujan yang pagi tadi sangat lebat kini sudah reda, terasa dari semilirnya yang menyisakan hawa dingin menembus pori-pori kulit.
Sensi mulai menggeliatkan badannya, dia ternyata tidur sangat nyenyak sehingga waktu sudah semakin siang. Dari jam tujuh pagi sampai jam 09.50 Sensi tertidur sangat lelap tidak terganggu oleh apapun.
Sensi masih baring dan ngulet di atas ranjang yang membuat tidurnya nyaman. Dia meraih Hpnya dengan maksud melihat jam di Hp. Saat dilihatnya, Sensi tersentak rupanya dia tertidur cukup lama. Namun rasa terkejut itu tidak membuatnya terbangun juga, Sensi masih malas untuk bangun, sebab hawa dingin yang ditimbulkan sisa hujan pagi tadi memang sungguh-sungguh dingin.
Gemerincik air dari arah kamar mandi terdengar, Sensi tersentak dan merasa ada yang aneh, tapi lagi-lagi dia malas untuk bangkit dan melihat ada apa di dalam kamar mandi. Sensi benar-benar malas.
"Apakah keran showernya bocor, kenapa bunyinya masih gemericik?" heran Sensi, tapi lagi-lagi enggan dia lihat. Tubuhnya benar-benar malas untuk bangun, sebab rasa nyaman dari selimut dan ranjang king size itu membuatnya terlena.
"Hoammm," nguapnya seraya perlahan bangkit. Bersamaan dengan bangkitnya Sensi dari ranjang, tiba-tiba pintu kamar mandi terdengar jelas dibuka seseorang. Sensi langsung bangkit dan menuruni ranjang, dia benar-benar kaget saat ini.
"Siapa itu?" tanya Sensi setelah tubuhnya berdiri sempurna. Saat bersamaan tatapan matanya tepat menembus ke dalam retina seorang lelaki dewasa yang akhir-akhir ini berhasil membuat suasana hati Sensi bersedih, galau dan menangis.
Lelaki dewasa yang selama ini menjadi impiannya siang dan malam tapi galak itu, kini berdiri di hadapannya berbalut handuk dengan wajah dan rambut yang basah.
Sensi terbelalak tidak percaya, setelah dia benar-benar sadar, Sensi berubah kaget dan terhenyak, dengan mulut menganga.
"Mas Rangka," pekiknya sembari menatap terkejut ke arah Rangka yang kini basah sisa air mandi.
"Sensi, ada apa? Kenapa kamu begitu kaget?" Rangka mulai menyadarkan Sensi yang terhenyak.
"Benarkah ini Mas Rangka?" Sensi mencoba untuk meyakinkan sekali lagi dengan mengucek kedua mata. Lama-kelamaan kesadarannya mulai terkumpul. Sensi menjadi sangat malu dan segera ke kamar mandi untuk membasuh muka dan kembali gosok gigi.
Rangka yang melihat gelagat Sensi, geleng-geleng kepala dibuatnya, lalu segera menuju lemari pakaian dan berpakaian santai.
Rangka sejenak menatap kamarnya yang sudah beberapa hari ini dia tinggalkan, ada kerinduan yang membuncah saat suatu adegan indah bersama Sensi terbayang di pelupuk matanya.
Sudah terlalu lama rasanya Rangka mendiamkan Sensi. Padahal kesalahannya tidak seberapa. "Ohhh, aku merindukannya." Rangka berguman di dalam hati.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, muncullah sosok Sensi yang tadi sempat dia rindukan ketika sebuah adegan bersama Sensi terbayang jelas di pelupuk mata.
"Mas Rangka, kapan kamu kembali, kenapa tidak kasih kabar aku?" ujar Sensi seraya mendekati Rangka yang kini sudah duduk di tepi ranjang. Sensi menyalami Rangka dan menciumnya. Dia berharap kali ini Rangka sudah kembali menjadi Rangka yang selalu perhatian padanya dan posesif, tidak marah-marah seperti kemarin.
"Kenapa, apakah kamu terkejut melihat aku tiba-tiba sudah ada di kamar ini?" tebaknya tepat sekali sebab tadi Sensi memang sangat terkejut melihat Rangka yang tiba-tiba sudah berada di kamar.
Sensi bangkit lalu mendekati gorden. Dibukanya gorden itu sehingga terlihat suasana balkon dari dalam kamar. Sepertinya matahari masih malu-malu memperlihatkan cahayanya, terlihat dari embun-embun yang timbul di permukaan pagar besi pembatas balkon.
