
"Sialan, sialan, sialan," umpat Rangka kesal. Tubuhnya dan tubuh Sensi ikut oleng ke kiri, karena Rangka berusaha banting ke kiri saat tadi di depannya kebetulan ada mobil yang akan belok kanan ke arah berlawanan lajur kedua.
Sensi terhenyak dan takut, dia merasa tangannya kaku dan gemetaran. Tadi saat Rangka memberi aba-aba untuk ngerem, tiba-tiba kakinya malah menginjak gas.
Rangka mulai bangkit dan membetulkan tubuhnya di posisi semula. Sejenak dia membenarkan tubuh Sensi lalu keluar melihat body mobil.
"Penyok," dumelnya sembari memukul kap depan. Sensi yang melihat menjadi sangat takut dan kaget dengan reaksi yang ditunjukkan Rangka.
Setelah mondar-mandir dengan tangan yang memegangi kepala persis orang pusing, Rangka menaiki kembali mobil kuning metalik yang dia hadiahkan pada Sensi itu. Wajahnya merah padam penuh amarah. Raka masuk dan duduk, lalu memijit hidungnya seakan kepalanya sakit banget.
Rangka mendesis seraya menuruni kembali mobil dan memutar menuju pintu mobil yang diduduki Sensi.
Sensi mengerti maksud Rangka, dia menyuruhnya pindah posisi. Tidak ragu lagi, Sensi melangkah melewati kemudinya dan tidak perlu turun. Rangka geleng-geleng kepala. Baru kali ini dia mendapati seorang perempuan terunik yang sungguh-sungguh bikin hatinya kesal, yaitu Sensi istrinya sendiri.
Raka membuka pintu dan memasukinya, lalu menutup pintu itu dengan sekerasnya, juga dengan cepat dikunci otomatis, sehingga jika Sensi berontak ingn keluar, maka dia tidak akan bisa.
Raka merapikan posisi mobilnya agak maju sedikit ke depan, kemudian dia berhenti di situ. Setirnya dipukul seketika sehingga membuat Sensi kaget dan takut.
"M~Masss," desisnya menatap takut ke arah Rangka. Rangka menatap balik. Antara keduanya kini sudah saling tatap. Namun dengan cepat Sensi mengalihkan tatapnya ke arah lain setelah dia merasa tidak kuat dengan tatapan tajam Rangka.
"Kamu bisa fokus tidak sih, mendengar apa yang aku instruksikan tadi? Setelah aku perhatikan kamu itu tidak pernah mau serius untuk belajar, kamu hanya buang-buang waktu aku yang berharga saja, kamu terlalu banyak bercanda. Sia-sia aku ajari belajar nyetir kalau akhirnya seperti ini. Bercanda saja digedein," gerutunya mendengus kesal dan kecewa dengan perkembangan belajar menyetir Sensi yang Rangka duga tidak serius.
"Aku serius, Mas. Aku tadi hanya gugup, sebab diawal materi yang akan dipelajari adalah ngegas bukan rem, jadi ... jadi saat kamu bilang rem, aku malah kepikiran dan fokus dengan materi yang dibicarakan kamu di awal," jawab Sensi menunduk.
__ADS_1
"Ya ampun, kamu ini ada-ada saja. Jadi, kamu fokus sama materi bukan survive apa yang kamu lihat di jalan? Ampun deh Sensi, kamu segitunya berpikir. Aku memang menyuruhmu fokus dengan materi atau pelajaran yang akan diajarkan, tapi bukan berarti kamu harus terpaku pada materi lantas melupakan keadaan di lapangan, kamu paham tidak arti kata survive? Survive artinya ...."
"Hiks, hiks, hiks. Sudah, Mas. Stop jangan ajari lagi aku apa-apa, aku memang bodoh dan tidak fokus, aku tidak pantas diberikan pelajaran apa-apa, aku bodoh, aku bodoh," potong Sensi menangis seraya berusaha membuka pintu mobil ingin keluar. Sayangnya tidak bisa, sebab sudah sejak tadi dikunci Rangka.
Rangka panik melihat Sensi menangis seperti itu, dia merasa bersalah tapi niatnya memberi tahu hanya ingin Sensi paham dan tidak mengulangi kesalahan lagi. Bayangkan jika Sensi terus-terusan melakukan kesalahan seperti tadi, maka tidak menutup kemungkinan akan timbul kecelakaan di mana saja dan kapan saja.
"Dengar aku, Sayang, kamu jangan langsung sedih atau sakit hati jika aku kasih tahu. Aku hanya ingin kamu paham dan siap dengan situasi di jalanan. Jika tadi aku bilang materi yang akan kita pelajari adalah pedal gas, kamu harus fokus pada pedal gas. Tapi, ingat ada tapinya, karena kita sedang di jalan umum, maka kita harus lebih perhatikan keadaan sekitar dulu. Kayak tadi, materi yang kamu pelajari adalah pedal gas, berhubung di depan kita ada mobil yang belok kanan, otomatis kamu harus injak rem, bukan pedal gas. Apakah kamu paham sampai di sini?" tegas Rangka membuat Sensi tidak menjawab, dia masih sibuk terisak dan menyeka air mata yang mengalir deras di pipinya.
"Sayang, kamu paham tidak? Ok, deh, pelajaran hari ini cukup sampai di sini, lain kali setelah kamu benar-benar siap, kita akan latihan lagi."
