
Hari ini aku kerja seperti biasanya, tiba-tiba WAku berbunyi. Saat ku baca rupanya dari Pak Rangka, memberitahukan kalau aku harus datang lebih awal dan harus langsung masuk ruangannya. Ini benar-benar aneh, kok bisa Pak Rangka datang pagi banget ke kantor? Padahal aku saat ini lagi kesal sama Pak Rangka, dan tidak mau ketemu Pak Rangka gara-gara Pak Rangka bilang bahwa aku hanya karyawannya dan bukan calonnya. Iya juga sih aku memang karyawan di kantornya, tapi kenapa Pak Rangka bilang karyawannya, sedangkan Pak Rangka telah menodai bibirku dengan nafsu malam itu?
Tanpa buang waktu, karena aku masih butuh pekerjaan dan uang, terpaksa aku turuti kemauannya. Setengah tujuh aku sudah di depan ruangan Pak Rangka. Pak Rangka sudah menyambutku dengan membuka pintu ruangan lebar-lebar. Lalu menutup kembali rapat-rapat.
"Sensi kemarin kenapa keluar cepat-cepat dari ruangan saya? Padahal anak saya masih ingin bersama kamu. Oleh sebab itu, hari ini anak saya ingin diantar sekolah sama kamu. Jadi tugas kamu sekarang selain di kantor sekaligus mengantar anak saya sekolah. Bagaimana, apakah kamu tidak keberatan?" Ditodong dengan tugas baru membuatku melongo tidak percaya. Pak Rangka sepertinya menganggap aku robot, yang tidak kenal lelah dan tidak kenal bantah.
"Bagaimana, apakah kamu siap dengan tugas baru dari saya?" ulang Pak Rangka seraya menatapku dalam. Aku seketika menunduk tidak sanggup untuk menatap mata laki-laki yang berhasil mengoyak pertahanan hatiku.
"Saya bersedia, Pak. Apapun tugas Bapak, akan saya jalankan," jawabku masih menunduk. "Ayo!" ajak Pak Rangka seraya membuka pintu ruangannya dan menggiringku keluar. Aku mengikuti langkah Pak Rangka menuju lift.
Di dalam lift Pak Rangka sengaja menatapku dan meremat jemariku. Hatiku berpikir jangan-jangan Pak Rangka mau melakukan pelecehan di dalam lift. Jemari itu terjalin, kami seakan sepasang kekasih yang saling meremat. Saat aku ingin melepasnya, Pak Rangka menahannya.
"Jangan lepaskan, biarkan seperti ini. Saya ingin merasakan getaran dalam aliran darah kamu," ujarnya menahan jemariku. Sepertinya Pak Rangka sedang berhalusinasi. Kemarin mengatakan pada Ibunya bahwa aku adalah hanya karyawannya. Namun kini di dalam lift Pak Rangka memperlakukan aku layaknya kepada kekasih.
"Lepaskan, Pak. Saya bukan pacar Bapak, jadi saya mohon lepaskan jemari Bapak dari jemari saya!" tegasku seraya memaksa untuk melepaskan rematan jemarinya.
"Betul banget, kamu bukan pacar saya, tapi .... " Belum sampai melanjutkan ucapannya tiba-tiba pintu lift terbuka, Pak Rangka langsung melepaskan rematannya. Kamipun menuju parkiran perusahaan Kertassindo Gemilang dan memasuki mobil milik Pak Rangka yang biasa di pakai.
__ADS_1
Saat masuk mobil dan baru memasang sabuk pengaman, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara khas anak kecil. "Tante, akhirnya tante datang juga," jerit suara bocah merangkulku. Rupanya dia adalah Glassy gadis kecil anak Pak Rangka yang begitu gembira dan antusias ketika melihatku.
Melihat tingkah polah dan sikapnya yang hangat dan akrab, otomatis aku juga membalas sikapnya dengan senyum dan kehangatan juga. Padahal tadinya sih ingin jutek, karena masih kesal sama Pak Rangka.
"Glassy, apa kabar, sayang?" ucapku basa-basi. Pak Rangka melihat ke arah kami yang tampak akrab. Aku sih kesal dilihatin Pak Rangka, yang ada malah illfeel.
"Aku kangen tante, kemarin tante malah pergi begitu saja, padahal aku masih ingin bersama tante," ungkapnya tulus seraya semakin erat memelukku. Jantungku tiba-tiba berdegup lebih cepat dari biasanya.