Sensi seperti enggan membalikkan tubuhnya, sebab tatapan Rangka masih terasa dingin dan masih menyimpan marah, meskipun kadar marah itu tidak sebesar kemarin.
"Enak banget tadi tidurnya, ya?" Tiba-tiba Rangka memberikan pertanyaan yang membuat Sensi merasa sangat konyol, ketahuan tidur lagi oleh Rangka sampai bangunnya siang banget. Mau ditaruh di mana muka ini.
"Pagi tadi hujan sangat lebat, Mas. Aku tertidur kembali," ujarnya beralasan. Rangka tidak menjawab, tiba-tiba fokusnya terbelah saat matanya melihat Hp Sensi yang baru beberapa hari yang lalu dibelikan Rangka.
"Kamu sudah membeli kartu baru?" tanya Rangka sembari meraih Hp itu dan mulai mengutak-atik sesuatu. Sensi melihat ke arah Rangka yang kini sudah mengutak-atik Hpnya. Tiba-tiba Sensi merasa takut jika yang kemarin misscall dan yang menghubungi Rangka adalah dia.
"Mas." Sensi menghampiri dan hendak meraih Hp yang kini sudah berada di tangannya. Rangka menghindar, dengan santainya dia mencoba menghubungi Hpnya yang dia letak di atas meja rias.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau kamu sudah memiliki nomer yang baru?" herannya sebab Sensi tidak ada memberitahu dirinya tentang nomernya yang baru.
"Su~sudah, Mas."
Bersamaan dengan itu Hp Rangka yang berada di atas meja rias berdering tanda panggilan masuk. Rangka tahu itu panggilan dari nomer Hp Sensi yang baru.
"Ambillah Hpku!" titah Rangka, Sensi tidak membantah, dia segera meraih Hp Rangka di meja. Namun sontak saat mata Sensi tepat menuju layar Hp Rangka yang menyala, ada sesuatu hal yang membuat Sensi kembali sesak di dada. Ternyata yang menghubungi Rangka adalah "Si Penggangu Bodoh". Sensi meraih Hp itu kemudian diberikan cepat pada Rangka, tubuhnya segera membalik kembali dengan bulir bening yang kini mulai merambat di sela-sela matanya.
"Sayang, ini nomer kamu? Ya ampun, kenapa kamu tidak bilang di WA bahwa kamu punya nomer baru?" Rangka menjadi sangat bersalah dengan keadaan Sensi yang kini begitu sedih setelah melihat nama yang tertera di kontak Rama.
Tiba-tiba Rangka menghampiri Sensi dan meriah tubuh Sensi lalu memeluknya. Sensi kini benar-benar menangis, dia sakit hati.
Rangka membawa tubuh Sensi duduk di tepi Ranjang meski Sensi sedikit menahan. "Aku minta maaf, aku akan ganti nama kamu dengan yang baru. Aku tidak tahu itu kamu. Aku hanya menamainya asal sebab nomer itu kemarin sempat membuat aku sangat terganggu," ujar Rangka sembari merubah nama si Pengganggu Bodoh menjadi "Istriku Tersayang".
Setelah berhasil merubah nama, kini Rangka memanggil kembali nomer Hpnya dari Hp Sensi. Dan kini nama si pengganggu bodoh sudah berubah menjadi "Istriku Tersayang". Rangka memperlihatkan nama yang baru itu di hadapan Sensi.
"Sudah hapus air mata kamu, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengata-ngatai kamu," ujarnya seraya meraih pinggang Sensi dan berhasil melabuhkan ciuman di bibir Sensi.
"Sayanggg, aku kangen. Kangen istriku yang manja dan perhatian, ayolah." Rangka berhasil membawa tubuh Sensi ke atas ranjang. Wajah Sensi yang sendu dan sentuhan-sentuhannya, kini bisa dinikmatinya lagi.
"Cupppp." Ciuman itu kini kembali dilabuhkan di kening Sensi sesaat setelah Rangka menyudahi menyalurkan hasratnya yang sudah beberapa hari sangat menggebu.
Rangka memeluk Sensi sangat erat sembari membisikkan kata-kata maaf dan romantis.
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku mencintai kamu," ucapnya disusul ciuman yang romantis di bibir Sensi yang kesedihannya masih kentara.
"Aku jadi ngantuk, temani lagi aku tidur sejenak sampai tiba jam 12.00 siang, aku harus menjemput Glassy," ucapnya seraya memeluk tubuh Sensi sebagai guling hidup yang menghangatkan.
__ADS_1
"Mas, aku tidak benar-benar bodoh bagimu, bukan?" pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, sebab Rangka sudah mengarungi dunia mimpi.