Rangka menghentikan latihan motornya berhubung kondisi Sensi yang tidak stabil, dia begitu sedih dan terkejut dengan kejadian tadi.
Sepanjang pulang, Sensi hanya bisa diam saja, tidak berkata apa-apa lagi. Wajahnya dia arahkan keluar jendela, tanpa sedikitpun mau menoleh ke arah Rangka.
Tiba di rumah, Sensi langsung keluar dari mobil miliknya yang kini body samping kirinya penyok. Sensi berlari menuju rumah, dia tidak menghiraukan Rangka lagi yang berada di belakangnya.
Air mata bercucuran, Sensi masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di sana dengan isak tangis yang memilukan. Sementara Rangka masih mengamati body samping mobil Sensi yang kini penyok, dia harus segera memperbaiki sesegera mungkin agar mobil ini bisa digunakan latihan nyetir lagi oleh Sensi.
Rangka menghubungi seseorang untuk mengambil mobil Sensi ke rumah dan dibawa ke bengkel.
"Rawon, ambil mobil istriku di rumah, perbaiki dan kembalikan seperti sedia kala." Rangka menghubungi seseorang lewat saluran telepon.
Rangka melangkahkan kakinya menuju rumah setelah dia mengakhiri pembicaraan di telpon dengan seseorang. Tugas dia belum selesai, yakni membujuk Sensi dan mengembalikan moodnya kembali baik.
__ADS_1
Rangka mulai memasuki kamarnya, di sana dia melihat Sensi yang terbaring menelungkupkan tubuhnya sambil menangis. Sejak tadi itu artinya Sensi masih belum berhenti menangis.
Rangka menatap iba tubuh yang kini terbaring dengan sedikit guncangan karena sedang menangis itu. Ingin rasanya dia peluk dan dibujuk supaya kembali bisa tertawa. Namun Rangka kali ini hanya ingin membiarkan Sensi berpikir di mana letak kesalahannya.
"Semoga kejadian tadi bisa membuat kamu berpikir di mana letak kesalahan kamu. Aku pergi dulu. Dan ingat, rasa marah aku tadi adalah bentuk kasih sayang aku terhadap kamu. Jadi, jangan pernah kamu berpikir bahwa aku benci kamu. Aku pergi dulu." Rangka segera berlalu membiarkan Sensi masih menangis di atas pembaringan, berharap setelah dia kembali Sensi bisa menyadari kesalahannya.
Beberapa saat setelah Rangka pergi, Sensi bangkit dan duduk di tepi ranjang, dia kecewa Rangka tidak berusaha merayu atau membujuknya, dia hanya menyuruh Sensi untuk berpikir. Sensi kesal dan benar-benar kecewa. Kali ini dia rasanya ingin pergi jauh dari rumah ini, dari Rangka juga Glassy. Semua seakan sudah tidak penting lagi baginya.
Rangka juga tidak sabar menghadapinya yang memang tidak punya basic sebelumnya dalam menyetir mobil. Sensi berdiri, kali ini dia akan nekad pergi sebagai bukti bahwa dia merajuk dan kesal pada Rangka yang tidak sabar dalam mengajarinya belajar menyetir mobil.
"Lebih baik aku pergi, biar Mas Rangka dan Glassy mencari aku kelabakan," tekadnya egois. Dengan langkah kaki yang mantap, Sensi menuruni tangga dan menuju motornya yang diparkir di garasi. Namun setelah berada di bawah, ternyata kunci motor miliknya tidak ada di tasnya, padahal tadi pagi sebelum pergi mengantar Glassy seolah, kunci motornya berada di dalam tas selempangnya.
"Kenapa tidak ada? Atau jangan-jangan diumpetin Mas Rangka?" gumannya menduga-duga. Sensi kesal dan kecewa. Daripada bingung mencari kunci motor yang tidak ada, alangkah baiknya Sensi segera pergi dengan menaiki gojek. Dari depan rumah, Sensi memesan gojek via aplikasi.
Tidak berapa lama gojek pesanan Sensi tiba, Sensi segera melangkahkan kaki mendekati grab pesanannya. Sensi memasuki mobil dan duduk di jok tengah. Sensi berpikir akan kemanakah dia?
"Taman bahagia, Pak." Sensi memberitahu tujuannya yang hanya ke Taman Bahagia. Taman kota yang masih asri dan merupakan jantungnya kota tersebut.
Saat grab semakin jauh dari rumahnya Rangka, tiba-tiba kesedihan Sensi semakin menjadi. Bayang-bayang Glassy yang selalu ingin ditemaninya, kini berada di pelupuk mata. Bocah cantik itu memang susah sekali untuk dilupakan pesonanya. Dan sepertinya Sensi akan sulit untuk benar-benar pergi meninggalkan anak sambungnya itu, sebab Glassy sudah sangat dekat dengannya, apa-apa ingin dengannya.
"Glassy, kenapa bayang-bayang Glassy tidak bisa bunda hilangkan dari otak bunda? Bunda ingin pergi dari Papa yang kadang menyebalkan, tapi Bunda tidak tega untuk meninggalkan Glassy."
Sensi bingung, dia termenung di dalam grab yang kini sebentar lagi memasuki area taman kota.
__ADS_1