Aku bertanya-tanya dalam hati, "*apakah bocah ini lengket juga nggak, ya, sama* *Ibunya? Masa sama aku yang orang baru bisa* *lengket*?" Sungguh ini keadaan yang tidak bisa dihindarkan, sesungguhnya di depan Pak Rangka ingin rasanya aku pura-pura jutek dan memperlakukan Glassy dengan kaku. Tapi aku tidak bisa, sebab Glassy begitu menggemaskan.
"Asikkkk, akhirnya aku bisa diantar tante ke sekolah. Aku senang banget. Jadi, nanti kalau ada acara sekolah aku bisa pamerkan tante ke teman-teman, tidak diantar supir terus kayak kemarin-kemarin," ungkapnya senang.
Aku hanya bisa pasrah dikuasai mereka. Entah apa sebenarnya mau Pak Rangka dengan memerintah aku mengantar anaknya ke sekolah, toh Pak Rangka malah ikut mengantar juga.
"Pak, apa Bapak tidak sebaiknya kembali ke kantor, kan mengantar anak Bapak adalah tugas saya?" tanyaku heran sekaligus bernada mengusir.
"Saya hanya ingin menunjukkan di mana sekolah Glassy sama kamu, supaya nanti kamu tidak susah lagi mencarinya," alasannya seraya menatap mataku yang lansung ku balas dengan dilakan maut.
__ADS_1
"Huhhh, aku tidak mau lagi jatuh ke dalam pelukan pria yang suka mempermainkan perasaan perempuan ini, jangan harap aku jatuh dua kali ke dalam jebakannya," sungutku dalam hati.
Lima belas menit kemudian kami sampai di sekolahnya Glassy.
"Bye, bye, sampai jumpa ya sayang!" Pak Rangka mengucapkan salam perpisahan pada Glassy sambil melambaikan tangan. Mobil Pak Rangka kembali memutar arah dan kembali menuju arah kantor.
"Bagaimana, apa tanggapan Ibu Gurunya Glassy ketika melihat kamu tadi?" Pak Rangka tiba-tiba menanyakan rekasi Guru kelas maupun Guru pendamping Glassy saat bertemuku tadi. Meskipun kesan pertama baik-baik saja, namun rasanya aku malas untuk bercerita pada Pak Rangka.
"Tidak ada, Pak," sahutku malas. Tiba-tiba saja sejak Pak Rangka menyebut bahwa aku ini hanya karyawan di kantornya pada Ibunya tempo hari, aku mendadak berubah jadi pendiam. Sikap ceplas-ceplosku yang hangat mendadak hilang. Entahlah, sekarang ini aku merasakan aku begitu sensitif.
"Kenapa sih kamu sekarang banyak berubah, kamu sepertinya pendiam deh sejak kamu bertemu Ibu saya di ruangan saya?"
"Ohhhh, itu Ibunya Pak Rangka, ya?" tanyaku tiba-tiba.
"Iya, dong. Makanya Glassy memanggilnya nenek. Masa kamu tidak paham."
"Bukan begitu, Pak. Saya pikir itu mantan mertua Bapak. Mertua perempuan Bapak juga pasti dipanggil Glassy nenek juga, kan?" sergahku tidak ingin kalah kali ini dengan memperlihatkan wajah yang jutek.
"Iya juga sih. Tapi kenapa ya, kamu sejak bertemu Ibu saya, kamu jadi jutek dan galak begini pada saya?" tanya Pak Rangka sembari tanpa diduga Pak Rangka membelai daguku sampai pipiku yang langsung merona persis ceri.
Aku langsung menepis tangan Pak Rangka. Tapi tangannya kembali membelai daguku. "Kenapa sih kamu ini berubah, padahal saya lagi kangen sama kamu," ungkapnya seraya mendekatkan wajahnya ke arahku.
Dari gelagatnya sih Pak Rangka mau nyosor ingin menciumku kembali seperti saat di mobil malam itu. Kali ini aku tidak akan biarkan terjadi. Aku tidak mau dijadikan pelampiasan hasrat palsunya.
"Awwww," jeritan itu sukses melengking seiring bersama suksesnya aku membalik badan tepat Pak Rangka ingin menciumku. Aku tersenyum puas. Lagipula untuk apa Pak Rangka ingin menciumku jika aku hanyalah sekedar karyawan di perusahaannya?
__ADS_1
.