
"Gimana teh udah siap?" **Aloe Vera** adikku bertanya. Dialah yang sejak seminggu yang lalu ikut turun tangan menjadi Desainer pribadiku. Dari pemilihan outfit, sepatu, juga aksesoris, dia yang pilihkan.
"Ini dia, tralala," ujarku seraya memamerkan diriku di hadapannya dengan berlenggak-lenggok bak model papan seluncur.
"Kerenlah, cantik benar Tetehku yang katanya mirip Shandy Aulia ini." Adikku memuji sambil tersenyum centil.
"Ada yang kurang, nggak Al?" tanyaku penasaran. Aloe menggeleng, tatanan rambutku saja dia yang rias. Rambutku diurai dengan ujungnya di curli jadi gelombang. Wah benar-benar cantik seperti ABG 17 tahun lagi. Pesona Shandy Aulianya keluar. Ditambah riasan wajahku yang ala Korea, minimalis dan natural. Semakin fresh saja dilihatnya.
"Wahhh, anak bapak sangat cantik. Mau ke mana nih sebenarnya?" Bapak bertanya penasaran. Aku sedikit malu sebenarnya kalau bicara masalah ada orang yang mau ajak jalan, akhirnya aku bilang saja urusan kerjaan dengan atasan. Sejenak Bapak melihat penampilanku dari atas sampai bawah. Biasanya Bapak maupun Ibu suka komplen jika baju yang aku pakai tidak sesuai, tapi kali ini Bapak sepertinya ok ok saja.
"Cantik betul anak ibu. Pakaiannya juga bagus sopan tapi kesannya anggun dan feminim."
"Siapa dulu dong Bu yang pilihkan, Teh Sensi kan minta pendapat Aloe untuk beli baju. Belinya juga di toko online Lazanda, harganya juga lumayan murah, tapi bagus, kan, Bu?" celetuk Aloe menyerobot.
"Duh, duh, duh, pintar ya anak ibu yang bungsu ini pilihkan baju untuk Tetehnya. Kelak jadi Desainer tuh kayaknya." Ibuku menanggapi seraya menatap ke arahku dengan tatapan terpesona. Iya, benar juga apa yang dikatakan Ibu, Aloe memang pandai ngemix n match outfit, dia bisa bikin pantas dandanan seseorang meskipun harga tidak terlalu mahal.
"Sudah dong Bu, Pak, jangan ditatap sampai menusuk begitu, nanti teteh bisa terbang hidungnya," ujarku malu.
***
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam sore, setelah Maghrib mobil Pak Rangka terdengar berbunyi. Aku mendadak berdebar menunggu Pak Rangka mengetuk pintu. Saat ucapan salam itu terdengar jantungku kian berpacu, rasanya seperti balapan kuda yang segera akan dimulai.
"Maksud kedatangan saya kemari ingin mengajak jalan anak Bapak. Apakah Bapak dan Ibu tidak keberatan?" ungkap Pak Rangka meminta ijin. Bapak dan Ibu saling pandang lalu fokus ke arah Pak Rangka, mereka tersenyum sepertinya mengijinkan.
"Baiklah, kami mengijinkan, asal berhati-hati. Kami nitip Sensi, ya, Nak Rangka," ujar Bapak memberi ijin. Setelah mendapat ijin, Pak Rangka segera mengajakku pergi.
__ADS_1
Mobil melaju ke sebuah tempat yang aku tidak tahu entah ke mana. Sebentar-sebentar Pak Rangka menoleh ke arahku dengan ujung matanya, entah apa yang dipikirkan. Yang jelas Pak Rangka seakan mengagumiku.
"Kamu sangat cantik dan terlihat lebih muda. Dandanan kamu ini mirip mau kencan saja. Sepertinya kamu mempersembahkan ini semua untuk saya, ya?" puji Pak Rangka membuatku jadi malu dengan pertanyaan terakhirnya. Aku menunduk malu sembari memutar-mutar cincin tengkorakku. Pak Rangka melihat tanganku dengan ekor matanya.
Tiga puluh menit akhirnya kami sampai di sebuah tempat, seperti rumah tapi kafe, konsepnya outdoor. Wah, ini pengalaman pertamaku masuk ke kafe seperti ini. Aku berdoa dalam hati semoga mulutku tidak ceplas-ceplos bicara saat di tempat ini. Debaran jantungku pun langsung dag dig dug, ada perasaan malu di tempat baru yang kelihatannya disinggahi orang-orang elit ini.
Saat memasuki kafe, rasanya aku enggan melangkah, akan tetapi tangan Pak Rangka langsung menangkap jemariku seolah tahu bahwa aku kini sedang canggung. Jemari kami saling terjalin mirip sepasang kekasih yang saling mengasihi. Saat itu semua mata hampir menatap kedatangan kami, Pak Rangka tidak peduli dia tetap menarik tanganku menuju sebuah meja yang letaknya di ujung.
"Rangka, wahh istri baru nih?"
"Masih muda nih, daun muda sekarang ya?" Tiba-tiba beberapa orang di kafe itu menghampiri Pak Rangka dan saling bersahutan bertanya pada Pak Rangka. Rupanya di kafe ini banyak kolega maupun teman bisnis Pak Rangka. Pantas saja saat kami masuk semua mata hampir tertuju pada kami. Alhasil membuat aku jadi malu.
"Makanan ini dihidangkan sudah sepaket dengan orderan yang saya pesan, jadi jangan heran atau pesan yang lain, ya. Ini sudah termasuk menu istimewa di kafe ini, kita tinggal menikmati saja," ujar Pak Rangka menjawab keherananku.
"Ayolah, dicicip menu pembukanya!" suruh Pak Rangka yang melihatku bengong melihat hidangan yang disajikan pelayan kafe. Hatiku bertanya-tanya untuk sekali makan di kafe ini berapa, wah sepertinya gajihku sebulan tidak akan cukup.
"Sensi, kenapa masih bengong?" Pak Rangka mengejutkanku dengan pertanyaannya. Aku tersentak, serta merta aku hanya bisa mempermainkan cincin tengkorak yang aku pakai di jari tengahku. Pak Rangka sekilas menatapnya.
"Kenapa sih kamu itu seperti gugup, santai dong. Kamu ini seperti diajak jalan sama pacar yang baru jadian saja," tegur Pak Rangka. "Ayo, cicip makanan pembukanya, nanti keburu datang lho menu utamanya," ujar Pak Rangka memberitahu. Akhirnya rasa malu itu berusaha aku tepikan. Dan aku mulai mencicipi makanan pembukanya. Wahhh benar-benar bahagia mencicip makanan pembuka ini.
"Harus habis, ya, jangan disisa-sisa. Kalau nyisa kasihan makanannya," peringat Pak Rangka yang aku banget. Tanpa jaim aku juga akhirnya mengikuti Pak Rangka menghabiskan setiap menu yang dihidangkan. Makanannya enak-enak tapi isinya irit bukan kelas warteg yang mentung, bagaimana tidak habis? !Sekali sikat langsung masuk perut.
__ADS_1
Sampai menu ketiga sebagai penutup, aku ludes menghabiskan semua hidangan yang enak-enak itu tanpa sisa. Ini benar-benar luar biasa, persis makanan elit. Pikirku.
"Sensi, bagaimana hidangannya, apakah enak?" Pak Rangka bertanya sambil menatapku.
"Enak sih Pak luar biasa, cuma isinya irit, upsss." Aku langsung menutup mulut karena merasa keceplosan. Aduhhh, keceplosan deh. Untungnya Pak Rangka tidak membahas, dia hanya tersenyum.
"Sensi, ayo berdiri. Kita dansa," ajak Pak Rangka tiba-tiba. Nah giliran yang begini aku paling malas, sebab aku tidak pandai dansa. Pernah sekali berdansa itupun diajak Pak Rangka saat ke Banjarmasin beberapa bulan yang lalu.
Namun baru saja Pak Rangka berdiri dan meraih tanganku, tiba-tiba nafas Pak Rangka tersengal, sepertinya sesak nafas Pak Rangka kambuh lagi. Aku panik dan sibuk mencari inhaler di meja siapa tahu dibawa Pak Rangka. Dan sialnya inhaler yang dimaksud tidak ada.
"Pak, Bapak tahan, ya, Bapak duduk dulu tenangkan nafas dulu. Dan sekarang katakan di mana inhaler Bapak, biar saya ambilkan?" tanyaku was-was,
"In-inhalernya ada di, di mobil," beritahunya dengan nafas yang tersendat. Tanpa basa basi aku langsung menyambar kunci mobil yang berada di meja, lalu aku berlari kecil menuju mobil Pak Rangka yang diparkir.
Tiba di mobil rupanya aku susah payah membuka pintu mobil Pak Rangka, diutak-atik malah bikin aku pengen nangis. Mau minta tolong tapi takut, tukang parkir yang mau aku mintain tolong malah jauh di sebrang tengah memarkirkan mobil seseorang.
Tanpa menyerah, aku coba lagi membuka pintu itu, dan akhirnya perjuanganku tidak sia-sia. Hampir sepuluh menit pintu itu bisa dibuka. Aku langsung meraih inhaler yang ditaruh di atas dashboard.
Aku kembali ke dalam kafe dengan berlari kecil seperti tadi. Dua meter lagi menuju Pak Rangka tiba-tiba highheels yang aku pakai patah dan otomatis tubuhku melayang.
"Brugghhh."
"Aduhhh," pekikku menahan sakit.
__ADS_1